Blog, Blogging, Blogger

Blog, Blogging, Blogger

Blog, Blogging, Blogger

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 56 orang.

“We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.”

― Anaïs Nin.

Saya pertama kali mengenal blog pada tahun 2007, kalau tidak salah ingat. Pada masa itu, saya membuat blog untuk organisasi mahasiswa ekstra kampus yang sedang saya geluti, namanya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saya membuatnya di platform Blogspot dan benar-benar belajar secara otodidak. Mulai dari cara menata layout dengan coding HTML, formatting tulisan, sampai dengan mengisi kontennya.

Lalu pada tahun 2010, saya membangun sebuah situs web sendiri tentang jaminan sosial, yang saya beri nama Institut Jaminan Sosial Indonesia (IJSI). Kemudian situs tersebut berubah menjadi sebuah lembaga nirlaba yang saya dirikan bersama beberapa orang ahli dan tokoh jaminan sosial. Sayangnya, saat ini lembaga dan situs web tersebut sudah tidak aktif, karena target akhir kami sudah tercapai dengan lahirnya Undang-Undang tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial di tahun 2012.

Sebelum situs web ini lahir di bulan Agustus 2012, saya juga sempat membuat versi WordPress.com-nya, meski tak bertahan lama karena pada dasarnya saya lebih suka WordPress.org yang lebih bisa dikustomisasi dan berbayar. Ajaibnya, situs web ini masih bertahan hingga saat ini menggunakan server VPS yang sama dengan situs web IJSI. Dan beberapa bulan lalu, saya membuat satu lagi situs web untuk menampung segala ide random saya yang sering muncul tiba-tiba, mostly saat brainstorming terkait ide marketing. Sila klik di sini buat yang mau lihat-lihat, tapi nanti saja ya setelah baca artikel ini sampai selesai.

“Compound interest is the eighth wonder of the world. He who understands it, earns it … he who doesn’t … pays it.”

Albert Einstein.

Lalu, apa persamaan utama dari lahirnya beberapa sits web/blog di atas? Minat. Saya cenderung membuat suatu hal berdasarkan minat. Saat minatnya sedang ke organisasi mahasiswa itu, saya bikin blog. Saat minatnya ingin mempelajari jaminan sosial, saya bikin web. Saat minatnya terkait traveling, saya bikin blog. Saat minatnya sedang random thought, saya bikin blog. Minat yang dikerjakan cukup rutin pada akhirnya menjadi sebuah hobi. Namun hobi yang menyamakan semua minat saya yang berbeda-beda itu adalah menulis. Ya, saya cukup suka menulis, terutama yang berdasarkan data atau memerlukan riset.

Minat saya akan menulis ada yang berujung menjadi sebuah pekerjaan dan lebih banyak yang berakhir menjadi sebuah hobi. Sebentar, kalian tahu bedanya pekerjaan dan hobi kan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hobi adalah “kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama.” Sedangkan menurut Wikipedia, tujuan dari hobi adalah untuk “memenuhi keinginan dan mendapatkan kesenangan.”

Dari 4 situs web/blog yang saya sebutkan di atas, tak satu pun yang dimaksudkan menjadi sebuah pekerjaan utama. Saya menulis di kala senggang, untuk mendapatkan kesenangan dari menuangkan ide, tanpa merasa terpaksa, dan tidak bertujuan untuk mendapatkan penghasilan, baik tambahan apalagi utama. Sedangkan yang berujung pada pekerjaan –dari minat menulis– hanya di Skyscanner dan satu proyek kecil yang rahasia.

Coba perhatikan kata yang saya cetak tebal di atas: waktu senggang dan mendapatkan kesenangan. Salah satu alasan utama mengapa saya enggan disebut sebagai seorang blogger adalah karena definisinya yang tak cocok dengan pengertian dan tujuan hobi. Dewasa ini seseorang disebut blogger adalah ketika ia rajin update blog-nya, bahkan mungkin tak peduli bila jadi terpaksa update di waktu sibuk dan jadi tidak happy saat selesai menulis, karena merasa terpaksa tadi itu.

Saya juga tak merasa cocok disebut sebagai blogger karena tak sedikit yang menganggapnya sebagai sebuah pekerjaan. Lha wong saya menulis kan dasarnya karena hobi dan hobi bukanlah pekerjaan utama. Tapi tentu tak ada salahnya menasbihkan blogger sebagai sebuah pekerjaan yang berbasis hobi, karena toh pada dasarnya tujuan hobi adalah mendapatkan kesenangan dan bagi sebagian orang (mendapatkan) uang adalah sebuah kesenangan.

Belum lagi bagi sebagian lain yang menganggap blogger adalah seseorang yang powerful karena mampu memberikan influence pada khalayak ramai. Lha gimana ya, memberikan pengaruh pada diri sendiri saja saya tak bisa, apalagi ke orang lain. Syarat utama dibilang powerful bagi blogger katanya adalah ketika traffic blog-nya tinggi, comment-nya banyak-sampai-susah-bagi-si-blogger-untuk-membalasnya, dan sudah pada tahap ditawari placement. Ya nganu, traffic blog ini kan kecil sekali, yang comment pun sedikit-bahkan-mungkin-cuma-iseng, dan saya ga minat juga kalau ada yang nawari placementNdak cocok banget kan dianggap sebagai blogger?

Tapi ya walaupun demikian, saya tetap bersikeras menjadikan blog dan blogging sebagai hobi. Saya tetap menulis di waktu senggang-meski-senggangnya-bisa-nunggu-setahun-lebih, meski tak ingin atau bagi-sebagian-orang-tak-layak disebut sebagai blogger. Karena toh ini blog saya dan saya yang blogging. Kalau kamu?

Oh ya, selamat #HariBloggerNasional ya, kalian!

Comments: