Memahami Diri Sendiri

Memahami Diri Sendiri

Memahami Diri Sendiri

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 214 orang.

“Freeing yourself was one thing, claiming ownership of that freed self was another.”

― Toni Morrison, Beloved.

Nama panggilannya adalah Tony. Meski sudah lama tahu tentangnya, hampir 28 tahun, namun aku tak pernah berhasil mengenali dirinya secara utuh. Di satu waktu ia adalah seseorang yang sering berbicara, bahkan tak jarang terlalu banyak berbicara, sementara di waktu yang lain dia adalah seseorang yang pendiam hingga jarang sekali berbicara. Di satu waktu ia adalah orang yang gila kerja, sementara di waktu yang lain ia bisa jadi sangat pemalas dan tak peduli kalau kerjaannya tidak selesai lalu dimarahi oleh bos / rekan kerjanya. Pernah di satu waktu ia rajin sekali menghubungi seseorang dan berbincang dengan orang itu, tapi tak jarang juga dia cuek dan tidak menghubungi orang itu untuk waktu yang cukup lama. Atas perangainya ini, sebagian orang menyebutnya moody dan sebagian yang lain tak peduli.

Diantara sekian banyak orang yang ia kenal atau tahu tentangnya, mungkin hanya akulah yang paling rajin membaca tulisan-tulisannya, entah yang ada di blog atau di media lainnya. Jujur, aku seringkali dibuat bingung oleh tulisannya. Untuk ukuran orang yang cukup sering menulis, gaya, cara, sudut pandang dan alur pikirnya dalam menulis jarang sekali sama atau terpola, sebagaimana penulis lainnya. Coba lihat bagaimana ia menulis post pertamanya tentang jalan-jalannya ke Malioboro, ia menulisnya dengan bahasa seolah-olah banyak orang yang belum pernah ke sana. Padahal, Malioboro adalah destinasi terpopuler wisata di Indonesia dan semua orang pasti pernah ke sana kan?

“Sometimes it’s the journey that teaches you a lot about your destination.”

― Drake.

Aku sempat terhenyak dan ingin memarahinya kala ia memuat artikel tentang Candi Prambanan dan Ratu Boko. Setahuku, waktu ia hanya pergi ke Candi Prambanan dan tidak sampai ke Ratu Boko. Ia hanya melihat mobil shuttle ke Ratu Boko di area Candi Prambanan. Tidak hanya itu, alih-alih menuliskan tentang pengalamannya secara personal, ia malah seperti “memindahkan” halaman Wikipedia tentang Candi Prambanan dan Ratu Boko, lalu mengubahnya sedikit dan menambahkan beberapa kalimat pembuka dan penutup serta foto-foto. Penulis macam apa yang melakukan hal ini? Aku yakin hanya penulis dungu atau penulis “jadi-jadian” yang melakukannya dan mungkin hanya ia seorang.

Cerita perjalanan semestinya adalah cerita yang personal, tentang bagaimana orang itu melakukan perjalanannya. Meski menurutnya hal tersebut tidak menarik, tapi ia tetap tak boleh melakukan hal seperti itu. Seburuk apa pun tulisan dan tak semenarik apa pun ceritanya, jika ingin ditulis / diceritakan, ia harus ditulis dengan jujur, tanpa ada yang dilebih-lebihkan, apalagi hanya copy-paste seperti itu.

Saat aku konfirmasi soal ini, ia berkata, “Ia aku salah soal itu. Saat itu aku hanya ingat kami jalan-jalan biasa, bersenda gurau dan melakukan hal-hal remeh lainnya. Saat itu aku berpikir bahwa bila aku menuliskan pengalaman semacam itu, tak ada orang yang akan tertarik membacanya, apalagi tempat tersebut sudah pasti pernah mereka kunjungi. Aku merasa tak ada hal yang menarik untuk aku ceritakan, jadi ya begitu. Aku minta maaf.” Aku pun menimpalinya dengan, “Kalau sudah tahu itu salah, kenapa ga segera dihapus / diubah?” Ia menjawab:

“Biarkan, biar orang-orang tahu bahwa aku pernah melakukan hal memalukan itu. Barangkali bisa jadi pelajaran bagi orang lain, tapi setidaknya jadi pelajaran bagiku untuk tidak mengulanginya. Jika hal itu dijadikan ‘senjata’ atau dasar oleh orang lain untuk menilaiku, ya ga apa-apa, itu pilihan mereka.”

Aneh, saat orang lain ingin menutupi aib yang dapat “membunuh karakternya”, ia malah membiarkannya terbuka dan mempersilakan orang lain untuk menilai sesuka hatinya. “Tony ya begitu itu”, ujar seorang temanku yang lain tentangnya.

Aku cukup sering mengikuti tulisan-tulisannya yang lain. Di sepanjang tahun 2012 ia cukup sering menulis cerita perjalanannya ke berbagai tempat, meski harus kuakui tulisannya itu membosankan. Membosankan karena ia hanya bercerita tentang tempat. Ia bercerita tentang bagaimana indah dan “surgawi”nya tempat yang ia kunjungi bersama teman-temannya sehingga ia justru cenderung melupakan temannya dalam cerita itu. Teman perjalanan dan orang lain yang ada di sekitarnya, seolah hanya jadi pelengkap saja, untuk menunjukkan bahwa ia tidak sedang bersenang-senang sendirian.

Coba baca saja tulisannya tentang Teluk Kiluan, lihat bagaimana ia menceritakan perjalanan dari awal hingga akhir (time based), keseruan yang ia alami bersama teman-temannya hanya ia ungkapkan lewat foto dan sedikit sekali di teks. Padahal, menurutnya, itu adalah the most qualitiy time-nya bersama teman-temannya. Aku tahu persis bahwa di perjalanan itu mereka banyak saling bercerita tentang kesibukannya masing-masing, saling mengenal lebih jauh dan lain-lain, tapi Tony malah tidak menuliskannya. Apakah itu karena ia masih seperti kebanyakan orang yang saat menuliskan cerita perjalanan hanya terpaku pada destinasi dan keindahan semata, agar banyak yang tertarik membacanya? Ia berkata:

“Ya, benar. Tak hanya tulisan itu. Hampir semua tulisan perjalananku di tahun 2012 sangat terpaku pada destinasi dan keindahan. Benar juga bahwa aku melakukan hal itu agar orang-orang tertarik untuk membacanya, setidaknya melihat foto-foto tentang tempat indah nan surgawi, karena saat itu, bahkan mungkin sampai sekarang, kebanyakan orang hanya mau membaca atau melihat yang indah-indah, bukan hal remeh-temeh atau pelajaran dari perjalanan.

Salahkah aku? Ya dari sisi motivasi menulis. Karena itulah per tahun 2013 aku stop menulis cerita perjalananku, meski masih banyak sekali yang belum aku tulis. Aku stop sambil mencari bentuk / cara menulis perjalanan yang tidak terpaku pada destinasi dan keindahan / eksotisme. Karena belum juga dapat idenya, aku mulai beralih menuliskan hasil wawancaraku dengan beberapa orang / komunitas dan juga pemikiran / kegelisahanku tentang perjalanan, termasuk soal ekspoloitasi Cagar Alam Pulau Sempu.”

Ah, Sempu. Banyak orang menganggap tulisannya itu sangat pedas dan ikonik. Ikonik karena sering menjadi bahan rujukan di forum-forum diskusi tentang boleh atau tidaknya kita wisata ke Cagar Alam. Bagi banyak orang, tulisan itu keren, namun bagiku itu hanya sampah. Tulisan itu tak lebih dari sekedar luapan emosi yang disertai dengan argumen-argumen yang didasarkan pada ketentuan hukum. Dalam tulisan itu ia mungkin bisa dibilang berani karena mengkritik langsung sebuah kementerian dan media massa, tapi apa yang keren dari itu, semua orang bisa melakukannya. Cukup dengan membaca peraturan perundangan terkait, semua orang pasti tahu bahwa berwisata ke Cagar Alam adalah tindakan yang ilegal, meski pengelola mendiamkan dan menutup mata. Asalkan punya otak yang waras, semua penggiat traveling tentu mau untuk mencari tahu dulu apakah kegiatan yang ia lakukan itu ilegal atau tidak.

Lalu apa dampak tulisannya soal Sempu terhadap kunjungan wisatawan ke sana? Aku tak yakin ada. Orang-orang tetap datang ke sana, meski mereka tahu itu ilegal, toh pengelola resminya (BKSDA) tidak melarang dan pengelola tidak resminya (Perhutani, pemda dan warga desa) membolehkannya. Tony terlalu naif berharap penggiat traveling dan masyarakat lokal beserta tour operator akan sadar dan menghentikan aktivitas ilegal itu. Apalagi prinsip sebagian besar orang Indonesia adalah “Hukum dibuat untuk dilanggar”, bukan untuk dipatuhi.

“Benar bahwa semua orang bisa menulis seperti apa yang aku tulis, tapi apa mereka berani? Ada banyak tulisan orang yang tahu soal Sempu ini, tapi mayoritasnya hanya menyarankan untuk ga ke sana kalau cuma membuat kotor dan merusak, untuk tidak menginap dan lain-lain, yang intinya tetap tidak melarang orang untuk wisata ke sana. Salahkah itu? Jelas salah, baik secara hukum maupun kemanusiaan.

Mungkin benar juga bahwa wisata ke Sempu ini meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal, tapi pertanyaannya, ‘Kenapa soal keseimbangan ekosistem tak pernah jadi tolok ukur kesejahteraan? Kenapa hanya uang saja yang jadi tolok ukurnya?’

Peduli setan. Yang namanya kesejahteraan itu ya hanya soal bisa makan dan belanja kebutuhan sehari-hari atau tidak. Kalau alam jadi rusak sebagai dampaknya, ya tinggal perbaiki. Kalau ga bisa diperbaiki ya ratakan dan bangun sesuatu yang lain sebagai gantinya, terutama yang bisa menghasilkan uang. Setuju?

Selain tulisan soal Sempu, beberapa bulan belakangan ini Tony cukup sering menuliskan pemikirannya tentang perjalanan. Sebagian nyaman untuk dibaca dan sebagian yang lain menyebalkan, setidaknya menyebalkan bagiku. Tulisannya menyebalkan karena ia terlalu menulis / mempermasalahkan hal yang remeh, soal definisi / pengertian “traveling”, “traveler” dan “tourist” yang ada di kamus misalnya. Untuk apa coba ia menuliskan soal itu. Semua orang yang sering ke luar negeri atau setidaknya pernah membaca kamus Bahasa Inggris pasti tahu definisi dan perbedaan antara kata “traveler” dan “tourist”. Semua orang pasti tahu bahwa kata “traveling” hanya bermakna “melakukan perjalanan”, jadi ya memang bukan hanya soal wisata saja. Ia juga semestinya tak perlu membuat tulisan tentang “Penulis Perjalanan”, toh semua travel writer pasti tahu bahwa mereka semestinya menulis tentang perjalanan dan bukan hanya tentang wisata, kan?

Belum selesai aku mengkritisi pemikirannya itu, ia sudah memotongnya dengan mengatakan:

“Jika memang orang-orang tahu maksud eksplisit yang coba aku sampaikan dengan mengungkapkan definisi ‘traveler’ dan ‘tourist’, lalu mengapa mereka harus panik dan mengatakan, ‘Tak perlu lah membeda-bedakan antara traveler dan tourist, kita sama-sama melakukan perjalanan kok’? Kan lucu kalau katanya mereka sering ke luar negeri dan berbicara dalam Bahasa Inggris tapi ga tahu kalau 2 kata itu berbeda definisinya. Lucu juga saat mereka mengatakan bahwa ‘Kita sama-sama melakukan perjalanan’ tapi bagi mereka traveling itu soal berwisata, kalau ga berwisata itu bukan traveling.

Sudah baca cerita perjalananku ke warteg? Jika penggiat traveling benar-benar tahu dan sadar bahwa perjalanan itu bisa bermacam-macam tujuan dan bukan cuma untuk urusan wisata, mereka akan tetap menganggap bahwa tulisan itu juga adalah ‘travel writing’. Apa karena warteg itu hanya berjarak 100 meter dari kost-ku lalu tidak pantas dianggap sebagai sebuah perjalanan? Apa karena warteg itu bukan tempat wisata lalu tidak layak dianggap ‘traveling’?”

Sebagian besar orang yang tidak mengenalnya secara langsung, akan mengatakan bahwa ia orang yang bawel, atau lebih tepatnya terlalu kritis. Segala macam hal ia kritisi, tak hanya orang atau hal lain di luar dirinya, tapi juga pada pemikirannya sendiri. Jika ada sesuatu yang menurutnya salah atau tidak sesuai dengan pemikirannya, ia tak akan segan untuk langsung menanggapi tanpa peduli apakah orang atau isu yang ia tanggapi itu masalah sensitif atau bukan. Jangankan pada orang yang tidak ia kenal, pada bosnya saja ia kritis dan tidak takut akan kehilangan pekerjaan karena hal itu. Jika ia disuruh memilih mempertahankan pekerjaannya yang nyaman dengan penghasilan yang tinggi plus kesempatan jalan-jalan gratis namun dengan kondisi di mana bosnya sering melanggar peraturan perundangan, ia akan memilih untuk hengkang dari pekerjaannya itu dan mencari rezeki di tempat lain.

Tindakannya itu, bagiku, sangat tidak wajar. Orang-orang justru sangat menginginkan pekerjaan yang sesuai passion dan berpenghasilan tinggi, apalagi jika ditambah dengan kesempatan besar untuk jalan-jalan gratis ke berbagai tempat, tak peduli apa pun yang dilakukan bosnya asal tidak mengganggu kesenangan kita. Orang-orang tentu lebih senang “menjilat” orang terkenal agar ia dikenal dan barangkali bisa “numpang terkenal”, tapi Tony justru memilih berseberangan jika orang itu salah, menurutnya. Bukannya membantah argumenku ini, ia malah menjawabnya dengan sebuah gambar.

Wrong is wrong - Right is right

Aku menduga, tipe orang seperti Tony bukanlah tipe orang yang disenangi. Ia adalah tipe orang yang akan mengatakan hal pahit kepada temannya sendiri, meskipun yang ia katakan adalah sebuah kebenaran dan akan mengatakan hal yang manis ke orang yang tidak ia kenal, jika itu memang pantas dilakukan. Ia bukanlah tipe orang yang menyenangkan dan berusaha mengambil hati semua orang. Baca saja tulisannya tentang “Travelmate” dan “Frequently Asked Questions”, di mana ia tak segan-segan untuk memberitahukan apa sajakah kekurangannya sebagai travelmate dan sebagai manusia. Sekali lagi, itu adalah tindakan yang tidak wajar mengingat mayoritas orang justru “berlomba” untuk berkata pada orang lain bahwa dirinya adalah yang terbaik untuk orang lain / sesuatu hal.

Jika kamu merasa belum lama / sama sekali tidak mengenalnya, cobalah baca satu-persatu tulisannya. Dari sana mungkin kamu bisa memahami karakternya, meski tidak secara langsung dan utuh. Dari tulisannya cukup terlihat bahwa pemikirannya sering loncat-loncat, dari satu isu ke isu yang lain yang seringkali tidak sesuai dengan pembahasan, begitu pula lah dirinya ketika diajak “ngobrol”. Ia bisa loncat dari satu pembahasan ke pembahasan lain yang berbeda. Tapi bukan berarti ia selamanya demikian. Ia bisa menjadi seseorang yang terlalu serius membahas satu topik seolah tidak ada topik lain yang lebih penting. Hal ini bisa dilihat dari tulisannya tentang “(Responsible) Travel Writer”.

Seperti yang aku katakan sebelumnya, meski sudah lama aku tahu tentang Tony, aku belum berhasil mengenalnya secara utuh. Meski ada beberapa tindakan atau pemikirannya yang berpola tetap, ia bisa berubah seketika, sesuka hatinya atau tergantung kondisinya, meski tak jarang ia menjadi seseorang yang labil dalam mengambil keputusan. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Yevgeny Zamyatin bahwa, “A man is like a novel: until the very last page you don’t know how it will end. Otherwise it wouldn’t be worth reading.”

Jika aku boleh memberikan saran untuknya, aku hanya bisa mengatakan bahwa tampaknya ia membutuhkan seseorang yang bisa “mengeremnya” saat sudah berlebihan, “memecutnya” saat ia terlalu asyik dengan dirinya sendiri dan melupakan orang lain, bahkan “memilihkan” sesuatu untuknya jika ia sudah terlalu banyak menimbang-nimbang.

Seperti itulah aku mengenalnya. Kamu?

 “As long as you can find yourself, you’ll never starve.”

― Suzanne Collins, The Hunger Games.

2 thoughts on “Memahami Diri Sendiri

Comments: