Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB ketika 2 (dua) buah minibus yang kami naiki tiba di pelataran parkir Komplek Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, aku hampir tak ingat punya memori di tempat ini karena masih mudanya umurku saat pertama kali kesini bersama keluarga besarku. Berbeda sekali dengan ekspresi yang terlihat di wajah ibuku, beliau terlihat senang sekali. Entah senang karena ada memori indah disini atau karena akhirnya anaknya mau juga mengajaknya traveling. Haha. 😀

Entah karena ingin mengusir dingin yang merangsek masuk ke badanku atau demi menghindari tersesat di tempat ini, setengah berlari aku menyusul rombongan yang sudah terlebih dahulu berada di depan. Kalian bosan berfoto di depan candi? Coba deh berfoto bersama Teletubbies ini dengan latar belakang pohon cemara dan beralaskan rumput halus. Berpelukan…!

Setelah melewati beberapa penjual oleh-oleh dan tukang jagung bakar, aku pun melewati segerombolan orang yang tampak seperti pengamen yang sedang dikerumuni oleh beberapa orang manula. Tampaknya baik pengamen dan manula tersebut sama-sama sedang bernostalgia melalui lagu-lagu yang pernah jaya di masa mereka. Bukan nostalgianya yang aku kagumi, tapi keceriaan mereka itu yang membuatku merasa iri.

Aku lupa siapa nama guide ini, yang aku tahu beliau adalah senior guide di kawasan Dieng. Meski beliau tahu bahwa kami semua adalah WNI asli, beliau menjelaskan berbagai hal soal tempat ini dalam bahasa Inggris. Aneh memang, tapi mungkin beliau sambil berlatih agar semakin lancar dalam melayani wisatawan asing yang mengunjungi tempat ini. Belum sempat aku tanyakan soal itu, di bagian belakang kerumunan tampak 2 orang warga negara asing yang ikut mendengarkan penjelasan dari bapak ini. Well, baguslah kalau begitu. Setidaknya beliau jadi tidak “sia-sia” ngomong pakai bahasa Inggris di hadapan wisatawan lokal. 😛

Dari Komplek Candi Arjuna ini, kami kemudian diajak menuju Museum Kailasa. Di museum inilah beberapa peninggalan bersejarah yang ada di Dieng disimpan. Pengenalan sekilas tentang kultur masyarakat di Dieng juga bisa kalian lihat disini. Selain itu di museum ini juga terdapat semacam teater kecil yang biasa diugnakan untuk menonton film singkat tentang Dieng. Aku tak tahu apa bedanya dengan film yang diputar di Dieng Plateu Theater, tapi kata seorang teman sih yang diputar disini hanya film singkat saja.

Selesai dari Museum Kailasa, kami pun segera beranjak menuju ke masjid untuk memberikan kesempatan kepada teman-teman yang beragama Islam untuk menunaikan shalat Dzuhur, sekalian makan siang. Setelahnya, kami akan menuju ke Telaga Warna lalu naik ke Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa.

Lihat Semua Foto dan Video di Dieng, Jawa Tengah

@TravellersID

#AnakWiken | Freelance Digital Content Creator (web article, social media management, and videography) | Sony A6300 & DJI Mavic Pro user.