Agar Jangan Sampai Dikatakan…

Agar Jangan Sampai Dikatakan…

Agar Jangan Sampai Dikatakan…

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 193 orang.

“Stick to the truth even if the truth kills you.”

― Umar ibn Khattab.

Di suatu malam, kurang lebih satu bulan yang lalu, saat sedang membuka Facebook dan berdiskusi ringan dengan teman-teman aktivis Serikat Pekerja / Serikat Buruh (SP/SB) terkait program Jaminan Pensiun SJSN, aku melihat seorang senior posting sebuah cerita yang sangat menarik. Selain dikenal sebagai seorang aktivis SP / SB, beliau juga dikenal sebagai seseorang yang sangat rajin berdakwah. Yang paling aku suka darinya adalah, ia berdakwah sebagaimana alumni HMI lainnya, dengan logika, tanpa paksaan dan tidak hanya terpaku pada dogma semata seperti you-know-who-that-I-mean.

Membela apa yang ia yakini sebagai sebuah kebenaran, bahkan jika apa yang ia bela tersebut dapat membunuhnya sekali pun, adalah salah satu hal yang aku kagumi dari sosok Umar bin Khattab dan ingin sekali aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi di zaman sekarang di mana “butuh makan” dan lain-lain seringkali membuat seseorang khilaf (berpaling pada kebenaran). Melakukan sesuatu hal, meski itu salah, hanya karena banyak orang lain melakukan hal yang sama menjadi sesuatu yang dapat dimaklumi. Film “The Giver” mengatakan, “Menjadi berbeda tidak dapat diterima. Tak ada yang ingin menjadi berbeda.” Padahal aku yakin, bahkan mungkin kita semua pun yakin, bahwa menjadi berbeda, selama itu benar, tentu lebih baik dibanding menjadi sama dengan yang lain padahal itu salah.

Berikut adalah salah satu kisah nyata yang terjadi di zaman kekhalifan Umar bin Khattab. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, apa pun itu. Aamiin.

Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi dan di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Dari kejauhan datang 3 orang pemuda, di mana dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata, “Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin! Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!”

Umar segera bangkit dan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?” Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, “Benar, wahai Amirul Mukminin.”

“Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya, “Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”

“Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh. “Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh. “Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat”, ujarnya. “Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu”, lanjut Umar.

“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, “Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa.” Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,”Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah” ujarnya dengan tegas. “Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash”. “Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda.

“Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?” tanya Umar. “Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?” pemuda lusuh balik bertanya. “Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar. “Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, “Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin.” Ternyata Salman al Farisi yang berkata. “Salman?” hardik Umar marah, “Kau belum mengenal pemuda ini. Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”. “Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang. Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.

Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya. Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw. yang paling utama. Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh. Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali. “Itu dia!” teriak Umar, “Dia datang menepati janjinya!”. Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar dan berkata,

“Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku..” ujarnya dengan susah payah, “Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak.. waktu.. Kupacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana..”

“Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, “Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?”

“Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria.. tepat janji..” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum. Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, “Lalu kau Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?”

“Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”, Salman menjawab dengan mantap.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu. “Allahu Akbar!” tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak, “Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”. Semua orang tersentak kaget. “Kalian..” ujar Umar, “Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

“Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”, ujar kedua pemuda membahana.

“Allahu Akbar!” teriak hadirin. Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.

Semoga bermanfaat.

"Stick to the truth even if the truth kills you." - Umar ibn Khattab

Comments: