Logika Dasar Pariwisata

Logika Dasar Pariwisata

Logika Dasar Pariwisata

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 229 orang.

Jika ada yang berkata bahwa biaya liburan ke luar negeri itu lebih murah daripada di Indonesia, ada 3 kemungkinan: ia bukan orang Indonesia, ia kurang piknik, atau ada yang salah dengan logikanya. Selain 3 hal tersebut, kemungkinan lainnya adalah karena ia belum membaca tulisan ini.

Saat pergi ke Belitung pada pertengahan bulan Oktober 2016 kemarin, pemandu lokal saya bertanya tentang kenapa saya sering sekali traveling ke berbagai daerah di Indonesia padahal itu hanya sekedar hobi dan bukan untuk mencari penghasilan. Awalnya, saya bingung apakah akan menjawab dengan jawaban becanda semacam, “Ngabisin duit dan ngisi waktu luang aja Mas, daripada ga tahu mau buat apa ya mending buat jalan-jalan” atau jawaban serius yang akan terdengar sangat naif. Namun setelah mempelajari karakter orangnya yang bukan bertanya untuk sekedar basa-basi, saya memutuskan untuk menjawabnya dengan jawaban yang serius, kurang lebih seperti ini.

Perputaran Uang

Ini adalah bahasa ekonomi, saya kira, dan bahasa sosialnya adalah “bagi-bagi rezeki”. Perputaran uang adalah dampak langsung pariwisata yang paling kentara. Orang yang mengenyam pendidikan setidaknya hingga SMA, seperti saya, tentu tahu bahwa salah satu sebab pembangunan di Indonesia sulit untuk merata adalah karena perputaran uang paling besar adanya di Pulau Jawa, atau lebih tepatnya di Jakarta. Pembangunan, baik itu fisik dan manusia, cenderung mendekati di mana sumbernya berada, dan sumber utamanya tentu saja adalah uang.

Dalam konteks pariwisata, perputaran uang memang tidak hanya ada di Pulau Jawa saja, tetapi juga di Bali. Bahkan mungkin lebih banyak di Bali. Oleh karena itu, jangan heran bila pembangunan fisik, juga SDM, terkait pariwisata lebih masif dilakukan di Bali ketimbang daerah seperti Belitung Timur misalnya. Rumusnya sederhana: semakin besar perputaran uang –> perekonomian bergerak –> pembangunan dilakukan –> penduduk sejahtera. Idealnya.

“Saya tinggal dan kerja di Jakarta. Di hari kerja, saya mengeluarkan uang saya dapat dari pekerjaan saya di sana untuk makan, tempat tinggal, jajan, dan lain-lain. Dengan saya traveling ke Belitung, ada sedikit uang-dari-Jakarta yang saya habiskan di sini. Dengan demikian, saat ini saya sedang memindahkan perputaran uang dari Jakarta ke Belitung. Meski mungkin yang saya habiskan itu tidak seberapa, hanya sepersepuluh penghasilan saya per bulan misalnya, tapi saya yakin uang tersebut bisa bermanfaat bagi warga lokal, ya setidaknya bagi usaha tour & travel yang Mas jalankan, pemilik penginapan, dan pemilik tempat makan ini. Tapi coba Mas bayangkan bila setiap minggunya ada ratusan orang dari daerah lain yang ke Belitung, perputaran uangnya jadi lebih besar, kan?” terang saya kepada pemandu lokal tersebut sambil kita menyantap Gangan Ikan Ketarap khas Belitung.

Peran Masing-masing

“Tapi kan Mas kerja untuk online travel agent akomodasi itu dan juga penulis lepas di Skyscanner, di-support (dibayar) sama mereka, kah?” tanyanya. Setelah tertawa mendengar pertanyaannya dan menyaksikan ekspresi mukanya yang terlihat bingung kenapa saya tertawa, saya menjawab, “Meski travel-related, tapi pekerjaan tetap saya di Travelio dan pekerjaan lepas saya di Skyscanner tidak menuntut saya untuk traveling. Karena tidak menuntut hal tersebut, maka mereka pun tidak punya kewajiban untuk membiayai perjalanan liburan saya.”

Jika kalian belum membaca artikel ini, Saya adalah tipe orang yang akan dengan senang hati menolak bila ada yang mengajak jalan-jalan gratis. Bukannya sombong/menolak rezeki ya, tapi berhubung saya memang tidak mencari uang dari traveling, maka lebih baik saya menolak dan merekomendasikan pengganti saya ke orang/perusahaan yang menawarkan tersebut. Bahkan, pernah ada salah satu stasiun televisi yang meminta saya untuk berbicara soal pariwisata pun saya tolak dan alihkan ke teman saya.

Saya percaya bahwa setiap orang punya peran/porsinya masing-masing, tak perlu bahkan tak mungkin semua harus ada di peran yang sama. Peran saya adalah untuk traveling dan liburan, peran mereka adalah untuk traveling sambil bekerja. “Kalau semua orang jadi paid-traveler, lah terus siapa yang mau pay si paid-traveler itu? Lagian, Mas tentu lebih suka kalau tour operator di Belitung ini hanya sedikit jadi makin banyak order ke Mas, kan? Hahahaahaha,” tambah saya yang disambut oleh gelak tawanya.

Lebih Mahal atau Lebih Murah?

Menyambung pembukaan saya tentang orang yang berkata bahwa biaya liburan ke luar negeri itu lebih murah daripada di Indonesia, kita perlu samakan persepsi dulu Indonesia itu yang mana dan luar negeri yang mana? Kalau bagi Anda Indonesia hanyalah Pulau Jawa, tentu pernyataan tersebut jadi logis, meski pemahaman Anda tentang Indonesia itu tidak logis. Jika Anda tinggal di Pulau Jawa atau Sumatera misalnya, biaya liburan –yang dimaksud umumnya adalah harga tiket pesawat– ke Singapura/Malaysia tentu lebih murah dibanding ke Raja Ampat (via Sorong) misalnya. Tapi bagi orang Makassar/Jayapura, biaya tiket pesawat ke Sorong tentu lebih murah dibanding ke Singapura.

Ketika berbicara tentang Indonesia, kita harus tempatkan  pada konteksnya, jangan pada di bagian Indonesia yang mana Anda tinggal/berada lalu dengan serta-merta mengatakan bahwa liburan ke Paris lebih murah daripada ke Raja Ampat. Pun kalau mau benar-benar dibandingkan, kita harus apple to apple. Dari pengalaman saya liburan ke Raja Ampat di akhir tahun 2015 kemarin, saya “hanya” menghabiskan uang sekitar Rp11 juta untuk 4 hari 4 malam. Beberapa orang teman saya malah menghabiskan uang yang lebih sedikit dari itu, ada yang hanya setengahnya, dengan cara yang berbeda. Jika Anda tinggal di Jakarta dan hanya mau ke Raja Ampat selama seminggu misalnya, Anda hanya perlu menyediakan uang untuk biaya transportasi hingga sampai ke Waisai, biaya akomodasi selama di sana, dan biaya hidup (makan, minum, dll.). Yang membuat (biaya) jadi mahal adalah jika Anda sewa kapal untuk ke Wayag (karena harga “minyaknya”).

“Masa ke Raja Ampat ga sekalian keliling ke semua objek wisatanya?” Kalau motivasinya adalah dalam kerangka berpikir perputaran uang yang dibahas di atas, saya mendukung penuh hal tersebut, tapi ya harus konsisten. Jangan beralasan begitu tapi asyik-asyik saja membawa uang dari Indonesia untuk diputarkan/dihabiskan di negara lain dengan dalih “lebih murah liburan ke luar negeri daripada di Indonesia” padahal konteks Indonesia-nya saja sudah tidak pada tempatnya. Tapi ya terserah sih, toh itu bukan uang saya.

Salam Pramuka!

P.s.: Pariwisata itu ibarat pedang bermata ganda, satu sisi baik tapi di sisi lain buruk. Selain dampak positif perputaran uang dan perekeonomian yang saya bahas di atas, perlu kiranya kalian membaca dua artikel berikut ini, agar seimbang.

4 thoughts on “Logika Dasar Pariwisata

  1. ekahei

    Artikel yang bagus kak dika… aku sih kadang memilih liburan ke LN ‘numpang’ belajar bahasa inggris plus melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Dan… masih menyimpan harapan untuk bisa bermain di Anambas dan Raja Ampat. Amin

    🙂

  2. Yessi Greena

    Gitu ya? Kalau aku ke luar negeri nya dibayarin kantor dalam rangka tugas soalnya. Kalau memungkinkan sekalian berwisata di sana. Jadi jelas lebih hemat, karena tiket udah dibayarin 😛
    Kalau aku pribadi memang lebih cenderung jalan-jalan ke luar negeri kayanya deh. Soalnya tujuan utamanya sebenarnya bukan tempat wisata, tapi lebih ke pengalaman selama di perjalanan dan hal-hal baru yang akan ditemukan di negara yang dituju.

    1. Pradikta Dwi Anthony (@TravellersID)

      Beda hal ya kalau urusan bayar-dibayarin mah, ada unsur pasrah atau aji mumpung-dibayarin. Pun kalau bayar sendiri juga kayaknya ga lebih hemat sih.

      Tapi ya kalau alasannya sekedar pengalaman di perjalanan dan hal-hal baru, ga perlu jauh-jauh ke luar negeri atau luar kota malah, di area kota sendiri juga bisa nemuin itu. Life’s changed everyday, never be the same. But kalau konteksnya adalah selera/preferensi lebih suka pergi ke mana, ini jatuhnya personal sih, ga bisa dinyatakan siapa yang benar. 🙂

Comments: