Tak Ada Rumah di “Rumah adalah di Mana Pun”

Tak Ada Rumah di “Rumah adalah di Mana Pun”

Tak Ada Rumah di “Rumah adalah di Mana Pun”

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 113 orang.

Apa yang membuatmu memutuskan untuk membeli atau tidak membeli sebuah buku? Sampul, gambaran isi buku dari penerbit atau penulisnya, harga, atau siapa yang menulisnya? Kalau aku, judul dan deskripsi singkat isi buku yang ada di sampulnya. Judul, umumnya merupakan representasi / intisari tentang keseluruhan isi buku, sementara deskripsi singkat, yang biasa ditulis di sampul, menjadi penguat judul yang ditulis, seperti halnya sinopsis film yang dapat membuat seseoang jadi mau / tidak mau menonton film tersebut.

Buku “Rumah Adalah Di Mana Pun” adalah buku yang berisikan cerita tentang perjalanan yang dilakukan oleh 19 orang pejalan perempuan. Tak kan aku pungkiri bahwa salah satu alasanku membeli buku ini adalah karena salah satu penulisnya adalah temanku, yaitu Indri Juwono (@miss_almayra). Bagiku, hal minimal yang harus dilakukan oleh seorang teman untuk mendukung karyanya adalah dengan membelinya dan kalau bisa memberikan kritik dan saran. Beberapa hari yang lalu Indri menelepon dan memintaku untuk menjadi pembedah atas buku tersebut di sebuah acara. Dan hari ini, 5 Juli 2014, aku berada di @RumahDunia, Serang, Banten, untuk memenuhi undangannya.

Rumah adalah di Mana Pun (5 Juli 2014), Rumah Dunia, Serang, Banten, Indonesia

Sebelum membaca buku ini, aku berharap bahwa di dalamnya, 19 pejalan perempuan ini akan bercerita tentang rumah yang mereka temukan di luar tempat tinggalnya. Sebuah rumah di mana mereka merasa nyaman dengan orang-orang dan kondisi di sekitarnya. Sebuah rumah yang mungkin tidak mereka temukan di tempat tinggalnya. Namun ternyata, di buku ini aku tak menemukan cerita tentang rumah, bahkan sudah dinyatakan di bagian awal saat beberapa orang terkenal menuliskan komentarnya tentang buku ini. Trinity, penulis banyak buku best seller, bahkan menyatakan bahwa “Minimal Anda bisa jatuh cinta pada tempat-tempat yang mereka ceritakan dengan detail.”

Aneh, ketika biasanya bagian awal buku adalah yang sanggup menghadirkan bayangan akan serunya perjalanan yang diceritakan di dalamnya sehingga menggugah seseorang untuk segera membacanya, buku ini malah membuyarkan harapanku. Mungkin aku yang terlalu banyak berharap, atau mungkin juga karena aku terlalu mengamini perkataan Charles Schulz bahwa “In life, it’s not where you go, it’s who you travel with.” Entahlah.

Sang editor, memberikan pengantar berjudul “Mengantar ‘Rumah’”. Ia mengatakan, “Silahkan masuk semakin dalam, ikut dalam kisah migrasi mereka. Dan, mulailah untuk memaknai sendiri, benarkah rumah itu hanya satu, atau sebenarnya, rumah ada di mana pun.” Masalahnya, meski aku belum membaca semua tulisan yang ada di buku ini, aku tidak menemukan pembahasan atau pemaknaan tentang rumah sebagaimana yang tersirat di judul buku atau yang dikatakan oleh sang editor. Aku justru lebih banyak menemukan cerita tentang tempat.

Charles Schulz

“Rumah” dalam perspektif filosofis, berbeda maknanya dengan “tempat tinggal”. “Rumah” tak berbicara soal tempat, ia berbicara soal orang dan kondisi yang membuat kita sangat nyaman. Karena itulah, dalam bukunya yang berjudul “Fool’s Fate”, Robin Hobb menulis bahwa, “Home is people. Not a place. If you go back there after the people are gone, then all you can see is what is not there any more.” Sementara “tempat tinggal” adalah sebuah bangunan yang dihuni untuk menaungi “rumah” kita. Karena itu juga dalam bahasa Inggris dikenal istilah “home” dan “house”.

Secara umum, benar perkataan Indy Rahmawati bahwa, “Pembaca terasa diajak masuk ke dunia yang diselami para penulis, situasi yang tidak mewah namun tetap mengasyikkan sebagai tempat ‘pelarian’ dari rutinitas.” Kebanyakan cerita adalah tentang pelarian, entah pelarian dari rutinitas pekerjaan atau dari sakitnya hati. Tak ada salahnya memang, kecuali jika itu hanya sekedar pelarian, yang dilakukan secara berulang-ulang.

Dari sisi alur, mayoritas penulis menggunakan alur maju, alur yang paling umum digunakan. Entah kenapa, aku merasa editor buku ini kurang berperan, terutama dalam memberikan masukan mengenai alur kepada penulisnya, sehingga hampir semuanya seragam. Beberapa paragraf pun cukup sulit untuk ku cerna makna harafiahnya, juga korelasinya dengan paragraf sebelumnya maupun sesudahnya. Ada sebuah tulisan dengan judul yang sama dengan judul buku ini. Aku berasumsi bahwa judul buku ini diambil dari tulisan tersebut, dan mungkin tulisan itu adalah “tulisan inti”. Namun ternyata, tulisan yang bercerita tentang Belitung ini, juga tak membahas soal “rumah” tapi soal tempat. Di tulisan ini pula lah sang penulis dengan santainya bercerita tentang cara memancing ikan agar mendekat kepadanya, dengan melemparkan sepotong roti ke laut. Tak tahukah ia tentang apa itu water bleaching? Tentang bagaimana caranya bertindak kepada hewan yang hidup secara liar di alam? Bagiku, ini adalah kesalahan fatal yang semestinya bisa diminimalisir oleh editor atau tim penerbit.

Secara teknis penulisan, jika dilihat sekilas, mayoritas tulisan yang ada di buku ini tampak seperti tulisan yang ada di blog pribadi dan dipindahkan ke dalam sebuah buku, tanpa proses editing. Cukup banyak kata tidak baku yang ditulis begitu saja tanpa tanda kutip dan beberapa pemilihan diksi yang kurang mengena. Ada juga bagian di mana seorang penulis menjelaskan tentang “flysheet” tapi tidak menjelaskan kata bahasa asing lainnya yang ia beri tanda kutip, “carrier” misalnya. Di beberapa tulisan milik penulis lain, aku malah sering melewatkan beberapa paragraf karena bagiku terlalu membosankan atau bertele-tele. Belum ditambah lagi dengan penggunaan kata “surga” hanya untuk menggambarkan tentang betapa indahnya suatu tempat. Bagiku, penggunaan kata “surga” itu cenderung eksploitatif. Siapa yang tak mau ke surga?

RADMP Serang

Diskusi dan Bedah Buku “Rumah adalah di Mana Pun”, Rumah Dunia, Serang, Banten

Agustinus Wibowo (@avgustin88) pernah berkata bahwa, “Tanpa manusia, cerita perjalanan itu mati”. Bagiku, perjalanan, dalam bentuk apa pun, adalah tentang manusia. Manusialah yang melakukan perjalanan dengan dibantu oleh manusia lain, bertemu / melihat manusia lainnya dan akhirnya meninggalkan manusia itu untuk kemudian mengulang proses yang sama. Begitu pun dengan cerita atau tulisan tentang perjalanan, ia semestinya berbicara tentang manusia, bukan tentang tempat.

Secara keseluruhan, aku tetap mengamini apa yang dikatakan oleh Gol A Gong di awal buku ini, bahwa “Bagi perempuan, perjalanan bisa memberi arti lebih dalam dibanding lelaki.” Apakah buku ini layak untuk dibaca? Ya. Sudut pandang yang ditawarkan oleh berbagai cerita dalam buku ini sangat berbeda dengan buku lain yang sejenis, sangat girly tapi tetap menunjukkan bahwa 19 perempuan ini adalah orang yang mandiri dan tangguh.

Last but not least, dalam konteks menulis buku, @zenrs pernah berkata:

Lalu, bagaimana pendapat kalian tentang buku ini?

Comments: