Di bukunya yang berjudul Autumn Leaves, André Gide berkata bahwa, “It is better to be hated for what you are than to be loved for what you are not.” Kita, mungkin, lebih suka menjadi-bukan-diri-kita demi dicintai oleh orang lain, yang terkadang orang itu pun menjadi-bukan-dirinya agar kita cintai. Pada akhirnya, perilaku menjadi-bukan-diri-sendiri ini telah menjadi lingkaran setan yang menyebabkan “terima aku apa adanya” menjadi kehilangan makna dan berubah menjadi “terima aku ada apanya”. Bagi sebagian besar orang, ini naif, meski kadang perilaku itu justru muncul dari yang berkata demikian. “Ga mungkin dong kita cinta atau benci seseorang tanpa sebab”, ujar seorang temanku. Logis. Tapi pertanyaannya, jika sebabnya hilang, akankah cinta atau bencinya juga hilang? Tidak selamanya.

Dalam konteks perjalanan liburan, sebagian besar orang cenderung mengunjungi sebuah destinasi karena ada sesuatu hal yang menjadi sebabnya. Jarang ada yang pergi ke suatu tempat hanya karena ia ingin pergi ke sana. Biasanya, sebab utama seseorang pergi ke suatu tempat adalah karena belum pernah atau ada eksotisme / “surga” yang ingin dilihat. Jika ia sudah pernah ke sana dan tempat itu masih eksotis, besar kemungkinan suatu saat akan kembali. Namun jika eksotisme / “surga” yang menjadi alasannya untuk datang sudah tidak ada, akankah ia kembali? Mungkin ya, tapi kemungkinan besar tidak. Maka perjalanan liburan dan perjalanan cinta menjadi satu motif, “Ga mungkin dong kita datang ke suatu tempat tanpa sebab”.

Masih di buku yang sama, André Gide juga berkata bahwa, “Wisdom comes not from reason but from love.” Bijaksana dan dewasa itu satu paket, karena kita tak mungkin dibilang dewasa bila tak bijaksana, pun sebaliknya. Tagline sebuah iklan rokok dengan jelas menyatakan bahwa “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.” Konteks “tua” tentu tak bisa dilihat dari sekedar yang umurnya paling banyak, karena bayi berumur 1 jam tentu lebih tua dari bayi yang baru lahir 1 menit yang lalu. Karena itulah, “(Menjadi) tua itu pasti, (menjadi) dewasa itu pilihan.” Hubungan, apa pun bentuknya, tentu akan menjadi tua, seiring pergantian waktu. Namun sekali lagi, hubungan yang tua, belum tentu menjadikan individu yang terlibat di dalamnya menjadi dewasa. “(Hubungan yang) tua itu pasti, (hubungan yang) dewasa itu pilihan.”

“Dari kapan suka traveling?”, “Berapa lama traveling di sana?” adalah pertanyaan yang biasa dilontarkan ketika sesama penggiat traveling bertemu, seolah traveling itu soal siapa yang duluan dan siapa yang paling lama menjelajah atau soal semakin lama kita melakukan perjalanan, maka semakin keren / expert. Aku mengenal beberapa orang yang sudah lama melakukan perjalanan (hidup), namun tak kunjung dewasa. Sama halnya dengan beberapa orang lain yang telah lama melakukan perjalanan (liburan), namun tak kunjung membuatnya bijak.

Banyak sekali pelajaran tak ternilai yang aku dapatkan dari perjalanan yang telah aku lakukan. Kandasnya perjalanan cinta yang telah kubangun bertahun-tahun mengajarkanku bahwa jarak dan masalah kecil, bisa menjadi bom yang meledak di pondasi dasar hubungan. Mencintai seseorang terlalu dalam, dan akhirnya kandas, mengajarkanku bahwa apa yang ditanam terlalu dalam, akan sulit untuk dicabut. Membangun cinta hanya dari satu sisi mengajarkanku bahwa butuh dua sisi untuk membangun jembatan. Berharap pada cinta yang tak ingin diharapkan mengajarkanku bahwa punguk hanya bisa merindukan bulan. Seseorang pernah berkata (tak langsung), “Jika kamu memang baik, mengapa kamu ditinggalkan?” yang hanya aku respon dengan bergumam, “Jika kamu memang sebaik perkiraanmu, mengapa aku begitu mudah untuk melepaskan?”

Aku tak yakin sudah berapa kali aku melakukan perjalanan cinta, sama tak yakinnya dengan sudah berapa kali aku melakukan perjalanan liburan. Aku hanya yakin sudah berapa lama aku melakukan perjalanan hidup, meski tak yakin akan sampai berapa lama. Aku meyakini bahwa perjalanan, cinta-liburan-hidup, bukanlah sekedar untuk dihitung sudah berapa lama, berapa banyak atau berapa jauh ditempuhnya. Bukan pula untuk sekedar dilihat sukses atau gagalnya, apalagi sekedar menjadi koleksi ingatan untuk dikenang, bahkan berupa sekedar apa yang dikatakan oleh Susan Sontag.

Jakarta, 15 Juni 2014.

@TravellersID

#AnakWiken | Freelance Digital Content Creator (web article, social media management, and videography) | Sony A6300 & DJI Mavic Pro user.