Frequently Asked Questions

Frequently Asked Questions

Frequently Asked Questions

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 68 orang.

Sudah ribuan orang yang ketemui, namun sayangnya pertanyaan yang mereka kemukakan saat pertama kali bertemu tak pernah berubah: “Nama panggilan kamu siapa? Pekerjaan kamu apa? Sudah traveling ke mana saja? Kenapa jarang posting foto kayak traveler lain? Kok di Twitter jarang ‘kelihatan’ traveling?” dan lain sebagainya. Salahkah mereka? Tentu tidak. Aku lah yang selalu salah karena tidak pernah membuat jawaban untuk “Frequently Asked Questions” tersebut, meski aku yakin jika aku membuatnya pun tak ada yang mau baca karena pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan umum untuk memulai obrolan, kan?

Namun karena menurut @nuranwibisono, “Menulis, bagi saya, adalah usaha pembebasan. Paling tidak membebaskan pikiran di kepala”, maka aku membuat tulisan ini. Setidaknya ini dapat membantu kalian yang belum pernah / banyak mengenalku, jadi sedikit ada gambaran, meski abstrak. Here we go.

“Don’t judge a man by his opinions, but what his opinions have made of him.”

― Georg Christoph Lichtenberg.

Nama Lengkap dan Nama Panggilan?

Kalau kalian rajin “mengacak-acak” web ini atau setidaknya membaca nama profilku di Twitter, kalian pasti tahu bahwa nama lengkapku adalah Pradikta Dwi Anthony. Lalu siapa nama panggilanku?

  • Indonesia: Mayoritas teman-temanku memanggilku “Tony”, tapi kamu boleh panggil aku “Sayang”, “Baby”, “Honey” dan lain sebagainya.
  • English: Most of my friends call me “Tony”, but you can call me tonight. You already know my phone number right? Or left?

Sebenarnya sih bebas, suka-suka kalian aja. Toh menurut prinsip logika, dimana “Sesuatu itu adalah sesuatu itu sendiri dan bukan yang lainnya”, apa pun nama panggilan yang kalian berikan padaku tak akan bisa mengubah diriku. Aku adalah aku dan bukan yang lainnya.

Tinggal Di Mana dan Apa Pekerjannya?

Terhitung sejak bulan September 2006, aku tinggal dan ber-KTP DKI Jakarta. Sebelumnya ber-KTP Purworejo, Jawa Tengah dan tinggal di Kota Tangerang. Aku tinggal di Tangerang karena setelah lulus SMA aku bekerja sebagai buruh pabrik dan tinggal di rumah tanteku. Sekarang di Jakarta? Di mananya? Saat menulis ini, aku kost di daerah Jakarta Selatan, di daerah Kebayoran Lama. Entah ke depannya aku akan tinggal atau sedang berada di mana. Di hatimu mungkin?

Pekerjaanku? Tahun 2004-2006 aku bekerja sebagai buruh pabrik di PT IRC INOAC Indonesia sebagai “Operator”. Lalu aku berhenti karena mendapat beasiswa kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi Trisakti, yang sayangnya tidak aku selesaikan. Kenapa? Tanya langsung aja ya. Di tahun 2011 aku bekerja sebagai konsultan dan peneliti di bidang jaminan sosial dan services quality di Institut Jaminan Sosial Indonesia, sebuah lembaga nirlaba yang aku dirikan bersama beberapa orang pakar dan tokoh di bidang tersebut. Ga percaya? Terserah. Aku bekerja di sini sampai akhir tahun 2013 dan mengundurkan diri demi regenerasi dan juga karena kesibukan pekerjaanku yang lain.

Lalu pada bulan Juli 2013, aku diterima bekerja secara freelance sebagai “Social Media Officer” di RED Communication untuk handle akun milik Tigerair Mandala (hingga bulan Juli 2014). Di bulan November 2013, aku dipercaya oleh mereka untuk handle akun lain, yaitu milik Kopi Kapal Api (hingga bulan Mei 2014). Dari RED Comm ini lah aku mulai semakin “terjerembab” di bidang social media hingga akhirnya saat ini aku menjadi “Social Media Consultant” untuk sebuah perusahaan besar. Selain itu, aku juga bekerja secara freelance sebagai “Content Writer” untuk sebuah perusahaan besar yang bermarkas di Eropa. *sombong dikit*

“Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.”

― Confucius.

Akun @TravellersID Itu Apa?

Awalnya adalah sebuah akun yang aku buat untuk “menginspirasi” orang-orang terhadap perjalanan (liburan) yang aku lakukan. Sempat juga kepikiran mau dibuat sebuah komunitas, namun akhirnya aku gagalkan karena ketidakmampuanku untuk bekerjasama dengan orang lain, yang tidak benar-benar sepemikiran. Akhirnya, akun @TravellersID menjadi akun personalku, selain akun personal lain (jangan coba dicari akun lainnya, mostly about politics and followed by famous politicians). Jadi, karena akun @TravellersID adalah akun personal, agak aneh sebenarnya ketika ada yang memanggil “Min” atau “Mimin”. Tapi ya kembali ke atas, kalian bebas mau panggil aku dengan sebutan apa. It’s OK.

Kok Ga Kayak Traveler Yang Lain?

Anggap saja aku telah memahami “traveling” dengan cara yang berbeda. Dulu memang, sebelum tahun 2013, aku cukup intens membahas soal traveling, posting foto-foto “surga” dan “tempat perawan”, share info-info menarik dan lain-lain, tapi sekarang (tampaknya) jarang sekali. Kenapa? Ya itu tadi, aku memahami traveling dengan cara yang berbeda. Aku telah disadarkan sehingga tak lagi memahaminya sebagai perjalanan liburan; been there, pictured this, experienced that; quit your job and travel the world; kalau ke tempat A kalian wajib ke B, C dan D; dan lain-lain.

Kesadaran yang pertama adalah ketika membaca kamus Bahasa Inggris tentang definisi “traveling” dan Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang definisi “perjalanan” lalu ditambah oleh pertemuan dan diskusi singkat dengan @avgustin88 serta teman-teman dari @hifatlobrain dan @arman_dhani. Kalau kalian rajin baca kamus, pasti akan tahu definisi “traveling” dan “perjalanan”, bahwa ia bukan cuma urusan liburan / wisata, karena ada perjalanan bisnis, religi dan lain-lain pun perjalanan kan?

“Modern traveling is not traveling at all; it is merely being sent to a place, and very little different from becoming a parcel.”

― John Ruskin.

Ada Hubungannya Dengan “Traveler vs Tourist”?

Selain rajin baca blog orang yang hobi liburan, ga ada salahnya baca juga kamus, serius. Aku tak pernah bermaksud membedakan “traveler” dan “tourist” dari sisi yang kebanyakan orang sangkakan, bahwa jadi traveler itu lebih baik daripada jadi tourist. Kebetulan saja aku tipe orang yang menganggap bahwa kamus tentu tidak diciptakan untuk disia-siakan, kan? Jadi, daripada sibuk membuat bantahan -yang terlalu mudah dipatahkan- tentang isu “traveler vs tourist” yang aku angkat, tapi sering gagal dipahami oleh banyak orang, akan lebih baik kalau kalian baca kamus. Kamus online saja kalau kalian tidak sanggup beli yang cetak tapi sanggup jalan-jalan.

Jarang Traveling Ya? Kok Ga Pernah Kelihatan?

Jarang kelihatan di Twitter atau di depan muka kalian? Kalau di depan muka kalian, jelas itu karena aku tidak traveling ke dekat rumah / kantor / kampus kalian atau karena kita jarang / tidak pernah jalan bareng. Kalau di Twitter, entah kenapa aku yakin bahwa Twitter bukanlah media sosial yang tepat untuk “memamerkan” kita sedang berada di mana, karena ada aplikasi bernama Foursquare (sekarang Swarm), kalau kalian belum tahu. Tapi kita kan ga temenan di Foursquare. Jangan sedih, sering-sering aja cek widget di bagian bawah web ini. Kalau memungkinkan, update “Recent Location”-ku akan selalu muncul di sana. Pun aku yakin, aku sedang berada di mana bukanlah sesuatu yang harus kubanggakan atau wajib untuk kalian ketahui kan?

“How different would people act if they couldn’t show off on social media? Would they still do it?”

― Donna Lynn Hope.

Responsible Traveler dan Responsible Travel Writer?

Sudah aku tulis panjang-lebar di sini. Malas baca? Intinya, tak perlu ada kata “responsible” karena bertanggungjawab adalah sebuah keharusan kita sebagai manusia. Khusus sisi “writer”, kalian pasti tahu tentang adagium bahwa “pena itu lebih tajam daripada pedang” kan? Karena itulah, apa yang kita tulis, bisa punya 2 sisi, tajam untuk membunuh yang jahat atau justru membunuh yang baik. Baca tulisanku aja deh ya biar enak. Baca dengan kepala dingin dan hati yang tenang tapi ya, kalau kurang jelas lebih baik tanya. Ingat, “Aku hanya bertanggungjawab pada apa yang aku tulis, bukan pada apa yang kalian pikirkan tentang tulisanku.”

Terima Buzzing atau Paid Article?

Gini, aku tidak mencari uang dari traveling, pun dari akun Twitter dan situs web ini. Pengertian “tidak mencari uang” adalah bahwa aku sangat tidak memprioritaskan pekerjaan buzzing / paid tweet di Twitter maupun paid / sponsored artikel di blog, bahkan widget untuk iklan pun sudah aku cabut. Karena itulah, aku tidak berkepentingan untuk menjadi terkenal, menambah jumlah follower, membuat artikel (di sini) dengan keywords yang SEO friendly, menjadi akun yang terdepan dalam mengabarkan dunia per-traveling-an dan sejenisnya. Berarti ga terima tawaran buzzing? Terima, tapi prioritas utama hanya untuk bantu proyek teman atau proyek / kegiatan sosial, itu pun aku prefer untuk tidak dibayar. Jadi, ada baiknya jangan kirim email padaku dengan subject “Penawaran Kerjasama” atau yang sejenisnya karena biasanya hanya aku baca dan tidak dibalas. Lain halnya kalau subject-nya ada unsur “Social Media”, “Content Writer / Writing” atau “Travel Consultant”. #kodesekodenyakode

Pun, artikel yang tourism-related seperti mini-guide (how to get there, where to sleep, what to eat, what to see) dan lain-lain, itu sudah aku “jual” terkait pekerjanku sebagai “Content Writer”. Dan lagi, “menjual” jenis artikel seperti itu ke perusahaan / situs web lain lebih menguntungkan bagiku, baik dari segi finansial maupun aktualisasi diri. Tenang, meski sudah “kujual”, tulisan-tulisan itu bisa kalian baca dengan gratis kok.

Bingung Mau Tanya Apalagi

Bingung? Pegangan tiang. Sila gunakan halaman Kontak, via Twitter @TravellersID atau scroll ke bagian paling atas dan paling bawah di situs web ini, ada alamat email dan nomor teleponku di sana. By the way, kalau mau telepon baiknya SMS dulu kasih tahu kalian siapa dan ada perlu apa, karena aku tak terlalu suka menjawab telepon dari “nomor tidak dikenal”. Kalau nomornya saja tidak dikenal, gimana orangnya coba?

“A man is like a novel: until the very last page you don’t know how it will end. Otherwise it wouldn’t be worth reading.”

― Yevgeny Zamyatin, We.

2 thoughts on “Frequently Asked Questions

Comments: