Biaya Piknik

Biaya Piknik

Biaya Piknik

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 578 orang.

“Sustainable tourism is the concept of visiting a place as a tourist and trying to make only a positive impact on the environment, society and economy.”

― Jamie Lisse.

Secara global, pada tahun 2012 terdapat setidaknya 1 milyar orang yang melakukan perjalanan dan diramalkan akan menembus angka 1,5 milyar pada tahun 2020, bahkan mungkin lebih. Dan jika dirata-rata, setiap orang menghabiskan uang sekitar USD 700 per tahunnya. Di Indonesia, pada tahun 2012 terdapat setidaknya 70,68 juta penumpang yang melakukan penerbangan di dalam negeri dan 11,74 juta penumpang yang melakukan penerbangan ke luar negeri. Sementara pada bulan September 2014, terdapat sedikitnya 5,34 juta penumpang kereta api lintas provinsi di Pulau Jawa dan Sumatera (exclude penumpang KRL Jabotabek). Bagaimana dengan lalu lintas laut? Pada tahun 2012 terdapat setidaknya 26,15 juta penumpang yang berangkat dan 24,19 juta penumpang yang datang dan terdata di seluruh pelabuhan yang ada di Indonesia.

Pertanyaannya, dari sisi Anda melihat keseluruhan data tersebut, apa yang tergambar di benak Anda? Potensi pemasukan devisa negara yang besar? Potensi meningkatnya kesejahteraan penduduk setempat akibat aliran turis beserta uangnya? Potensi berputarnya roda perekonomian antar wilayah? Potensi distribusi barang dan jasa yang sangat besar? Atau justru sesuatu yang berbeda seperti, seberapa besar polusi yang ditimbulkan? Seberapa besar lingkungan / alam yang rusak? Seberapa besar bahan bakar (fossil fuel), yang sumbernya tak bisa diperbaharui, yang terbuang? Atau, seberapa besar dampak pergerakan manusia tersebut terhadap keberadaan satwa liar dan masyarakat adat?

Saya tidak tahu pasti dari sisi mana Anda melihat data tersebut termasuk sikap Anda setelah melihatnya, namun jika diperhatikan lebih baik lagi, ketika berbicara dampak ekonomi, yang muncul hanyalah “potensi” dan jika berbicara dampak terhadap lingkungan dan masyarakat, yang muncul adalah kepastian (terjadinya degradasi).

Pariwisata adalah salah satu industri yang sangat kompleks karena melibatkan industri lain seperti transportasi, akomodasi, perdagangan, arsitektur dan lansekap, kerajinan, kesenian, dan lain-lain. Dan karena melibatkan banyak industri lain itu lah, pariwisata adalah industri yang dianggap tidak akan pernah bisa menerapkan konsep sustainable, terutama jika industri penopangnya tidak dibuat sustain terlebih dahulu.

Dampak Lingkungan

Industri transportasi adalah penopang utama industri pariwisata. Without travel, there’s no tourism. Jadi, konsep sustainable tourism berhubungan erat dengan konsep sustainable mobility. Jika sejak awal melakukan perjalanan seseorang sudah tidak menerapkan prinsip sustainable mobility, maka dapat dipastikan tidak akan tercipta sustainable tourism.

Kita ambil sedikit contoh. Jika karena alasan menghemat biaya dan kemudahan akses kemudian seseorang memutuskan untuk pergi dari Jakarta ke Bandung dengan menggunakan kendaraan pribadi dan bukannya transportasi umum, maka orang tersebut tidak menerapkan prinsip sustainable mobility. Kenapa? Karena transportasi umum, terutama yang berjadwal semacam bus, kereta api atau shuttle, entah ada penumpang atau tidak akan tetap beroperasi, begitu pula dengan angkutan umum di kota tujuan. Beda dengan kendaraan pribadi yang baru akan beroperasi ketika pemiliknya menggunakannya. Bayangkan berapa banyak bahan bakar (fossil fuel) yang jumlahnya terbatas itu bisa dihemat ketika semua orang menggunakan transportasi publik? Belum lagi dampak perubahan iklim / polusi yang bisa diminimalisir akibat berkurangnya gas buang kendaraan bermotor.

Selain sustainable mobility, yang juga sangat berpengaruh pada berhasil atau tidaknya kita menerapkan sustainable tourism adalah sustainable living. Ketika tingkat kunjungan turis di suatu daerah menjadi sangat tinggi, tidak hanya industri transportasi yang akan menambah jadwal keberangkatan dan kepulangan dari dan ke kota tersebut, tapi juga industri akomodasi akan ikut menambah kamar, bahkan bangunan.

Per tahun 2012, di Indonesia terdapat 1.623 hotel berbintang (155.740 kamar) dengan rata-rata tingkat okupansi sebesar 53,08% dan 14.375 hotel non-bintang (250.038) dengan rata-rata tingkat okupansi sebesar 38,22%. Jika dirata-rata, setiap kamar hotel membutuhkan sekitar 380 liter air per hari atau sekitar 138.700 liter air per tahunnya. Jumlah tersebut belum termasuk kebutuhan air untuk penginapan model homestay atau model lain yang tidak terkategorikan sebagai hotel. Dapatkah Anda bayangkan seberapa besar kebutuhan hotel-hotel ini terhadap air bersih per tahunnya?

Sebagai perbandingan, kita bisa ambil contoh Hotel Bellagio yang ada di Las Vegas, Amerika Serikat. Meski sudah menerapkan konsep daur ulang pada penggunaan airnya, hotel ini tetap membutuhkan sekitar 12 juta liter air per tahun. Jika yang sudah menerapkan konsep daur ulang saja masih membutuhkan air sebanyak itu, bagaimana dengan yang tidak? Terlebih lagi kita semua tentu tahu bahwa jumlah hotel di Indonesia yang sudah menerapkan konsep daur ulang air ini masih sangat sedikit jumlahnya dan mungkin hanya terbatas pada hotel berbintang 4 atau berbintang 5 saja.

Di Indonesia, kita bisa ambil contoh di Yogyakarta. Kita semua tentu tahu bahwa pembangunan hotel di daerah ini berlangsung sangat pesat, bahkan mungkin sudah terlalu berlebihan. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kamar hotel di daerah ini bertambah sekitar 3.000 kamar. Jika menggunakan rata-rata kebutuhan air per kamar seperti yang sudah dinyatakan di atas, berapa banyak kah kebutuhan air untuk hotel-hotel di Yogya? Karena itulah wajar jika muncul gerakan #JogjaKotaHotel atau #JogjaAsat di Twitter, bahkan adegan teatrikal seorang warga di depan sebuah hotel di Yogyakarta yang mandi dengan menggunakan pasir, karena kekeringan sumur yang ia alami. Jika data-data tersebut tidak cukup memberikan gambaran utuh tentang bagaimana dampak hotel terhadap ketersediaan air bersih untuk warga sekitar, sila tonton video #BelakangHotel yang dibuat oleh @Dandhy_Laksono dan kawan-kawan di sini.

“Sustainable Development is more than meeting the needs of today and the future generations…..”

― M.F. Moonzajer.

Dampak Sosial

Seiring dengan meningkatnya mobilitas manusia dan tingkat hunian akomodasi, terutama untuk pariwisata, tidak hanya lingkungan yang merasakan dampaknya, tapi juga sosial dan budaya masyarakat. Sudah berapa kali Anda ke Bali? Jika sudah beberapa kali, seberapa sering Anda melihat atau mendengar digelarnya pertunjukkan Tari Kecak atau tarian sakral adat lainnya yang dipentaskan untuk umum di sana? Pernahkah Anda mendengar sebuah cerita tentang seorang tetua adat di daerah Nusa Tenggara yang marah karena ada pejabat yang datang dan meminta disuguhkan tarian / ritual adat (sakral) yang semestinya hanya dilakukan pada saat tertentu saja? ya, banyak sekali ritual adat sakral yang semestinya hanya dilakukan pada momen tertentu menjadi (terpaksa) ditampilkan setiap saat, bahkan setiap hari, demi pemenuhan hasrat para turis. Saya tak tahu pasti bagaimana respon Anda terhadap tarian dan ritual adat yang akhirnya dipentaskan setiap hari demi pundi-pundi uang dari turis (pariwisata). Bagi saya, nilai sakralitasnya mulai menipis, bahkan mungkin hilang, dan berganti dengan nilai ekonomi semata.

Salah satu dampak sosial yang cukup berpengaruh tapi sering diabaikan adalah kenaikan harga tanah dan barang kebutuhan pokok akibat masifnya pembangunan dan kunjungan turis. Pembangunan, tidak hanya menimbulkan masalah bagi alam, tapi juga bagi masyarakat sekitar. Tahukah Anda berapa kenaikan harga tanah akibat didirikannya sebuah gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, atau hotel di suatu daerah? Saya tidak punya datanya, tapi saya yakin itu cukup tinggi. Kita ambil contoh Jakarta. Meski debatable, kita tentu tahu bahwa suku Betawi adalah suku asli yang sudah lama hidup di Jakarta yang terkenal memiliki tanah yang luas dan banyak.

Pertanyaannya, di manakah mayoritas mereka tinggal saat ini? Beberapa teman saya yang merupakan orang Betawi asli, saat ini tinggal di Bekasi, Tangerang, dan Depok; di luar Jakarta. Mengapa bisa demikian? Sebelumnya, keluarga mereka yang terdahulu tinggal di Jakarta, hingga akhirnya mereka terpaksa dan “dipaksa” menjual tanahnya dan pindah ke kota-kota tersebut. Masifnya pembangunan di Jakarta yang kemudian meningkatkan harga tanah dan biaya hidup, tentu dapat membuat banyak pemilik tanah (orang asli) tidak kuat dan akhirnya menjual tanahnya. Hal serupa juga terjadi di Bali dan Yogyakarta.

Beberapa dari kita tentu bisa berargumen bahwa itu adalah konsekuensi dari pembangunan dan berkata, “Jika tidak ingin maju dan harga tanah serta kebutuhan hidup meningkat ya ga usah dibangun aja sekalian.” Masalahnya, pembangunan adalah bagian dari kebijakan publik dan dalam konteks kebijakan publik, kita harus bisa membedakan antara paparan nalar (reasoning) dengan alasan (argumen). Dalam pembangunan, yang dikedepankan bukanlah “untuk apa sesuatu itu dibangun” (argumen), tetapi “kenapa sesuatu itu dibangun” (reasoning).

Untuk bisa membangun sesuatu, diperlukan hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan AMDAL ini tidak hanya terkait dengan lingkungan dalam pengertian alam (polusi udara, polusi suara, dll) tapi juga lingkungan dalam pengertian kondisi sosial dan budaya masyarakat. Seringkali, iming-iming bahwa kondisi perekonomian suatu daerah akan meningkat jika dibangun gedung A misalnya, adalah yang selalu digembor-gemborkan ketimbang dampaknya terhadap alam dan masyarakat setempat. Jika Anda sempat mengikuti pembahasan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, maka Anda akan mengerti mengapa pengaturan mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) masuk di dalamnya.

Selain itu, ada lagi dampak turisme terhadap kondisi sosial masyarakat, yaitu terhadap masyarakat adat / suku primitif. Dulu, untuk melihat secara langsung pemukiman Eskimo dan suku Amazon, akan membutuhkan waktu berminggu-minggu. Tapi sekarang, tersedia penerbangan reguler untuk mencapai  tempat berdiamnya suku “eksotis” tersebut sehingga Anda hanya membutuhkan beberapa jam perjalanan saja. Menyenangkan bukan? Ya, bagi kita para turis. Namun bagaimana dengan mereka selaku yang paling berwenang dalam menentukan pola hidup mereka? Apakah mereka butuh modernitas yang dibawa oleh para turis? Belum tentu.

Di Indonesia, kita bisa ambil contoh suku Asmat / Dani di pedalaman Papua dan penghuni “Mbaru Niang” di Desa Waerebo, Nusa Tenggara Timur, atau mungkin suku Baduy di Banten. Dengan segala eksotisme alam, arsitektural, maupun orangnya, ribuan turis berbondong-bondong ingin melihat mereka. Sulitkah aksesnya? Dulu ya, sekarang tidak terlalu. Tersedia penerbangan perintis yang dikelola oleh pihak swasta untuk mencapai pedalaman Papua. Pertanyaannya, untuk siapa dan kenapakah penerbangan tersebut ada? Tentu saja untuk turis yang ingin datang melihat. Apakah suku tersebut membutuhkannya? Karena selama ini mereka hidup dari alam dan tidak butuh kehadiran orang luar, saya yakin mereka tidak membutuhkannya.

Konteks yang berbeda bisa kita lihat dari penghuni Desa Waerebo. Agar para turis tetap bisa melihat “Mbaru Niang”, rumah tinggal yang berusia ratusan tahun, lengkap dengan penghuninya, mereka “dipaksa” untuk tetap bertahan tinggal jauh di atas gunung sambil berusaha memenuhi kebutuhan orang kota yang datang berkunjung. Berbagai kebutuhan orang kota ini mereka ambil langsung dari kaki gunung.

Pertanyaannya, apakah benar penduduk Waerebo tetap ingin tinggal di sana dan tidak ingin pindah ke area yang lebih mudah terjangkau sehingga mereka bisa lebih mudah memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan juga jadi lebih mudah dalam memasarkan kopi khas Waerebo yang nikmat itu? Atau malah jangan-jangan mereka “terpaksa” bertahan di sana demi turis dan adanya “tekanan” dari pemerintah untuk terus bertahan demi mendapatkan Pendapatan Asli Daerah dari sektor pariwisata? Sebagai turis yang merupakan manusia modern, apakah Anda tidak ingin membuat mereka merasakan modernitas yang selama ini Anda rasakan kenikmatannya?

Mengenai suku Baduy, terutama Baduy Dalam, saya tidak akan berbicara banyak. Silakan bagi Anda yang merasa pernah ke sana dan kemudian kedatangan tamu orang Baduy Dalam ke rumah Anda di kota, Jakarta misalnya, apakah yang mereka lakukan? Apakah mereka tetap mempertahankan nilai “nir modernisasi” seperti yang mereka anut saat di area Baduy Dalam atau malah mereka malah turut menikmati modernitas tersebut? Jika ingin mendapatkan gambaran utuh tentang dampak sosial terhadap masyarakat adat / suku pedalaman ini, sila baca tulisan saya ini.

“Ignorance is preferable to error, and he is less remote from the truth who believes nothing than he who believes what is wrong.”

― Thomas Jefferson.

Dampak Ekonomi

Pariwisata memang membawa dampak positif terhadap perekonomian berupa meningkatnya lapangan pekerjaan. Secara global, baik secara langsung maupun tidak, industri pariwisata menyumbang sekitar 10% pekerjaan yang ada di dunia. Untuk kategori hotel berbintang di Indonesia, secara keseluruhan terdapat rata-rata 103 orang pekerja per hotel dan rata-rata 8 orang pekerja untuk jenis hotel non-bintang.

Masalahnya, apakah mereka bekerja setiap hari? Tidak, mayoritasnya hanya bekerja saat kondisi hotel sedang ramai (tingkat okupansi tinggi). Bagaimana dengan upah, apakah sesuai dengan ketentuan tentang Upah Minimum Provinsi (UMP)? Tidak semuanya. Jika dirata-rata, upah pekerja hotel di seluruh Indonesia berada pada kisaran Rp1.066.700,00 per bulan (data per bulan Maret 2013) sementara rata-rata UMP di Indonesia berada pada angka Rp1.332.400,00. Cukup jelas maksudnya kan?

Selain lapangan pekerjaan, pariwisata memang bisa membawa dampak positif terhadap berputarnya roda perekonomian lokal. Sayangnya, perekonomian lokal tersebut tidak selalu dimiliki oleh orang lokal karena kebanyakan adalah milik investor asing maupun investor lokal yang berasal dari kota lain, Bali contohnya. Sila baca artikel “Abandoned” yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu.

Selain pakaian ganti, handuk, dan mungkin gadget beserta aksesorisnya, ada suatu barang lain yang selalu kita bawa, yaitu perlengkapan mandi (amenities) seperti pasta gigi, shampoo, dan sejenisnya. Namun tahukah kita, bahwa dengan tidak membawa amenities tersebut dan memilih untuk menggunakan yang sudah disediakan di penginapan atau membelinya di warung / toko kelontong / minimarket yang ada di kota tujuan itu bisa berkontribusi positif terhadap perekonomian lokal, bahkan terhadap lingkungan?

Jelas bahwa dengan membeli amenities di kota tujuan akan dapat membantu meningkatkan perekonomian lokal,, meski jumlahnya mungkin tidak seberapa, namun tidak seberapa bagi kita belum tentu menjadi tidak seberapa bagi penjualnya kan? Lalu apa dampaknya bagi lingkungan? Dengan menggunakan amenities yang sudah disediakan di penginapan atau membelinya di kota tujuan, kita telah membantu mengurangi emisi GHG karena pembakaran gas CO2 dan non-CO2 selama proses produksinya, meski sedikit. Tidak semua amenities yang disediakan oleh penginapan itu (bisa) didaur ulang, sehingga jika tidak didaur ulang tentu akan menimbulkan sampah baru yang tentunya kembali menimbulkan pencemaran lingkungan. Pun jika ternyata amenities tersebut diproduksi oleh supplier lokal atau home industry, dengan menggunakannya kita juga ikut mendukung perekonomian mereka. Namun sayangnya, tak banyak yang aware akan hal ini dan tetap membawa amenities sendiri.

“Every profession bears the responsibility to understand the circumstances that enable its existence.”

― Robert Gutman.

Kesimpulan

Saya tidak berada pada posisi ekstrim yang mendewakan pariwisata adalah solusi terbaik bagi perekonomian, juga tidak berada pada posisi ekstrim yang menihilkan seluruh dampak positif pariwisata. Suka tidak suka, industri pariwisata telah lama eksis dan mungkin akan tetap eksis di Indonesia dan tidak sedikit orang yang bergantung pada keberlangsungan industri ini.

Namun sebagaimana saya ungkapkan di awal, dalam konteks keberlangsungan industri dan dampaknya terhadap lingkungan, masyarakat, dan perekonomian, pariwisata harus dibuat menjadi sustainable (sustainable tourism). Salah satu cara untuk membuat industri ini menjadi sustainable adalah dengan terlebih dahulu membuat turis (pengguna) dan industri penopangnya (pelaku) bertindak sustainable (make only a positive impact on the environment, society and economy).

Tantangan terberat bagi terwujudnya sustainable tourism adalah rasa ketidakpuasan dan rasa ingin tahu manusia. Kita bisa melihat bagaimana rasa tidak puas dan keingintahuan tersebut terjadi di Dubai, UAE. Secara teknik dan kecerdasan arsitektural kita tentu akan berdecak kagum bagaimana bisa daerah gurun pasir yang bersuhu harian 50 derajat Celcius mempunyai sebuah tempat untuk bermain ski sepanjang tahun. Namun masalahnya, apakah benar (warga) Dubai membutuhkan itu semua? Sila baca esai ini untuk lebih memahami tentang pembangunan di Dubai yang dianggap tidak sustainable. Semoga hal tersebut tidak terjadi di Jakarta, Bali, Yogyakarta, atau daerah lainnya di Indonesia.

Apa pun profesi kita, berapa pun penghasilan kita, dan berasal dari mana pun kita, bertindak sustain bukan hanya perkara memastikan agar apa yang kita nikmati saat ini juga bisa dinikmati oleh generasi mendatang. Bertindak sustain adalah pemenuhan terhadap hak lingkungan dan masyarakat untuk selalu dijaga dan dilestarikan. Dan memenuhi hak mereka adalah kewajiban kita semuanya yang tidak akan bisa terwujud jika tidak dimulai dari diri sendiri.

Mulailah dengan selalu menggunakan transportasi publik untuk menuju / pulang ke / dari suatu tempat dan selama berkeliling di sana. Hematlah penggunaan air saat di penginapan, bahkan bila perlu pilihlah penginapan yang menerapkan prinsip daur ulang dalam penggunaan airnya. Bila perlu, gunakanlah jasa tour operator saat Anda hendak mengunjungi suatu daerah. Kenapa? Karena sifat menghimpun / kuota yang diterapkan oleh tour operator dapat meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi.

Misal, jika ada 6 orang yang pergi masing-masing ke kota A dan hendak berkeliling ke beberapa pantai di sana dengan mobil sewaan, maka tentu akan membutuhkan 6 mobil. Akan beda dampak terhadap lingkungannya jika 6 orang tersebut menggunakan jasa satu tour operator sehingga akhirnya hanya menggunakan 1 buah mobil saja, kan? Namun demikian, carilah juga tour operator yang paham akan isu sustainable tourism ini atau setidaknya yang paham tentang bagaimana cara memberikan dampak positif terhadap lingkungan, masyarakat dan perekonomian lokal.

Jika Anda masih bertanya-tanya tentang apa yang bisa Anda lakukan sebagai turis (penggguna) untuk mendukung terwujudnya sustainable tourism ini, sila baca panduan untuk menjadi responsible traveler di sini. Jika Anda adalah pelaku industri pariwisata, sila baca panduan ini.

Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa, biaya wisata tidak hanya soal biaya yang Anda perlukan untuk berwisata di suatu tempat atau biaya operasional yang harus Anda keluarkan dalam mengelola alat transportasi, akomodasi, dan lain-lain demi memenuhi kebutuhan wisata, tapi ada juga biaya dampak terhadap lingkungan, masyarakat, bahkan perekonomian yang seringkali tidak pernah dihitung. Pernahkah Anda menghitungnya? Saya meragukannya.

Ungkapan “Mencegah lebih baik daripada mengobati” tentu tidak hanya dalam konteks “menderita penyakit”, tapi juga dalam konteks biaya yang harus dikeluarkan. Ketimbang harus mengeluarkan biaya besar akibat rusaknya lingkungan, masyarakat, dan tatanan perekonomian akibat pengelolaan pariwisata yang tidak sustainable, tentu akan lebih bijak dan lebih murah biayanya jika kita mencegah (menghitungnya) dari awal, kan?

Salam.

“We cannot hope to create a sustainable culture with any but sustainable souls.”

― Derrick Jensen.

*) Seluruh data statistik diambil dan diolah dari situs Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
**) Jika masih membutuhkan artikel tentang dampak pariwisata terhadap lingkungan dan sosial-budaya, sila baca beberapa artikel berikut (in English):

9 thoughts on “Biaya Piknik

  1. Gallant Tsany Abdillah

    yg masih aku nggak ngerti, kenapa dengan membeli / memakai perlengkapan mandi daerah sekitar justru mendukung sustainable tourism. kalo didasarkan pada pembuatan yg menggunakaan gas ilmiah atau apapun itu kok rasanya malah dengan bawa perlengakapan mandi itu bisa menghemat gas buang. tapi kalo didasarkan dengan “kalo beli di masyarakat sekitar maka turut membantu perekonomian masyarakat” aku setuju

    1. facebook-profile-picturePradikta Dwi Anthony Post author

      Hee.. Gini, kita lihat dari alur distribusinya aja ya.

      Untuk membawa perlengkapan mandi tersebut pasti membutuhkan bahan bakar dan gas buang bahan bakar itu menyebabkan polusi. Misal jika perlengkapan mandi di hotel / di warung lokal tersebut tidak terpakai / tidak laku, akan diapakan? Entah itu dihancurkan / daur ulang pasti akan menghasilkan gas buang lagi. Atau jika misal dikembalikan lagi ke tempat produksinya juga menghasilkan gas buang kan? Jadi berapa kali tuh hasil gas buang yang menyebabkan polusi sejak dari proses produksi sampai dikembalikan lagi apabila ga terpakai / laku?

      1. peng li

        “Dengan menggunakan amenities yang sudah disediakan di penginapan atau membelinya di kota tujuan, kita telah membantu mengurangi setidaknya 4-5% emisi GHG karena pembakaran gas CO2 dan non-CO2 selama proses produksinya.”

        Angka 4-5% ini dari mana ya?

        Sustainable atau enggak lebih tergantung cara pakainya sih ketimbang beli di mana. Bawa amenities secukupnya dampaknya lebih kecil ketimbang pake yg disediain di hotel tapi gak dihabiskan lalu dibuang.

        1. facebook-profile-picturePradikta Dwi Anthony Post author

          Wah, sik, sik, sik. Angka itu semestinya untuk local food production sih. Kok masuk di situ ya. 😐

          Eh tapi mungkin tergantung cara hotel sediakan juga ya. Ada yang dalam bentuk botol besar lalu bisa dipakai scukupnya sehingga tak perlu dibuang, ada yang model sachet which is kapasitas cukup pakai juga sehingga cenderung habis dipakai.

    1. facebook-profile-picturePradikta Dwi Anthony Post author

      Hee.. Bisa aja deh, itu tulisan iseng kok, ga ilmiah, lha wong dibikin cuma dalam waktu kurang dari 4 jam aja. Makasih ya udah mau baca, syukur2 mau bantu sebarkan. 😀

Comments: