Malu Itu Sederhana

Malu Itu Sederhana

Malu Itu Sederhana

[kads group=”Post (Top)”]

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 363 orang.

“Any fool can know. The point is to understand.”

― Albert Einstein.

Beberapa hari terakhir linimasa Twitter cukup ramai “membicarakan” tentang meninggalnya @hmd yang, tampaknya, cukup mendadak. Well, aku tak mengenalnya, hanya sekedar tahu, itu pun hanya ketika tweet-nya di-retweet oleh beberapa teman-temanku. Namun demikian, seiring dengan kepergiannya beberapa hari yang lalu, aku merasa cukup tahu tentangnya, meski hanya melalui kicauan dan tulisan orang-orang yang dekat dengannya.

Tulisan tentang @hmd yang pertama kali aku baca adalah tulisan lama dari GennaStaria. Baginya, @hmd adalah “…orang yang saya tidak pernah tahu akan selalu bersedia meluangkan waktu untuk temannya. Dia adalah orang terakhir yang saya cari ketika tidak tahu lagi kemana harus berbagi cerita. Tapi dia seakan tidak memperdulikan itu, baginya mungkin teman adalah sesuatu yang berharga.”

Selepas membaca tulisan Genna, memoriku kembali ke masa-masa SMA, masa sewaktu aku masih mempunyai teman dengan karakter seperti beliau. Teman yang selalu ceria seolah tak punya masalahnya sendiri. Teman yang selalu ada saat aku sedang terpuruk dan bersedia mendengarkan segala keluh kesah. Teman yang tak pernah mengeluh saat aku tak ada untuknya.

Tulisan yang kedua adalah milik seseorang yang aku kagumi akibat tingkat random-nya yang akut namun tetap menghibur dan retweetable. Semalam ia berbincang dengan seseorang tentang rencananya membuat semacam mixtape sebagai sebuah tribute untuk @hmd. Aku kira itu hanya bercanda, ternyata ia serius. Melalui dialog imajiner antara Burhan dan Rustam, @dony_iswara meramu gambaran tentang sosok seorang @hmd dalam hidupnya, dengan apik.

Dalam mixtape yang ia buat, ada lagu “Sebuah Kisah Klasik” milik Sheila on 7 yang berhasil melemparkanku jauh kembali ke masa menjelang kelulusan SMP. Well, meski bagi sebagian besar orang masa SMP adalah masa yang cenderung memalukan mengingat kondisi kita yang umumnya masih cupu, namun cukup banyak kenangan selama masa itu yang tak ingin kulupakan. Terutama masa ketika aku dan teman-temanku menyanyikan lagu tersebut bersama-sama, lalu kemudian menangis seolah tak rela berpisah.

“…Bersenang-senanglah, karena hari ini yang ‘kan kita rindukan di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan. Bersenang-senanglah, karena waktu ini yang ‘kan kita banggakan di hari tua…”

Lalu tulisan yang ketiga adalah tulisan milik Donny Verdian yang sempat bercerita tentang proses penerbitan tulisan @hmd di blog-nya tersebut. Ada yang menarik, yaitu ketika tulisan @hmd diedit oleh Mas Donny Verdian agar sesuai dengan ‘standarnya’, “Setelah kubaca draftnya, karena kurasa tata bahasanya masih berantakan, aku mengeditnya. Setelah kukirim balik kepadanya untuk approval, Hamid berkomentar, “Wah, tulisanku jadi Donny banget! Aku nggak mau! Biar kutulis ulang aja!” ujarnya.”

Dari tulisan tersebut aku terbawa ke tulisan tentang buzzer yang ditulis oleh @hmd. Ia benar-benar ‘menamparku’ yang beberapa tahun terakhir sedang mencoba bergelut di dunia digital dan periklanan. Ia memberikan pesan penting bahwa, “Dari kejadian-kejadian itu, dengan semena-mena saya simpulkan, ketepatan solusi untuk melakukan branding bukan semata ditentukan oleh ‘siapa’ ‘buzzer’-nya, tapi ditentukan oleh kombinasi yang apik dalam menentukan target market dan penetrasi serta tentu saja timing yang tepat.” 

“Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young.”

― Henry Ford.

Hingga akhirnya malam ini aku membaca tulisan @arman_dhani -seseorang yang tak perlu dijelaskan dia itu siapa- di situs web-nya @njagonan. Dhani berhasil membuatku iri dan menyesal kenapa aku tak mengenal @hmd agar aku bisa belajar banyak darinya, seperti halnya teman-temannya. @hmd berhasil membuatku malu pada diriku sendiri. Malu tentang betapa telah berubahnya aku belakangan ini sementara ia tetap sebagaimana dirinya, tak peduli apa pun keadaannya.

@hmd begitu peduli pada teman dan semua hal tentang mereka. @hmd selalu men-support mereka meski (barangkali) ia sendiri susah dan (boleh jadi) lebih membutuhkan dukungan moral akan masalah yang ia hadapi. Seseorang pernah berkata, “Kebaikan seseorang akan jelas terlihat ketika ia meninggal, yaitu dari seberapa banyak yang dengan sukarela datang ke pemakamannya.” Aku tak mengenal @hmd, tapi aku yakin ia adalah orang baik. Selamat jalan, Mas. Terima kasih telah menyadarkanku akan banyak hal.

Dan memang, malu itu sederhana…

Comments: