Komitmen

Komitmen

Komitmen

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 418 orang.

Ada sebuah dialog dari film “Jomblo” yang sampai saat ini masih aku ingat dan sangat aku yakini “kebenarannya”, yaitu dialog yang terjadi saat Agus memutuskan hubungan perselingkuhannya dengan Lani. Kurang lebih demikian dialognya:

Agus    : Saya sayang dia, dia juga sayang sama saya, saya sadar kamu tuh lebih dibandingin dia, tapi itu bukan alasan seseorang untuk mutusin pacarnya!
Lani    : Bukankah semua orang nyari yang terbaik buat dirinya ya, Gus? 
Agus   : Kalau saya terus nyari yang lebih baik, suatu saat saya juga bakal ninggalin kamu, saya harus punya komitmen, dia juga kaya gitu, kita berdua tuh udah mau berubah.

Manusiawi memang ketika kita selalu mencari yang terbaik -yang (jauh) lebih baik- untuk diri kita. Aku tak menampik bahwa kita layak mendapatkan apa yang terbaik untuk diri kita, entah itu pasangan, upah, teman, pekerjaan, lingkungan kerja, dan lain-lain. Tapi, coba renungkan jawaban Agus atas pertanyan Lani. Kita harus punya komitmen, tak hanya terhadap sebuah hubungan percintaan, tapi juga pada hubungan lain, pekerjaan misalnya.

Terhitung sejak tanggal 13 Januari 2015, aku mulai bekerja kantoran. Tak sedikit yang bertanya kenapa aku mau ambil jenis pekerjaan tersebut, padahal sejak tahun 2011 aku tak pernah bekerja di kantor. Ada beberapa pertimbangan. Pertama, karena memang aku ingin bekerja tetap mulai tahun 2015, agar bisa menabung untuk membeli rumah -meski baru DP-nya dulu- lalu kemudian menikah di tahun 2016, entah dengan siapa.

Kedua, karena aku butuh keteraturan. Dengan bekerja kantoran, aku yakin hidupku akan lebih teratur dengan bangun pagi, berangkat ke kantor, bekerja 8 jam sehari, lalu pulang. Dan tentunya, setelah pulang kantor aku tak perlu bekerja lagi seperti waktu masih menjadi freelancerI need to stop my 14 hours per day work hour.

Memang, dengan bekerja freelance, aku bisa bekerja untuk beberapa perusahaan sekaligus, yang berarti penghasilannya pun berlipat-lipat. Masalahnya, akankah nantinya penghasilanku (jauh) menurun ketika bekerja kantoran? Alhamdulillah tidak, Travelio berkenan untuk membayarku dengan sangat layak. Namun demikian, kenapa aku mau bekerja di sana bukanlah karena upah yang ditawarkan, tapi kesempatan dan tantangan untuk membangun sebuah startup dari nol.

Tantangan bukanlah berhasil masuk ke sebuah lingkungan yang sudah besar / mapan. Tantangan adalah membuat lingkungan baru dan kecil, menjadi dikenal dan besar.

Sekitar satu bulan yang lalu, seorang teman pernah nge-tweet “Love your job, but not your company”. Tebak apa responku? Bukan, aku berkata, “I love my job and my company”. Lalu ia menimpalinya dengan berkata padaku, “Terjebak zona nyaman?” Dengan tenang seraya tersenyum aku menjawab, “Ga, kalau kamu kerja di tempat aku bekerja saat ini, aku yakin kamu akan berkata hal yang sama.”

Baru satu bulan bekerja di Travelio aku sudah berani menyimpulkan demikian, berlebihan kah? Tidak, bagiku. Aku bukan tipe orang yang mencari pekerjaan hanya berdasarkan jenis pekerjaan apalagi upah / gaji. Kalau sekedar memilih pekerjaan, terutama yang “aman”, aku pasti sudah menerima tawaran seorang direksi perusahaan BUMN yang memintaku untuk menjadi bagian dari tim marketing-nya.

Kalau sekedar memikirkan upah, aku pasti sudah menerima tawaran pekerjaan dari sebuah perusahaan asing yang ingin “membajakku” dari Travelio dengan iming-iming 2x lipat gaji. Meski tawaran dari direksi perusahaan BUMN tersebut datang ketika Travelio belum memberikan kepastian akan menerimaku atau tidak, aku tetap menolaknya. Meski tawaran dari perusahaan asing tersebut tampak menggiurkan dari sisi penghasilan, aku tetap menolaknya. Kenapa? Komitmen adalah kata kuncinya.

“Don’t pick a job. Pick a Boss. Your first boss is the biggest factor in your career success. A boss who doesn’t trust you won’t give you opportunities to grow.”

― William Raduchel.

Sejak proses wawancara dengan manajemen Travelio, aku sudah merasa excited jika bisa bekerja di sana. Meski awalnya aku sempat “membuat masalah” dengan sering terlambat datang ke kantor, bosku tidak marah -meski tetap menegur. Bos yang baik dan luar biasa peduli, lingkungan kerja yang asyik, teman kerja yang saling mendukung, kebebasan untuk mengemukakan pendapat, dan tidak adanya jarak antara pimpinan dengan karyawan biasa, jelas membuatku jatuh cinta dan semakin meneguhkan komitmen untuk membuat startup ini mencapai targetnya.

Berbicara soal “terjebak di zona (ny)aman”, pernahkah kalian berpikir bahwa zona tersebut hanya ilusi yang tak berujung seperti halnya konsep “Quit your job and travel the world” dan “mencari yang terbaik”? Begini, jika “A” adalah zona nyaman kita dan terjebak di zona nyaman itu “salah”, maka kita akan keluar dari “A” menuju “B” hingga “B” akhirnya menjadi zona nyaman yang baru. Ingat, terjebak di zona nyaman itu salah. Karena itu kita harus keluar dari “B” menuju “C” hingga “C” menjadi zona nyaman baru, begitu seterusnya. Mau sampai kapan?

Komitmen adalah sesuatu yang dibutuhkan dalam menjalani hubungan apa pun. Komitmen adalah sesuatu yang dapat membuat seseorang menjadi “the chosen one” atau “the abandoned one”. Komitmen adalah yang membedakan antara orang dewasa dengan anak-anak. Komitmen adalah yang membuatku memilih kamu di antara 7 milyar orang yang ada di dunia ini.

Lalu, beranikah kamu berkomitmen?

I love relationship with my bed

7 thoughts on “Komitmen

  1. Dyah

    Artikelnya bagus.
    Aku malah selama ini jadi orang yang kalau kerja, bosan, ya resign. Gak kepikiran deh itu komitmen.

    Semoga sukses dengan apa yang jadi komitmenmu, Mas!

Comments: