Writer’s Block

Writer’s Block

Writer’s Block

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 91 orang.

“There is no greater agony than bearing an untold story inside you.”

― Maya Angelou.

Di awal bulan Juni kemarin gairah menulisku sempat bangkit, bahkan mungkin berlebihan sehingga aku sanggup menulis puluhan artikel hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu. Aku menduga pekerjaan baruku sebagai “Content Writer” adalah pemicu kenapa gairah menulisku sempat meletup-letup saat itu, selain juga karena “masa bakti”-ku sebagai “Social Media Officer” @tigerairmandala telah selesai sehingga aku punya banyak waktu luang untuk menulis. Namun ternyata, gairah tersebut tak bertahan lama karena beberapa minggu terakhir aku mengalami kebuntuan ide untuk menulis.

Sebagaimana lazimnya manusia dungu, saat dalam kondisi ini biasanya aku mencari sesuatu atau mungkin seseorang untuk disalahkan dan “kurang piknik” seringkali menjadi alasan utamanya. Hal ini tampak cocok dengan kenyataan bahwa memang selama bulan puasa kemarin aku nyaris tak pergi ke mana pun, kecuali untuk buka puasa bersama beberapa orang teman atau meeting dengan klien. Dengan alasan “melihat tempat baru dan bertemu orang baru”, aku berharap dengan traveling akan dapat membuat gairah menulisku kembali. Padahal kalau diingat-ingat, traveling seringkali tak berhasil membangkitkannya.

Di penghujung tahun 2013, aku pernah sengaja pergi ke beberapa kota selama seminggu dengan tujuan untuk mengurung diri di dalam kamar hotel untuk menulis tentang perjalanan yang telah aku lakukan selama tahun itu. Hasilnya? Tak ada satu pun yang kutulis, aku malah asyik bekerja, menonton televisi dan ke lobi / kafe / restoran di hotel untuk berbincang dengan pegawainya atau mengamati perilaku pengunjung.

Cafe Ambience

“One day I will find the right words, and they will be simple.”

― Jack Kerouac, The Dharma Bums.

Sampai akhirnya aku sadar bahwa “writer’s block”-ku itu bukan karena aku kurang piknik, tapi karena aku merasa tak ada cerita menarik yang bisa aku bagikan, tak ada kisah heroik yang bisa aku banggakan, tak ada tempat indah yang aku kunjungi yang kalau aku tuliskan bisa membuat orang lain jadi iri dan tak ada hal bermanfaat yang bisa aku tulis. Ibarat seorang tentara di medan perang, aku kehabisan amunisi. Saat menulis pun, aku sering berharap agar tulisanku nantinya akan mendapatkan pujian dari banyak orang, menjadi viral karena di-share oleh ratusan orang, traffic blog meningkat, kebanjiran comment-comment positif dan hal-hal lain yang membanggakan.

Oh tidak, aku tidak sedang bercanda atau menyindir orang lain, itu murni pikiran-pikiran yang ada di kepalaku saat menulis sesuatu. Pun aku yakin hanya aku saja yang selalu berpikir seperti itu ketika menulis dan tidak dengan orang lain. Hanya aku yang pamrih, sementara yang lain itu tulus. Meski bagi sebagian besar orang hal itu adalah aib yang mungkin dapat menyebabkan kita jadi dijauhi, bagiku tidak. Aku hanya mencoba jujur karena aku selalu percaya bahwa dengan mengetahui setiap kelemahan kita dan mengungkapkannya, kita akan lebih mudah untuk berdamai dengannya.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

― Pramoedya Ananta Toer.

Keinginan untuk selalu berbagi hal-hal yang bermanfaat, menarik, keren, bikin iri, heroik, banyak dibaca, di-share dan lain-lain tadi itulah yang menghambatku menulis. Aku terlalu fokus pada apa kata orang lain dan bukan pada apa yang ingin aku tulis. Statistik dan komersialisasi telah membuatku melupakan tujuan awalku menulis. Tampaknya aku sedang berada pada tahap yang diresahkan oleh pembuat aplikasi saat ini, yaitu “Apakah aplikasi ini bisa menghasilkan uang / manfaat lain?” bukan lagi pada “Apakah aplikasi ini bisa membantu orang lain?”

Menulis bagiku bukanlah seperti yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer di atas, karena aku menulis “To make sure that my left mind was right and my right mind was left”, tak kurang dan tak lebih. Aku tak pernah benar-benar peduli bila aku dilupakan, sama dengan tak pedulinya bila tak semua orang menyukaiku. Toh “Some infinities are bigger than other infinities.” (John Green, The Fault in Our Stars).

Untuk menghindari “writer’s block”-ku ini dan mengulangi kesalahan yang sama, tampaknya aku harus sering-sering mengingat apa yang ditulis oleh Sylvia Plath dalam bukunya yang berjudul “The Unabridged Journals of Sylvia Plath”, yaitu bahwa:

“…..everything in life is writable about if you have the outgoing guts to do it, and the imagination to improvise. The worst enemy to creativity is self-doubt.”

― Sylvia Plath.

Ini adalah “writer’s block”-ku. Kamu?

4 thoughts on “Writer’s Block

  1. Mahadewi

    Sebenarnya setelah hampir 5 tahun mencoba menekuni profesi menulis, saya sadar bahwa writer block itu hanya maya, alias tidak pernah ada. As quoted from Plath, “Everything in life is writable.” Keep writing, Kak 🙂

Comments: