Jelas kulihat tulisan pintu masuk Telaga Warna namun tak nampak tanda bahwa minibus ini akan berhenti, hingga 50 meter kemudian. Ah inilah yang aku benci dari peak season, mayoritas tempat wisata akan dibanjiri oleh pengunjung. Minibus yang kami naiki terpaksa parkir di pinggir jalan karena seluruh area parkir di Telaga Warna telah penuh. Ketenaran Telaga Warna sebagai objek wisata andalan Kabupaten Wonosobo memang sudah tak dapat dipungkiri lagi. Tempat ini selalu menjadi tempat favorit wisatawan lokal yang tinggal di sekitaran kota kecil ini.

Telaga Warna masuk di dalam wilayah administrasi Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Untuk masuk ke objek wisata ini setiap pengunjung dikenai retribusi sebesar Rp6.000,00 (24 Desember 2012) baik itu pengunjung dewasa atau anak-anak. Aku tidak tahu pasti apakah wisatawan asing dikenai tarif berbeda atau tidak. Di tempat ini sebenarnya tidak hanya ada Telaga Warna, tetapi ada juga Telaga Pengilon, Goa Semar, Goa Sumur, dan Goa Jaran.

Selain menikmati panorama telaga yang tampak lebih mirip kawah yang tak mendidih ini, tersedia juga fasilitas lain seperti flying fox menyeberangi sebagian kecil Telaga Warna. Untuk yang satu ini, aku lebih senang melihat dan memfotonya saja, tak berminat dan tak berani mencoba. Haha. 😀

Setlah menikmati Telaga warna dan Telaga Pengilon, kami pun mulai menyusuri jalan setapak untuk menuju kawasan goa-goa. Meski tadi terlihat tempat parkir yang penuh, namun karena tempat ini cukup luas ternyata tidak terlalu terasa padat. Masih cukup nyaman lah untuk kami menikmati suasana alam disini.

Kalau kalian belum pernah ke Telaga Warna, tidak semua tempat diizinkan untuk di foto, terutama setelah melewati patung semar yang  menuju ke area goa-goa. Bukan ga boleh karena apa-apa sih, cuma dianjurkan untuk ga memotret setelah melewati patung itu. Pernah ada sebuah cerita tentang seseorang pengunjung yang ngeyel tetap memotret di “area terlarang” ini dan akhirnya pengunjung itu hilang dan tak pernah ditemukan kembali. Boleh percaya atau pun tidak, tapi demi menghormati peraturan lokal, aku pun memilih untuk mematikan kamera dan menyimpannya di dalam tas. Lumayan lah sekalian menghemat baterai. 😛

Sekitar pukul 15.00 WIB, kami pun beranjak dari area Telaga Warna menuju ke Desa Sembungan lalu mendirikan tenda di sekitar Telaga Cebong. Menurut beberapa referensi, Desa Sembungan adalah desa tertinggi di Pulau Jawa karena terletak di ketinggian 2.565 meter dari permukaan laut.

Lihat Semua Foto dan Video di Dieng, Jawa Tengah

@TravellersID

#AnakWiken | Freelance Digital Content Creator (web article, social media management, and videography) | Sony A6300 & DJI Mavic Pro user.