Yang Terlupakan Saat Traveling: “Every Shoe Fits Not Every Foot”

Yang Terlupakan Saat Traveling: “Every Shoe Fits Not Every Foot”

Yang Terlupakan Saat Traveling: “Every Shoe Fits Not Every Foot”

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 390 orang.

Pernahkah kalian membaca artikel berjudul “Swiss Belhotel Borneo, Tempat Start Yang Pas Untuk Jelajahi Banjarmasin”? Ga perlu “googling”, itu adalah judul review-ku setelah menginap di Swiss Belhotel Borneo, Banjarmasin, Kalimantan Selatan akhir tahun 2012 yang lalu. Salahkah review tersebut? Tentu tidak jika kalian tanyakan kepadaku saat ini, tapi bisa jadi salah kalau kalian bertanya di lain waktu seandainya aku menginap disana lagi. Lho kenapa? Michael Palin menjawab, “The trouble with traveling back latter on is that you can never repeat the same experience.”

Mark Twain Quote (1)

Karena bersama tak harus sama

Aku mengutuk diriku sendiri saat membaca tulisan-tulisanku yang terdahulu. Betapa naifnya aku saat menulis, aku berpikir bahwa apa yang aku tulis adalah kejadian yang pasti akan dialami oleh setiap orang yang pergi ke tempat yang sama. Padahal itu hampir tidak mungkin, karena meskipun (seandainya) aku dan temanku datang ke suatu tempat di waktu yang bersamaan sekali pun, kami belum tentu merasakan pengalaman yang sama. Selera makan kami berbeda, budget kami berbeda, jarak pandang kami berbeda, dan pengalaman hidup kami berbeda. Sebuah iklan rokok bilang, “Karena bersama tak harus sama.”

Dulu jika di Twitter ada yang bertanya, “Min, berapa sih budget buat traveling ke A?”, aku akan dengan senang menjawab berdasarkan pengalamanku (jika sudah pernah). Aku pernah traveling ke Bali selama 6 hari dengan hanya mengantongi uang Rp500.000,00 padahal saat itu peak season dan aku survive. Tapi apakah jika aku sarankan hal tersebut ke orang lain ia juga akan survive? Belum tentu. “Min, di Bali 3 hari itu enaknya kemana aja?” Apa yang akan kalian jawab? Dulu aku menjawab berdasarkan pengalamanku, tapi apakah itu applicable untuk semua orang di setiap waktu? Tentu tidak, menurutku.

Karena bersama tak harus sama

Ilustrasi. Sumber: disini.

Every shoe fits not every foot

Meskipun setahun sekali, aku yakin kalian pernah pergi ke suatu pasar atau pusat perbelanjaan untuk membeli sepatu. Pertanyaannya adalah, berapa sepatu yang kalian beli untuk 10 keperluan? Ada yang membeli 1 pasang sepatu, ada yang membeli 3, dan ada juga yang membeli 10 sepatu. Kenapa? Mungkin jawabannya adalah budget, selera, dan prioritas.

“Duh gue ga punya sepatu nih.” Kata-kata ini dulu sering aku lontarkan ketika seorang teman mengajak main futsal. Sebenarnya aku punya sepatu, namun sepatu yang aku miliki bukanlah “sepatu yang cocok” untuk bermain futsal. Meski temanku menjawab, “Yah elah santai aja sih, ntar gantian aja, pake sepatu gue” namun belum tentu hal ini lantas menyelesaikan masalah. Ukuran kaki kami berbeda.

Every Shoe Fits Not Every Foot

Ilustrasi. Sumber: disini.

The lesson is…

Dulu saat akan memesan sebuah penginapan melalui situs pemesanan online, aku selalu mengandalkan review untuk memutuskan. Semakin bagus review-nya, maka semakin potensial penginapan itu akan aku pilih. Semakin buruk (banyak keluhan), maka aku tidak akan memilihnya. Hal ini berlaku bahkan untuk hotel yang sudah “mempunyai nama” sekalipun. Manusiawi menurutku, karena aku tentu tidak ingin “membeli kucing dalam karung”.

Apakah ada masalah? Tidak, sampai akhirnya aku mengalami kejadian buruk di penginapan yang mempunyai nilai review yang bagus dan justru mendapatkan pengalaman positif di penginapan dengan nilai review yang biasa saja / buruk. Lalu siapa yang salah? Tidak ada, selain diriku. Ya, mestinya aku sadar dari dulu bahwa pengalaman itu sifatnya personal.

Review terhadap penginapan, restoran / makanan, moda transportasi, tour operator, atau kondisi suatu daerah itu bermanfaat sejauh kita menggunakannya hanya sebagai gambaran, bukan patokan murni. Kita punya persepsi yang berbeda terhadap “mahal”, terhadap batas rasa “pedas”, terhadap “nyaman”, dan lain sebagainya.

Tidak semua orang akan mendapatkan pengalaman yang persis sama terhadap suatu hal. Bukankah persepsi rasa pedas antara kita berbeda-beda meskipun kita makan sambal yang sama dengan porsi yang sama di waktu yang sama? Itulah mengapa, “Every shoe fits not every foot.” 🙂

2 thoughts on “Yang Terlupakan Saat Traveling: “Every Shoe Fits Not Every Foot”

  1. Half Blood Traveler

    Bener banget ini 😀 aku sering review hotel n emang itu berdasarkan pengalamanku, cm buat gambaran bukan patokan pasti, karna tiap org pasti punya pengalaman yg beda meski tempatnya sama 😀

    1. facebook-profile-pictureTravellersID Post author

      Nah bener tuh Om, semestinya memang hanya jadi patokan umum. Semoga makin banyak traveler yang ngerti dan ga ngandelin review sebagai patokan utama yak. 😀

Comments: