Travel Qua(nt)lity

Travel Qua(nt)lity

Travel Qua(nt)lity

[kads group=”Post (Top)”]

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 70 orang.

“Focus your attention on the quality of your words, and not the quantity, because few sensible talks attracts millions of listeners more than a thousand gibberish.”

― Michael Bassey Johnson.

Aku tergolong orang yang banyak omong, karena itulah aku “rajin” nge-tweet. Aku rajin nge-tweet bukan hanya karena sebagian pekerjaanku berhubungan dengan dunia social media, tapi karena aku memang orang yang banyak omong. Kenapa aku banyak ngomong? Karena aku adalah tipe orang yang karena “terlalu luang waktunya”, orang Jawa bilang selo, jadi aku bisa memikirkan banyak hal kecil yang bahkan menurut orang lain itu jelas tidak penting. Saat masih bekerja sebagai konsultan, aku sering diingatkan oleh bosku bahwa “Devils come from the detail”, tapi aku tak pernah benar-benar peduli. Toh aku yakin “setan / iblis” bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau ditakuti, tapi untuk dipahami lalu ditaklukkan, kan? See, untuk menjelaskan kenapa aku banyak omong saja aku bisa membuat paragraf sepanjang ini, itu pun belum semua.

Karena selo sehingga aku bisa memikirkan banyak hal kecil, yang tampaknya juga didorong oleh rasa keingintahuanku yang terlalu tinggi, aku tak segan untuk belajar hal baru, dari mana pun dan dari siapa pun; belajar sendiri atau dengan bantuan dari orang lain; tentang aku, kamu, kita atau mereka. Meski bagi sebagian besar orang tidak etis, jika penasaran dengan sesuatu / seseorang, aku akan menggunakan sedikit kemampuanku dalam meneliti (“googling”) untuk mencari tahu sebanyak mungkin informasi tentang hal / orang itu. Jadi jangan kaget jika suatu saat aku tertarik padamu dan kamu melihat namaku muncul di notifikasi “Who’s Viewed You” di akun Linkedin-mu, jika kamu punya.

Setelah membaca dua paragraf di atas, sebagian besar dari kalian mungkin akan menyebutku “kepo”, meski aku yakin itu bukan hal yang buruk, toh “kepo” adalah singkatan dari Knowing Every Particular Object, sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh peneliti sepertiku. Namun demikian, dengan tabiatku yang banyak omong dan suka memikirkan hal-hal kecil, justru itu sangat membantuku dalam menulis. Aku tak pernah merasa kesulitan untuk diminta menulis topik apa pun, selama tidak terlalu teknis / spesifik seperti, apakah katak dan kodok bersaudara; kenapa bumi berputar ke arah sana dan bukan sebaliknya; atau seperti kenapa kalian membaca tulisan ini. Mau buktikan? Hubungilah bos kalian dan minta mereka untuk meng-hire-ku sebagai content writer.

Oh ya, tahukah kalian, bahwa tiga paragraf di atas, dan paragraf ini, bisa dihilangkan dari tulisan ini tanpa merusak alur dan isi atau tetap menempatkannya seperti saat ini, juga tanpa merusak alur dan isinya? Dan tahukah kalian bahwa tiga paragraf di atas, dan paragraf ini, sengaja aku buat untuk membuktikan teoriku tentang #2paragrafpertama? Jadi, buang atau pertahankan?

“Quantity has a quality all its own.”

― Joseph Stalin.

Sudah berapa lamu kamu aktif traveling, 10 tahun, 5 tahun, 3 tahun, 2 tahun, atau kurang dari setahun? Sudah berapa banyak tempat yang kamu kunjungi, 50 negara, 20 negara, baru Indonesia saja, masih di area pulau yang kamu tinggali, atau masih di satu provinsi / kota saja? Sudah berapa banyak tiket promo yang kamu dapatkan, ribuan, ratusan, puluhan, atau baru beberapa saja? Sudah berapa banyak uang yang kamu habiskan untuk traveling, ratusan juta, puluhan juta, belasan juta, jutaan, atau baru beberapa ratus ribu saja?

Dengan pengalaman sebanyak itu, apa saja yang kamu pelajari? Apakah itu membuatmu semakin mencintai negaramu? Apakah semakin membuatmu menjadi orang yang dewasa dan bijaksana serta bisa lebih menghargai perbedaan? Apakah ada hal baik di luar sana yang akhirnya mengubah hidupmu lalu kamu ajarkan ke orang terdekat / lingkungan sekitarmu? Ataukah hanya menghasilkan ribuan foto dan tulisan yang bisa, telah, atau akan diubah jadi buku dan dijual demi “balik modal”, serta popularitas? Been there, done that? Tak perlu dijawab, kita renungkan saja.

Beberapa tahun lalu aku sempat berbincang dengan seorang pengasuh sebuah rubrik di sebuah media cetak nasional yang ternama, yaitu bahwa untuk menulis di sana, kita harus mempunyai pengalaman minimal 10.000 jam di bidang tertentu. Lalu bagaimana jika bidang itu adalah soal perjalanan? Berlaku hal serupa. Aku hanya bisa terdiam dan berpikir “Siapa lah aku, anak kemarin sore, jangankan 10.000 jam, 1.000 jam pun aku tak punya.” Ternyata, akhir-akhir ini fenomena tersebut semakin terlihat seiring dengan meningkatnya jumlah pejalan dan destinasi. Pertanyaan “Sudah ke mana saja?” dan “Sudah berapa lama?” adalah pertanyaan umum ketika para pejalan berbincang-bincang.

“It is not the length of life, but the depth of life.”

― Ralph Waldo Emerson.

Apa yang dikatakan oleh Joseph Stalin bahwa setiap kuantitas memiliki kualitas tersendiri, mungkin saja ada benarnya. Bahkan sebutir beras di dalam sebuah karung beras yang kualitasnya sudah dinilai / diakui sebagai beras unggulan pun punya kualitasnya sendiri. Lalu apakah sebutir beras tersebut benar-benar memiliki kualitas yang dimaksud, yaitu sebagai beras unggulan? Belum tentu. Di sinilah peran pengujian. Namun permasalahan dari pengujian adalah, ia cenderung selalu mengambil sample. Untuk melabeli sekarung beras sebagai beras unggulan / tidak, biasanya hanya diambil sample saja, paling banyak 70-80% dari kuantitas dalam satu karung. Pertanyaannya, apakah pelabelan beras tersebut, yang melalui sebuah pengujian dengan sample dan menggunakan prinsip generalisasi sudah cukup memadai? Belum tentu.

Dalam konteks perjalanan liburan, apakah generalisasi bahwa semakin banyak tempat yang sudah dilihat, semakin lama jam terbangnya, semakin banyak tiket promo dan uang yang telah dihabiskan bisa menentukan bahwa seorang pejalan telah belajar banyak hal, baik bagi diri dan lingkungannya? Sama, belum tentu.

Traveling, yang dalam persepsi kebanyakan orang hanyalah soal liburan, aku yakin sama seperti halnya perjalanan hidup, pun perjalanan cinta. Ia bukanlah soal berapa lama kamu telah hidup atau menjalin hubungan, tapi soal seberapa berkualitasnya hal itu. Sebanyak apa pun foto dan cerita liburan yang kita hasilkan, tentu tak akan laku dijual jika kualitasnya di bawah harapan calon pembeli, kan? Aku yakin kita sama-sama sepakat bahwa kualitas sebuah perjalanan (hidup, cinta, liburan) jauh lebih penting dari kuantitasnya, kan?

Jika pada sekarung beras yang sudah dilabeli kualitasnya sebagai beras unggulan saja kita masih bisa meragukan kualitas setiap butir berasnya, lalu kenapa kita harus mengeneralisir bahwa seseorang yang telah banyak dan /atau telah lama bepergian sudah pasti lebih berkualitas dibandingkan dengan yang belum pernah ke mana-mana? Jika hidup saja kita pahami bahwa yang terpenting adalah kualitasnya dan bukan kuantitasnya, lalu kenapa kita masih saja suka bertanya “Sudah ke mana saja?” dan “Sudah berapa lama?” pada orang lain?

“Real travel is not about the highlights with which you dazzle your friends once you’re home. It’s about the loneliness, the solitude, the evenings spent by yourself, pining to be somewhere else. Those are the moments of true value. You feel half proud of them and half ashamed and you hold them to your heart.”

― Tahir Shah, In Arabian Nights: A Caravan of Moroccan Dreams.

Melihat berbeda dengan mengamati, mengetahui berbeda dengan mempelajari dan membaca berbeda dengan memahami.

"It is good to have an end to journey toward; but it is the journey that matters, in the end." - Ernest Hemingway

2 thoughts on “Travel Qua(nt)lity

Comments: