Dear Traveler…

Dear Traveler…

Dear Traveler…

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 157 orang.

“Everybody’s got the potential for great good and great wrong in them, but it’s the choices we make that define who we really are.”

― Charles de Lint.

Sudah sebulan lebih aku tidak ke mana-mana selain bertemu dengan beberapa orang teman dan kolega, yang juga masih di Jakarta. Banyak faktor yang menyebabkanku tak ingin beranjak dari Jakarta dan banyaknya pekerjaan bukanlah salah satunya. Setiap kali bertemu dengan teman / kolega, mereka pasti bertanya “Ada rencana traveling ke mana?” yang akhir-akhir ini selalu ku jawab dengan “Ga ada. Lagi malas.” Ya, aku malas dan seperti kehilangan arah. Setiap kali mencari tiket dan tinggal membayar, pasti tidak jadi, aku batalkan. Pertanyaan “Di sana mau ngapain?” selalu menggelayut dipikiranku dan sangat mampu menahan langkah kakiku.

Terakhir kali aku bepergian jauh adalah ke Ambarawa, itu pun karena ingin menemui seorang teman lama. Dari Ambarawa aku melanjutkan perjalanan ke Solo, juga demi bertemu dengan keluargaku dan seorang teman baru, lalu pulang kampung ke Purworejo, lagi-lagi unuk bertemu dengan keluarga dan teman-teman di masa kecilku. Sebelum kembali ke Jakarta, dari Purworejo, aku mampir di Bandung, juga untuk bertemu dengan teman lama dan teman baru. Sering aku merasa bahwa aku adalah tipe orang yang jika ingin pergi ke atau tinggal di suatu tempat, harus demi / karena seseorang.

Sejak beberapa tahun terakhir, aku sudah tidak lagi berminat untuk traveling yang sekedar menikmati atraksi wisata atau melihat pemandangan alam. Motivasi semacam “Traveling adalah salah satu bentuk / cara kita bersyukur pada Tuhan dengan mengagumi ciptaan-Nya” terasa begitu usang dan tercampur dengan perilaku “Been there, done that, experienced this.”, bagiku.

Aku percaya bahwa kalau hanya untuk mengagumi ciptaan Tuhan dan bersyukur pada-Nya, traveling bukanlah satu-satunya cara. Banyak orang yang ku kenal dan tidak pernah traveling pun selalu bersyukur pada-Nya, bahkan bekas syukur mereka lebih membekas ketimbang yang suka traveling. Apalagi traveling untuk sekedar membuktikan secara langsung bahwa alam Indonesia ini indah, terlalu klise buatku. Toh mayoritas dari kita langsung percaya bahwa Tuhan itu ada dan Maha Indah tanpa perlu melihat / membuktikannya secara langsung kan?

“Ignorance is preferable to error, and he is less remote from the truth who believes nothing than he who believes what is wrong.”

― Thomas Jefferson.

Pernahkah kalian melihat langsung sebuah rumah adat di sebuah daerah yang baru saja dibangun namun dulu tak pernah diperhatikan oleh pemerintah? Seringkali atas nama pariwisata, sebuah daerah dibangun bahkan dihancurkan sedemikian rupa. Jika ada sebuah adat / budaya yang dulu dipandang tidak menarik dan terancam punah, namun tiba-tiba menjadi sebuah daya tarik bagi sektor pariwisata, maka pemerintah setempat akan turun tangan dan “menyelamatkan” adat / budaya tersebut. Demi kelestarian adat / budaya kah? Tidak, demi mengalirnya uang turis ke kas daerah. Kepedulian mereka, dan mungkin juga kita, pada sebuah adat / budaya, tampaknya sudah tak lagi terletak / berdasarkan pada keikhlasan, tapi lebih kepada bisa menghasilkan uang / tidak.

Pernahkah kalian liburan ke daerah yang cukup remote dengan fasilitas seadanya, seperti desa Wae Rebo di Flores atau desa lain di pedalaman Papua misalnya? Bagaimana rasanya di sana; menyenangkan, indah, alami dan eksotis bukan? Apalagi kalau kalian bisa berfoto bersama mereka yang mengenakan baju adatnya, pasti bisa mengundang puluhan “retweet” dan decak kagum dari teman-teman atau followers kalian di Twitter, kan? Tapi, pernahkah kalian bertanya pada mereka atau setidaknya berpikir, apakah benar tertutupnya (akses) mereka pada dunia luar adalah yang mereka inginkan? Tidakkah mereka ingin juga merasakan kehidupan seperti kita dengan akses yang besar terhadap pengetahuan, informasi dan kebudayaan lain?

Dulu, saat masih kuliah dan menjadi aktivis kampus, aku pernah diajarkan bahwa ada 2 jenis kemiskinan, yaitu kultural dan struktural. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan karena memang dasarnya orang tersebut malas, sementara yang struktural adalah yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah / penguasa / pihak yang lebih kuat. Terkait teori ini, aku jadi sering bertanya-tanya, jika sebuah daerah yang remote seperti Wae Rebo dan Raja Ampat sering sekali didatangi oleh wisatawan, kenapa kehidupan mereka tak kunjung membaik, setidaknya dari sisi kesetaraan terhadap akses informasi dan pengetahuan? Lalu di manakah kesejahteraan dan kemakmuran yang dijanjikan oleh pariwisata pada mereka?

Aku tidak sedang mempermasalahkan kemewahan, tapi bukankah kita semua punya hak yang sama terhadap pendidikan dan pengetahuan? Aku yakin bahwa pembangunan haruslah adil dan merata, termasuk untuk desa yang remote sekalipun. Jika ternyata sebuah daerah wisata yang remote itu ingin dipindah ke area yang lebih mudah aksesnya, tentu pemerintah harus mewujudkannya, bukannya malah mempertahankan mereka di daerah asalnya.. Atau jangan-jangan, karena kita lah, yang hanya ingin melihat eksotisme dan kondisi alami, yang membuat pemerintah tetap mempertahankan lokasi sebuah desa agar tetap remote dan membuat mereka tidak kunjung maju dan sejahtera serta “primitif”?

Remote House in Flores

Siang tadi aku membaca sebuah surat pembaca yang ditujukan untuk Boediono, Wakil Presiden Indonesia, dari Tuti Alfiani. Aku cukup trenyuh membacanya, bagaimana bisa penduduk sebuah pulau yang masih terletak di wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur, justru “lebih dekata” dengan produk-produk Malaysia, padahal mereka tidak di perbatasan Indonesia-Malaysia. Bagaimana bisa anak-anak di sana bertanya “Pesawat terbang itu seperti apa dan besar ya, Bu? Kereta itu seperti apa, Ibu sudah pernah naik kereta?” padahal letak pulau itu hanya 3-4 jam dengan kapal cepat dari Gresik.

Aku merasa miris, bukan hanya karena kondisi sosial di Pulau Bawean yang digambarkan oleh penulis, tapi juga ketika teringat akan cerita seorang teman yang belum lama ini habis liburan ke sana. Dari temanku, aku hanya mendengar tentang keindahan pantai dan alam bawah lautnya serta melihatnya melalui foto-foto. Ia sama sekali tidak cerita tentang kondisi sosial di sana. Apakah itu karena ia tidak peduli karena yang penting adalah pemandangan yang memanjakan mata? Ataukah memang mencari tahu tentang kondisi sosial ekonomi di suatu tempat dan mengabarkannya pada dunia itu bukanlah “tugas” dan “kewajiban” seorang pejalan?

Tak hanya di Pulau Bawean sebenarnya. Pernahkah kalian ke Raja Ampat? Dari sekian banyak orang yang aku kenal dan pernah ke Raja Ampat, hampir semuanya hanya bercerita tentang keindahan alam seraya menunjukkan foto-foto narsis mereka. Seingatku, hanya @GithaisGhie yang bercerita tentang Raja Ampat dari sisi lain. Ia bercerita bahwa warga sana kesulitan air bersih, masalah pengelolaan sampah telah menjadi sesuatu yang serius seiring dengan meningkatnya kunjungan turis dan bahwa anak-anak di sana sangat kekurangan buku bahkan pengajar. Tahukah kalian?

Ah aku lupa, hal semacam itu tidak penting bagi kalian. Yang terpenting adalah eksotisme dan keindahan alam Raja Ampat dan tempat lainnya, toh kalian sudah membayar mahal untuk bisa ke sana kan? Untuk apa juga kalian memikirkan masalah sosial ekonomi di destinasi liburan, kan kalian tidak tinggal di sana dan tidak akan terpengaruh dampaknya secara langsung. Biarkan saja Wae Rebo dan desa lain yang sejenis tetap berada di puncak gunung dan kesulitan akses, karena kalau mudah diakses nanti jadi berkurang eksotisme dan kealamiannya. Belum lagi, semakin remote-nya suatu destinasi, sehingga tak semua orang bisa akses, akan membuat kalian terlihat semakin keren ketika di-share di jejaring sosial, kan?

“Modern traveling is not traveling at all; it is merely being sent to a place, and very little different from becoming a parcel.”

― John Ruskin.

Comments: