Kita Semua (Seharusnya) Bisa

Kita Semua (Seharusnya) Bisa

Kita Semua (Seharusnya) Bisa

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 272 orang.

“If you doubt you can accomplish something, then you can’t accomplish it. You have to have confidence in your ability, and then be tough enough to follow through.”

― Rosalynn Carter.

Sudah tak terhitung banyaknya orang yang berkata padaku tentang, “Enak ya kamu jalan-jalan terus”, atau “Enak ya kerjaannya jalan-jalan terus”, atau bertanya “Gimana caranya sih bisa jalan-jalan terus gitu?”, atau yang lebih parah lagi adalah dengan berkata, “Elo sih enak buzzer dan blogger, per tweet / per artikel aja dibayar mahal, jadi banyak duitnya buat jalan-jalan”. Jika kondisinya sedang memungkinkan, aku akan dengan senang hati menjelaskan dengan gamblang bahwa apa yang mereka sangkakan selama ini salah, atau setidaknya, tidak sepenuhnya benar.

Pertama, jika yang dimaksud dengan “jalan-jalan” adalah piknik / mengunjungi tempat wisata, maka jelas bahwa aku tidak jalan-jalan terus. Seingatku, dari dulu, aku hanya piknik sebulan 1x, maksimal 2x, bahkan beberapa kali aku pernah tidak jalan-jalan sama sekali selama 3 bulan, serius. Pun, kalau pun aku jalan-jalan / pergi ke kota lain, itu tidak selamanya dengan tujuan piknik, karena beberapa kali pun aku hanya pergi dan mengurung diri di penginapan karena malas keluar-keluar.

Kedua, setidaknya sejak tahun 2013, aku tak pernah lagi-lagi jalan-jalan untuk urusan pekerjaan. Kalau pun ada, hanya 2x aku pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, itu pun tidak dibiayai oleh korporasi yang bersangkutan. Meski saat ini aku masih berstatus sebagai Freelance Web Content Writer untuk sebuah perusahaan multinasional yang travel-related, tak pernah sekali pun mereka membiayaiku untuk pergi ke suatu tempat dan menulis tentang tempat itu. Semua biaya yang aku keluarkan untuk menulis tentang suatu destinasi wisata, itu murni dari kantongku pribadi. So no, I’m not a paid traveler, even don’t want to.

Ketiga, aku bukanlah blogger berbayar atau buzzer Twitter seperti yang banyak orang sangkakan. Sebisa mungkin aku selalu menghindari tawaran buzzing atau paid post di blog-ku. Bagiku, Twitter dan blog adalah tempatku untuk mengekspresikan pemikiran. Alih-alih “menghasilkan”, untuk mengelola situs web ini, per bulannya aku harus menyediakan budget Rp500.000,00 untuk biaya server (VPS) dan paket data. Sementara soal piknik, aku tak mendapatkan uang darinya, yang ada mengeluarkan uang. Karena itulah aku sering berkata bahwa blog, Twitter, dan traveling adalah tempatku membuang uang, bukan untuk menghasilkan uang. Sombong? Ah tidak, ada maksud tertentu kenapa aku berkata / bersikap seperti itu, nanti kujelaskan.

“Too many people spend money they haven’t earned, to buy things they don’t want, to impress people that they don’t like.”

― Will Rogers.

Beberapa dari kalian mungkin masih ingat tweet bantahanku tentang konsep “Quit your job and travel the world” yang didasari oleh kemustahilan konsep tersebut bisa berjalan sebagaimana makna di dalam kalimatnya. Setiap orang yang memilih “Quit your job and travel the world”, pada dasarnya hanya berhenti di pekerjaan yang sedang dijalani dan memilih pekerjaan lain yang bisa dikerjakan sambil keliling dunia. Intinya, mereka tak benar-benar berhenti bekerja. Namun demikian, aku sempat mengenal seseorang yang berhenti bekerja dan traveling tanpa memiliki pekerjaan. Masalahnya, ia melakukan itu setelah bekerja selama 8 tahun dan menabung, lalu menggunakan seluruh uang tabungannya untuk traveling. Sekarang? Entah karena sudah merasa sudah puas atau karena tabungannya sudah habis, ia kembali bekerja lagi. Kalau pun ada orang yang benar-benar “Quit your job and travel the world” dan traveling tanpa bekerja, cuma ada 2 kemungkinan: tabungannya unlimited atau warisannya unlimited. Yang pasti, keduanya adalah sesuatu yang tak mungkin bisa dimiliki oleh semua orang.

Bermimpi itu perlu, bahkan itu yang kita perlukan agar tetap semangat menjalani hidup, namun bermimpi pun perlu realistis. Aku tak yakin seberapa banyak dari kalian yang bermimpi bisa menjadi seperti @arievrahman, @marischkaprue, atau yang lainnya, yang sering traveling tanpa harus selalu mengeluarkan uang, entah karena disponsori atau pekerjaan sampingan. Tapi bermimpi agar kalian atau mungkin kita semua menjadi orang-orang itu adalah hal yang sangat amat tidak realistis.

Kita semua punya peran masing-masing yang boleh jadi adalah yang mendukung para paid traveler tersebut agar terus bisa traveling “gratis”. Seorang Twitter buzzer tentu tak akan mendapatkan pekerjan buzzing jika seandainya kita semua unfollow dia atau kita berhenti main Twitter. Seorang blogger pun tentu tak akan mendapatkan tawaran paid post jika kita semua berhenti membaca blog-nya. Bahkan seorang penulis untuk majalah pun tak akan mendapatkan pekerjan “pergi untuk menulis” jika kita berhenti membeli majalahnya.

Apa yang bisa membuat kita berhenti membaca blog-nya atau membeli majalahnya? Yaitu ketika kita tak punya pekerjaan (seriously quit your job) yang menghasilkan uang untuk membeli paket data internet / majalah. Ketahuilah, pekerjaan yang kita jalani saat ini, entah secara langsung / tidak, adalah yang membuat para paid traveler itu tetap bisa bepergian, apalagi jika pekerjaan kita saat ini adalah yang travel related semacam pekerja di sebuah majalah travel, penyedia usaha transportasi, akomodasi, dan lain-lain. Namun akan beda persoalan jika keinginan kita untuk menjadi paid traveler adalah karena ingin dikenal dan dipuja-puja oleh banyak orang. Ga gitu, kan?

“When you feel like hope is gone, look inside you and be strong and you’ll finally see the truth- that hero lies in you.”

― Mariah Carey.

Aku dan mungkin mayoritas kalian yang membaca tulisan ini, mungkin hanyalah orang biasa yang hanya dikenal oleh teman-teman kantor / kuliah / sekolah / rumah dengan pekerjaan yang juga biasa-biasa saja. Dalam banyak kesempatan, boleh jadi penghasilanku lebih besar dan aku punya waktu luang lebih banyak dari kalian, tapi itu aku dapatkan bukan dengan mudah. Aku rela bekerja 84 jam seminggu, sementara kalian hanya 40 jam seminggu.

Saat kalian tengah menikmati mimpi indah di atas kasur dan tempat tinggal yang nyaman, boleh jadi saat itu aku sedang mempelajari sesuatu untuk bisa diolah menjadi sebuah proposal penawaran jasa konsultasi atau malah mengerjakan deadline tulisan. Saat kalian asyik liburan tanpa terbebani urusan pekerjaan (weekend / cuti), aku malah tetap harus bekerja, meski sambil liburan. Namun demikian, status kita, secara pekerjaan, tidaklah beda, sama-sama buruh / pekerja yang masih “menghamba” pada korporasi. Jika aku bisa, maka (seharusnya) kalian semua juga bisa.

Aku yakin, kita hanya perlu menghasilkan uang lebih banyak jika ingin sering jalan-jalan tanpa harus bermimpi (atau malah memaksakan diri) menjadi seorang paid traveler. Menghasilkan uang lebih banyak tentu tak harus dengan bekerja lebih keras, seperti yang aku lakukan, karena kalian bisa berinvestasi / berbisnis.

Jika Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang terdahulu hanya mengatakan bahwa “Blogger adalah pahlawan pariwisata Indonesia”, maka aku berani membantahnya dengan mengatakan, “Kita semua adalah pahlawan bagi pariwisata Indonesia.” Karena tanpa kita, yang jumlahnya lebih banyak dari blogger dan paid traveler, tak akan ada yang datang ke tempat wisata, kan?

Selamat Hari Pahlawan!

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan-pekerjaan biasa.”

 – Sanento Yuliman.

Comments: