Twitter At A Glance

Twitter At A Glance

Twitter At A Glance

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 111 orang.

Setiap kali mencari artikel tentang jejaring sosial / media sosial, terutama yang berhubungan dengan “Social Media Marketing”, hampir tak pernah aku menemukan artikel berbahasa Indonesia. Seingatku, hanya sekali saja aku menemukan bahan yang berbahasa Indonesia. Mungkin saja masih banyak yang lainnya, tapi mungkin kalah “keyword SEO”, ditulis dalam Bahasa Inggris dan kalah SEO juga, jarang yang punya waktu untuk menulis karena pegang banyak klien, mungkin lebih suka berbagi ilmu “online” secara “offline”, atau mungkin karena ilmu dan pengetahuan itu mahal jadi tidak bisa diperoleh secara murah. Ketika melontarkan pertanyaan ini di Twitter, salah seorang temanku, @kenarrox, berkata:

“Sering lho mereka bikin acara offline. Cuma emang yang menulisnya sedikit, orang kita lebih suka sharing dalam diskusi/ngobrol. Satu lagi, perusahaan/orang sini suka rangkap kerjaan, jadi kadang ‘limited’ waktu mereka buat nulis, orang luar negeri pegang 1-2 klien aja bisa hidup. Orang luar 1 socmed yang pegang bisa banyak orang, bikin editorial plan etc. Lha sini 1 orang pegang banyak. Jadi aku sih ga heran kalo orang luar negeri yang sharing jauh lebih banyak, selain terkait budaya berbagi dan menulis ya.”

Benarkah demikian? Entahlah, debatable sebenarnya, tapi daripada mencari tahu kenapa jarang sekali artikel tentang “Social Media Marketing” yang berbahasa Indonesia, lebih baik aku mulai menuliskannya sendiri. Namun karena aku masih baru dalam dunia ini, maka aku hanya akan menuliskan yang ringan-ringan saja, sejauh yang aku tahu, untuk self reminder di masa tua lupaku.

  Dulu, ada seorang teman yang berkata bahwa, “Twitter-an itu susah, mending Facebook-an, tinggal update status dan balesin comment, kalau ada.” Saat itu aku hanya menjawabnya dengan berkata, “Gampang kok, kalau ada mention, tinggal ‘reply’ aja. Kalau ada ‘tweet’ orang yang kita suka, tinggal ‘retweet’ atau ‘favorite’.” sambil menunjukkan simbol-simbol tersebut di aplikasi Twitter-nya. Entah karena penjelasanku yang terlalu “menggampangkan” atau karena memang dia malas, akun Twitter-nya tetap tidak aktif. Kalau sekedar nge-tweet sebagaimana pengguna pada umumnya, Twitter-an itu mudah, seperti yang aku katakan pada temanku itu. Namun ketika sudah masuk dalam ranah profesional, entah ketika kita pegang akun korporasi atau jadi seorang blogger yang ingin memaksimalkan Twitter sebagai referer source atau jadi seorang buzzer, Twitter atau nge-tweet jadi tak semudah dahulu kala. Tak semudah saat aku bilang, “Twitter diseriusin. Hubungan kita tuh diseriusin”. Karena ternyata, untuk membuat tweet seperti itu saja perlu berbagai macam pertimbangan dan kemampuan teknis seperti copywriting, tahu minat followers terhadap topik apa, tahu kapan “best time to tweet” dan lain-lain. Namun karena bagian ini tidak simple, kita mulai dari yang basic saja dulu aja.

Reply vs Mention

Entah karena sumbangsih dari lagu Coboy Junior atau karena kebiasaan, banyak orang menganggap bahwa kedua fitur ini sama, padahal tidak. Pengertian “reply” adalah ketika kita membalas tweet seseorang (klik fitur “reply”) tanpa ada embel-embel karakter apa pun di depan username orang tersebut.

Sementara pengertian “mention” ada 2:

  1. Ketika kita membalas / merespon tweet seseorang namun dibagian depan username tersebut kita tambahkan karakter lain; atau
  2. Ketika kita membuat sebuah tweet dan menaruh username orang lain di bagian tengah atau akhir tweet kita.

Hal ini juga berlaku untuk fitur “quote tweet” pada aplikasi resmi dari Twitter, “RT with comment” pada Tweetdeck dan pada fitur sejenis di Twitter mobile application lainnya seperti UberSocial, Tweet It!, Plume dan lain-lain.

Lalu apa manfaatnya dengan mengetahui perbedaan antara “reply” dan “mention”? Bagi akun korporasi atau buzzer, hal ini penting terutama dalam kaitannya dengan engagement rate. Kalau bagi akun personal? Minimal adalah untuk mengetahui siapa yang stalking tweet kita. Begini, pada halaman Support di Twitter dijelaskan bahwa, “People will only see others’ @replies in their home timeline if they are following both the sender and recipient of the @reply.” Dengan kata lain, saat kita sedang “reply-reply-an” dengan si A misalnya, lalu tiba-tiba si B “nyamber” padahal si B itu tidak follow kita atau si A (hanya follow salah satunya), maka dapat dipastikan bahwa si B sedang stalking, entah stalking kita atau si A.   Bingung? Lihat contoh tweet-ku ke pacarku (@taylorswift13) di atas. Kalau saat aku tweet itu dan kalian tidak follow pacarku, maka kalian tidak akan melihat tweet tersebut muncul di “Home Timeline” kalian. Tweet yang muncul di “Home Timeline” kita hanyalah tweet dari orang yang kita follow yang tidak sedang “reply” tweet akun lain yang tidak kita follow. Lalu bagaimana caranya agar percakapan kita dengan si A, bisa dibaca oleh followers kita yang tidak ­follow si A, tanpa followers kita stalking? Ada 2 cara:

  1. Jika kita ingin agar tweet “reply” si A juga dibaca oleh orang lain, cukup dengan “retweet” setiap “reply” dari si A. Tapi hal ini, bagiku, tidak etis karena setiap percakapan itu pada dasarnya personal, kecuali jika percakapan itu sifatnya diskusi dan yang penting tidak membuat si A tersinggung.
  2. Jika kita ingin agar setiap “reply” kita ke si A dibaca oleh orang lain,  kita harus menambahkan karakter lain di depan username si A ketika kita “reply” tweet-nya. Namun dalam ilmu “Social Media Analytics”, hal tersebut dianggap sebuah “mention”, bukan “reply”.

Menambahkan karakter lain di depan username seseorang yang tweet-nya kita “reply”, meski hanya tanda titik (.) atau koma (,), akan membuat tweet kita tersebut bisa dibaca / dilihat oleh followers kita. Hal ini biasanya sering dilakukan oleh buzzer atau blogger atau orang lain yang mengerti. Motivasinya bermacam-macam, ada yang agar followers-nya juga membaca tweet-nya yang engaging itu; jika dalam tweet-nya itu ada link-nya, itu agar followers-nya juga meng-klik link tersebut; dan lain-lain.  

Retweet vs RT

“Lho beda ya?” adalah tanggapan yang aku dapatkan ketika memberitahukan soal ini kepada seorang teman. Dulu sih sama, tapi sekarang beda. Menjadi berbeda ketika Twitter sudah mencabut fitur “RT” ini dan hanya menggunakan “Retweet”. Perbedaan akan hal ini cukup menjadi concern-ku setelah melihat masih banyak akun korporasi / brand di Indonesia yang salah kaprah soal ini. Maksud hati ingin meminta “retweet” sebagai bentuk persetujuan atau syarat untuk ikut kuis, akun itu malah memnita “RT”, hanya “untuk menghemat karakter”.   Jika aku adalah seseorang dari korporasi, di mana akun korporasiku diserahkan pada sebuah digital agency, aku akan menegur dan meminta mereka untuk mengubah kebiasaan itu. Dalam dunia “Social Media Analytics”, terutama jika kita menggunakan tools dari pihak ketiga, yang dihitung dalam engagement rate dari tweet yang kita post adalah berapa “reply” yang kita terima dari tweet tersebut, berapa “retweet” dan berapa “favorite”. Sementara “mention” (“RT”, “RT with comment”, “quote tweet”) sulit untuk dihitung karena tools itu sifatnya otomatis. Dengan kata lain, “RT” bukanlah “retweet” dan oleh Twitter (juga social media analytics tools), “RT” dihitung / dianggap sebagai “mention”.

Contoh lain, jika kamu adalah seorang “quiz hunter” di mana syarat untuk mengikuti sebuah kuis adalah dengan “retweet” tweet dari penyelenggara kuis, sementara yang kamu lakukan adalah meng-“RT” dan bukan me-“retweet”, meski jawabanmu benar dan cepat sekalipun, kamu tidak akan memenangkan kuis itu. Kalau pun kamu menang, itu berarti penyelenggara kuis tidak konsisten terhadap aturannya.

P.S.: Jika ada akun meminta “RT”, jangan di ”retweet”, di “RT aja. berikanlah apa yang ia minta, yaitu “RT”, bukan “retweet”.

Selain karena alasan untuk “menghemat karakter”, yang bagiku justru itu adalah kegagalan seorang Social Media Officer dalam hal copywriting, “RT” juga sering digunakan oleh buzzer -yang melihat sebuah tweet menarik (engaging) milik orang lain- yang tidak rela jika tweet tersebut hanya ia “retweet”. Kenapa tidak rela? Karena seorang buzzer tahu bahwa engagement hanya didapatkan dari tweet sendiri, bukan dari tweet orang lain yang ia “retweet”. Singkatnya, jika tweet yang menarik tersebut ia “retweet”, yang akan mendapatkan engagement adalah tweet yang ia “retweet”, bukan dirinya. Dalam dunia “Social Media Marketing”, engagement atau engagement rate ini penting, terutama bagi seorang buzzer untuk menentukan rate per tweet-nya, selain jumlah followers.

Bagi digital agency / orang personal (sepertiku) yang meng-handle akun korporasi / brand, engagement rate ini akan muncul di dalam “Social Media Report” dan dapat menentukan tingkat kepuasan klien terkait performa akun jejaring sosialnya.   Terkait perilaku mendapatkan engagement rate yang tinggi ini, tidak hanya dilakukan dengan metode “RT”, tapi juga dengan metode “via” atau “pic via”. Model tweet “via” dan “pic via” dari para buzzer yang cukup sering membuatku tertawa geli adalah:

“This deserves endless retweet. Pic via @username

Tampaknya tulisan ini sudah jadi terlalu panjang dan membosankan untuk kubaca sendiri. Lain kali, jika sempat, ingat dan tidak malas, akan aku tulis topik bahasan lain terkait “Social Media”. Ada yang salah atau kurang jelas dari tulisanku di atas? Feel free to put a comment.

“Life should be like a good Tweet – short, pithy, convey a message and inspire others to follow.”

― Ashok Kallarakkal.

5 thoughts on “Twitter At A Glance

        1. facebook-profile-picturePradikta Dwi Anthony Post author

          Itu porsinya emang bukan anak baru Twitter sih sebenarnya, buat yang mau jadi SMO. :3

          Rajin? Belakangan? Iya kali ya, mungkin karena lagi ga banyak kerjan nulis jadi ya nulis sendiri aja. Ntar malam juga ada tulisan baru kok. :p

  1. sutrimmo

    memang buat sebagian orang lebih memilih facebook dari pada twitter. dan lebih nyaman dengan facebook tapi apapun pilihanya semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing2..

Comments: