Pembuatan Video Profil Gratis

Mau dibuatkan video profil personal/komunitas secara gratis? Anda membaca artikel yang tepat. Begini, saat ini saya sedang belajar untuk membuat video (mulai dari konsep hingga editing), dari yang awalnya adalah personal travel video dan sekarang saya ingin sekali belajar membuat video profil personal (orang lain) atau pun komunitas. Dan seperti biasanya, hal-hal yang ingin saya pelajari, terutama yang berhubungan dengan hobi, tidak saya targetkan untuk menjadi sebuah sumber penghasilan, murni karena ingin belajar/hobi saja.

Untuk mendukung proses belajar ini, selain dengan akan kursus fotografi dari tahapan yang paling dasar (lagi cari penyedia jasa dengan metode, waktu, dan harga yang cocok), saya merasa bahwa saya juga butuh belajar langsung untuk membuat videonya. Oleh karena itu, bermodalkan alat dan pengetahuan yang seadanya ini, saya ingin menawarkan pembuatan video profil personal/komunitas secara gratis untuk Anda.

Bagaimana caranya? Baca Q&A berikut ini, setuju pada Syarat dan Ketentuan yang saya ajukan, lalu isi salah satu form yang relevan.

[spoiler title=’Q: Siapa saja yang bisa dibuatkan videonya?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Siapa pun, selama sudah mengisi form, setuju dengan Syarat dan Ketentuan yang saya ajukan, dan profilnya menarik.[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Profil menarik itu yang seperti apa?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Tidak ada standar pasti sih, berdasarkan pada data yang Anda isikan pada form dan pada keyakinan saya apakah hasilnya akan menarik atau tidak, subjektif saja, jangan baper ya.[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Apakah perusahaan/bisnis juga bisa dibuatkan secara gratis?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Untuk keperluan ini sih tidak, tapi saya bisa mempertimbangkan yang akan tergantung pada beberapa pertimbangan. Kirim DM saja ke akun Twitter saya.[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Hasil videonya seperti apa kira-kira?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Tentu tergantung konsep dan seberapa “menarik” profil Anda/komunitas. Namun mohon jangan berharap hasilnya akan sangat bagus/profesional mengingat tujuan pembuatan ini adalah sebagai sarana saya untuk belajar. :)[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Apakah benar-benar gratis? Tidak akan ada biaya sama sekali?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Untuk pembuatan video ini? Tentu saja. Namun jika ada biaya seperti pengeluaran pribadi Anda untuk transportasi, akomodasi, konsumsi, wardrobe, biaya perizinan/sewa tempat, dll, itu menjadi tanggungan Anda. Anda pun tak perlu menanggung biaya tersebut untuk saya, tenang.[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Peralatan apa yang Anda gunakan untuk membuat video ini?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Saat ini saya hanya memiliki kamera mirrorless, peralatan lighting sederhana seperti LED video light, practical light, flash), external microphoneexternal monitor, tripod, dan menggunakan software Filmora untuk mengedit videonya. Daftar lengkap peralatan syuting saya bisa Anda lihat di sini.[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Apakah Anda pernah membuat video seperti ini yang bisa saya lihat terlebih dahulu?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Ada. Sila cek di sini.[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Penawaran ini berlaku untuk orang yang tinggal di mana saja?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Prioritas adalah untuk orang yang tinggal di Jakarta dan area sekitarnya yang masih bisa saya jangkau. Untuk kota lain bisa juga, selama saya punya waktu yang pas.[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Jika saya terpilih, kapan syuting akan dimulai dan berapa lama?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Berhubung saya masih kerja kantoran, jadi syuting hanya bisa dilakukan di hari Sabtu atau Minggu atau tergantung ketersediaan waktu dan kesepakatan ita bersama. Untuk durasi syuting tentu tergantung konsep, tapi seharusnya seharian pun sudah cukup.[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Berapa lama waktu editing sampai videonya jadi?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Normalnya sih maksimal 2 (dua) minggu sejak syuting selesai. Saya akan kirimkan preview videonya terlebih dahulu untuk Anda lihat dan minta revisi, lalu buat final version-nya jika Anda sudah OK.[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Apakah saya bisa minta “mentahan” videonya?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Saya akan memberikan master file video jadi, dalam arti bahwa hanya shot dan scene yang ada di video jadi saja yang saya berikan yang berarti tidak akan semua file.[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Apakah saya bisa gunakan hasil videonya untuk keperluan komersial?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Tentu saja, selama sesuai dengan Syarat dan Ketentuan yang saya ajukan.[/spoiler]

[spoiler title=’Q: Apa saja Syarat dan Ketentuannya?’ style=’default’ collapse_link=’true’]A: Dengan mengikut project ini, Anda menyatakan bahwa Anda setuju untuk

  1. mematuhi seluruh Syarat dan Ketentuan pembuatan video ini;
  2. memberikan data pribadi, baik yang diberikan melalui form maupun yang akan saya minta untuk keperluan pembuatan video. Saya menjamin bahwa data tersebut tidak akan diberikan kepada pihak ketiga;
  3. menyelesaikan apa yang sudah dimulai, dalam arti bahwa akan menyelesaikan seluruh proses pembuatan video, mulai dari proses syuting hingga video jadi;
  4. menanggung semua biaya pribadi dan perizinan yang diperlukan dalam pembuatan video, termasuk namun tidak terbatas pada biaya transportasi, akomodasi, konsumsi, wardrobe, biaya perizinan/sewa tempat, dan lain-lain. Anda tidak perlu menanggung biaya apa pun terkait diri saya, baik itu transportasi, akomodasi, maupun konsumsi;
  5. mengunggah video jadi ke akun jejaring sosial yang Anda miliki dan me-mention saya sebagai pembuatnya. Jika Anda mengunggahnya di blog Anda, mohon berikan backlink ke artikel ini;
  6. menjamin bahwa foto dan/atau video dan/atau audio pendukung yang Anda berikan kepada saya adalah milik Anda pribadi atau Anda memiliki lisensi untuk menggunakannya. Jika dimiliki oleh pihak ketiga, Anda harus terlebih dahulu mendapat persetujuan pemiliknya sebelum diserahkan kepada saya;
  7. tidak menggunakan video untuk tujuan lain selain yang sudah kita sepakati bersama. Jika perlu menggunakannya untuk tujuan lain, Anda harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari saya secara tertulis atau melalui e-mail; dan
  8. memberikan saya lisensi yang eksklusif dan tak terbatas waktu untuk menggunakan sebagian maupun keseluruhan isi dalam video untuk keperluan publikasi termasuk namun tidak terbatas pada publikasi di jejaring sosial, blog, dan portofolio saya.

[/spoiler]

Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk membantu saya belajar membuat video profil personal/komunitas Anda? Jika ya, sila pilih salah satu form berikut ini, isi, dan tunggu kabar dari saya! Terima kasih banyak! 🙂

[spoiler title=’Form untuk pembuatan Video Profil Personal’ style=’default’ collapse_link=’true’][/spoiler]

[spoiler title=’Form untuk pembuatan Video Profil Komunitas’ style=’default’ collapse_link=’true’][/spoiler]

Blog, Blogging, Blogger

“We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.”

― Anaïs Nin.

Saya pertama kali mengenal blog pada tahun 2007, kalau tidak salah ingat. Pada masa itu, saya membuat blog untuk organisasi mahasiswa ekstra kampus yang sedang saya geluti, namanya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saya membuatnya di platform Blogspot dan benar-benar belajar secara otodidak. Mulai dari cara menata layout dengan coding HTML, formatting tulisan, sampai dengan mengisi kontennya.

Lalu pada tahun 2010, saya membangun sebuah situs web sendiri tentang jaminan sosial, yang saya beri nama Institut Jaminan Sosial Indonesia (IJSI). Kemudian situs tersebut berubah menjadi sebuah lembaga nirlaba yang saya dirikan bersama beberapa orang ahli dan tokoh jaminan sosial. Sayangnya, saat ini lembaga dan situs web tersebut sudah tidak aktif, karena target akhir kami sudah tercapai dengan lahirnya Undang-Undang tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial di tahun 2012.

Sebelum situs web ini lahir di bulan Agustus 2012, saya juga sempat membuat versi WordPress.com-nya, meski tak bertahan lama karena pada dasarnya saya lebih suka WordPress.org yang lebih bisa dikustomisasi dan berbayar. Ajaibnya, situs web ini masih bertahan hingga saat ini menggunakan server VPS yang sama dengan situs web IJSI. Dan beberapa bulan lalu, saya membuat satu lagi situs web untuk menampung segala ide random saya yang sering muncul tiba-tiba, mostly saat brainstorming terkait ide marketing. Sila klik di sini buat yang mau lihat-lihat, tapi nanti saja ya setelah baca artikel ini sampai selesai.

“Compound interest is the eighth wonder of the world. He who understands it, earns it … he who doesn’t … pays it.”

Albert Einstein.

Lalu, apa persamaan utama dari lahirnya beberapa sits web/blog di atas? Minat. Saya cenderung membuat suatu hal berdasarkan minat. Saat minatnya sedang ke organisasi mahasiswa itu, saya bikin blog. Saat minatnya ingin mempelajari jaminan sosial, saya bikin web. Saat minatnya terkait traveling, saya bikin blog. Saat minatnya sedang random thought, saya bikin blog. Minat yang dikerjakan cukup rutin pada akhirnya menjadi sebuah hobi. Namun hobi yang menyamakan semua minat saya yang berbeda-beda itu adalah menulis. Ya, saya cukup suka menulis, terutama yang berdasarkan data atau memerlukan riset.

Minat saya akan menulis ada yang berujung menjadi sebuah pekerjaan dan lebih banyak yang berakhir menjadi sebuah hobi. Sebentar, kalian tahu bedanya pekerjaan dan hobi kan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hobi adalah “kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama.” Sedangkan menurut Wikipedia, tujuan dari hobi adalah untuk “memenuhi keinginan dan mendapatkan kesenangan.”

Dari 4 situs web/blog yang saya sebutkan di atas, tak satu pun yang dimaksudkan menjadi sebuah pekerjaan utama. Saya menulis di kala senggang, untuk mendapatkan kesenangan dari menuangkan ide, tanpa merasa terpaksa, dan tidak bertujuan untuk mendapatkan penghasilan, baik tambahan apalagi utama. Sedangkan yang berujung pada pekerjaan –dari minat menulis– hanya di Skyscanner dan satu proyek kecil yang rahasia.

Coba perhatikan kata yang saya cetak tebal di atas: waktu senggang dan mendapatkan kesenangan. Salah satu alasan utama mengapa saya enggan disebut sebagai seorang blogger adalah karena definisinya yang tak cocok dengan pengertian dan tujuan hobi. Dewasa ini seseorang disebut blogger adalah ketika ia rajin update blog-nya, bahkan mungkin tak peduli bila jadi terpaksa update di waktu sibuk dan jadi tidak happy saat selesai menulis, karena merasa terpaksa tadi itu.

Saya juga tak merasa cocok disebut sebagai blogger karena tak sedikit yang menganggapnya sebagai sebuah pekerjaan. Lha wong saya menulis kan dasarnya karena hobi dan hobi bukanlah pekerjaan utama. Tapi tentu tak ada salahnya menasbihkan blogger sebagai sebuah pekerjaan yang berbasis hobi, karena toh pada dasarnya tujuan hobi adalah mendapatkan kesenangan dan bagi sebagian orang (mendapatkan) uang adalah sebuah kesenangan.

Belum lagi bagi sebagian lain yang menganggap blogger adalah seseorang yang powerful karena mampu memberikan influence pada khalayak ramai. Lha gimana ya, memberikan pengaruh pada diri sendiri saja saya tak bisa, apalagi ke orang lain. Syarat utama dibilang powerful bagi blogger katanya adalah ketika traffic blog-nya tinggi, comment-nya banyak-sampai-susah-bagi-si-blogger-untuk-membalasnya, dan sudah pada tahap ditawari placement. Ya nganu, traffic blog ini kan kecil sekali, yang comment pun sedikit-bahkan-mungkin-cuma-iseng, dan saya ga minat juga kalau ada yang nawari placementNdak cocok banget kan dianggap sebagai blogger?

Tapi ya walaupun demikian, saya tetap bersikeras menjadikan blog dan blogging sebagai hobi. Saya tetap menulis di waktu senggang-meski-senggangnya-bisa-nunggu-setahun-lebih, meski tak ingin atau bagi-sebagian-orang-tak-layak disebut sebagai blogger. Karena toh ini blog saya dan saya yang blogging. Kalau kamu?

Oh ya, selamat #HariBloggerNasional ya, kalian!

Malu Itu Sederhana

“Any fool can know. The point is to understand.”

― Albert Einstein.

Beberapa hari terakhir linimasa Twitter cukup ramai “membicarakan” tentang meninggalnya @hmd yang, tampaknya, cukup mendadak. Well, aku tak mengenalnya, hanya sekedar tahu, itu pun hanya ketika tweet-nya di-retweet oleh beberapa teman-temanku. Namun demikian, seiring dengan kepergiannya beberapa hari yang lalu, aku merasa cukup tahu tentangnya, meski hanya melalui kicauan dan tulisan orang-orang yang dekat dengannya.

Tulisan tentang @hmd yang pertama kali aku baca adalah tulisan lama dari GennaStaria. Baginya, @hmd adalah “…orang yang saya tidak pernah tahu akan selalu bersedia meluangkan waktu untuk temannya. Dia adalah orang terakhir yang saya cari ketika tidak tahu lagi kemana harus berbagi cerita. Tapi dia seakan tidak memperdulikan itu, baginya mungkin teman adalah sesuatu yang berharga.”

Selepas membaca tulisan Genna, memoriku kembali ke masa-masa SMA, masa sewaktu aku masih mempunyai teman dengan karakter seperti beliau. Teman yang selalu ceria seolah tak punya masalahnya sendiri. Teman yang selalu ada saat aku sedang terpuruk dan bersedia mendengarkan segala keluh kesah. Teman yang tak pernah mengeluh saat aku tak ada untuknya.

Tulisan yang kedua adalah milik seseorang yang aku kagumi akibat tingkat random-nya yang akut namun tetap menghibur dan retweetable. Semalam ia berbincang dengan seseorang tentang rencananya membuat semacam mixtape sebagai sebuah tribute untuk @hmd. Aku kira itu hanya bercanda, ternyata ia serius. Melalui dialog imajiner antara Burhan dan Rustam, @dony_iswara meramu gambaran tentang sosok seorang @hmd dalam hidupnya, dengan apik.

Dalam mixtape yang ia buat, ada lagu “Sebuah Kisah Klasik” milik Sheila on 7 yang berhasil melemparkanku jauh kembali ke masa menjelang kelulusan SMP. Well, meski bagi sebagian besar orang masa SMP adalah masa yang cenderung memalukan mengingat kondisi kita yang umumnya masih cupu, namun cukup banyak kenangan selama masa itu yang tak ingin kulupakan. Terutama masa ketika aku dan teman-temanku menyanyikan lagu tersebut bersama-sama, lalu kemudian menangis seolah tak rela berpisah.

“…Bersenang-senanglah, karena hari ini yang ‘kan kita rindukan di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan. Bersenang-senanglah, karena waktu ini yang ‘kan kita banggakan di hari tua…”

Lalu tulisan yang ketiga adalah tulisan milik Donny Verdian yang sempat bercerita tentang proses penerbitan tulisan @hmd di blog-nya tersebut. Ada yang menarik, yaitu ketika tulisan @hmd diedit oleh Mas Donny Verdian agar sesuai dengan ‘standarnya’, “Setelah kubaca draftnya, karena kurasa tata bahasanya masih berantakan, aku mengeditnya. Setelah kukirim balik kepadanya untuk approval, Hamid berkomentar, “Wah, tulisanku jadi Donny banget! Aku nggak mau! Biar kutulis ulang aja!” ujarnya.”

Dari tulisan tersebut aku terbawa ke tulisan tentang buzzer yang ditulis oleh @hmd. Ia benar-benar ‘menamparku’ yang beberapa tahun terakhir sedang mencoba bergelut di dunia digital dan periklanan. Ia memberikan pesan penting bahwa, “Dari kejadian-kejadian itu, dengan semena-mena saya simpulkan, ketepatan solusi untuk melakukan branding bukan semata ditentukan oleh ‘siapa’ ‘buzzer’-nya, tapi ditentukan oleh kombinasi yang apik dalam menentukan target market dan penetrasi serta tentu saja timing yang tepat.” 

“Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young.”

― Henry Ford.

Hingga akhirnya malam ini aku membaca tulisan @arman_dhani -seseorang yang tak perlu dijelaskan dia itu siapa- di situs web-nya @njagonan. Dhani berhasil membuatku iri dan menyesal kenapa aku tak mengenal @hmd agar aku bisa belajar banyak darinya, seperti halnya teman-temannya. @hmd berhasil membuatku malu pada diriku sendiri. Malu tentang betapa telah berubahnya aku belakangan ini sementara ia tetap sebagaimana dirinya, tak peduli apa pun keadaannya.

@hmd begitu peduli pada teman dan semua hal tentang mereka. @hmd selalu men-support mereka meski (barangkali) ia sendiri susah dan (boleh jadi) lebih membutuhkan dukungan moral akan masalah yang ia hadapi. Seseorang pernah berkata, “Kebaikan seseorang akan jelas terlihat ketika ia meninggal, yaitu dari seberapa banyak yang dengan sukarela datang ke pemakamannya.” Aku tak mengenal @hmd, tapi aku yakin ia adalah orang baik. Selamat jalan, Mas. Terima kasih telah menyadarkanku akan banyak hal.

Dan memang, malu itu sederhana…

Membuat dan Mengambil Keputusan

“There are some choices you can only make once. You can’t go back to where you made a choice and then take the other one.”

― Mary Hoffman.

Meski sering terlihat (dianggap bermakna) sama, ternyata makna “mengambil keputusan” (taking decision) dan “membuat keputusan” (making decision) itu berbeda. Frasa “membuat keputusan” merujuk pada kondisi, baik itu sebagian atau keseluruhan, proses pengambilan keputusan. Sementara frasa “mengambil keputusan” hanya merujuk pada kondisi saat keputusan tersebut diambil / dibuat dan bukan pada keseluruhan prosesnya.

Frasa “mengambil keputusan” memiliki konotasi formal dengan implikasi bahwa keputusan yang telah diambil / dibuat mempunyai konsekuensi yang serius terhadap pembuatnya. Singkat kata, “membuat keputusan” lebih erat pada proses (sebelumnya) dan “mengambil keputusan” lebih erat pada konsekuensi (setelahnya). Untuk lebih jelasnya sila baca di sini.

Tentu kita semua tahu bahwa setiap pengambilan keputusan memerlukan (proses) pembuatan keputusan. Pembuatan keputusan ini umumnya didasari oleh pengetahuan keilmuan, pengalaman masa lalu, maupun asumsi dampak dari keputusan yang akan kita ambil. Pertanyaan selanjutnya adalah, sudahkah kita maksimalkan tiga hal tersebut sebelum mengambil keputusan?

“Think 100 times before you take a decision, But once that decision is taken, stand by it as one man.”

― Muhammad Ali Jinnah.

Setiap keputusan yang kita ambil, entah itu keputusan mengenai karir, keuangan, ataupun pasangan, akan dinilai oleh orang lain dan aku yakin tak ada yang salah dengan penilaian ini, toh kita tidak pernah benar-benar bisa hidup tanpa orang lain kan? Pertanyaannya kemudian, saat keputusan kita dinilai atau mungkin dipertanyakan oleh orang lain, bagaimana sikap kita?

Dalam konteks pariwisata, saat traveling ke sebuah tempat dan “menemukan” potensi wisata baru, apa pertimbangan utamamu hingga berani mengambil keputusan untuk mempromosikannya? Kesejahteraan penduduk lokal? Agar terkenal dan berjasa karena telah membantu pariwisata Indonesia menjadi maju? Atau?

Dalam konteks dunia pendidikan, saat melihat seorang anak didik yang sangat terampil / berbakat dalam suatu hal, entah itu pelajaran ataupun keahlian tertentu, apa pertimbangan utamamu hingga berani mengambil keputusan untuk mengarahkannya menekuni bakat tersebut? Karena itu memang potensinya atau karena ingin dia menggeluti bidang yang sama dengan yang kita geluti?

“You have to listen to the people who have a negative opinion as well as those who have positive opinion. Just to make sure that you are blending all these opinions in your mind before a decision is made.”

― Carlos Ghosn.

Dari berbagai literatur dan diskusi yang pernah aku ikuti, penggiat dunia pendidikan tentu tahu bahwa pendidikan itu semestinya membimbing anak didik dan bukannya menciptakan mereka jadi sesuai kemauan pendidik. Pendidik hanya berkewajiban untuk menggali potensi dan minat anak didik lalu membekalinya untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Pendidik yang baik, bagiku, tentu tak akan mengambil keputusan anak didiknya akan / harus menjadi (si)apa.

Pernah aku tuliskan di sini, bahwa sebelum mengambil keputusan untuk mempromosikan sebuah potensi wisata tertentu yang mungkin saja “baru”, kita harus melibatkan penduduk lokal terutama karena mereka adalah yang paling pertama terdampak akan hal tersebut. Karena “mengambil keputusan” itu memerlukan proses “membuat keputusan”, sudahkah kita mengkaji dari banyak sisi sebelum mengambil keputusan untuk mempromosikannya? Ingat, persoalan pariwisata tak hanya persoalan kesejahteraan sosial dan ekonomi, tapi juga kelestarian alam.

Hanya karena kita merasa “lebih moderm”, merasa “lebih beradab”, dan merasa lebih banyak pengalaman, tentu tak serta merta menjadikan kita berhak mengambil keputusan terhadap sesuatu yang akan mempengaruhi hajat hidup orang banyak, kan? Aku yakin sepenuhnya bahwa hanya karena project “Sokola Rimba” sukses, tak lantas menjadikan kita punya hak untuk seenaknya masuk dan mengajarkan hal-hal yang sama sekali tak dibutuhkan oleh masyarakat di pedalaman. Kita bukan Tuhan, kan?

Sekali lagi, setiap pengambilan keputusan memerlukan (proses) pembuatan keputusan dan pembuatan keputusan ini harus didasari oleh pengetahuan keilmuan, pengalaman masa lalu, maupun asumsi dampak dari keputusan yang akan kita ambil. Setiap keputusan yang diambil akan selalu dipertanyakan dan memiliki konsekuensi yang mengikat.

By the way, apa yang membuatmu mengambil keputusan untuk membaca tulisan ini sampai selesai?

Making and Taking Decision

Komitmen

Ada sebuah dialog dari film “Jomblo” yang sampai saat ini masih aku ingat dan sangat aku yakini “kebenarannya”, yaitu dialog yang terjadi saat Agus memutuskan hubungan perselingkuhannya dengan Lani. Kurang lebih demikian dialognya:

Agus    : Saya sayang dia, dia juga sayang sama saya, saya sadar kamu tuh lebih dibandingin dia, tapi itu bukan alasan seseorang untuk mutusin pacarnya!
Lani    : Bukankah semua orang nyari yang terbaik buat dirinya ya, Gus? 
Agus   : Kalau saya terus nyari yang lebih baik, suatu saat saya juga bakal ninggalin kamu, saya harus punya komitmen, dia juga kaya gitu, kita berdua tuh udah mau berubah.

Manusiawi memang ketika kita selalu mencari yang terbaik -yang (jauh) lebih baik- untuk diri kita. Aku tak menampik bahwa kita layak mendapatkan apa yang terbaik untuk diri kita, entah itu pasangan, upah, teman, pekerjaan, lingkungan kerja, dan lain-lain. Tapi, coba renungkan jawaban Agus atas pertanyan Lani. Kita harus punya komitmen, tak hanya terhadap sebuah hubungan percintaan, tapi juga pada hubungan lain, pekerjaan misalnya.

Terhitung sejak tanggal 13 Januari 2015, aku mulai bekerja kantoran. Tak sedikit yang bertanya kenapa aku mau ambil jenis pekerjaan tersebut, padahal sejak tahun 2011 aku tak pernah bekerja di kantor. Ada beberapa pertimbangan. Pertama, karena memang aku ingin bekerja tetap mulai tahun 2015, agar bisa menabung untuk membeli rumah -meski baru DP-nya dulu- lalu kemudian menikah di tahun 2016, entah dengan siapa.

Kedua, karena aku butuh keteraturan. Dengan bekerja kantoran, aku yakin hidupku akan lebih teratur dengan bangun pagi, berangkat ke kantor, bekerja 8 jam sehari, lalu pulang. Dan tentunya, setelah pulang kantor aku tak perlu bekerja lagi seperti waktu masih menjadi freelancerI need to stop my 14 hours per day work hour.

Memang, dengan bekerja freelance, aku bisa bekerja untuk beberapa perusahaan sekaligus, yang berarti penghasilannya pun berlipat-lipat. Masalahnya, akankah nantinya penghasilanku (jauh) menurun ketika bekerja kantoran? Alhamdulillah tidak, Travelio berkenan untuk membayarku dengan sangat layak. Namun demikian, kenapa aku mau bekerja di sana bukanlah karena upah yang ditawarkan, tapi kesempatan dan tantangan untuk membangun sebuah startup dari nol.

Tantangan bukanlah berhasil masuk ke sebuah lingkungan yang sudah besar / mapan. Tantangan adalah membuat lingkungan baru dan kecil, menjadi dikenal dan besar.

Sekitar satu bulan yang lalu, seorang teman pernah nge-tweet “Love your job, but not your company”. Tebak apa responku? Bukan, aku berkata, “I love my job and my company”. Lalu ia menimpalinya dengan berkata padaku, “Terjebak zona nyaman?” Dengan tenang seraya tersenyum aku menjawab, “Ga, kalau kamu kerja di tempat aku bekerja saat ini, aku yakin kamu akan berkata hal yang sama.”

Baru satu bulan bekerja di Travelio aku sudah berani menyimpulkan demikian, berlebihan kah? Tidak, bagiku. Aku bukan tipe orang yang mencari pekerjaan hanya berdasarkan jenis pekerjaan apalagi upah / gaji. Kalau sekedar memilih pekerjaan, terutama yang “aman”, aku pasti sudah menerima tawaran seorang direksi perusahaan BUMN yang memintaku untuk menjadi bagian dari tim marketing-nya.

Kalau sekedar memikirkan upah, aku pasti sudah menerima tawaran pekerjaan dari sebuah perusahaan asing yang ingin “membajakku” dari Travelio dengan iming-iming 2x lipat gaji. Meski tawaran dari direksi perusahaan BUMN tersebut datang ketika Travelio belum memberikan kepastian akan menerimaku atau tidak, aku tetap menolaknya. Meski tawaran dari perusahaan asing tersebut tampak menggiurkan dari sisi penghasilan, aku tetap menolaknya. Kenapa? Komitmen adalah kata kuncinya.

“Don’t pick a job. Pick a Boss. Your first boss is the biggest factor in your career success. A boss who doesn’t trust you won’t give you opportunities to grow.”

― William Raduchel.

Sejak proses wawancara dengan manajemen Travelio, aku sudah merasa excited jika bisa bekerja di sana. Meski awalnya aku sempat “membuat masalah” dengan sering terlambat datang ke kantor, bosku tidak marah -meski tetap menegur. Bos yang baik dan luar biasa peduli, lingkungan kerja yang asyik, teman kerja yang saling mendukung, kebebasan untuk mengemukakan pendapat, dan tidak adanya jarak antara pimpinan dengan karyawan biasa, jelas membuatku jatuh cinta dan semakin meneguhkan komitmen untuk membuat startup ini mencapai targetnya.

Berbicara soal “terjebak di zona (ny)aman”, pernahkah kalian berpikir bahwa zona tersebut hanya ilusi yang tak berujung seperti halnya konsep “Quit your job and travel the world” dan “mencari yang terbaik”? Begini, jika “A” adalah zona nyaman kita dan terjebak di zona nyaman itu “salah”, maka kita akan keluar dari “A” menuju “B” hingga “B” akhirnya menjadi zona nyaman yang baru. Ingat, terjebak di zona nyaman itu salah. Karena itu kita harus keluar dari “B” menuju “C” hingga “C” menjadi zona nyaman baru, begitu seterusnya. Mau sampai kapan?

Komitmen adalah sesuatu yang dibutuhkan dalam menjalani hubungan apa pun. Komitmen adalah sesuatu yang dapat membuat seseorang menjadi “the chosen one” atau “the abandoned one”. Komitmen adalah yang membedakan antara orang dewasa dengan anak-anak. Komitmen adalah yang membuatku memilih kamu di antara 7 milyar orang yang ada di dunia ini.

Lalu, beranikah kamu berkomitmen?

I love relationship with my bed

XPLOR Forum, Tempat Modusin Rangers @XLCare

Di suatu sore yang hujan saat sedang menunggu jam pulang kantor dan hujan reda, masuklah sebuah DM yang dilanjutkan oleh e-mail dari seseorang yang memintaku untuk mencoba sebuah online forum baru, yaitu XPLOR Forum.

Jujur, aku bukan tipe orang yang suka bermain di online forum seperti itu. Di Kaskus misalnya, aku hanya menggunakannya sebatas kalau sedang mencari / menjual barang yang aku butuhkan. Di forum BPI pun dulu aku hanya menggunakannya ketika hanya ingin mencari teman share cost untuk traveling, bahkan sudah lama aku tidak aktif.

Seperti halnya dua online forum tersebut, aku pun agak malas untuk mencoba XPLOR Forum meski akhirnya aku pikir tak ada salahnya mencoba. Layaknya sebuah hubungan, kadang kalau tidak coba dijalani, kita tidak akan tahu cocok atau tidak. Kan?

Beberapa saat setelah registrasi, aku mencoba mengeksplorasi beberapa fiturnya dan langsung terkesima pada gambar “charlie’s angels” yang ada di pojok kanan bawah.

XPLOR Forum Footer
“Charlie’s Angels” KW 17

Tahapan registrasi XPLOR Forum ini cukup mudah, kita tinggal klik tombol “Daftar”, mengisi data calon mempelai diri, verifikasi alamat e-mail, nomor sepatu ponsel, dan upload foto profil. Selanjutnya? Aku pun tak paham. Aku hanya diundang untuk mencoba XPLOR Forum tanpa diberikan uang saku pembekalan pengetahuan yang cukup.

Well, since “kepo” is my middle name, aku yakin tak butuh panduan pemakaian (Read: klik aja semuanya dan baca biar tahu ini tuh apaan). Buat kalian yang bingung, berikut adalah beberapa hal yang aku “temukan” dari hasil kepo:

  1. XPLOR Forum adalah sebuah forum khusus yang dibuat oleh PT XL Axiata yang dikhususkan (mungkin) bagi para pelanggannya untuk mencari informasi seputar produk, layanan, meminta bantuan teknis dan lain-lain terkait operator telepon seluler XL.
  2. Selain itu, XPLOR Forum juga menyediakan tempat bagi penggiat aktivitas tertentu untuk berbagi pengalaman, cerita, panduan, tips, dan informasi lain. Saat tulisan ini dibuat, ada 9 “Community Forum” tempat kita bisa mencurahkan segenap perasaan berbagi.
  3. Sebagaimana situs web pada umumnya, ia pasti akan memuat panduan cara penggunaan, yang di XPLOR Forum bernama “Aturan Main”, yang tampilannya cukup ciamik untuk seseorang yang “gaptek” sepertiku. Aku sempat terheran-heran karena script pada halaman ini tidak kaku, ia bergerak memberikan panduan. *Norak mode: On*.
  4. XPLOR Forum menggunakan beberapa sistem “penilaian” member-nya, yaitu dengan “Wow!”, “Rank”, dan “Badge”:
    • Kita disarankan untuk memberikan “Wow!”, atau yang di Kaskus dikenal dengan sistem rating bintang, ketika menemukan sebuah thread post yang keren sebagai bentuk apresiasi.
    • “Rank” atau “Ranking” untuk menandakan seberapa tinggi reputasi kita di XPLOR Forum tersebut yang bisa didapatkan dengan cara: Bikin thread yang berkualitas, membantu jawab Xplorer lain yang bertanya di forum, dan dengan mendapatkan “Wow!” sebanyak-banyaknya.
    • Sementara “Badge” atau lencana bisa didapatkan dengan berbagai cara untuk menandakan makin banyak koleksi “Badges” yang kita miliki = makin keren reputasi kamu. Uniknya, “Badge” ini bisa ditukar dengan berbagai hadiah dari XL, mulai dari pulsa sampai diskon pembelian produk.
  5. Selain itu, ada juga “XL Idea”, ruang khusus untuk Xplorer mengirimkan ide, mengkritik ide yang ada, mengapresiasi (Wow!), mendiskusikan lebih lanjut, and the best part is ide yang kita submit bisa saja diwujudkan oleh XL.
  6. Buat anak Kaskus, kayaknya di sini ga ada sistem “Sundul, Gan!” deh. #pukpuk

XPLOR Forum Walkthrough

Dari keseluruhan fitur di XPLOR Forum, bagiku, tak ada yang spesial. Sampai aku menemukan sebuah halaman khusus yang bernama “Meet The Superheroes”. Dengan adanya halaman ini, aku sekali lagi terkesima oleh cara XL dalam membuat segala layanan online-nya tetap terasa personal, yang tampaknya sudah menjadi kultur mereka. Di halaman tersebut diinformasikan gambaran singkat masing-masing “Community Forum” dengan latar belakang singkat tentang pengasuh forumnya. *asuh aku dong , kakak!*

Ada @freeyudis (Community Manager) yang mempunyai inisiatif untuk membuat XPLOR Forum. Ada @arnantoakbar, yang membuat User Interface XPLOR Forum sekaligus moderator di Apps & Open Source Community. Lalu ada @pzzyy, seseorang yang nge-DM dan mengirim e-mail padaku tentang XPLOR Forum sekaligus moderator Kuliner & Adventure Community (Tips: jangan pernah tanya arah jalan sama Intan, nyesel ntar).

Moderator Toys Collectibles Community digawangi oleh @adityamajid sebagai seorang ayah yang punya banyak koleksi Action Figure. Ada juga @oliveayuu, biduanita penyanyi lagu “Da Aku Mah Apa Atuh”, yang bertugas sebagai moderator Movie Community (Nonton berdua yuk, Kak Olive?). Disusul oleh @alinirene, moms to be yang memoderatori Parenting Community (Kita belum pernah ketemu lho, Kak~).

Kemudian ada @harrysaputra, yang menurut kabar burung adalah seorang pria sporty berbadan ramping, moderator Sports Community. @alkathiraafuad, seorang model dan tukang foto keliling yang baru saja berulang tahun dan bertugas memoderatori Photography Community. Ada juga @fachribasalamah, pria impor, ganteng, kebapakan, mantan penyiar kenamaan, yang bertugas sebagai moderator Music CommunityLast but not least, ada @MeggaNPutri, mojang priangan yang setiap 2 minggu sekali pulang ke Bandung-dengan-alasan-kangen-rumah-padahal-mah-kangen-pacar-sementara-pacarnya-cuma-setahun-sekali-aja-ke-Jakarta-nya-karena-rasa-sudah-begitu-jauh yang bertugas sebagai moderator Fashion Community (Mega kapan putusnya? #dijambak).

Kalian udah ngerti apa itu XPLOR Forum? Belum? Sama. Kalau gitu, silakan daftar di sini, lalu kita mulai modusin Rangers @XLCare yang kece-kece dan udah pada punya pacar / suami / istri itu. #lahhh

XPLOR Forum Registration
Form Registrasi “XPLOR Forum”

Tentang Pekerjaan: Surat Terbuka Untuk Travel Blogger

“Find joy in everything you choose to do. Every job, relationship, home… it’s your responsibility to love it, or change it.”

― Chuck Palahniuk.

Tulisan ini semestinya release bulan lalu setelah aku membaca beberapa tulisan beberapa orang yang begitu “mendewakan” pekerjaannya seraya mengajak pembacanya untuk resign dari apa pun pekerjaan mereka saat ini dan menjadi seperti penulisnya, menjadi full-time travel blogger. Tulisan ini semestinya penuh dengan emosi sesaat yang dihasilkan oleh meningkatnya hormon adrenaline yang bercampur dengan norepinephrine, selayaknya tulisanku tentang Pulau Sempu. Alhamdulillah, Tuhan –melalui tumpukan pekerjaan yang saat ini sangat aku nikmati– menyelamatkanku dari membuat tulisan semacam itu.

Aku yakin ini bukan pertama kalinya kalian membaca kalimat semacam “Quit your job and travel the world” (QYJTTW), baik di linimasa maupun pada tulisan-tulisan yang mulia travel blogger. Pun, boleh jadi kalian telah beberapa kali melihatnya di blog-ku.

Bagi beberapa orang yang sudah follow akun Twitter-ku sejak akhir tahun 2012, tak jarang yang mengatakan bahwa aku pun menganut prinsip QYJTTW tersebut. Benarkah? Boleh jadi. Begini. Sejak awal tahun 2013, aku memang tak terlihat sebagai seorang pekerja kantoran dan karenanya banyak yang menganggap bahwa aku telah berhenti bekerja dan hanya traveling. Untuk beberapa pertimbangan, aku meng-amin-i orang yang mengatakan demikian, meski itu bukanlah alasan / motif yang sebenarnya.

Sebagian dari kalian mungkin sudah tahu bahwa mulai tahun 2015 ini aku akan melepaskan status freelancer-ku dan menjadi seorang pekerja kantoran. Jika ada yang bertanya “Lho kok mau kerja kantoran, bukannya enakan freelance jadi waktu jalan-jalannya banyak?” biasanya aku jawab dengan berkata, “Memang plan-nya begitu. 2013 ga kerja dan cuma jalan-jalan. 2014 kerja freelance. 2015 kerja kantoran. 2016 menikah.” Padahal, tidak sepenuhnya demikian. Aku mulai kerja freelance justru pada bulan Juli 2013, di RED Comm, hingga Juli 2014 (handle akun ini) dan lanjut lagi di akhir September 2014 hingga awal Januari 2015 untuk handle akun @tigerair_ID.

Hanya karena pola atas kejadian yang berlangsung dalam hidupku sejak tahun 2013 tersebut terlihat cocok dengan pernyataan yang aku buat akhir-akhir ini, aku lantas menggunakannya sebagai alasan. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Terjadi dahulu, alasannya kemudian.

Jika kalian berprofesi sebagai seorang full-time (travel) blogger, atau setidaknya berkeinginan menjalani profesi tersebut suatu saat nanti, aku punya sebuah anekdot yang dulu aku baca dari buku “Be The Best, Not ‘Be-asa’” karangan M. Karebet Widjajakusuma yang aku dapatkan dari sebuah seminar.

Begini ceritanya…

Kisah bermula di sebuah Kongres Anggota Tubuh Manusia. Pak Jantung memimpin sesi sidang “Pemberian Penghargaan Pada Anggota Tubuh Manusia Terpenting Tahun Ini”. Dalam pidato pengantarnya, Pak Jantung berkata, “Saudara-saudaraku sesama anggota tubuh, sebagaimana kita tahu tuan kita sangat menginginkan kinerja kesehatannya meningkat tahun ini. Peningkatan ini hanya mungkin kalau kita semua memperbaiki kinerja masing-masing. Nah, untuk memicu dan memacu peningkatan kinerja itu, tuan kita berkenan memberikan penghargaan kepada anggota tubuh terpenting. Untuk itu, kita harus menentukan siapa diantara kita yang layak untuk mendapatkannya.” Sidang seketika hening. Semua bingung karena sulit untuk menentukannya. Mas Mata merasa dirinya paling penting, karena tanpa dirinya tuannya pasti akan kelimpungan ketika berjalan. Jeng Bibir juga merasakan hal yang sama karena dia adalah juru bicara tuannya. “Coba kalau saya mogok kerja, pasti tuan dikira bisu!” Pak Jantung tak mau kalah, “Kalau saya mau mogok kerja 1 detik saja, dunia pasti kiamat Bung!” Akhirnya, ruangan Kongres pun gaduh.

Sesaat kemudian, Pak Jantung mengetuk meja sidang, “Diam semua. Setelah saya pikirkan masak-masak, sulit bagi kita untuk mencari siapa yang paling penting. Bagaimana kalau sebaiknya, kita cari saja siapa yang paling tidak penting.” Pak Jantung berbicara semangat sekali sambil melirik salah satu peserta yang pendiam, yakni Bang Lubang Kentut. Tak dinyana, semua koor, “Setujuuuu!”

Akhirnya secara aklamasi, pilihan jatuh bulat-bulat kepada Bang Lubang Kentut! Serta merta Bang Lubang Kentut protes mengajukan Peninjauan Kembali. Tapi sia-sia saja, protes Bang Lubang Kentut tenggelam dalam keriuhan sidang dan tak lama kemudian sidang pun usai. Bang Lubang Kentut terdiam, “Apa yang aku lakukan untuk tuanku, ternyata tak berharga sama sekali,” batinnya. “Baiklah. Akan aku tunjukkan bahwa apa yang mereka putuskan itu salah besar!”

Maka, mulailah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sang tuan pun demam. Kadang panas kadang dingin. Satu per satu anggota tubuh pun unjuk sakit. Pak Jantung mengeluh, detak dirinya lain dari biasanya. Yang biasanya berirama pop, kok mendadak berubah ada cengkok dangdutnya. Jeng Bibir meradang, setiap kali bertugas pasti orang di sekitar tuannya ramai-ramai menutup hidungnya masing-masing. “Ada bau tak sedap,” kata mereka. Mas Mata juga begitu. “Aku sering kelilipan dan berkunang-kunang, padahal tak ada kunang-kunang yang hinggap pada diriku. Kenapa ya?” Lalu, semua berkumpul. “Ya…ya…ya…kami juga!” Sungguh tidak seperti biasanya.

Mereka pun menunjuk tim investigasi untuk menuntaskan kasus ini. Setelah mendapat petunjuk dari sejumlah saksi, tim pun menangkap Bang Lubang Kentut sebagai satu-satunya tersangka. Akhirnya, di hadapan Majelis Hakim Bang Lubang Kentut pun mengakui bahwa ini semua terjadi karena dirinya melakukan mogok kerja. Jika tuannya ingin buang angin, ia tak merespons. Kalau tuannya ingin BAB, ia cuek saja. Pokoknya ibarat keran air, dirinya mengunci rapat-rapat keran itu. Mbah Kumis, Ketua Majelis Hakim yang berwibawa pun bertanya, “Jujurlah padaku. Apa sebenarnya yang kamu inginkan?”

Bang Lubang Kentut terbata-bata berkata, “Saya ingin menyadarkan semua pihak, meskipun posisi saya dibawah, tak elok dipandang, bukan berarti saya lantas tidak penting. Semua anggota tubuh sama pentingnya. Sudah sepantasnya kita saling sinergi sesuai dengan core-nya masing-masing.”

Dari cerita tersebut, hikmah berharga yang bisa aku petik adalah tentang betapa pentingnya sebuah sinergisitas peran. Sekecil apa pun peran yang dimainkan, peran tersebut tetap punya arti. Layaknya sekrup kecil dalam sebuah mesin besar, kecil namun tetap penting.

Hanya karena aku freelancer sehingga punya banyak waktu luang untuk traveling, aku tentu tak dapat memprovokasi orang-orang yang aku temui, atau setidaknya pembaca linimasa / blog­-ku, untuk menjadi seorang freelancer (quit your job) and travel the world. Pekerjaan dan penghasilan yang aku dapatkan lalu gunakan untuk membiayai jalan-jalanku, aku dapat dari pekerja kantoran. Aku juga tentu tak akan bisa traveling naik pesawat / bus / kereta api / kapal laut tanpa adanya orang-orang yang bekerja “ngantor”. Tak terbayangkan rasanya bila semua orang lantas berhenti bekerja lalu travel the world, siapakah yang akan mengantarku mencapai destinasi-destinasi tersebut, pramugari freelance? Siapakah yang akan jadi pekerja penginapan / objek wisata yang melayaniku di sana, resepsionis freelance?

Jika aku ada di posisi pekerja kantoran yang memberi (jalan) penghasilan kepada travel blogger yang meminta pembacanya untuk QYJTTW, aku tentu akan dengan senang hati berkata “Mblo, elo bisa terus jalan-jalan karena ada penghasilan dari pekerja kantoran kayak gue. Kejiwaan dan nalar sehat?” dan berpikir ribuan kali untuk hire travel blogger semacam itu. Serius.

Pada dasarnya, setiap orang mencintai apa yang sedang dikerjakannya, atau setidaknya berusaha untuk mencintainya. Meski tak semua, aku yakin bahwa setiap orang hanya mau melakukan apa yang menurutnya baik, atau setidaknya sesuatu tersebut harus ia lakukan, minimal untuk dirinya.

Selayaknya mencintai seseorang, kita akan cenderung mengatakan bahwa orang itu lah yang terbaik untuk kita, bahkan mungkin untuk semua orang. Begitu pun dengan pekerjaan yang kita cintai, kita akan cenderung menganggap bahwa itu adalah pekerjaan terbaik untuk kita bahkan mungkin untuk semua orang. Masalahnya, sejak awal kita sudah berbeda. Jika minat dan kebutuhan kita berbeda, lalu kenapa jalannya harus sama (dengan menjadi travel blogger)?

Setiap pekerjaan, apa pun itu, memegang peranan penting bagi pekerjaan lain. Setiap peran seseorang, sekecil apa pun itu, juga memegang peranan penting bagi peran besar. Peran utama dalam sebuah film tentu tak akan berhasil jika tidak didukung oleh peran pembantu. Bahkan tak jarang, peran pembantu lah yang mendapatkan penghargaan dan bukannya peran utama.

Intinya, hargailah pekerjaan (kantoran) orang lain. Jika merasa sulit karena kalian menganggap bahwa travel blogger adalah pekerjaan paling keren sehingga semua / banyak orang harus jadi seperti kalian, ingat baik-baik anekdot di atas atau quote berikut ini.

“Every successful individual knows that his or her achievement depends on a community of persons working together.”

― Paul Ryan.

Salam.

Pradikta Dwi Anthony.

Pekerja kantoran / bukan travel blogger.

Social Customer Care: Pelajaran Dari @XLCare

“To give real service you must add something which cannot be bought or measured with money, and that is sincerity and integrity.”

― Douglas Adams.

Sebuah studi yang dipresentasikan oleh @twitter dalam sebuah webinar pada tanggal 12 November 2014 yang lalu menunjukkan bahwa pengguna Twitter di Indonesia mem-follow sebuah akun Twitter brand untuk beberapa alasan, diantaranya adalah karena ingin mendapatkan informasi mengenai promosi produknya (54%); karena ingin tetap up to date dengan berita mengenai brand tersebut (53%); karena ingin mempelajari produk yang baru diluncurkan (51%); agar bisa dibantu jika mengalami sebuah kendala tertentu (43%); dan karena suka dengan brand tersebut (42%). Pertanyaannya, apa alasan kalian?

Saat melihat data tersebut, aku langsung menanyakan pada diriku sendiri tentang alasan kenapa aku mem-follow sebuah akun korporasi dan jawabannya memang sama, meski tak sama persis. Sebagai contoh, aku adalah nasabah Bank Mandiri namun aku tidak mem-follow akun Twitter @bankmandiri tapi justru mem-follow akun Twitter @mandiricare. Contoh lain, aku adalah pelanggan operator telekomunikasi dari XL (selain Telkomsel), tapi hanya mem-follow akun Twitter @XLCare dan tidak mem-follow akun Twitter @XL123.

Jika disimpulkan, alasan utamaku mem-follow sebuah akun brand adalah karena fungsi customer service-nya, disamping alasan lain yang bersifat work-related. Singkat kata, aku -dan mungkin juga kalian- baru akan mencapai tahap “cinta pada brand-nya” jika diberikan pelayanan yang maksimal yang mencakup kemudahan akses dalam menyampaikan kritik, saran, keluhan, maupun meminta bantuan teknis dan non-teknis melalui jejaring sosial.

“Spend a lot of time talking to customers face to face. You’d be amazed how many companies don’t listen to their customers.”

― Ross Perot.

Namun demikian, meski fungsi utama sebuah akun Twitter brand adalah pada sisi customer service (CS), tentu tak lantas berarti bahwa tugas atau linimasa mereka hanya berisi informasi mengenai how to use our product / solve your problem dan respon terhadap pertanyaan dan keluhan pelanggan; mereka juga harus tetap memenuhi standar bagi brand dalam berjejaring sosial, yaitu menyajikan konten yang “menarik”. Pertanyaannya, sudahkah semua akun brand mempraktekkan hal tersebut? Tidak semua, setidaknya yang aku follow.

Jika dalam dunia nyata kita mengenal “hit and run”, maka di linimasa aku menyebutnya dengan “tweet and run”, yaitu perilaku dari sebuah akun brand yang posting sebuah tweet dan bertanya / memberikan sebuah informasi, tapi hampir tidak pernah membalas respon dari audience-nya. Beberapa brand mungkin bisa beralasan bahwa mereka sudah menyediakan akun lain yang khusus untuk menjawab pertanyaan pelanggannya. Namun masalahnya adalah, akun mana yang memposting info / mengajukan pertanyaan sehingga ditanya oleh followers-nya? Perilaku seperti itulah yang aku sebut dengan tweet and run.

Dalam dunia jejaring sosial profesional, selain converting content into sales dan fungsi customer services / care, ukuran lain yang digunakan adalah engagement (replies, retweet, favorite, link clicks, like, comment, share, dll.) dan hal tersebut tidak bisa dilakukan hanya dengan metode tweet and run. Dari sekian banyak akun brand yang aku follow di Twitter, terutama yang fungsi utamanya adalah CS, @XLCare adalah salah satu akun favoritku. Penilaianku sederhana, mereka engaging. Berinteraksi dengan customer bukan hanya perkara membalas setiap pertanyaan, tapi juga memastikan agar respon tersebut tetap terasa “personal” meski dilakukan via akun korporat sehingga “garis batas formal” pun bisa mencair. Bukankah berbincang dengan teman, entah itu kritik, saran, dan bertanya, akan lebih nyaman ketimbang dengan sosok kaku yang duduk di balik meja korporat?

“You’ll never have a product or price advantage again. They can be easily duplicated, but a strong customer service culture can’t be copied.”

― Jerry Fritz.

Dalam konteks branding, pemilihan sebutan bagi para admin cukup penting. Followers @XLCare pasti tahu bahwa sebutan tim yang menangani akun tersebut adalah “Rangers”. Kenapa disebut “Rangers” dan bukan “admin” atau “Min” sebagaimana umumnya? Rangers ^AD menjawab, “Dulu… sebelum negeri api menyerang #Halah. Sebenarnya sih simple aja, karena ‘mimin’ terlalu mainstream, kita pilih nama panggilan yang lebih keren. ‘Rangers’ menjadi pilihan karena tugas dari Admin XLCare itu ga sekedar balas mention tapi “menjaga” stabilitas brand XL. Superhero banget kan?”

All Rangers XLCareJika kalian adalah followers akun Twitter sebuah brand, pernahkah kalian coba bertanya akun Twitter personal para admin? Aku pernah dan hanya @XLCare yang benar-benar menjawab pertanyaannya. Apakah mereka juga suka traveling? “Ada 8 Rangers yang bertugas menjaga timeline @XLCare dan hampir semua suka banget traveling, kalau ga jalan-jalan bisa stress soalnya”, ujar ^Ik.

@pzzy atau ^Ik. Karena buta arah tapi suka jalan-jalan, dia lebih suka traveling ke tempat yang kulinernya unik dan banyak! Baginya, kota yang paling ngangenin adalah Jogja. @alineirene atau ^AL paling suka mengunjungi theme park. Hampir tiap negara atau kota yang ia kunjungi, pasti mampir ke theme park-nya. “Iya, Alin memang penyuka adrenalin (baca: santai aja gitu bolak-balik naik roller coaster)”, sahut Rangers lainnya.

@adityamajid atau ^AD sukanya jalan-jalan di komplek (rumah) saja. @alkathiraafuad dengan initial ^TR paling suka traveling ke pantai. “Tujuannya sih selain biar fresh sama menikmati keindahan alamnya, foto juga penting banget buat mengabadikan gitu kalau pernah menikmati kekayaan alam, terutama di Indonesia. Yang paling seru waktu susur pantai dari Pantai Ayah ke Pantai Logending, itu jalan di sepanjang pantai sekitar 24-25 km. Cape tapi seru banget!” tandasnya.

@Harrysaputra atau ^PT sama dengan ^TR. Pantai bikin dia jatuh cinta. “Lumayan buat tanning”, selorohnya sambil tertawa. @fachribasalamah alias ^FR ini cukup terkenal sebagai “lelaki sejati”. “Urusan jalan dan arah aja dia tahu banget, apalagi hati! Jadi hobinya traveling dari hati ke hati. #eh”, ujar teman-temannya. “Ga kok, doi hobby banget naik gunung”, tambah mereka.

Selain yang sudah disebutkan di atas, ada juga @megganputri alias ^MG dan @oliveayuu alias ^LV yang paling suka belanja. “Jadi kalau traveling harus banyak bawa tas / koper. Yah buat oleh-oleh juga”, ujarnya.

Rangers XLCare on Vacation
Rangers XLCare on Vacation

Tak banyak memang, bahkan mungkin hanya @XLCare yang mau menyebutkan akun Twitter personal para admin-nya. Padahal, bagi sebagian besar pekerja, terutama di Indonesia, hal tersebut sangat dihindari karena sangat mungkin jadi menambah beban kerja, terutama di luar hari dan jam kerja. “Kenapa harus beban? Justru enak kan nambah teman? Jika ada tweet yang berkenaan dengan XL pasti kita jawab kok dan cc @XLCare pastinya”, ujar Rangers ^Ik. “Iya! Jadi lebih enak secara personal-pun kita sering gabung di komunitas gitu”, tambah Rangers ^AL.

Jika ada yang memperhatikan, akun @XLCare ini cukup sering mem-posting tentang keseharian mereka di kantor bahkan tak jarang juga mereka post foto makan siang mereka atau malah foto salah satu dari Rangers-nya dan meminta followers-nya melakukan hal yang sama. Ini bukan hal baru sebenarnya, karena dulu aku pun sempat melakukan hal yang serupa ketika Tigerair Mandala masih ada, meski memang tak sampai hal-hal yang personal. Pun, konsep seperti ini juga sudah jamak dipakai oleh akun brand di luar negeri.

Lalu apa sebenarnya tujuan mereka? Rangers ^TR menjawab, “Biar lebih personal. Karena kita kan menganggap followers XLCare (TweepsCare) adalah sahabat ya, so kadang ga cuma kita yang share keseharian kita para Rangers tapi para TweepsCare juga. Istilahnya hubungan dua arah lah.”

Saat mem-posting foto makanan atau bertanya tentang apa makan siang followers-nya, tak jarang aku melihat Rangers lain, yang tampaknya sedang tidak bertugas, ikut nimbrung merespon pertanyaan @XLCare dengan menggunakan akun personal-nya. Di digital advertising agency, ada semacam “kewajiban” bagi pekerjanya untuk ikut merespon konten milik brand yang mereka kelola, meski hanya dengan “retweet”. Lalu apakah di @XLCare juga diwajibkan hal yang serupa?

“Di @XLCare itu shifting, buat yang lagi ga jaga timeline suka ngerasa kangen aja gitu. That’s the way we the Rangers, communicate”, ujar Rangers ^PT. “Yes. Dan ternyata meningkatkan conversation juga lho jadi lebih banyak TweepsCare yang nimbrung”, tambah Rangers ^Ik.

Dalam beberapa kesempatan, aku cukup sering melihat beberapa “selebtweet” mengadakan kuis yang berhadiah pulsa dari XL (kerjasama), apakah orang biasa seperti kita juga dimungkinkan mendapatkan kesempatan serupa? “Coba ikutan #XLShare mulai jam 7 malem deh. Kalau menang pulsa bisa kok nanti dibagi-bagi lagi”, ujar Rangers ^LV sambil tertawa. #krikkk

Kebetulan awal Januari nanti aku mau ke Thailand bagian selatan dan salah satu “kegelisahanku” saat traveling ke luar negeri adalah soal akses internet, “Kan ga asyik kalau cuma mengandalkan Wi-Fi atau beli kartu lokal”, pikirku. Kartu XL bisa dipakai di luar negeri ga sih?

Rangers ^AD menjawab, “BISA BANGET! Jadi tarif promo Internet & BlackBerry Roaming dibedakan menjadi 4 Zona. Misalnya nih, ^Ik pergi ke Sri Lanka, di no XL Prabayar-nya terdaftar dalam paket Internet HotRod 3G+, kalau mau internetan, ^Ik harus melakukan setting di HP nya utk pilih manual network Dialog. Karena Sri Lanka ada di Zona Negara 1, maka untuk akses internetnya dikenakan tarif internet Rp75.000,00 per hari sepuasnya!”

Zonasi Paket Roaming XL

Note: Informasi lengkap tentang data roaming bisa dicek di sini.

Jejaring sosial tentu tak hanya Twitter, karena itulah semestinya @XLCare pun menyediakan channel lain untuk berinteraksi dengan pelanggannya. Ada kah? “Untuk channel online bisa tanya-tanya di Kaskus, Facebook dan Twitter. Ada juga @xlxplor yang melayani pertanyaan seputar event yang diadakan di XL Xplor. Kalau lagi main ke Fan Page XL Rame bisa juga share di We Care, sementara untuk agan-agan Kaskus bisa ke XLCare Customer Service. Untuk jam operasional semuanya sama kayak di Twitter, yaitu dari jam 08.00-23.00 WIB”, jawab Rangers ^MG. “Nah, kalau gerai offline kita punya XLCenter & XLXplor. Semua infonya bisa dicek di sini, tambah Rangers ^FR.

Seperti yang sudah aku nyatakan sebelumnya. Mengelola akun social customer care bukan hanya perkara merespon seluruh pertanyaan dan keluhan pelanggan, meski benar bahwa hal ini lah yang utama, tapi juga berinteraksi dengan customer bahkan tidak hanya memposisikan customer sebagai orang asing yang mendatangkan uang bagi perusahaan, tapi sebagai seorang sahabat. Dan motto @XLcare mewakili apa yang mereka lakukan: “We care what you share.”

“A customer is the most important visitor on our premises, he is not dependent on us. We are dependent on him. He is not an interruption in our work. He is the purpose of it. He is not an outsider in our business. He is part of it. We are not doing him a favor by serving him. He is doing us a favor by giving us an opportunity to do so.”

― Mahatma Gandhi.

Disclaimer: Artikel ini bukanlah Guest Post / Sponsored Post / Paid Post. Artikel ini adalah gubahan hasil wawancara personal dengan tim @XLCare dan penulis tidak menerima / mengharapkan kompensasi dalam bentuk apa pun dari brand tersebut atau pihak lain.

Kita Bukan Tuhan, Kan?

“You can’t make decisions based on fear and the possibility of what might happen.”

― Michelle Obama.

Setelah kemarin saya post artikel berjudul “Biaya Piknik”, muncul beberapa tanggapan dari pembaca, mulai dari yang positif, negatif, sampai yang tampaknya gagal paham. Wajar, karena tema tersebut terbilang “baru” dan cukup “berat” bagi kebanyakan orang. Pun, dengan banyaknya data statistik dan observasi yang saya lakukan selama beberapa tahun terakhir, saya merasa tulisan tersebut lebih tepat jika dimuat dalam jurnal ilmiah ketimbang di dalam blog ini. Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut, sangat saya sarankan untuk membaca tulisan sebelum ini melalui tautan di atas. Jika sudah, mari kita mulai.

Isu dampak pariwisata terhadap lingkungan dan perekonomian terbilang mudah dipahami dan sudah cukup banyak yang mengangkat, memahami, dan kemudian menerapkannya. Namun sayangnya, tidak demikian dengan isu dampak sosial yang ditimbulkan oleh pariwisata. Semalam (16/11), seorang teman memberikan tanggapan terkait salah satu dampak sosial pariwisata, yaitu terkait eksistensi suku pedalaman / suku eksklusif. Dia memberikan contoh sebuah acara yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta pada tanggal 15 November kemarin. Dalam acara tersebut, pembawa acara mengajarkan sebuah suku di pedalaman Kalimantan tentang cara menggunakan sikat dan pasta gigi + shampoo.

Menurutnya, tidak ada yang salah dengan perilaku pembawa acaranya yang mengajarkan hal tersebut, meski ia sangat menyayangkan tindakan pencemaran air karena mereka menyikat giginya di area (atas) air dan bukan di pinggirnya. Saya setuju, sebatas bahwa tindakan tersebut membuat air menjadi tercemar, tetapi tidak dengan pengajaran menyikat gigi dan memakai shampoo. Bagaimana dengan kalian?

Jika kalian juga tidak merasa keberatan dengan tindakan pembawa acara, yang mengajarkan menyikat gigi dan memakai shampoo, saya punya pertanyaan, “Untuk apa mereka diajarkan hal itu? Apakah selama ini mereka memiliki masalah kesehatan gigi, gusi, dan kulit kepala?” Dari apa yang dilihat oleh temanku melalui layar kaca, ia merasa suku tersebut tidak memiliki masalah kesehatan gigi, gusi, ataupun rambut; mereka tampak sehat-sehat saja dan tidak mengeluhkan adanya rasa sakit / keanehan pada bagian tubuh tersebut. Lalu untuk apa mereka diajarkan hal tersebut? Temanku berpendapat, “Mungkin biar hidup mereka bersih aja menurut acara itu.” Ini poin utama yang coba aku sampaikan sejak dari artikel yang berjudul “Dear Traveler…” sampai dengan yang terakhir kemarin.

“Don’t entrust your future on others’ hands. Rather make decisions by yourself with the help of God’s guidance. Hold your beliefs so tight and never let go of them!”

― Hark Herald Sarmiento.

Sila lihat kata yang saya cetak tebal di atas. Seringkali, kita, sebagai manusia modern yang merasa lebih terpelajar dan lebih berbudaya dibanding suku pedalaman, akan mengajarkan bahkan menuntut mereka untuk melakukan suatu tindakan / kebiasaan berdasarkan sudut pandang pribadi kita. Mengapa demikian? Karena di dalam hidup yang biasa kita jalani saat ini, tindakan tersebut, misal menyikat gigi dan memakai shampoo, adalah tindakan yang dianggap baik dan benar, terutama demi kesehatan.

Masalahnya adalah, apakah lingkungan tempat kita terbiasa hidup sama dengan lingkungan tempat mereka hidup? Apakah makanan yang biasa kita makan sama dengan yang mereka makan? Apakah pola hidup yang kita jalani saat ini sama dengan pola hidup mereka? Tentu saja tidak. Meski hidup di bumi yang sama, kehidupan yang kita jalani jauh berbeda dengan yang mereka jalani. Mereka tidak mengenal makanan instan, tidak ada polusi kendaraan bermotor / pabrik, mereka tidak makan fast food yang sebenarnya adalah junk food, mereka hidup dari alam sementara kita dari uang (not literally), dan lain sebagainya.

Coba kita balik kondisinya. Bagaimana bila mereka yang mendatangi kita ke kota lalu mengajarkan cara hidup mereka di sana, apakah kita akan menerapkannya di sini? Saya tak yakin kita akan menjawab “Ya”. Kenapa? Karena kondisi kita berbeda dengan mereka. Tentu akan sulit bagi kita hanya mengandalkan hidup dari hutan kayu sementara yang ada di kota kebanyakan hanya hutan beton, kan?

Jika kehidupan mereka berbeda dengan kita, lalu kenapa kita harus mengajarkan standar hidup yang sama? Hanya karena kita merasa lebih modern, terpelajar, dan berbudaya kah? Jika ya, itu justru adalah pandangan yang sangat picik dan tidak menggambarkan tingginya pengetahuan kita sebagai manusia yang merasa lebih terpelajar dan berbudaya. Hal yang sama juga berlaku bagi suku Eskimo, suku Amazon, penduduk Waerebo, suku Dani / Asmat, bahkan Suku Baduy (Dalam).

Saya yakin bahwa hampir semua suku di pedalaman yang hidup dari alam paham dengan konsekuensi cara hidup mereka yang apabila mereka ingin terus survive, maka mereka harus menjaga keberlangsungan alam yang menjadi tempat tinggalnya. Saya yakin mereka tidak harus diajarkan bagaimana cara menjaga alam dengan segala teori ilmiah dan peralatan modern. Apa yang mereka ambil dari alam, akan mereka gantikan dengan yang baru. Tebang satu, tanam satu.

“Ignorance is preferable to error, and he is less remote from the truth who believes nothing than he who believes what is wrong.”

― Thomas Jefferson.

Tidak, saya bukan tidak setuju dengan acara televisi yang “mengeksploitasi” keunikan (baca: eksotisme) suku di pedalaman. Saya juga bukan tidak setuju jika kalian mengunjungi mereka. Saya hanya tidak setuju dengan perilaku mengajarkan dan memaksa mereka untuk jadi modern, padahal mereka tidak butuh itu. Saya hanya tidak setuju jika kita yang mengunjungi mereka lalu bertindak dan berpikir bahwa kita lebih superior dan beradab.

Saya hanya tidak setuju jika kita pergi ke sana lalu bercerita tentang modernisasi. Kenapa? Karena bisa saja itu membuat mereka ingin seperti kita lalu meninggalkan kehidupan yang sedang mereka jalani, yang boleh jadi malah kehidupan mereka sebenarnya lebih baik (bagi mereka). Terlebih lagi, kru televisi dan kita, paling lama hanya beberapa minggu di sana. Jika akhirnya mereka jadi “ketergantungan” dengan modernisasi yang kita bawa sementara tidak tersedia di sana setelah kita pergi, siapa yang mau tanggung jawab? Kru televisi? Kita?

Saya ingin mengajak siapa pun yang membaca ini untuk mengganti pola pikir justifikasi model itu. Pola pikir bahwa apa yang kita jalani / nikmati saat ini juga layak, bahkan harus, dijalani dan dinikmati oleh orang lain, terutama suku pedalaman. Mereka berhak menentukan arah hidup dan masa depan mereka sendiri, sebagaimana kita juga berhak menentukan arah hidup dan masa depan kita sendiri. Pola pikir kita lah yang pada akhirnya dapat menentukan berhasil atau tidaknya menciptakan sustainable tourism di Indonesia, dan dunia.

Pola pikir yang sama juga berlaku ketika kita menemukan sebuah “tempat baru” yang memiliki potensi wisata besar tapi belum terolah. Kita tidak bisa dan tidak boleh dengan serta-merta dan serampangan langsung mempublikasikannya dan mengajak orang-orang untuk datang ke sana. Siapa yang berani menjamin bahwa penduduk di sana siap kedatangan turis secara massif? Siapa yang berani menjamin tidak akan terjadi kerusakan akibat massifnya kunjungan turis? Siapa yang harus bertanggung jawab dan memperbaiki kondisi di sana jika kerusakan itu terjadi? Kru televisi? Kita? Seharusnya, tapi nyatanya penduduk setempat lah yang akan menanggungnya, yang sayangnya mereka sering, bahkan hampir selalu, diabaikan dalam proses pengambilan keputusan apakah mereka mau daerahnya dijadikan destinasi wisata atau tidak.

Jika kita saja tak mau masa depan kita ditentukan oleh orang lain, lalu kenapa kita berani menentukan masa depan orang lain, apalagi hanya karena kita merasa lebih modern. Kita bukan Tuhan, kan?

Life is the most difficult exam