Tua (di Perjalanan) Itu Pasti, Dewasa (Setelahnya) Itu Pilihan

Tua (di Perjalanan) Itu Pasti, Dewasa (Setelahnya) Itu Pilihan

Tua (di Perjalanan) Itu Pasti, Dewasa (Setelahnya) Itu Pilihan

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 848 orang.

Di bukunya yang berjudul Autumn Leaves, André Gide berkata bahwa, “It is better to be hated for what you are than to be loved for what you are not.” Kita, mungkin, lebih suka menjadi-bukan-diri-kita demi dicintai oleh orang lain, yang terkadang orang itu pun menjadi-bukan-dirinya agar kita cintai. Pada akhirnya, perilaku menjadi-bukan-diri-sendiri ini telah menjadi lingkaran setan yang menyebabkan “terima aku apa adanya” menjadi kehilangan makna dan berubah menjadi “terima aku ada apanya”. Bagi sebagian besar orang, ini naif, meski kadang perilaku itu justru muncul dari yang berkata demikian. “Ga mungkin dong kita cinta atau benci seseorang tanpa sebab”, ujar seorang temanku. Logis. Tapi pertanyaannya, jika sebabnya hilang, akankah cinta atau bencinya juga hilang? Tidak selamanya.

Dalam konteks perjalanan liburan, sebagian besar orang cenderung mengunjungi sebuah destinasi karena ada sesuatu hal yang menjadi sebabnya. Jarang ada yang pergi ke suatu tempat hanya karena ia ingin pergi ke sana. Biasanya, sebab utama seseorang pergi ke suatu tempat adalah karena belum pernah atau ada eksotisme / “surga” yang ingin dilihat. Jika ia sudah pernah ke sana dan tempat itu masih eksotis, besar kemungkinan suatu saat akan kembali. Namun jika eksotisme / “surga” yang menjadi alasannya untuk datang sudah tidak ada, akankah ia kembali? Mungkin ya, tapi kemungkinan besar tidak. Maka perjalanan liburan dan perjalanan cinta menjadi satu motif, “Ga mungkin dong kita datang ke suatu tempat tanpa sebab”.

The heart has its reason which reason knows not

Masih di buku yang sama, André Gide juga berkata bahwa, “Wisdom comes not from reason but from love.” Bijaksana dan dewasa itu satu paket, karena kita tak mungkin dibilang dewasa bila tak bijaksana, pun sebaliknya. Tagline sebuah iklan rokok dengan jelas menyatakan bahwa “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.” Konteks “tua” tentu tak bisa dilihat dari sekedar yang umurnya paling banyak, karena bayi berumur 1 jam tentu lebih tua dari bayi yang baru lahir 1 menit yang lalu. Karena itulah, “(Menjadi) tua itu pasti, (menjadi) dewasa itu pilihan.” Hubungan, apa pun bentuknya, tentu akan menjadi tua, seiring pergantian waktu. Namun sekali lagi, hubungan yang tua, belum tentu menjadikan individu yang terlibat di dalamnya menjadi dewasa. “(Hubungan yang) tua itu pasti, (hubungan yang) dewasa itu pilihan.”

“Dari kapan suka traveling?”, “Berapa lama traveling di sana?” adalah pertanyaan yang biasa dilontarkan ketika sesama penggiat traveling bertemu, seolah traveling itu soal siapa yang duluan dan siapa yang paling lama menjelajah atau soal semakin lama kita melakukan perjalanan, maka semakin keren / expert. Aku mengenal beberapa orang yang sudah lama melakukan perjalanan (hidup), namun tak kunjung dewasa. Sama halnya dengan beberapa orang lain yang telah lama melakukan perjalanan (liburan), namun tak kunjung membuatnya bijak.

Travel brings wisdom only to the wise. It renders the ignorant more ignorant than ever

Banyak sekali pelajaran tak ternilai yang aku dapatkan dari perjalanan yang telah aku lakukan. Kandasnya perjalanan cinta yang telah kubangun bertahun-tahun mengajarkanku bahwa jarak dan masalah kecil, bisa menjadi bom yang meledak di pondasi dasar hubungan. Mencintai seseorang terlalu dalam, dan akhirnya kandas, mengajarkanku bahwa apa yang ditanam terlalu dalam, akan sulit untuk dicabut. Membangun cinta hanya dari satu sisi mengajarkanku bahwa butuh dua sisi untuk membangun jembatan. Berharap pada cinta yang tak ingin diharapkan mengajarkanku bahwa punguk hanya bisa merindukan bulan. Seseorang pernah berkata (tak langsung), “Jika kamu memang baik, mengapa kamu ditinggalkan?” yang hanya aku respon dengan bergumam, “Jika kamu memang sebaik perkiraanmu, mengapa aku begitu mudah untuk melepaskan?”

Aku tak yakin sudah berapa kali aku melakukan perjalanan cinta, sama tak yakinnya dengan sudah berapa kali aku melakukan perjalanan liburan. Aku hanya yakin sudah berapa lama aku melakukan perjalanan hidup, meski tak yakin akan sampai berapa lama. Aku meyakini bahwa perjalanan, cinta-liburan-hidup, bukanlah sekedar untuk dihitung sudah berapa lama, berapa banyak atau berapa jauh ditempuhnya. Bukan pula untuk sekedar dilihat sukses atau gagalnya, apalagi sekedar menjadi koleksi ingatan untuk dikenang, bahkan berupa sekedar apa yang dikatakan oleh Susan Sontag.

Travel becomes a strategy for accumulating photograph

…..dan pada akhirnya, bagiku:

Jakarta, 15 Juni 2014.

8 thoughts on “Tua (di Perjalanan) Itu Pasti, Dewasa (Setelahnya) Itu Pilihan

  1. indrijuwono

    “Kita, mungkin, lebih suka menjadi-bukan-diri-kita demi dicintai oleh orang lain, yang terkadang orang itu pun menjadi-bukan-dirinya agar kita cintai.”

    Menjadi diri sendiri itu cuma jargon awal ya, karena mungkin kita berubah sedikit demi sedikit. Dan mungkin juga kita ingin orang lain berubah untuk kita. Gimana pun ingin yang mendampingi itu ‘setelannya’ pas.

    1. facebook-profile-pictureTravellersID Post author

      Aku memahami “menjadi diri sendiri” sebagai “menahan ego dan keinginan”. Berubah jadi lebih baik itu tentu tindakan yang terpuji, asal motifnya ya demi diri sendiri, bukan demi orang lain. Kalau berubah demi orang lain dan suatu saat kandas juga, ujung2nya nyanyi lagu Phil Collins – Take A Look At Me Now lagi. 😀

      Pun, bukankah telur mengajarkan kita bahwa, “If an egg is broken by an outside force, life ends. If an egg is broken by an inside force, then life begins.” Motivasi terkuat adalah motivasi dari dalam diri, hingga hanya diri kita yang mampu menggoyahkannya, bukan orang lain. 🙂

  2. Kartika Paramita Klara

    Mencintai seseorang terlalu dalam, dan akhirnya kandas…
    Berjalan terlalu jauh, dan akhirnya tersesat…mengajarkanku bahwa jalanan tempat perjalanan itu dilakukan kadang buntu, sehingga aku harus berputar kembali…melewati rute yang tampaknya ku kenal namun nyatanya asing, dan sebagian lagi mencari arah yang benar-benar baru namun menawarkan petualangan menarik…berjalan jauh lebih jauh dan jauh lebih melelahkan, hanya untuk menemukan jalan keluar dan tiba di lokasi yang dituju.
    *Pelajaran hari ini ketika tersesat di daerah Taipower Building.

    1. facebook-profile-pictureTravellersID Post author

      Haha. Sama kok kayak perjalanan cinta. Kadang kita harus menemui jalan buntu, kadang harus memutar, kadang digoda dengan petualangan menarik dalam wujud yang beragam, tapi intinya satu, kita mencari jalan yang ingin kita tuju. 🙂

Comments: