Bekerja di Perjalanan

Bekerja di Perjalanan

Bekerja di Perjalanan

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 127 orang.

Sudah ribuan kali aku mendengar orang berkata, “Liburan yang paling enak itu yang lepas dari gadget dan pekerjaan, itu baru sebenar-benarnya liburan.” Ya, itu memang enak, tapi sulit rasanya aku bisa melakukan itu. Bukan, bukan karena aku gadget / work freak sehingga tidak ingin lepas dari keduanya, tapi lebih karena aku harus bekerja.

Sejak bulan Juli 2013, sampai saat aku menulis ini, aku bekerja freelance sebagai Social Media Officer. Saat masih memegang 2 brand, aku harus bekerja minimal 13 jam, setiap harinya. Ga ada libur? Pada prinsipnya tidak, tapi kalau ada keperluan yang urgent, aku bisa minta izin untuk off dan pasti diizinkan, tapi tidak sering. Pekerjan ini enak, karena aku ga perlu “ngantor” jadi bisa bebas traveling ke mana pun, selama tempat yang aku tuju ada koneksi internet yang mumpuni. Namun demikian, aku tetap mengakui bahwa harus selalu bekerja meski sedang traveling itu jelas mengurangi kenikmatan, meski argumen “Kalau ga kerja, gimana mau traveling?” selalu berhasil menghiburku.

Working While Traveling

Ngadmin sambil traveling

Karena jenuh sering di rumah dan “melototin” PC / laptop, aku memutuskan untuk cari solusi yang bisa menunjangku untuk bekerja sambil traveling tanpa harus stand by di depan laptop. “Smartphone baru adalah solusi termudah”, pikirku. Awalnya, aku hanya mengandalkan @BlackberryID #Curve8520, sebelumnya #Bold9790 (yang RIM berikan secara cuma-cuma untukku saat launching tahun 2011) tapi hilang dicopet di Bandung, namun ketiadaan apilkasi untuk me-maintain Halaman Facebook membuatku harus cari alternatif. Setelah berkeliling ITC Fatmawati dan menimbang budget, pilihan jatuh pada Advan Vandroid S5 seharga Rp1,2 juta. “Not bad lah, setidaknya ini bisa aku pakai untuk ngadmin”, gumamku.

Android Facebook Pages Manager

Beberapa bulan pertama, ponsel ini cukup membantuku, karena aplikasi Facebook Page Manager, yang dirilis resmi oleh Facebook Inc., bisa aku gunakan untuk scheduling post, membalas inbox dan merespon komentar di post. Masalah mulai muncul ketika ada seorang fans yang bertanya berkali-kali karena merasa aku tidak membalas komentarnya. Benarkah? Tidak, aku membalasnya. Masalah sebenarnya adalah karena aplikasi tersebut tidak memungkinkanku untuk me-reply komentar secara langsung seperti di web-nya, melainkan hanya bisa di-tag, tak ubahnya Facebook Mobile. Akhirnya, aku pun berkesimpulan bahwa smartphone dengan OS Android tak bisa benar-benar menunjangku untuk bekerja sambil traveling, apa pun merk-nya.

Moving on, for a better life

Seiriang dengan rusaknya ponsel itu, aku pun harus “vacum” traveling selama kurang lebih 2 bulan. Karena tak mungkin aku pergi keluar tapi ponsel harus selalu di charge dengan powerbank agar aku bisa tetap kerja. “Hitung-hitung sambil nabung”, pikirku. Sampai akhirnya, di bulan April aku berhasil membeli @nokiaindonesia #Lumia520 warna hitam yang memakai OS Windows Phone 8.0. Awalnya, aku membeli ponsel ini karena ingin mencoba saja, pun karena aku tak mungkin membeli yang ber-OS BlackBerry atau Android karena pengalaman sebelumnya. Namun setelah aku otak-atik ponsel ini, aku pun langsung jatuh cinta padanya.

Nokia Lumia 520

Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta. Untuk ponsel seharga Rp1,2 juta (aku membeli di Lazada yang kebetulan waktu itu sedang ada diskon), fitur yang ditawarkan cukup mumpuni. Hasil kameranya tak kalah dengan Android yang mahal, pun banyak pilihan lensa, bahkan ada lensa HDR, re-focus dan lain-lain. Untuk pecinta fotografi, kalian dapat melakukan banyak hal dengan ponsel Lumia ini, serius. Lalu bagaimana dengan kebutuhanku untuk mendukung pekerjaan? Sempurna. Meski tak ada aplikasi Facebook Page Manager keluaran Facebook Inc. tapi ada aplikasi sejenis yang dirilis oleh ImaginationOverflow yang bernama FB Pages Manager. Apakah memadai? Pasti! Karena aplikasi tersebut membuatku dapat reply komentar di Halaman Facebook yang aku kelola, secara langsung seperti kalau aku mengaksesnya via desktop web. “Ini yang aku butuhkan dari dulu!”, pekikku gembira.

Selain kamera dan aplikasi itu, ada lagikah keungulannya? Banyak! Karena OS-nya keluaran Windows, maka di ponsel #Lumia ini sudah disematkan software Microsoft Office Hub (Ms. Word, Ms. Excel, Ms. Powerpoint) dan juga OneNote. Memori internal bawaan ponsel memiliki kapasitas 8GB dan bisa ditambah dengan kartu memori (MicroSD). Butuh backup foto-foto di awan (cloud)? Tenang, ada fasilitas OneDrive gratis yang langsung terintegrasi dengan ponsel kok. Kapasitasnya? Free 10GB! Hampir seluruh aplikasi jejaring sosial juga bisa di-install di ponsel ini, hanya sayang untuk Instagram masih versi Beta.

Microsoft Office Hub and OneDrive

Selain untuk menunjang pekerjaanku, apakah ponsel itu menunjang juga untuk traveling? Definitely! Terutama ketika traveling di luar negeri dan kita tak bisa akses internet selain kalau ada jaringan Wi-fi. Di ponsel ini ditanamkan aplikasi peta yang bernama HERE Maps. Yang membuat aplikasi ini jadi spesial adalah karena bisa diakses secara offline. Kita tinggal mengunduh peta negara yang ingin kita tuju dan mengaksesnya saat di sana, meski tak ada koneksi internet. Akurat kah? Aku telah mencoba mengandalkan aplikasi ini untuk ku gunakan selama 2 minggu di Bali dan seminggu di Singapore dan Malaysia, tanpa membuatku tersesat!

So, that’s it? Nope. Masih banyak lagi, namun tak mungkin aku sebutkan satu-persatu karena jauh lebih baik kalau kalian mencobanya langsung. Lalu apakah ada kekecewaan pada ponsel ini? Ada, bagiku layarnya terlalu kecil sehingga aku masih sering sekali typo saat mengetik. Seandainya aku mau lebih bersabar menabung sehingga bisa membeli yang layarnya lebih besar, maka aku pasti akan sangat puas. (Updated: Per tanggal 13 Oktober 2014 aku sudah ganti ponsel menjadi #Lumia925 karena #Lumia520-nya dicuri orang)

Anyway, sejauh ini, sudah 3 orang temanku yang mengganti ponselnya dengan Lumia karena cerita pengalamanku setelah menggunakannya selama sebulan terakhir. Are you gonna be the next? Lemme know if you’re in too. 😉

Disclaimer: Tulisan ini murni review personal dan penulis tidak menerima kompensasi apa pun dari brand terkait atau pun pihak lain. Kecuali disebutkan lain, barang yang digunakan dalam tulisan ini dibeli dengan uang pribadi penulis.

2 thoughts on “Bekerja di Perjalanan

Comments: