Perjalanan Itu Berlebihan

Perjalanan Itu Berlebihan

Perjalanan Itu Berlebihan

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 304 orang.

Seseorang pernah berkata, “Gue sih  lebih baik menghabiskan masa muda dengan traveling daripada di mall.” Secara personal silahkan, tapi tidak secara komunal bahkan universal. Apa yang salah dengan menghabiskan masa muda di mall? Bagaimana kalau masa muda yang orang lain habiskan di mall itu untuk sebuah pekerjaan? Lalu kalau tidak menghabiskan masa muda dengan traveling, apakah salah? Semestinya tidak. Aku sepenuhnya yakin bahwa, traveling dalam konteks liburan itu tidak wajib, apalagi sekedar untuk mencari kebahagiaan. Toh liburan pun bukan cuma perkara kita pergi ke mana kan?

happiness-is-a-way-of-travel-not-a-destination

Bukan hanya sejak saat ini aku merasakan bahwa melakukan perjalanan (liburan) itu menjadi berlebihan. Sudah ratusan, bahkan mungkin ribuan, orang dan artikel yang menyatakan bahwa traveling bisa membuat kita menjadi bijak, traveling bisa membuat kita bahagia, traveling itu keren dan lain-lain. Benarkah? Mungkin. Pastikah? Tidak. Ada yang berani menjamin bahwa dengan traveling hal-hal positif itu bisa terjadi? Aku yakin tidak.

Traveling menjadi semakin berlebihan ketika sedikit-sedikit, saat pergi ke luar kota, seseorang berkata “I’m a traveler.” Silahkan tanya ke supir dan kernet bis, masinis kereta api, pilot dan pramugari pesawat terbang, nahkoda dan awak buah kapal laut, apakah mereka juga mengatakan hal yang sama ketika melakukan tugasnya? Jika ukuran traveler sejati / expert adalah dari seberapa sering ia melakukan perjalanan, maka cuma mereka lah yang berhak meng-klaim-nya. Setuju?

Backpackers

Solo or group?

Pecinta solo traveling cenderung menganggap bahwa kegiatan itu keren, bisa membuat kita lebih refleksi ke dalam diri, serta bisa menguji ketangguhan dan kemandirian. Meski pada akhirnya, sebagian besar orang yang suka solo traveling malah bertemu dengan traveler lain dan menjelajahi sebuah lokasi, bersama-sama.

Padahal, saat berangkat, di perjalanan, di daerah tujuan, bahkan hingga pulang, tidak ada yang benar-benar solo. Kita butuh orang lain untuk membuat sesuatu yang-kita-sebut-sebagai-solo-traveling itu bisa terwujud. Kita butuh pengemudi, pelayan, bahkan penumpang lain untuk membuat moda transportasi yang kita pilih bisa beroperasi. Berjalan kaki? Kita tetap butuh orang lain untuk membangun / membuka jalan. So, we’re not really that solo, right? Orang lain, meski “asing” bagi kita, tetap bagian dari perjalanan yang tak jarang justru adalah “teman perjalanan”.

Lalu apakah group traveling itu yang utama? Ga juga. Baik solo atau group, punya “kelebihan” dan “kekurangan” masing-masing. Analoginya begini, dalam melakukan perjalanan, baik perjalanan hidup, cinta atau liburan, ada saatnya kita butuh interaksi langsung dengan orang lain dan ada saatnya kita butuh sendirian kan? Proporsional saja. Karena bagaimana pun, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak pernah baik, setidaknya bagiku.

Buat yang masih bersikeras bahwa solo traveling itu keren dan paling utama, lemme ask you, yakin mau melakukan seluruh perjalananmu (hidup-cinta-liburan) sendirian, selamanya?

Hellen Keller

Stay home

Dalam artikelnya di TIME, Maura Kelly mengatakan, “I’ve learned more about the world from regular trips to the library than on any escapade abroad. Bonus: No passport or airport stop-and-frisking required.” Bagi mayoritas traveler, traveling merupakan cara satu-satunya atau cara yang terbaik untuk belajar tentang dunia lain, padahal tidak. John Lubbock berkata, “We may sit in our library and yet be in all quarters of the earth.” Perpustakaan, atau buku, semakin dilupakan sebagai sebuah jendela dunia atau sumber pengetahuan. Meski tak aku pungkiri bahwa buku masih sering jadi teman traveling, saat bosan, menunggu atau saat don’t know nothing to do. Apakah kita tidak bisa melakukan perjalanan saat kita hanya diam di rumah? Dalam “Self-Reliance”, Ralph Waldo Emerson berkata:

Jika ada yang merasa bahwa apa yang aku katakan dari awal adalah salah, mungkin kamu benar. Jika sebaliknya, mungkin aku yang salah. Like what I often say that, aku menulis untuk memastikan bahwa my left mind was right dan my right mind was left. Anyway, aku hanya bertanggung jawab pada apa yang aku tulis, bukan pada apa yang kalian pikirkan tentang tulisan ini. And please stop making stupid people famous by sharing this article. Cheers!

Comments: