Pada Akhirnya…

Pada Akhirnya…

Pada Akhirnya…

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 174 orang.

“I think it happens to everyone as they grow up. You find out who you are and what you want, and then you realize that people you’ve known forever don’t see things the way you do. And so you keep the wonderful memories, but find yourself moving on.”

― Nicholas Sparks, True Believer.

Aku yakin kamu masih ingat, dengan jelas ataupun samar, tentang masa kecilmu; tentang bagaimana riangnya kamu saat itu, tentang tempat-tempat yang pernah kamu kunjungi, tentang pesta ulang tahunmu, tentang kenangan-kenangan itu.

Aku yakin kamu masih ingat, dengan jelas ataupun samar, tentang bagaimana kamu beranjak dewasa; tentang bagaimana perasaanmu ketika menyukai /disukai lawan jenismu untuk pertama kalinya, tentang bagaimana berdebarnya hatimu ketika akan kencan dengannya, tentang bagaimana histerisnya dirimu ketika membicarakan tentangnya bersama teman-temanmu, tentang kenangan-kenangan itu.

Dan aku pun yakin kamu masih ingat, dengan jelas ataupun samar, tentang bagaimana pertama kali kita bertemu; tentang bagaimana kita berjabat tangan, tentang bagaimana kita berbincang untuk saling mengenal, tentang bagaimana kita termenung seolah tidak percaya akhirnya akan bertemu, tentang bagaimana kamu tersenyum-aku tersenyum, tentang bagaimana aku tertawa-kamu tertawa, tentang kenangan-kenangan itu.

“Aku takkan pernah berhenti, akan terus memahami, masih terus berfikir. Bila harus memaksa atau berdarah untukmu, apapun itu asal kau mencoba menerimaku.”

Sadarkah kamu, bahwa dengan kejadian-kejadian itu, hidup kita berubah? Sadarkah kamu, bahwa dengan seutas senyum, hidup kita berubah? Sadarkah kamu, bahwa dengan setetes air mata, hidup kita berubah? Sadarkah kamu, bahwa dengan hadir dan lenyap, hidup kita berubah? Mungkin tidak 90 atau 180 derajat, bisa jadi hanya 10 bahkan 1 derajat, tapi hidup kita berubah. Sadarkah kamu, aku, kita?

Sadarkah kamu, bahwa dunia yang kita lihat, alami dan hadapi itu tidak pernah sama, bagi masing-masing diri kita? Sadarkah kamu, pada sebuah masalah yang sama, kita bisa memandang dan mengambil sikap yang berbeda, bagi masing-masing diri kita? Sadarkah kamu, pada sebuah entitas yang sama, kita bisa merasakannya dengan berbeda, bagi masing-masing diri kita?

Sadarkah kamu, bahwa perjumpaan tak hanya tentang (bertatap) muka, bahwa ia juga tentang (bertukar) pikiran, juga tentang (bertalinya) jiwa? Sadarkah kamu, bahwa tahu dan kenal itu berbeda? Sadarkah kamu, aku, kita?

“Dan kamu hanya perlu terima, dan tak harus memahami, dan tak harus berfikir, hanya perlu mengerti aku bernafas untukmu. Jadi tetaplah di sini dan mulai menerimaku.”

Tahukah kamu, bahwa aku tak pernah mencoba menggantikan siapa pun, di hati dan hidupmu? Bahwa aku tahu, jika setiap orang yang pernah singgah di hatimu itu unik, mereka pernah mengukir sesuatu, entah itu baik / buruk dan aku tak berniat menghapus itu, tahukah kamu?

Tahukah kamu, bahwa aku tak pernah meminta ruang besar yang nyaman untuk kutinggali, di hati dan hidupmu? Bahwa aku tahu, jika setiap ukiran baik dan buruk itu akan kamu butuhkan, untuk menghadapiku dan bagian lain dari duniamu, tahukah kamu?

Tahukah kamu, bahwa bahagia itu dampak dan bukan tujuan perbuatan; bahwa bahagia itu karena apa dan bukan dengan siapa; bahwa dengan berbuat benar kita bahagia dan bukan dengan bahagia kita menjadi benar.

Tahukah kamu, bahwa dengan mencintaimu membuatku bahagia; bahwa karena dirimu, tawamu dan genggaman tanganmu aku bahagia; bahwa dengan menjauh darimu, atas permintaanmu, aku-kamu-kita menjadi bahagia dan mungkin saja itu perbuatan yang benar.

 “Cobalah mengerti semua ini mencari arti, selamanya takkan berhenti. Inginkan rasakan rindu ini menjadi satu, biar waktu yang memisahkan.”

Pada akhirnya, sebuah kisah tak harus ditulis dari awal hingga akhir, ia bisa dari tengah ke akhir lalu kembali ke awal; atau sebaliknya.

Pada akhirnya, menulis bagiku bukan hanya untuk mengingat, tapi juga melupakan. Membuangnya dari pikiran, ke dalam tulisan, untuk diingat jika suatu saat ia terbaca lagi.

Pada akhirnya, kita adalah k(amu) dan a(ku) yang terjebak di antara i(lusi) dan t(akdir). Pada akhirnya, ketika cahaya enggan menetap dan bayangan melebur ke dalam gelap, akankah kita menjadi senyap?

Pada akhirnya, alasan terbaik untuk pergi adalah ketika kita tidak punya alasan untuk tinggal dan alasan terbaik untuk tinggal adalah ketika kita tidak punya alasan untuk pergi.

Dan pada akhirnya, perjalanan adalah tentang kenangan. Kenangan yang tercipta di sepanjangnya; dari awal hingga akhir dan di antaranya. Masih ingatkah kamu? Karena aku masih ingat, dengan jelas ataupun samar, tentang kenangan-kenangan itu.

Jika inti dari perjalanan adalah tentang pulang, akankah pada akhirnya kamu kembali ke sini, ke pelukanku?

Selamat jalan… Sahabatku, kekasihku.

4 thoughts on “Pada Akhirnya…

Comments: