Pelajaran Dari Sebuah Warteg

Pelajaran Dari Sebuah Warteg

Pelajaran Dari Sebuah Warteg

[kads group=”Post (Top)”]

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 281 orang.

“Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.”

― Paul Theroux.

Awalnya aku tak mengira hari ini akan menjadi berbeda. Aku masih asyik browsing tiket kereta sambil bermain game online ketika akhirnya tersadar bahwa jam di laptop-ku sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Setelah menutup laptop, cuci muka, merapikan rambut gondrongku yang kusut dan packing, aku memantapkan langkah kakiku untuk melakukan perjalanan suci demi menuntaskan rasa rindu yang dialami oleh perutku pada kekasihnya, ke sebuah warteg. Dalam radius 50 meter, setidaknya terdapat 5 buah warteg di dekat rumah kost-ku meski yang paling sering aku sambangi hanya 2 saja. Dan dari 2 itu, hanya 1 yang selalu aku kunjungi untuk makan siang, yaitu Warteg Hidayah.

there is no sincerer love than the love of food

Sambil menunggu giliran memesan, aku melihat ke sekeliling dan mendadak terpikir untuk menulis panduan menuju warteg ini beserta do and don’t-nya agar banyak orang mengunjungi warteg ini. Karena jika warteg ini menjadi ramai pengunjung, bukan tidak mungkin warga sekitar akan membuat objek tambahan untuk semakin menarik minat pengunjung warteg dengan sedikit pungutan biaya. Atau setidaknya akan menciptakan lapangan pekerjaan baru bernama juru parkir yang akan membantu mengatur kendaraan pengunjung. Tak jauh dari Warteg Hidayah ini juga terdapat warteg lain. Aku yakin warteg itu juga akan kebagian rezeki ketika pengunjung Warteg Hidayah sudah melebihi kapasitas. Aku terus melamun membayangkan betapa daerah sekitar sini akan menjadi maju jika aku tuliskan, terlebih lagi traffic blog dan jumlah followers-ku di Twitter cukup banyak sehingga aku yakin ini akan menjadi cukup viral.

Warteg ini punya sisi eksotisme yang sangat dibutuhkan oleh manusia, yaitu menuntaskan rasa lapar dengan murah namun tetap lezat. Aku sangat bersemangat untuk menuliskan soal warteg ini, sampai akhirnya aku tersadar bahwa manusia sulit untuk dipuaskan. Boleh jadi warteg dan warga sekitar akan menjadi terkenal dan makmur jika aku promosikan, tapi sampai kapan? Di masa depan mungkin akan ada orang yang berpikiran sama denganku yang menulis tentang warteg lain, yang ternyata jauh lebih eksotis dari Warteg Hidayah, hingga akhirnya warteg ini akan kehilangan pengunjung karena daya tariknya sudah memudar.

“The traveler sees what he sees, the tourist sees what he has come to see.”

― Gilbert K. Chesterton.

Warteg Hidayah mungkin saja bisa bertahan jika ia menambah fasilitas, memberikan promo “buy 1 get 1 free”, selalu memoles dirinya dan melakukan promosi besar-besaran. Tapi masalahnya adalah, yang aku tulis dan tawarkan kepada orang lain tentang warteg ini adalah eksotisme, sesuatu yang abstrak dan definisinya selalu berubah seiring zaman. Dengan sifat dasar manusia yang sulit untuk dipuaskan, berapa lama kah kondisi yang aku bayangkan tadi akan bertahan? Jika akhirnya eksotisme warteg ini kalah dengan eksotisme warteg lain, bagaimana nasib pemilik warteg dan penduduk sekitar yang sudah terlanjur tergantung dengan kedatangan pengunjung?

Alih-alih membuat daerah sekitar warteg menjadi makmur, aku mungkin malah akan menghancurkannya. Terlebih lagi, siapakah aku seenaknya memutuskan bahwa pemilik warteg dan warga sekitar berhak mendapatkan pemasukan yang lebih, sementara bisa saja merasa sudah merasa lebih dari cukup. Belum lagi dari sisi ramainya pengunjung, jika melebihi kapasitas maka akan mendatangkan sampah dan kerusakan, di mana mungkin saja mental mereka masih berlandaskan pada prinsip: “Udah ga apa-apa buang aja di sini, kita kan udah bayar, nanti juga dibersihin kok, kan ada petugasnya.”

“If you wish to sell to anyone you must earn the right to do so.”

― Chris Murray.

Aku tersentak dari lamunanku ketika pemilik warteg bertanya, “Mau makan apa dibungkus, Mas?” Pertanyaan yang cukup berani, seorang calon pembeli malah ditawarkan untuk dibungkus. Setelah menjawab bahwa aku ingin makan dan bukan ingin dibungkus, pemilik warteg pun mengambil piring dan menyendokkan nasi. Sambil menunggu, aku melihat ke dalam lemari kaca tempat dijajarkannya berbagai macam sayur dan lauk. Aku bimbang. Dari sebegitu banyaknya menu enak yang disediakan, aku tak boleh egois dengan memilih semuanya.

Sajian menu di warteg selalu mengingatkanku pada hidup, ia menawarkan begitu banyak kenikmatan, tapi tak semuanya harus kita ambil dan nikmati. Baik dalam memilih menu di warteg atau kenikmatan dalam hidup, kita selalu punya pertimbangan masing-masing dan skala prioritas. Dalam hal memilih menu di warteg ini, aku punya 3 pertimbangan: budget, yang tersedia apa dan kemarin makan apa.

Tak ingin terus terjebak dalam kebimbangan, aku merogoh saku dan melihat jumlah uang yang kubawa. “Ada Rp15.000,00. Cukup lah”, pikirku. Dengan uang yang aku miliki, aku bisa makan dengan menu yang enak seperti ikan atau ayam, tapi masalahnya, aku sedang tak ingin makan itu dan lagi ini tanggal tua. Bukan perkara tanggal tua sebenarnya, aku memang tak hobi makan enak. Kebutuhan manusia adalah makan, sementara makan enak adalah keinginan dan yang paling pertama harus terpenuhi adalah kebutuhan (makan), bukan keinginan (makan enak). Aku berhemat tidak hanya saat melakukan perjalanan liburan, tapi juga selama melakukan perjalanan hidup. Hematku bukanlah hemat ala backpacker yang ingin terlihat keren di mata orang lain karena berhasil menghemat biaya perjalanan, sementara sangat boros ketika tidak sedang liburan. Tampaknya “hemat” telah menjadi komoditas pencitraan.

“Modern traveling is not traveling at all; it is merely being sent to a place, and very little different from becoming a parcel.”

― John Ruskin.

Dengan mengeliminasi keinginan untuk makan enak, pilihanku menyusut. Namun aku tetap bimbang. Di warteg ini aku hampir selalu memesan menu yang sama, yaitu sayur tahu yang dipotong dadu dan bersantan, sambal goreng kentang, ditambah dengan gorengan atau telur ceplok balado, jika ada. Meski aku tak terlalu paham persoalan gizi, namun aku cukup tahu bahwa tidak baik bila kita makan menu yang sama, dengan kandungan gizi yang sama, selama 3 hari berturut-turut.

Mendadak aku jadi teringat pada rutinitasku setiap harinya. Aku menjalani hari selalu dengan pola yang sama: bangun, kerja, Twitter-an, tidur; begitu terus setiap hari, seminggu penuh, selama setahun terakhir. Meski terkadang muncul rasa bosan, aku paling hanya mengobati kebosanan dengan berpindah tempat kerja, dari hanya di kostan menjadi di rumah orangtuaku atau di penginapan di luar kota. Aku sadar bahwa aku hanya berpindah tempat dan tidak berganti kegiatan. Secara umum, apa pun yang kita lakukan secara berulang setiap hari cenderung membosankan. Begitu pun traveling, jangan dikira tidak membosankan jika dilakukan terus-menerus.

Banyak yang mengira bahwa kerja setiap hari adalah bukti bahwa seseorang telah nyaman dengan pekerjaannya dan terjebak di zona itu tanpa berani keluar. Beberapa di antara mereka berkata, “Quit your job and travel the world!” Untuk yang berkata seperti ini aku cukup menimpali, “Terus kalau ‘quit my job’, biayain ‘travel the world’-nya gimana? Cari kerja yang bisa disambi traveling? Lah kalau akhirnya jadi keasyikan dengan pekerjaan baru dan traveling-nya itu, apa namanya bukan terjebak di zona nyaman lagi? Terus keluar lagi gitu?” “Quit your job and travel the world” adalah ide paling absurd yang pernah kudengar.

the-right-job

Sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut, otakku masih terus berpikir dan mencerna berbagai macam pelajaran hidup yang baru saja aku dapatkan di warteg ini. Aku memang tidak bisa seperti Agustinus Wibowo (@avgustin88) yang pergi ke negeri-negeri jauh nan berbahaya lalu akhirnya memahami makna sebuah perjalanan: bahwa perjalanan itu tentang manusia. Aku juga tidak bisa seperti Yudasmoro (@wordstraveler) yang menambahkan bumbu imajinasi saat liburan dengan anaknya sehingga mereka berdua mendapatkan kesan dan pengalaman yang sangat mendalam, yang mungkin jauh lebih berharga untuk dikenang ketimbang sekedar berfoto di tempat-tempat jauh nan mahal.

Aku pun tak bisa menuliskan tentang how to get there, what to eat, where to sleep, what to do dan berbagai macam practicalities lainnya untuk bisa membantu orang mengunjungi suatu tempat, menjelajahi seluruh areanya, lalu kemudian difoto dan ditunjukkan seraya berkata, “Been there, pictured this, experienced that.” Aku hanya bisa pergi ke sebuah warteg, melihat keadaan sekitar, duduk sambil makan, merenung tentang perjalanan hidupku dan menuliskan hal-hal remeh seperti ini dan pada puluhan tulisan lain sebelumnya. Namun demikian, aku merasa puas dan senang dengan apa yang aku lakukan.

2 thoughts on “Pelajaran Dari Sebuah Warteg

Comments: