(Responsible) Travel Writer?

(Responsible) Travel Writer?

(Responsible) Travel Writer?

[kads group=”Post (Top)”]

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 235 orang.

“True, This! —

Beneath the rule of men entirely great;

The pen is mightier than the sword…..”

― Edward Bulwer-Lytton, Richelieu; Or the Conspiracy.

Beberapa hari yang lalu, @suci_rifani bertanya padaku, “Jadi bagaimana sebaiknya menulis perjalanan Itu? Apa yang boleh dan tidak boleh ditulis?” Jujur, aku bukanlah seseorang yang tepat untuk ditanyai hal semacam ini karena aku bukanlah travel writer profesional –yang mencari penghidupan dari tulisan perjalanan. Meski pekerjaanku sebagai Content Writer berhubungan dengan turisme, aku tetap merasa tak pantas menyandang “gelar” itu. Namun demikian, aku tetap harus menjawabnya, meski dari perspektifku, perspektif pemula yang dungu. Pun aku berharap bahwa pertanyaan tersebut bukan hanya pertanyaan, tapi sebuah diskusi sehingga aku mendapatkan perspektif dan pengetahuan baru dari Suci (klik di sini untuk melihat percakapanku dengannya di Twitter).

Aku yakin bahwa sejarah perjalanan berawal dari misi pencarian. Entah itu pencarian atas tanah baru, suku, budaya dan bangsa lain, sumber daya alam, pembuktian sebuah teori, bahkan mungkin atas misi keagamaan / kepercayaan. Apa yang terjadi sepanjang perjalanan menuntaskan misi itulah yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk tulisan, dan mungkin juga gambar, sehingga melahirkan apa yang kita sebut sebagai travel writing. Sang pejalan mencatat setiap kejadian yang ia temui dan menceritakannya kepada orang lain yang ia temui yang tidak mengalami perjalanan itu bersamanya. Tanpa bermaskud mengeneralisir, seringkali dalam bercerita kita melebih-lebihkannya, atau setidaknya menggunakan kata yang berlebihan, “surga” adalah contohnya. Perilaku melebih-lebihkan ini sangat “wajar” mengingat tak ada orang yang ingin melakukan perjalanan yang dianggap “sia-sia” oleh orang lain. Terlebih lagi, pada masa itu, perjalanan dalam misi pencarian / penaklukan, tentu tidak dilakukan untuk hal yang sia-sia. Sang pejalan harus membawa kabar gembira tentang apa yang dilihat / ditemukannya.

Half Full Glass

“Some people see the glass half full. Others see it half empty.
I see a glass that’s twice as big as it needs to be.”

― George Carlin.

Perhatikan gambar di atas, apa yang terlintas di benak kalian? Gelas yang setengah penuh? Setengah terisi? Atau? Coba pahami apa yang ingin disampaikan oleh George Carlin. Aku yakin ia bermaksud menyampaikan bahwa dalam melihat berbagai hal, kita selalu melihatnya dari perspektif kita masing-masing. Sebuah nuklir misalnya, di tangan orang yang berbeda nuklir bisa jadi sesuatu yang sangat bermanfaat atau malah jadi sesuatu yang merusak. Begitu pun dengan tulisan dan foto tentang sebuah tempat, ia bisa jadi sesuatu yang menginspirasi orang lain untuk bersyukur dan menjaga atau malah memprovokasi orang lain untuk mengeksploitasi dan menghancurkannya. Dalam konteks tulisan, benar bahwa apa yang kita persepsikan terhadap sesuatu bisa dipersepsikan secara berbeda oleh orang lain, tak masalah, selama kita telah secara jelas mendefinisikan apa yang kita persepsikan itu, bukan malah mengambang dan menyerahkannya kepada pembaca.

Saat mencari bahan tentang responsible travel writing, aku menemukan tulisan @nuranwibisono yang berjudul “Kami Penulis, Bukan Peneliti”, yang merupakan tangapan atas tulisan @arman_dhani tentang travel writer. Saat membaca tulisan Nuran, aku kaget. Di satu sisi, tulisan Nuran terbaca sebagai seorang travel writer yang membela dirinya bahwa ia seorang penulis dan seorang penulis tak harus peduli pada kondisi sosial dan ekonomi daerah yang dikunjunginya. Seorang penulis tak harus meneliti tentang apa yang terjadi di suatu tempat atau tentang kenapa sesuatu hal itu bisa terjadi. Namun di sisi lain, sisi orang yang cenderung sarkas sepertiku, ia seperti sedang memaparkan tentang apa yang dipikirkan oleh kebanyakan travel writer pada umumnya dan mencoba menyindirnya secara eksplisit. Namun sayangnya, bagiku, tulisan itu terlalu mengambang dari sisi sikap seorang penulis. Nuran tidak menegaskan di mana posisinya terkait isu yang diangkat oleh Dhani tentang “kontribusi travel writer terhadap kerusakan sebuah tempat”. Tak ingin terjebak pada pendapatku semata, aku coba mengkonfirmasikan pada Nuran tentang maksud tulisannya dan ia menjawab:

Aku kurang puas atas jawabannya semalam. Sebagai seorang travel writer yang sangat disegani, semestinya Nuran menegaskan posisinya ada di mana, bukan malah menyerahkannya pada pembaca. Bagiku, isu “resposible travel writer” ini sangat penting, mengingat semakin banyaknya orang yang ingin menjalani profesi ini, yang sayangnya juga diiringi oleh semakin banyaknya tempat yang rusak dan kotor akibat mass tourism.

Dalam tulisannya, Nuran mengatakan bahwa, “Para penulis perjalanan memang seharusnya lepas dari beban moral nan mulia tentang menuliskan kemiskinan dalam setiap perjalanan. Karena penulis perjalanan bukanlah seorang peneliti. Apalagi peneliti kemiskinan.” Benar bahwa profesi penulis dan peneliti itu berbeda, tetapi bukan berarti peneliti tidak menulis dan penulis tidak meneliti. Nuran sadar akan hal ini karena ia juga mengatakan bahwa, “Penulis perjalanan harusnya tidak lagi sekedar mengedukasi pembaca, melainkan juga harus bisa mengedukasi dirinya sendiri. Dengan cara apa? Ya membaca dan mencari tahu.” Membaca dan mencari tahu adalah salah satu proses penelitian. Sederhananya, saat ingin pergi ke suatu tempat, kita pasti “meneliti” kondisi di sana, minimal soal transportasi lokal, harga tiket masuk dan penginapan. Penulis perjalanan mungkin bukan peneliti, tapi bukan berarti ia tidak meneliti, kan?

Dari seluruh tulisan Nuran, aku heran ketika ia melupakan definisi “perjalanan” yang sesungguhnya. Ia memandang perjalanan adalah “pelarian paling ideal dari rutinitas dan segala macam kesibukan dunia modern lainnya”, perjalanan hanya tentang liburan. Padahal perjalanan bukan hanya tentang wisata. Hanya “perjalanan wisata” lah yang tentang wisata, sementara masih ada “perjalanan bisnis”, “perjalanan hidup”, “perjalanan spiritual” dan lain-lain. Tentang definisi “perjalanan”, aku sudah pernah membahasnya secara gamblang di sini. Bagi Nuran, mungkin, peneliti kemiskinan bukanlah seorang travel writer, meski peneliti itu melakukan perjalanan untuk menuliskan hasil penelitiannya. Kembali lagi, jika bagi Nuran perjalanan hanya tentang berwisata, maka baginya, selain berwisata bukanlah perjalanan.

“Certainly, travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.”

― Miriam Beard.

Nuran tahu bahwa dalam menulis, ada hal yang boleh dan tidak boleh dituliskan. Ia mencontohkan, “Jangan sampai, mentang-mentang kamu adalah backpacker atau travel blogger terkenal, lalu bersikap seenak udel seperti merokok ganja atau mabuk di tempat yang tak seharusnya.” Kita hidup dalam ikatan norma, yang entah kita sukai atau tidak, norma itu ada dan hidup di dalam masyarakat. Aku yakin, manusia yang waras tentu tak akan menuliskan sesuatu yang melawan hukum, meski hal itu memang benar ia lakukan. Sama halnya dengan kita yang tak akan menggunakan bahasa yang “kasar” pada orangtua kita, meski bahasa itu biasa kita gunakan ke orang lain.

Aku tak menampik bahwa pariwisata itu seperti mata uang, ia mempunyai dua sisi yang berbeda. Di satu sisi pariwisata memang mempunyai sisi positif dengan menghidupkan roda perekonomian, namun di sisi lain, pariwisata juga membawa dampak negatif berupa kerusakan atau degradasi nilai. Aku setuju dengan Nuran yang berkata bahwa, “Pariwisata, sama seperti uang koin, selalu mempunyai dua sisi yang berbeda. Yang bisa kita lakukan bukan menihilkan dampak negatif pariwisata, melainkan berusaha mencegah agar dampak negatif itu tak teramat buruk atau tak berkembang menjadi lebih buruk.” Namun demikian, ketika kita memlih salah satu sisi koin tersebut, kita tentu tak memilih sisi yang lainnya. Pertanyaannya, sisi manakah yang kita pilih?

2 Sides of Coin

“Life is like a coin, pleasure and pain are the two sides. Only one side is visible at time, but remember other side also waiting for its turn.”

Dalam tulisan “Pelajaran Dari Sebuah Warteg” yang kemarin aku tulis, secara eksplisit aku menyatakan bahwa dalam menjual / mempromosikan sesuatu, pastikan kita punya hak untuk melakukannya. Saat “menemukan sebuah destinasi baru”, beberapa orang sering merasa jadi orang yang paling berhak untuk mempublikasikannya dan meminta orang-orang untuk datang ke sana. Mereka berasumsi bahwa dengan banyak orang yang datang ke sana akan menggerakkan roda perekonomian dan membuat penduduk sekitar menjadi makmur. Namun sayangnya mereka lupa bertanya pada diri sendiri, “Atas dasar apa aku mempromosikannya? Apakah aku punya hak untuk menuliskannya? Apakah penduduk / otoritas setempat setuju jika aku mempromosikannya? Apakah mereka siap untuk kedatangan turis?” Bagi travel writer yang picik, ia tak akan ambil pusing dengan pertanyaan tersebut. Ia mungkin akan berargumen, “Tugas saya sebagai travel writer adalah menulis, persetan dengan pengelolaan dan kesiapan penduduk setempat.” Vini, vidi, vici.

Lihatlah Sempu. Pulau yang berstatus sebagai cagar alam ini dijadikan objek wisata, padahal itu ilegal. Atas dasar apa? Memakmurkan penduduk setempat? Apa ukurannya? Pendapatan yang melimpah? Kenapa soal kelestarian alam tak menjadi ukuran bagi kemakmuran? Apakah keseimbangan ekosistem tak pantas untuk dijadikan tolak ukurnya? Apakah kemakmuran itu hanya perkara punya uang berlebih atau tidak? Aku yakin tidak.

Nuran boleh berkata bahwa, “pencarian tempat-tempat yang tersembunyi dan eksotis itu TIDAK AKAN pernah berhenti sampai kapan pun. Manusia adalah mahluk yang diberkahi otak. Dengan otak pula, muncul imajinasi. Bukankah Ibn Battuta, Marcopolo, atau Colombus mengelilingi dunia karena berimajinasi? Mereka berimajinasi bahwa dunia ini tidaklah datar. Mereka juga berimajinasi tentang tanah surga, tempat dimana kamu melempar kayu akan jadi tanaman.” Ia mungkin lupa tentang manusia dan kemanusiaan. Benar bahwa imajinasi lah yang membuat manusia berkembang dan menciptakan / “menemukan” hal-hal baru untuk membuat hidup jadi lebih baik. Namun manusia yang selalu menuruti imajinasi, atau dalam hal ini hawa nafsu terhadap penaklukan daerah baru, bukanlah manusia yang memanusiakan dirinya dan orang lain. Hawa nafsu memang ada, tapi apa lantas hal tersebut harus selalu dituruti? Atau justru harus dikendalikan, dipilih mana yang baik untuk dipenuhi dan mana yang tidak?

Nuran boleh saja menggunakan analogi tentang Adam sebagai manusia yang pertama kali melakukan perjalanan untuk mencari Hawa, demi melegitimasi bahwa perjalanan itu harus dilakukan. Atau bisa juga jika ada orang lain yang ingin menggunakan kisah Ibrahim yang melakukan perjalanan untuk mencari Tuhan-nya. Kita juga bisa menutup mata terhadap perjalanan yang dilakukan oleh bangsa lain ke benua Amerika dan Australia lalu mengklaimnya sebagai “milik mereka”. Kita bisa jadi penulis perjalanan yang jujur dalam menceritakan perjalanan kita atau justru menjadi penulis perjalanan ala penjajah benua Amerika dan Australia yang menegasikan keberadaan suku Indian dan Aborigin yang telah lebih dulu menempati daerah itu.

(Responsible) Travel Writer?

Setidaknya dalam setahun terakhir, muncul beberapa pelabelan menarik, salah duanya adalah “responsible traveler” dan “responsible travel writer”. Kenapa aku sebut pelabelan? Karena seolah “responsible” itu bukanlah kewajiban, tapi status. Perlukah kita membanggakan diri sebagai seseorang yang selalu membuang sampah pada tempatnya, menjaga kelestarian alam, tidak melanggar hukum dengan berwisata ke cagar alam, tidak menuliskan tentang perbuatan ilegal kita di suatu tempat dan lain-lain ketika hal tersebut adalah kewajiban kita dalam hal apa pun dan bukan hanya sebagai pejalan? Lebih jauh, perlukah kita membanggakan diri ketika kita menolong orang lain yang kesusahan, memberantas kejahatan, menulis buku best seller, atau menjelajahi tempat-tempat jauh dan berbahaya? Sekat antara pamer dan menginspirasi itu tipis.

Itulah sebabnya kenapa aku memberikan tanda kurung pada kata “responsible” dalam tulisan ini. Bagiku, siapa pun kita, haruslah bertanggung jawab pada apa yang kita lakukan atau tuliskan, meski tak ada pelabelan “responsible traveler” dan “responsible travel writer”. Responsible bukanlah pilihan, tapi kewajiban dan kewajiban bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan atau dipamerkan ketika ditunaikan.

“How different would people act if they couldn’t show off on social media? Would they still do it?”

― Donna Lynn Hope.

Untuk menjawab pertanyaan Suci tentang bagaimana sebaiknya menulis tentang perjalanan, dalam hal ini aku yakin ia bertanya tentang perjalanan wisata, aku berpendapat:

  1. Saat menulis tentang sebuah “destinasi baru”, pastikan kita punya hak untuk itu. Pastikan penduduk dan otoritas lokal mengizinkannya; pastikan bahwa itu tidak melanggar hukum, seperti mengajak wisata ke cagar alam misalnya; pastikan bahwa penduduk siap saat menerima banyak pengunjung, terutama kaitannya dengan sustainable tourism development. Kita bisa memilih sisi positif dari koin pariwisata atau seolah-olah berada pada sisi tersebut, padahal memilih sisi negatifnya. Jika tak yakin berada pada sisi mana, jangan dituliskan. Melakukan sesuatu dalam keraguan hasilnya cenderung tidak baik.
  2. Jika punya teman yang kuliah di Fakultas Ekonomi, tanyalah soal mata kuliah “Studi Kelayakan Bisnis”. Aku percaya bahwa setiap tempat itu punya potensi wisata, bahkan cagar alam, tempat tinggal kita dan Istana Presiden pun punya, tapi apakah bisa begitu saja diubah jadi objek wisata? Tentu tidak. Dalam konteks “Studi Kelayakan Bisnis”, banyak pertimbangan untuk menjadikan sesuatu hal layak / tidak dijadikan lahan bisnis, begitu pun dalam bisnis pariwisata. Toh masyarakat Bali pun menolak pembangunan pembangkit listrik dengan tenaga panas bumi, karena tidak sesuai dengan kepercayaan mereka tentang gunung, meski pembangkit listrik itu untuk kebutuhan mereka.
  3. Hindarilah menggunakan bahasa yang berlebihan seperti “surga”, “perawan”, atau “eksotis”. Ketiga kata tersebut, bagiku, terlalu merujuk pada penaklukan. Siapa yang tak ingin ke surga? Siapa yang tak ingin dapat yang perawan atau perjaka? Pengertian eksotis pun selalu bergeser seiring dengan perkembangan zaman, hari ini disebut eksotis, besok bisa jadi tidak lagi. Eksotis untukmu, belum tentu eksotis untukku.
  4. Jika kita mengaku sebagai penulis perjalanan (travel writer), maka yang seharusnya kita tulis adalah tentang perjalanan, bukan tentang tempat. Hanya menulis tentang objek wisata bukanlah domain travel writer, tapi tourism writer.
  5. Seseorang yang melakukan perjalanan harus mengingat bahwa objek terbesar dalam perjalanannya adalah kehidupan manusia. Setiap daerah memiliki keunikan, adat istiadat dan kebijakan tersendiri, yang mungkin saja jauh berbeda dengan di tempat lain / daerah asal kita. Mengenal suatu daerah tentu tak bisa hanya dengan datang dan melihat. Kita harus mengetahui dan memahami latar belakangnya. Sekedar datang, melihat, lalu menjustifikasi bahwa sesuatu hal yang ada di suatu daerah itu buruk hanya karena berbeda dengan apa yang kita percayai / berbeda dengan kebiasaan di tempat asal kita, tentu bukanlah tindakan yang bijak, pun dewasa. Konsultasikanlah tentang apa yang boleh dan tidak boleh ditulis ke orang yang kita anggap kredibel untuk itu.

“Great travel writing consists of equal parts curiosity, vulnerability and vocabulary. It is not a terrain for know-it-alls or the indecisive…. We observe, we calculate, we inquire, we look for a link between what we already know and what we’re about to learn. The finest travel writing describes what’s going on when nobody’s looking.”

― Tom Miller.

Tulisan ini bukanlah untuk menghakimi Nuran atau orang lain yang sependapat dengannya, atau sebagai balasan terhadap tulisan Nuran. Tulisan ini aku buat untuk mengumpulkan beberapa pemikiranku tentang perjalanan maupun penulis perjalanan yang terserak di berbagai artikel. Di Twitter, aku sering berkata bahwa, “Aku hanya bertanggung jawab pada apa yang aku tweet (tulis), bukan pada apa yang kamu pikirkan tentang tweet (tulisan)ku.” Oleh karena itu, jika Nuran atau ada pihak lain yang merasa bahwa pendapatku ini salah atau jika ada yang kurang jelas, mohon dikoreksi / ditanyakan, baik melalui form komentar di bawah ini, kontak personal atau dengan tulisan lain.

Yang pasti, seluruh penulis pasti tahu bahwa “The pen is mightier than the sword…..” karena itulah kita perlu berhati-hati dalam menulis. Dalam konteks pejalan dan penulis perjalanan, tak ada salahnya untuk sering-sering mengingat apa yang dikatakan oleh Vera Nazarian berikut ini:

“Whenever you go on a trip to visit foreign lands or distant places, remember that they are all someone’s home and backyard.”

— Vera Nazarian.

Kita tentu tak ingin membuat pemilik “rumah” dan “halaman” menjadi tidak nyaman karena kita menulis tentangnya. Sama halnya dengan kita yang tak akan nyaman bila seseorang menuliskan hal yang sama tanpa tahu lebih jauh, kan?

2 thoughts on “(Responsible) Travel Writer?

  1. Windy Anindya Putri

    Tulisan yang panjang dan.. bagus. Aku membacanya sampai akhir, meski tidak seluruhnya kupahami karena aku memang tak suka berpikir terlalu dalam atas apa yang kutulis.

    Dan omong-omong, kamu itu pintar sekali ya membranding diri. +100 untuk website ini, meski terlalu banyak menu tab yang harus kupilih :p

    All the best for you, Thon.

    Regards,
    WAP

    1. facebook-profile-picturePradikta Dwi Anthony Post author

      Hehehe.. Iya itu menunya masih perlu dibongkar lagi, yang bagian Profil dan Service kan maksudnya? Soal branding dulu kan kamu yang ngajarin buat “jual diri” kalau lagi apply kerjaan. :p

      Thanks udah mampir ya, Windy. All the best for you too. 😉

Comments: