Tentang Hambatan dan Menyerah Dalam Perjalanan

Tentang Hambatan dan Menyerah Dalam Perjalanan

Tentang Hambatan dan Menyerah Dalam Perjalanan

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 428 orang.

Seberapa sering kamu melakukan perjalanan? Aku setiap hari. Ini sombong? Bukan, mungkin karena kita memahami perjalanan dari sudut pandang yang berbeda. Perjalanan buatku, bukan sekedar mengunjungi tempat wisata atau pergi ke tempat-tempat yang jauh, karena bahkan dengan pergi ke pasar di belakang rumahmu pun, bagiku kamu sedang melakukan perjalanan (ke pasar). Simple-nya begini, segala sesuatu yang mempunyai awal dan akhir, maka diantaranya (awal dan akhir) disebut sebagai perjalanan. Masalahnya bukan terletak pada berapa lama /panjang perjalananmu, tapi seberapa dalam?

It is not the length of life, but the depth of life (Ralph Waldo Emerson)

Saat melakukan perjalanan, sangat mungkin kita menemui hambatan, dari yang “biasa-biasa” saja sampai dengan yang tersulit yang kadang membuat kita jadi berpikir, “Haruskah aku meneruskan perjalanan ini?” Berharap perjalanan kita akan berlangsung dengan mulus pun sangat wajar, meski bisa dibilang hal itu tak manusiawi, karena yang disebut jalan bebas hambatan pun hampir tidak benar-benar bebas dari hambatan.

Hambatan dalam perjalanan itu banyak jenisnya dan yang sering aku hadapi itu bernama “alasan”. Perjalanan untuk makan ke warteg di dekat rumah misalnya, selalu saja ada alasan untuk aku tidak memulainya. Mulai dari “tanggung nih lagi banyak mention“, “belum laper banget”, sampai dengan alasan klise macam “aku ga biasa sarapan”. Padahal, mention bisa menunggu karena aku dikasih batas waktu paling lama 1 jam untuk merespon; “belum laper banget” hanyalah alasan bahwa sebenarnya aku malas melangkahkan kaki; dan “aku ga biasa sarapan” itu aneh mengingat dulu aku selalu sarapan. Yah namanya juga “alasan”, seringkali mudah untuk dicari.

Some people have thousands of reasons why they cannot do what they want to do

Pernahkah kamu menyerah dalam perjalanan? Aku pernah, bahkan mungkin sering. Apakah itu hanya sebuah “alasan”? Mungkin ya, tapi lebih mungkin lagi tidak. Perjalanan apa pun dan ke mana pun, adalah sebuah realitas dan karena itu harus pula realistis. Saat kita ingin lurus sementara ada portal yang melarang kita untuk lurus, semestinya kita tidak memaksakan diri untuk lurus. Aku jadi teringat saat aku melakukan perjalanan ke Malang, Jawa Timur, di tahun 2012 yang lalu. Ada 2 alasan kenapa aku ke Malang, pertama karena ada tugas dari kantor untuk kesana dan kedua karena aku ingin sekali ke Pulau Sempu. Namun akhirnya aku menyerah dan mengubur dalam-dalam keinginanku untuk wisata kesana, dengan bangga. Kenapa? Kalian pasti sudah tahu. 🙂

Bagi sebagian besar orang, menyerah dalam perjalanan itu bukanlah tindakan yang baik, bahkan ada yang bilang tindakan seorang pengecut. Padahal menyerah itu bukanlah keputusan yang mudah untuk diambil, apalagi menyerah untuk sesuatu yang sangat kita inginkan dan sudah kita persiapkan dengan matang. For a good (right) reason, it’s OK to giving up, at least for me.

Giving up doesn't always mean youre weak

Bukan hanya menyerah sebenarnya, bagiku, pantang menyerah pun harus dalam konteks “for a good reason”. Akan sangat tidak etis ketika kita pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang jelas bukan hak kita atau mendapatkan sesuatu yang merupakan hak kita, dengan cara yang tidak benar.

“Lalu apa inti tulisan ini?”  Tidak ada, ini cuma iseng kok. Cheers! 🙂

Comments: