Tentang Pekerjaan: Surat Terbuka Untuk Travel Blogger

Tentang Pekerjaan: Surat Terbuka Untuk Travel Blogger

Tentang Pekerjaan: Surat Terbuka Untuk Travel Blogger

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 1,465 orang.

“Find joy in everything you choose to do. Every job, relationship, home… it’s your responsibility to love it, or change it.”

― Chuck Palahniuk.

Tulisan ini semestinya release bulan lalu setelah aku membaca beberapa tulisan beberapa orang yang begitu “mendewakan” pekerjaannya seraya mengajak pembacanya untuk resign dari apa pun pekerjaan mereka saat ini dan menjadi seperti penulisnya, menjadi full-time travel blogger. Tulisan ini semestinya penuh dengan emosi sesaat yang dihasilkan oleh meningkatnya hormon adrenaline yang bercampur dengan norepinephrine, selayaknya tulisanku tentang Pulau Sempu. Alhamdulillah, Tuhan –melalui tumpukan pekerjaan yang saat ini sangat aku nikmati– menyelamatkanku dari membuat tulisan semacam itu.

Aku yakin ini bukan pertama kalinya kalian membaca kalimat semacam “Quit your job and travel the world” (QYJTTW), baik di linimasa maupun pada tulisan-tulisan yang mulia travel blogger. Pun, boleh jadi kalian telah beberapa kali melihatnya di blog-ku.

Bagi beberapa orang yang sudah follow akun Twitter-ku sejak akhir tahun 2012, tak jarang yang mengatakan bahwa aku pun menganut prinsip QYJTTW tersebut. Benarkah? Boleh jadi. Begini. Sejak awal tahun 2013, aku memang tak terlihat sebagai seorang pekerja kantoran dan karenanya banyak yang menganggap bahwa aku telah berhenti bekerja dan hanya traveling. Untuk beberapa pertimbangan, aku meng-amin-i orang yang mengatakan demikian, meski itu bukanlah alasan / motif yang sebenarnya.

Sebagian dari kalian mungkin sudah tahu bahwa mulai tahun 2015 ini aku akan melepaskan status freelancer-ku dan menjadi seorang pekerja kantoran. Jika ada yang bertanya “Lho kok mau kerja kantoran, bukannya enakan freelance jadi waktu jalan-jalannya banyak?” biasanya aku jawab dengan berkata, “Memang plan-nya begitu. 2013 ga kerja dan cuma jalan-jalan. 2014 kerja freelance. 2015 kerja kantoran. 2016 menikah.” Padahal, tidak sepenuhnya demikian. Aku mulai kerja freelance justru pada bulan Juli 2013, di RED Comm, hingga Juli 2014 (handle akun ini) dan lanjut lagi di akhir September 2014 hingga awal Januari 2015 untuk handle akun @tigerair_ID.

Hanya karena pola atas kejadian yang berlangsung dalam hidupku sejak tahun 2013 tersebut terlihat cocok dengan pernyataan yang aku buat akhir-akhir ini, aku lantas menggunakannya sebagai alasan. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Terjadi dahulu, alasannya kemudian.

Jika kalian berprofesi sebagai seorang full-time (travel) blogger, atau setidaknya berkeinginan menjalani profesi tersebut suatu saat nanti, aku punya sebuah anekdot yang dulu aku baca dari buku “Be The Best, Not ‘Be-asa’” karangan M. Karebet Widjajakusuma yang aku dapatkan dari sebuah seminar.

Begini ceritanya…

Kisah bermula di sebuah Kongres Anggota Tubuh Manusia. Pak Jantung memimpin sesi sidang “Pemberian Penghargaan Pada Anggota Tubuh Manusia Terpenting Tahun Ini”. Dalam pidato pengantarnya, Pak Jantung berkata, “Saudara-saudaraku sesama anggota tubuh, sebagaimana kita tahu tuan kita sangat menginginkan kinerja kesehatannya meningkat tahun ini. Peningkatan ini hanya mungkin kalau kita semua memperbaiki kinerja masing-masing. Nah, untuk memicu dan memacu peningkatan kinerja itu, tuan kita berkenan memberikan penghargaan kepada anggota tubuh terpenting. Untuk itu, kita harus menentukan siapa diantara kita yang layak untuk mendapatkannya.” Sidang seketika hening. Semua bingung karena sulit untuk menentukannya. Mas Mata merasa dirinya paling penting, karena tanpa dirinya tuannya pasti akan kelimpungan ketika berjalan. Jeng Bibir juga merasakan hal yang sama karena dia adalah juru bicara tuannya. “Coba kalau saya mogok kerja, pasti tuan dikira bisu!” Pak Jantung tak mau kalah, “Kalau saya mau mogok kerja 1 detik saja, dunia pasti kiamat Bung!” Akhirnya, ruangan Kongres pun gaduh.

Sesaat kemudian, Pak Jantung mengetuk meja sidang, “Diam semua. Setelah saya pikirkan masak-masak, sulit bagi kita untuk mencari siapa yang paling penting. Bagaimana kalau sebaiknya, kita cari saja siapa yang paling tidak penting.” Pak Jantung berbicara semangat sekali sambil melirik salah satu peserta yang pendiam, yakni Bang Lubang Kentut. Tak dinyana, semua koor, “Setujuuuu!”

Akhirnya secara aklamasi, pilihan jatuh bulat-bulat kepada Bang Lubang Kentut! Serta merta Bang Lubang Kentut protes mengajukan Peninjauan Kembali. Tapi sia-sia saja, protes Bang Lubang Kentut tenggelam dalam keriuhan sidang dan tak lama kemudian sidang pun usai. Bang Lubang Kentut terdiam, “Apa yang aku lakukan untuk tuanku, ternyata tak berharga sama sekali,” batinnya. “Baiklah. Akan aku tunjukkan bahwa apa yang mereka putuskan itu salah besar!”

Maka, mulailah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sang tuan pun demam. Kadang panas kadang dingin. Satu per satu anggota tubuh pun unjuk sakit. Pak Jantung mengeluh, detak dirinya lain dari biasanya. Yang biasanya berirama pop, kok mendadak berubah ada cengkok dangdutnya. Jeng Bibir meradang, setiap kali bertugas pasti orang di sekitar tuannya ramai-ramai menutup hidungnya masing-masing. “Ada bau tak sedap,” kata mereka. Mas Mata juga begitu. “Aku sering kelilipan dan berkunang-kunang, padahal tak ada kunang-kunang yang hinggap pada diriku. Kenapa ya?” Lalu, semua berkumpul. “Ya…ya…ya…kami juga!” Sungguh tidak seperti biasanya.

Mereka pun menunjuk tim investigasi untuk menuntaskan kasus ini. Setelah mendapat petunjuk dari sejumlah saksi, tim pun menangkap Bang Lubang Kentut sebagai satu-satunya tersangka. Akhirnya, di hadapan Majelis Hakim Bang Lubang Kentut pun mengakui bahwa ini semua terjadi karena dirinya melakukan mogok kerja. Jika tuannya ingin buang angin, ia tak merespons. Kalau tuannya ingin BAB, ia cuek saja. Pokoknya ibarat keran air, dirinya mengunci rapat-rapat keran itu. Mbah Kumis, Ketua Majelis Hakim yang berwibawa pun bertanya, “Jujurlah padaku. Apa sebenarnya yang kamu inginkan?”

Bang Lubang Kentut terbata-bata berkata, “Saya ingin menyadarkan semua pihak, meskipun posisi saya dibawah, tak elok dipandang, bukan berarti saya lantas tidak penting. Semua anggota tubuh sama pentingnya. Sudah sepantasnya kita saling sinergi sesuai dengan core-nya masing-masing.”

Dari cerita tersebut, hikmah berharga yang bisa aku petik adalah tentang betapa pentingnya sebuah sinergisitas peran. Sekecil apa pun peran yang dimainkan, peran tersebut tetap punya arti. Layaknya sekrup kecil dalam sebuah mesin besar, kecil namun tetap penting.

Hanya karena aku freelancer sehingga punya banyak waktu luang untuk traveling, aku tentu tak dapat memprovokasi orang-orang yang aku temui, atau setidaknya pembaca linimasa / blog­-ku, untuk menjadi seorang freelancer (quit your job) and travel the world. Pekerjaan dan penghasilan yang aku dapatkan lalu gunakan untuk membiayai jalan-jalanku, aku dapat dari pekerja kantoran. Aku juga tentu tak akan bisa traveling naik pesawat / bus / kereta api / kapal laut tanpa adanya orang-orang yang bekerja “ngantor”. Tak terbayangkan rasanya bila semua orang lantas berhenti bekerja lalu travel the world, siapakah yang akan mengantarku mencapai destinasi-destinasi tersebut, pramugari freelance? Siapakah yang akan jadi pekerja penginapan / objek wisata yang melayaniku di sana, resepsionis freelance?

Jika aku ada di posisi pekerja kantoran yang memberi (jalan) penghasilan kepada travel blogger yang meminta pembacanya untuk QYJTTW, aku tentu akan dengan senang hati berkata “Mblo, elo bisa terus jalan-jalan karena ada penghasilan dari pekerja kantoran kayak gue. Kejiwaan dan nalar sehat?” dan berpikir ribuan kali untuk hire travel blogger semacam itu. Serius.

Pada dasarnya, setiap orang mencintai apa yang sedang dikerjakannya, atau setidaknya berusaha untuk mencintainya. Meski tak semua, aku yakin bahwa setiap orang hanya mau melakukan apa yang menurutnya baik, atau setidaknya sesuatu tersebut harus ia lakukan, minimal untuk dirinya.

Selayaknya mencintai seseorang, kita akan cenderung mengatakan bahwa orang itu lah yang terbaik untuk kita, bahkan mungkin untuk semua orang. Begitu pun dengan pekerjaan yang kita cintai, kita akan cenderung menganggap bahwa itu adalah pekerjaan terbaik untuk kita bahkan mungkin untuk semua orang. Masalahnya, sejak awal kita sudah berbeda. Jika minat dan kebutuhan kita berbeda, lalu kenapa jalannya harus sama (dengan menjadi travel blogger)?

Setiap pekerjaan, apa pun itu, memegang peranan penting bagi pekerjaan lain. Setiap peran seseorang, sekecil apa pun itu, juga memegang peranan penting bagi peran besar. Peran utama dalam sebuah film tentu tak akan berhasil jika tidak didukung oleh peran pembantu. Bahkan tak jarang, peran pembantu lah yang mendapatkan penghargaan dan bukannya peran utama.

Intinya, hargailah pekerjaan (kantoran) orang lain. Jika merasa sulit karena kalian menganggap bahwa travel blogger adalah pekerjaan paling keren sehingga semua / banyak orang harus jadi seperti kalian, ingat baik-baik anekdot di atas atau quote berikut ini.

“Every successful individual knows that his or her achievement depends on a community of persons working together.”

― Paul Ryan.

Salam.

Pradikta Dwi Anthony.

Pekerja kantoran / bukan travel blogger.

29 thoughts on “Tentang Pekerjaan: Surat Terbuka Untuk Travel Blogger

  1. Gallant Tsany Abdillah

    sebagai seorang freshgraduate emang kepengen banget bisa jalan-jalan. kalo bisa gratis atau bahkan dibayar. minimal sih asal bisa jalan-jalan. nah pas di suatu acara, aku sempet ketemu salah satu travel blogger dan kalimat yang meluncur dari mulutnya, “belum kerja kok mau jalan-jalan.” itu #dheg banget sih :’)

    1. facebook-profile-picturePradikta Dwi Anthony Post author

      Hahahahaha. Entah ya, kadang jalan-jalan itu kan soal kemampuan, yang ga harus relate sudah kerja atau belum. Ga sedikit juga anak sekolah/kuliah yang sering jalan-jalan meski belum punya penghasilan, hasil menabung uang jajan misalnya, tapi ya saya yakin itu ga salah.

  2. raunround

    Setuju banget dengan tulisan ini. Saya pun kesel sama orang yang selalu sebarluasin kutipan “QUIT YOUR JOB AND TRAVEL THE WORLD”. Ya kali bisa travel the world tanpa berpenghasilan sama sekali. Lain soal sih kalau uangnya tak berseri.

    salam kenal, btw.
    -Efi-

  3. Bayu

    Sepakat!

    Saya berbisnis, tapi paling gak suka liat temen2 sesama pebisnis yg nyinyir sama pegawai kantoran dan merasa pilihan hidupnya udh paling ideal.

    Apapun pilihan karirnya, yg penting halal lagi baik. Bye.

Comments: