@w_dhars, Fotografer Amatir Yang Rajin Menulis Buku

@w_dhars, Fotografer Amatir Yang Rajin Menulis Buku

@w_dhars, Fotografer Amatir Yang Rajin Menulis Buku

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 386 orang.

Wahyu Dharsito (@w_dhars) lahir di Jepara pada tanggal 1 April, 32 tahun yang lalu. Pemilik situs web http://www.wdlens.net/ ini tidak hanya piawai dalam hal teknis dan skill fotografi, tetapi juga aktif menulis buku. Bayangkan, belum setahun aku “mengenalnya”, sudah 3 buku tentang fotografi yang ia tulis. Perpaduan penguasaan teknis dan ilmiah inilah yang membuat ia menjadi salah satu fotografer favoritku.

Mas Wahyu, begitulah aku memanggilnya, jatuh cinta dengan fotografi sewaktu orang tuanya memperkenalkannya dengan kamera analog, puluhan tahun yang lalu. Ia lalu beralih ke kamera digital jenis SLR saat harga kamera jenis tersebut sudah mulai terjangkau. Baginya, “Fotografi itu hobi yang asik, karena bisa melekat ke kegiatan apapun. Apapun hobi anda, memancing, musik, jalan-jalan, sepak bola, koleksi flora, ikan Koi, dan sebagainya, selalu ada ‘tempat’ untuk fotografi.”

Wahyu Dharsito Saat Winter di Nagoya

Wahyu Dharsito Saat Winter di Nagoya

Setidaknya untuk saat ini, Mas Wahyu lebih senang menekuni dunia fotografi sebagai hobi, bukan sebagai karir. Ia menjelaskan:

“Mengenai karir, secara definisi, fotografer profesional memotret sebagai pekerjaan, sementara fotografer amatir memotret sebagai rekreasi. Saya menghargai pilihan rekan-rekan yang berprofesi sebagai ‘Fotografer Karir’ dan tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat nanti saya akan menyeberang sedikit ke area komersial. Tetapi untuk saat ini, rasanya lebih nyaman dan bebas untuk mengeksplorasi dunia fotografi di jalur amatir.”

Ia pun lalu menambahkan sebuah kutipan dari Alfred Eisenstaedt mengenai profesional dan amatir, “Every professional should remain always in his heart an amateur.”

Genre fotografi apa sih yang paling Mas Wahyu sukai?

“Semua genre menyenangkan, ada sisi asyiknya masing-masing. Ini juga salah satu alasan saya memilih menjadi amatir, bebas loncat genre kapan saja. Bisa saja pagi hari foto makro belalang, sorenya model, malamnya slow-speed, dan besoknya foto dadar gulung. Lain halnya kalau profesional, harus sesuai dengan permintaan klien.”

Beberapa fotografer favorit Mas Wahyu yang berasal dari dalam negeri adalah Arbain Rambey (@arbainrambey) dan Jerry Aurum (@jerryaurum), karena mereka ramah dan banyak sharing ilmu. “Ada juga kenalan Mas Hari Sulistiawan, dia art fotografer. Untuk fotografer luar, saya suka permainan pencahayaan Joe McNally (@JoeMcNallyPhoto) dan David Hobby (@strobist), dan tentu saja Henri-Cartier Bresson”, tandasnya.

Peralatan Favorit Untuk Travelling

Peralatan Favorit Untuk Travelling

Setelah “Advance Snapshot”, saat ini ada 1 buku lagi yang sedang difinalisasi oleh penerbitnya. Buku tersebut berjudul “+50 Trik dan Ide Foto” dimana  isinya adalah bermacam-macam trik dan ide foto, “Lebih ke eksplorasi, sesuai dengan semangat fotografi ‘amatir'”, jelasnya. Meskipun buku ke empat tersebut belum diterbitkan, saat ini ia juga sedang menulis buku lain yang berjudul “Basic Photography Lighting: Mengendalikan Cahaya”.

Produktif banget sih Mas nulis bukunya, dapat motivasi atau inspirasi dari mana?

“Motivasinya sederhana kok, kalau memotret adalah rekreasi, maka menulis juga bentuk dari rekreasi. Buku pertama sebenarnya makan waktu cukup lama, sekitar 8 bulan. Walaupun materinya sudah banyak di catatan dan blog, tapi masih perlu waktu untuk merapikan dan penyederhanaan. Kesulitan terbesar adalah menyusun sistematika, karena buku yang ditulis bertujuan untuk membangun pemahaman dari yang paling dasar, jadi perlu pendekatan yang sesederhana mungkin. Buku berikutnya bisa lebih cepat karena materinya sudah terkumpul, dan sistematikanya sudah ada.”

Minta tips cara menulis buku yang baik dong, apa harus selalu melalui riset terlebih dahulu?

“Saya sendiri belum merasa cara menulisnya sudah bagus, hehehe. Kalau dari penyusunan, metode saya sepertinya cenderung teknis, mirip menyusun karya tulis. Dimulai dengan pembuatan kerangka (bab, sub-bab, dsb), lalu jadwal penyusunan, baru kemudian dikembangkan. Setelah selesai satu pembahasan (bab), perlu sesekali di-“test” ke pembaca. Kalau pembacanya belum nyambung, berarti bab tersebut belum berhasil.

Mengenai riset, sangat perlu, bahkan kalaupun yang ditulis adalah karya fiksi, contohnya karya-karya Dan Brown atau Sir Arthur Conan Doyle. Gunanya untuk memperkaya materi dan menghindari kesalahan yang tidak perlu. Kalau berbekal asumsi saja, bisa jadi blunder.”

Buku Karangan Wahyu Dharsito

Buku Karangan Wahyu Dharsito

Suka traveling ga, Mas? Sejauh ini sudah pernah kemana saja?

Traveling sih sesempatnya, nggak sering-sering amat, tabrakan dengan jadwal kerjaan. Berpetualang itu masalah mindset, yang bahkan bisa dilakukan di kota sendiri. Di sisi lain, bisa saja seseorang sudah jauh ke negeri antah berantah tapi cuma numpang selfie (foto narsis), shopping, dan pindah kasur saja. Beberapa tempat yang sudah saya kunjungi diantaranya adalah beberapa titik di Jawa, Bali, Sumatera, Singapura, Jepang, dan Thailand.

“Paling lama waktu tugas kerja di Thailand, tahun 2010-2011. Tugas kerja sih cuma jam kerja saja, sisanya ya itu, “berkelana”. Kalau rekan-rekan lain memang ada tampang expatriat, tapi saya sudah DNA nya tukang ukur jalan. Jadinya malah ketagihan jalan keluar masuk gang, makan di kaki lima, nongkrong di pinggir jalan, ngubek-ubek pasar tradisional, nge-band sama orang lokal, dsb-dsb. Yang seru adalah, seringkali orang setempat tidak sadar kalau saya pendatang.”

Makkasan, Bangkok (Oktober 2010)

Makkasan, Bangkok (Oktober 2010)

Destinasi traveling kemana yang paling berkesan? Kenapa?

“Yang paling berkesan justru yang dekat, bukan karena pemandangannya tetapi karena orang- orangnya. Waktu itu 16 Agustus 2000, setelah lulus kuliah, kami sekitar 7 orang mengadakan perpisahan dengan naik gunung bersama untuk yang terakhir kali, di Ungaran. Sewaktu trekking, kira-kira jam 10 malam, senter yang nyala tinggal 2, kabut tebal turun, angin kencang, hujan embun, kacau. Karena semakin gerimis dan jarak pandang yang tinggal 1-2 meter, kami memutuskan untuk berhenti sebentar, berbagi ponco satu-satunya, kemudian seorang teman menyalakan radio saku. Lagu yang di Radio adalah Bon Jovi – “Never Say Goodbye”, dan kami cowok-cowok metal pun dengan agak malu-malu bernyanyi bersama.” #krikkk

Punya pengalaman buruk ga selama traveling? Kalau punya, dimana dan bagaimana?

“Syukurnya tidak ada yang benar-benar buruk. Tapi paling tidak nyaman adalah waktu hunting awal April lalu, saat naik pesawat pulang. Bukan service maskapainya yang payah, tapi penumpangnya yang parah. Mulai dari yang nyampah di ruang tunggu bandara, kompartmen atas penuh sesak tas belanjaan, masih kirim SMS waktu pesawat sudah taxy, dan antrian yang serobot sana sini.”

Teluk Kiluan, Lampung (November 2012)

Teluk Kiluan, Lampung (November 2012)

Ada ga tempat di Indonesia yang ingin sekali dikunjungi? Kenapa dan kapan mau kesana?

“Kalimantan, ke hutannya. Mimpinya sih ditugaskan oleh National Geographic untuk tim observasi Orang Utan di habitat aslinya, hehehe.” Ajak-ajak saya ya Mas. 😛

Kuliner Indonesia apa yang paling enak menurut selera Mas? Kenapa?

“Waduh, susah ini. Ayam Pop, Ikan Tude, Rujak Cingur, Oncom, Es Pallubutung, Gudeg, Kerak Telor, Garang Asem, dan sebagainya suka semua.”

Kalau kuliner Indonesia yang paling aneh / ga enak menurut selera Mas, apa?

“Paling aneh, sebenarnya pengen coba, adalah Ulat Sagu. Tapi nggak yakin juga, kalau dikasih mungkin malah kabur, hahahaha.”

Situ Patengan, Bandung (Maret 2013)

Situ Patengan, Bandung (Maret 2013)

Terkait travel photography, menurut Mas Wahyu foto traveling yang bagus dan indah itu yang  gimana sih? Bagaimana cara membuat / memfotonya?

“Yang ini juga berat pertanyaannya, sampai kapanpun tidak akan ada rumus pasti. Traveling itu banyak aspeknya, dari alam, budaya, arsitektur, kuliner, daily life, dsb. Kalau boleh saran, jadikanlah travel photography sebagai media komunikasi, usahakan agar foto yang anda ambil bisa bercerita mengenai tempat yang disinggahi. Tentu saja lebih baik lagi jika komposisinya ok, detailnya ok, exposurenya ok, dan sebagainya.”

Saya sering melihat hasil foto, terutama landscape, yang sangat indah, tetapi saya merasa foto tersebut “to good to be true” dalam artian mungkin berlebihan dalam proses editing-nya. Untuk foto yang seperti ini, menurut Mas Wahyu gimana?

“Editing itu tergantung peruntukkan dan selera. Kalau foto tersebut dibuat sebagai media seni, editing bisa digunakan untuk dramatisasi dan memberikan efek surrealisme (bisa dicari di internet dengan keyword “surrealist landscape photography”). Tetapi kalau untuk foto landscape yang normal, apalagi untuk brosur atau media (majalah, koran, dsb), sepertinya lebih tepat kalau editing sewajarnya saja.”

Foto Favorit: Sangiang, Banten (Oktober 2012)

Foto Favorit: Sangiang, Banten (Oktober 2012)

Sekian hasil wawancaraku dengan @w_dhars, seorang fotografer yang mengaku amatir tapi rajin sekali menulis buku. Seluruh foto yang ada dalam artikel ini adalah hak milik Wahyu Dharsito yang dikirimkan bersama atau setelah wawancara. Artikel ini telah mendapatkan persetujuan dari Wahyu Dharsito untuk diterbitkan. Akhir kata, “Every professional should remain always in his heart an amateur.” 🙂

Comments: