Jarak

Jarak

Jarak

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 134 orang.

“Time is the longest distance between two places.”

― Tennessee Williams, The Glass Menagerie.

Waktu adalah jurang pemisah yang paling jauh, bukanlah jarak dalam satuan panjang yang kita kenal. Untuk menuju ke Bandung dari Jakarta misalnya, jaraknya tak pernah berubah, sekitar 140 Km jika kita lewat Tol Cipularang atau 180 Km jika lewat Puncak atau 166 Km jika naik kereta Argo Parahyangan dari Gambir. Jarak 3 alternatif jalur tersebut tidak terpaut terlalu jauh, namun waktu tempuhnya bisa sangat berbeda. Jalan yang kita pilih mempunyai waktu tempuh yang berbeda, di mana waktu tempuh tersebut justru tidak bergantung pada jarak, tapi pada kecepatan dan hambatan dalam perjalanan.

Jangankan untuk keperluan liburan ke luar kota, untuk berpergian di dalam kota Jakarta saja pertimbangan utamaku pasti pada waktu tempuh bukan jarak tempuh. Dari kost-ku di dekat Gandaria City ke Central Park misalnya, jaraknya hanya sekitar 10 Km, tapi waktu tempuhnya bisa sampai 2 jam ketika sedang hujan di jam pulang kantor, sehingga pada akhirnya, jarak tempuh dan kecepatan bukanlah penentu waktu tempuh, tapi ada / tidaknya hambatan.

Jarak seringkali menjadi argumen bagi seseorang untuk berhubungan atau tidak berhubungan. Hanya karena terpaut jarak sekian ratus / ribu kilometer, seseorang bisa dengan mudah jadi enggan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Tak hanya bagi hubungan sebenarnya. Seringkali jarak dipandang sebagai hal yang paling utama bagi sebagian orang, khususnya bagi kaum pejalan. Mereka beranggapan bahwa semakin jauh jarak yang ditempuh maka akan semakin keren, padahal tidak sama sekali. Seperti yang pernah aku tulis sebelumnya, perjalanan bukanlah soal siapa yang lebih jauh atau lebih lama pergi.

"Travel is not a sprint. A journey is not a marathon." - DuaRansel

Saat melakukan perjalanan, waktu tempuh haruslah menjadi pertimbangan utama, bukan jarak, terutama dalam membuat itinerary. Karena dengan memperhitungkan waktu tempuh dari satu tempat ke tempat yang lain itu lah kita bisa lebih mudah mengatur jadwal. Dan waktu tempuh itu juga lah yang seringkali menjadi pertimbangan utama untuk pergi atau tidak pergi ke suatu tempat, bukanlah jarak tempuh.

Dalam konteks apa pun, jarak semestinya bukanlah hambatan utama, termasuk dalam hubungan antar individu. Sebagian besar hubungan yang aku jalin adalah hubungan yang berjarak, meski hanya sekian puluh kilometer. Secara keseluruhan, aku merasa tak ada bedanya antara hubungan yang dijalin dengan jarak puluhan atau ribuan kilometer, sama-sama jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Bukan hanya kesibukan sebenarnya, toh bertemu setiap hari tak pernah ada dalam kamus pacaranku. Bahkan sebab itu pula lah yang membuatku lebih menyenangi pekerjaan freelance sehingga tak perlu ada aktivitas “ngantor”. Bukan, ini bukan karena aku gampang bosan bila bertemu dengan orang yang sama setiap hari, toh aku tak pernah bosan bertemu dengan anggota keluargaku setiap hari. Sedekat atau sejauh apa pun itu, jarak tetaplah jarak, kan?

“The scariest thing about distance is that you don’t know whether they’ll miss you or forget you.”

― Nicholas Sparks, The Notebook.

Aku tak pernah gusar dengan apa yang dikatakan oleh Nicholas Sparks di atas, pun aku tak pernah bermasalah untuk menjalin hubungan yang berjarak, tapi tidak dengan hubungan yang “berwaktu”. Sejauh apa pun kita menjalin hubungan tentu tak akan bermasalah bila kita punya waktu untuk mendekat. Masalahnya adalah, punyakah kita waktu itu? Aku tidak berbicara tentang waktu sebagai suatu entitas yang secara sah hanya dimiliki oleh Tuhan, tapi waktu dalam pengertian kemauan. Sedekat atau sejauh apa pun kita, akan sulit rasanya untuk bertemu bila kita tak punya waktu (kemauan). Fredrik Nael pernah berkata, “It takes both side to build a bridge.” Jika hanya satu sisi saja yang punya waktu dan sisi lainnya tidak, maka jembatan itu tak akan pernah terbangun.

Jadi, apakah kita masih tetap ingin memperdebatkan jarak atau justru waktu lah yang ingin kita perjuangkan?

 “Sometimes you just need to distance yourself from people. If they care, they’ll notice. If they don’t, you know where you stand.”

― Ziad K. Abdelnou.

Comments: