Tentang Pilihan

Tentang Pilihan

Tentang Pilihan

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 95 orang.

“Choices. We all make them, sometimes more than once. Sometimes it’s the choices we make over and over that define us, but more often it’s the choices we don’t make.”

― Megan Hart, Switch.

Seringkali, hidup itu cuma perkara pilihan; baik-jahat, mahal-murah, pergi-tinggal, dan lain-lain. Pilihan pun seringkali bukan hanya memilih satu diantara dua hal; bisa tiga, empat, lima dan seterusnya; yang tidak mesti berarti bahwa sesuatu yang kita pilih adalah yang benar dan yang tidak kita pilih adalah yang salah. Benar-salah dalam sebuah pilihan seringkali relatif, meski tak lantas berarti bahwa tak ada yang mutlak.

Memilih untuk tetap tinggal saat banyak orang lain pergi, tentu tak berarti bahwa itu adalah pilihan yang salah dan memilih untuk pergi saat banyak orang lain tinggal, tentu tak berarti bahwa itu adalah pilihan yang benar. Nilai / kualitas (benar-salah; baik-buruk) suatu pilihan / tindakan yang diambil oleh seseorang tidak bisa hanya dilihat dari tindakannya semata, tapi dari apa yang melatar belakangi tindakannya. Seseorang yang memilih untuk berbuat baik dengan motivasi untuk berbuat buruk tentu tak bisa kita katakan bahwa ia orang baik, hanya pilihannya saja yang baik, kan?

Ada sebuah cerita menarik. Di suatu malam, saat sedang terjadi pasang di sebuah laut, banyak bintang laut yang terseret hingga ke pinggir pantai. Lalu saat siang dan air laut mulai surut, ternyata tidak semua bintang laut tersebut berhasil kembali ke laut, tergeletak begitu saja di pinggir pantai dan mulai mengering terkena sinar matahari yang terik. Melihat hal tersebut, seorang anak laki-laki berjalan menyusuri pantai dan melemparkan satu persatu bintang laut tersebut ke arah laut agar mereka, bintang laut, dapat melanjutkan hidupnya kembali.

Sekitar 15 menit kemudian, saat sang anak sedang gigih-gigihnya berusaha mengembalikan ratusan bintang laut yang terdampar di pinggir pantai, seorang pria dewasa menghampirinya dan berkata, “Untuk apa kamu melakukan itu? Lihat, ada ratusan bahkan mungkin ribuan bintang laut yang terdampar, pantai ini tertutupi oleh mereka. Apa yang kamu lakukan tidak akan mengubah apa pun, sia-sia!”

Sambil mendengarkan pria itu, sang anak mengambi sebuah bintang laut lagi, berpikir sejenak, melemparkan bintang laut tersebut ke laut, dan seraya tersenyum ia berkata:

“Tidak, Anda tidak mengerti. Usaha saya mungkin tidak akan mengubah kondisi pantai yang tertutupi oleh mereka, tapi usaha saya ini akan mengubah banyak hal……untuk bintang laut ini.”

Jika Anda adalah seorang penggiat aktivitas traveling dan mengetahui ada seorang kenalan yang ingin berwisata ke Pulau Sempu, Krakatau atau cagar alam lain, sementara Anda tahu bahwa berwisata ke cagar alam itu ilegal, apa yang akan Anda lakukan? Diam, memperingatkan, atau malah berkata “Ke sana saja, bagus kok”? Jika pertanyaan itu diajukan padaku, biasanya aku akan berkata “Mau ngapain ke sana, penelitian?” yang seringkali dijawab dengan “Piknik lah, ngilangin stres”. Apa pun jawabannya, aku pasti akan dengan senang hati menjelaskan bahwa berwisata ke cagar alam itu ilegal, memberitahukan dampaknya terhadap konservasi alam, lalu menyarankan tempat piknik yang legal. Jika ia tak peduli dan tetap ingin ke sana? Itu sudah di luar tanggung jawabku, paling aku hanya akan mencoretnya dari daftar vacation-travelmate dan jika ia perempuan, aku akan mencoretnya dari daftar life-travelmate, simple.

Jenis orang seperti itu, yang sudah diberi tahu tapi tetap tak mau tahu, tidak sedikit. Lihat saja komentar di artikelku tentang Sempu yang terdahulu, belum lagi dengan yang sekedar membaca, tidak berkomentar dan tetap berwisata ke sana. Bagaimana dengan tour operator yang menjual paket wisata ke Pulau Sempu, Krakatau, atau cagar alam lain? Sebagian berhenti menjualnya dan sebagian tak peduli lalu tetap menjual paket ke sana.

Dalam konteks pilihan, aku tentu menghormati pilihan apa pun yang diambil oleh para pejalan dan tour operator terkait berwisata ke cagar alam, entah itu pilihan untuk stop mengunjungi / stop berjualan atau malah sebaliknya. Dan mereka pun tentu harus menghormati pilihanku untuk memasukkan mereka ke dalam “daftar hitam” atau setidaknya ke dalam daftar orang-orang dungu dan bebal yang aku harap Jenderal Nagabonar pun akan berkata “Mati kau dimakan cacing” pada mereka.

Benar bahwa meski sudah 2 tahun aku, dan mungkin juga kalian, mengkampanyekan persoalan wisata di cagar alam ini, tingkat kunjungan wisata ke cagar alam tetap tinggi, bahkan rumornya semakin meningkat. Mungkin benar juga bahwa dengan mencegah hanya satu atau dua orang pejalan / tour operator untuk berwisata ke cagar alam, aku tidak akan mengubah apa-apa karena toh antrian turis yang mau ke sana tetap mengular.

Tapi sebagaimana halnya cerita tentang seorang anak yang mengembalikan bintang laut kembali ke habitatnya di atas, mungkin kalian tidak mengerti. Apa yang aku lakukan ini bukanlah untuk para pejalan dan tour operator yang dungu lagi bebal itu, tapi untuk cagar alam, untuk mengurangi tingkat kerusakan ekosistem di sana dan mengembalikannya ke fungsi awalnya.

Dan jika hidup adalah perkara pilihan, mana yang akan kalian pilih?

“It is our choices, Harry, that show what we truly are, far more than our abilities.”

― Albus Dumbledore, Harry Potter and the Chamber of Secrets.

 

Comments: