Puasa dan Perjalanan

Puasa dan Perjalanan

Puasa dan Perjalanan

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 164 orang.

Dalam konteks agama Islam, ibadah puasa wajib di bulan Ramadan bukanlah puasa yang sebenarnya. Saat puasa Ramadan, kita diwajibkan untuk menahan keinginan untuk melampiaskan emosi, lapar, haus, dan lain lain. Padahal, keinginan tersebut, di luar bulan Ramadan, adalah keinginan yang normal / manusiawi dan perlu untuk dilampiaskan.

Namun demikian, secara substansi, puasa bukan hanya milik orang yang beragama Islam, karena pemeluk agama lain pun mengenal puasa, meski teknisnya berbeda-beda. Pun secara etimologis, puasa berarti “menahan diri dari sesuatu”. Sesuatu ini bisa berupa banyak hal, namun secara umum disebut dengan hawa nafsu, yang sering dipandang keliru sebagai sesuatu yang buruk. Padahal, keinginan untuk makan, untuk mendapatkan penghasilan dan berbagai jenis keinginan lain yang sifatnya manusiawi dan pada hakikatnya baik pun, adalah bentuk dari hawa nafsu.

Masjid Amirul Mukminin, Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia

Seberapa sering kita melakukan perjalanan liburan? Seminggu sekali, sebulan sekali, atau mungkin setahun sekali? Seberapa pun seringnya, jika dibandingkan dengan umur yang kita jalani, waktu yang kita habiskan untuk melakukan perjalanan liburan mungkin saja tidak mencapai setengahnya.

Saat melakukan perjalanan liburan, masing-masing orang memiliki preferensi tersendiri tentang ke mana ia ingin pergi, apa yang ingin dilihat, transportasi apa yang digunakan, menginap di mana dan lain sebagainya. Sebagai sebuah preferensi, setiap orang mempunyai pertimbangan, yang biasanya didasarkan pada budget, persepsi tentang kenyamanan dan berbagai hal personal lainnya. Meski tak jarang yang mengandalkan / bergantung pada saran orang lain, pilihan akhir mengenai destinasi yang akan dipilih dan lain-lain akan tetap tergantung pada si empunya perjalanan.

Terlepas dari preferensi destinasi dan “gaya”, di tempat tujuan kita bisa melakukan banyak hal. Kita bisa jadi orang yang acuh terhadap kelestarian lingkungan atau sebaliknya. Kita bisa jadi orang yang senang berbincang-bincang dengan orang lokal atau malah justru tak peduli pada mereka. Kita bisa memilih untuk berhemat untuk menekan biaya atau justru menjadi orang yang royal, jika tak ingin dibilang bermewah-mewahan. Pertanyaannya, apakah sikap / perilaku dan “gaya” kita di perjalanan liburan tersebut adalah juga sikap / perilaku dan “gaya” kita di perjalanan hidup kita yang lain? Jika ya, it’s OK. Jika tidak, lalu mengapa kita menjadi pribadi yang berbeda? Manakah yang “palsu”, sikap dan “gaya” saat perjalanan liburan atau saat di perjalanan hidup?

Planning A Trip

Dalam konteks ibadah ketuhanan, puasa hanyalah ajang latihan untuk menghadapi “peperangan” yang sesungguhnya, Tuhan tentu tidak meminta kita untuk hanya menahan amarah saat kita puasa saja, tapi setiap saat. Ia juga tak mungkin mengharapkan kita untuk tidak berbuat kejahatan hanya saat kita puasa, tapi setiap saat. Jika saat puasa hidup kita menjadi lebih teratur, Tuhan juga pasti berharap agar hidup kita juga tetap teratur, meski sedang tidak puasa. Jika saat puasa kita jadi orang yang rendah hati dengan sering beramal / berbagi rezeki, Tuhan pun pasti mengharapkan agar kita tetap melakukan hal yang sama di waktu lainnya. Karena itulah, “kesuksesan” puasa Ramadan kita tidak dilihat pada mampu / tidaknya kita menjalaninya di bulan tersebut, tapi justru pada 11 bulan lainnya.

Senada dengan puasa, perjalanan liburan, bagiku, konteksnya mirip dengan ibadah puasa, yaitu hanya ajang latihan untuk kita menghadapi “peperangan” yang sesungguhnya. Kapan kah “peperangan” yang sesungguhnya itu? Saat kita tidak sedang melakukan perjalanan liburan. Jika saat liburan kita adalah orang yang mencintai lingkungan, minimal dengan tidak membuang sampah sembarangan, maka semestinya kita juga tidak membuang sampah sembarangan saat tidak sedang liburan. Jika saat liburan kita senang mengakrabkan diri dengan penduduk lokal / orang lain, maka saat sedang tidak liburan pun kita semestinya demikian. Jika saat liburan kita suka menghemat, maka semestinya kita juga begitu saat sedang tidak liburan.

Intinya, karena perjalanan liburan semestinya adalah ajang latihan bagi kita untuk melakukan perjalanan hidup lainnya, maka sukses / tidaknya adalah dengan melihat diri kita saat sedang tidak liburan. Namun jika ternyata sikap / perilaku dan “gaya” kita di perjalanan hidup sama sekali berbeda dengan di perjalanan liburan, mungkin itu karena perjalanan liburan yang kita lakukan sekedar pelarian dari diri dan lingkungan sehari-hari atau mungkin saat perjalanan liburan itulah kita menjadi diri kita sendiri dan saat kembali, kita memakai topeng. Seth Godin pernah berkata, “Instead of wondering when your next vacation is, maybe you ought to set up a life you don’t need to escape from.”

Seth Godin Quote

Ketika ditanya “Berapa biaya yang dibutuhkan / disiapkan untuk perjalanan yang Anda lakukan?” oleh host acara Seputar Indonesia Siang beberapa bulan yang lalu, @avgustin88 menjawab, “Sebenarnya bukan soal seberapa banyak yang harus disiapkan, tapi pada seberapa banyak kita mau merelakan / menahan keinginan.” Ya, perjalanan, apa pun bentuk dan tujuannya, adalah soal mau dan mampukah kita untuk merelakan / menahan setiap keinginan atau tidak. Keinginan bukanlah seseuatu yang mutlak harus dipenuhi, hanya kebutuhan lah yang demikian. Dan seringkali, godaan untuk mengubah keinginan menjadi sebuah kebutuhan, sehingga kita memaksakan diri dan menjadi terlalu banyak berharap. Bagiku, di sinilah tantangan dalam melakukan perjalanan liburan, perjalanan hidup, bahkan perjalanan cinta. Maukah kamu membantuku menghadapinya?

Comments: