Abandoned

Abandoned

Abandoned

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 160 orang.

“Those who choose to walk on love’s path are well served if they have a guide. That guide can enable us to overcome fear if we trust that they will not lead us astray or abandon us along the way.”

― Bell Hooks.

Sejak bulan Mei 2013, aku memainkan sebuah game online yang bernama “The Godfather: Five Families” yang di-release oleh Kabam, Inc. Jika dicermati lebih jauh, game ini mengajarkanku banyak hal, entah soal kehidupan personal atau pun soal perjalanan dan destinasi. Dalam game ini ada 5 buah keluarga mafia Italia yang saling berperang untuk menguasai kota New York, di mana salah satu simbol yang digunakan sebagai “bukti” bahwa sebuah keluarga telah menguasainya adalah sebuah menara yang bernama “The Ambrosini”. Keluarga mana pun yang selalu menduduki menara tersebut dan berhasil mempertahankannya dari serangan keluarga lain adalah keluarga terkuat, “The King of New York”. Jika suatu keluarga tidak kuat untuk menahan serangan dari keluarga lain dan akhirnya mereka meninggalkan menara tersebut, maka jika kita highlight menaranya akan muncul tulisan: “Abandoned”.

Dalam game ini, untuk mempertahankan menara “The Ambrosini” yang sedang didudukinya, seluruh anggota keluarga tertentu harus saling bekerjasama untuk menahan setiap gempuran yang dilancarkan oleh 4 keluarga lainnya. Sama halnya dengan sebuah destinasi, Bali misalnya. Anggaplah Bali adalah “The Ambrosini” yang sedang diduduki oleh orang Bali yang senantiasa berusaha mempertahankannya dari serbuan dan gempuran turis, atau traveler kalau kalian lebih suka menganggap diri demikian. Gempuran tersebut bisa terhadap banyak hal dan dengan berbagai macam cara. Untuk terus bisa mempertahankannya, orang Bali harus bersatu. Namun demikian, dalam game tersebut, tak sedikit juga anggota keluarga yang tidak menganggap bahwa menguasai dan mempertahankan menara itu penting. “Aku hanya main game ini sesekali saja, tidak sering dan tidak serius” adalah alasan yang paling sering diungkapkan. Sekilas mirip dengan orang Bali atau orang lain yang sedang tinggal di Bali, tapi tak peduli akan gempuran turis yang datang.

Waktu masih sekolah dulu, aku ingat seorang guru yang mengatakan bahwa saat menjajah Indonesia, Belanda menggunakan politik devide et impera untuk memecah belah bangsa kita dan itu cukup sukses. Mereka ungkapkan sebuah opini secara masif, terstruktur dan sistematis sehingga terlihat / terdengar sebagai sebuah fakta. Sebagian bisa jadi adalah sebuah kebenaran, meski sebagian besarnya adalah kebohongan.

Dalam gerakan #BaliTolakReklamasi (@ForBALI13) misalnya, ada banyak opini yang diungkapkan oleh pihak yang kontra dengan gerakan tersebut -dengan gerakan yang masif, terstruktur dan sistematis- untuk memecah belah warga Bali agar setuju dengan reklamasinya. Padahal, reklamasi di mana pun, selalu membawa dampak sistemik yang justru sangat merugikan. Ini adalah “greenwashing” dan ini adalah salah satu politik devide et impera. Penjajahan oleh bangsa lain mungkin sudah usai, tapi belum tentu dengan penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri. Merasa jadi bagian yang mendukung reklamasi Teluk Benoa, Bali? Coba baca chirpstory ini.

Dubai and Singapore Reclamation

Dalam konteks pariwisata, gempuran turis / traveler umumnya adalah pada budaya, alam dan bahasa. Sudah berapa banyak tarian / upacara daerah yang semestinya sakral dan hanya untuk momen tertentu, jadi dipertunjukkan setiap hari / setiap ada turis yang ingin melihatnya? Dalam presentasinya di sebuah acara diskusi yang diselenggarakan oleh @FesbudUI tahun 2013 yang lalu, @eeaazz berbicara tentang nilai sakralitas Tari Kecak yang (menurutnya) hilang akibat dipertontonkan setiap hari, karena ada turis yang ingin melihatnya. Seringkali, atas nama pariwisata, nilai kesakralan suatu budaya yang tadinya menjadi sebuah prioritas jadi hilang dan berganti menjadi “demi pundi-pundi uang”.

Mana yang lebih wajib dipelajari oleh anak Indonesia, Bahasa Indonesia dan muatan lokal bahasa daerahnya atau bahasa asing? Jawaban akan tergantung jika ditanyakan kepada siapa dan di mana. Jika di daerah pariwisata, mungkin jawabannya adalah bahasa asing. Aku tak peduli jika ada orang Indonesia yang lebih tertarik untuk menguasai bahasa asing ketimbang bahasa daerah atau Bahasa Indonesia, selama itu memang kebutuhan pokoknya. Kebutuhan pokok yang aku maksud adalah ketika ia tinggal di luar negeri dan harus berbicara bahasa sana. Salah seorang guru Bahasa Indonesia-ku dulu pernah berkata pada temanku yang sering sekali berbicara dengan Bahasa Inggris, “Kamu pikir Bahasa Indonesia itu mudah? Berapa nilai pelajaran Bahasa Indonesia di raportmu?” Semoga suatu saat nanti tidak muncul anak Indonesia, yang tinggal di daerah pariwisata, yang lebih pintar berbahasa asing ketimbang Bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya. Lagipula, kenapa penduduk tetap yang harus menyesuaikan diri (bahasa dan kebiasaan) dengan pendatang dan bukannya pendatang yang harus menyesuaikan dirinya dengan daerah yang ia datangi?

Tak hanya dalam kasus rencana reklamasi Teluk Benoa di atas. Atas nama pariwisata dan jargon “demi kehidupan yang lebih baik (mewah dan modern)”, banyak daerah dieksploitasi dan mengabaikan sisi konservasi alam. Cagar Alam Pulau Sempu, Cagar Alam Pulau Krakatau, Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau dan mungkin tempat lain, dikomersialisasi atas dasar “kesejahteraan”. Kesejahteraan yang mana?

Construction vs Forest

Saat memainkan game “The Godfather”, keluarga lain yang menggempur menara “The Ambrosini” dan berhasil merebutnya, tak jarang hanya ingin menyerang saja. Setelah berhasil merebutnya, mereka tidak mendudukinya dan malah membiarkannya kosong sehingga menara tersebut berada dalam status “Abandoned”. Jika direnungkan, hal ini juga mirip dengan sebuah destinasi wisata yang terus-menerus “digempur” oleh serbuan turis. Sebagaimana turis, mereka hanya datang untuk berkunjung dan tidak menetap. Mereka datang dalam jumlah yang banyak, “membeli” budaya lalu meninggalkan sampah. Jika akhirnya gempuran turis tersebut membuat nilai sakralnya suatu budaya menjadi hilang (kering) dan alamnya pun telah rusak, apa yang terjadi? Persis seperti menara “The Ambrosini”: abandoned. Para turis akan meninggalkan daerah itu, tak kembali ke sana dan mencari daerah “jajahan” lain. Begitu seterusnya.

Jika kondisi itu terjadi, siapa yang salah? Entahlah, bisa jadi kita semua; penulis yang mempromosikan sebuah destinasi secara eksploitatif, pengunjung yang abai soal lingkungan, pemerintah daerah yang melihat wisata hanya sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), warga lokal yang tak tahu mesti bagaimana dalam mengelola pariwisata di daerahnya, bahkan yang tidak terlibat tapi diam saja ketika mengetahui ada potensi tersebut.

Benar bahwa tanggungjawab suatu daerah utamanya ada pada orang-orang yang menghuni daerah tersebut. Tapi jika kita merasa sebagai bangsa Indonesia yang tinggal di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, aku yakin kita pun tetap bertanggungjawab pada kondisi daerah lain yang tidak kita tinggali atau belum pernah kita datangi sekali pun. Dalam lingkup yang lebih luas, sebagai sesama manusia yang sama-sama menghuni sebuah planet yang bernama Bumi, kita tentu juga (setidaknya merasa) bertanggungjawab pada kondisi daerah / negara lain. Karena, kita semua satu kesatuan kan?

“The purpose of a writer is to keep civilization from destroying itself.”

― Albert Camus.

Comments: