@saputraroy, Orang Gila Profesional Dari Cubicle Paling Pojok

@saputraroy, Orang Gila Profesional Dari Cubicle Paling Pojok

@saputraroy, Orang Gila Profesional Dari Cubicle Paling Pojok

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 306 orang.

@saputraroy memiliki nama asli Roy Saputra. Dia adalah seorang anak bontot yang lahir pada tanggal 14 September 1985, tepat 5 tahun setelah kedua orangtuanya menikah. Roy, seseorang yang mengaku sebagai orang gila profesional ini sesungguhnya adalah pekerja kantoran yang bekerja dari jam 8 pagi sampai selesai. Selesainya kapan, Om? “Entah kapan”, jawabnya. Sebagai pekerja kantoran, Roy diberikan tempat kehormatan di cubicle paling pojok, dekat pantry.

Kalau kalian coba googling, ada sekitar 893,000 orang dengan nama Roy Saputra. Ada yang berprofesi sebagai MC di acara pernikahan, juragan pakan ternak, sampai dengan @roysaputra yang terakhir nge-tweet di bulan April 2011. “Mubadzir banget yak?”, tanyanya. Sampai artikel ini diterbitkan, gue masih bingung yang mubadzir itu yang mana, 892.999 Roy Saputra yang lain atau cuma yang terakhir nge-tweet di bulan April 2011 itu?

Roy Saputra Saat Menonton Pertandingan Liverpool di Kuala Lumpur, Malaysia

Roy Saat Menonton Pertandingan Liverpool FC di Kuala Lumpur, Malaysia

katakdankodokbersaudara.wordpress.com adalah tempat pertama kali Roy mencurahkan segenap pemikirannya, sebelum akhirnya berganti menjadi saputraroy.com. Ketika gue konfirmasi perihal pergantian domain ini dan kemungkinan bahwa katak dan kodok sudah tidak bersaudara lagi sehingga dia menggantinya, Roy menjawab:

“katakdankodokbersaudara sudah ga dipakai lagi karena kepanjangan. Sumpah, ribet banget nyebutinnya kalau ada orang yang nanya alamat blog gua apa. Akhirnya dipersingkat jadi saputraroy.com. Kenapa ga roysaputra.com? Karena kalau roysaputra.com itu terdengar serius banget, padahal isi blog gua sebagian besar caur-maur gemah-ripah loh jinawi. Jadi disesuaikan deh.”

Diantara sekian banyak buku yang sudah ditulis oleh Roy Saputra, yang gue tahu -tapi belum pernah baca- adalah Trave(Love)ing. “Trave(Love)ing adalah novel yang terinspirasi dari kisah nyata. Isinya tentang 4 orang sahabat yang melakukan perjalanan demi bisa move on dari mantan masing-masing. Ada yang ke Bali, Kuala Lumpur, Bangkok, bahkan Dubai.”, kata penghuni cubicle paling pojok ini.

Setelah sukses dengan “Trave(Love)ing”, di tahun 2013 ini rencananya Roy akan merilis Trave(Love)ing 2. Sebelum gue bertanya apakah Trave(Love)ing 2 ini adalah kelanjutan dari yang pertama, Roy menjawab, “Bukan kelanjutan, tapi estafet ke pencerita-pencerita baru dengan tema yang serupa tapi tak sama. Kalau mau tahu update-an terkini proses penerbitan Trave(Love)ing 2, bisa pantau blog gua.”

Roy Saputra dan Teman-temannya Saat di Belitung

Roy dan Teman-temannya Saat di Belitung

Terkait cara menulis travelogue yang baik, Roy berpendapat bahwa setiap orang punya selera dan gayanya masing-masing. “Kalau gua sih biasanya menulis dari pengalaman gua pribadi yang diselipkan informasi terkait traveling itu sendiri. Istilahnya, gua coba menyampaikan informasi lewat alam bawah sadar kalian. Cailah.”

Bagi Roy, “Traveling itu menyenangkan, karena bisa melihat dan belajar hal-hal yang baru. Namun yang paling menyenangkan adalah, dengan traveling, kita bisa tahu siapa diri kita sesungguhnya.” Pertama kalinya Roy traveling -dengan kesadaran penuh- adalah waktu dia pergi ke Medan untuk mencari semangkok bakmi, di tahun 2009 yang lalu. Sejak saat itu, Roy jadi rutin traveling. “Minimal 2 kali setahun”, tambahnya. Jarak traveling Roy yang paling dekat adalah Bogor dan yang paling jauh ke Bangkok. Traveling ke kantor ga dihitung, Om? #ehhh

Hampir sama dengan gue, Roy juga adalah pemburu promo tiket pesawat. Kami sama-sama tergiur dengan tawaran promo Early Bird-nya Garuda Indonesia di tahun 2012 yang lalu. Perbedaannya adalah, gue beli tiket Jakarta – Balikpapan PP, sementara dia beli tiket Jakarta – Denpasar PP. Hebatnya, jadwal penerbangan Roy ke Denpasar (Bali) adalah pada saat Nyepi 2013. Traveling ke Bali pas Nyepi? Serius, Om? Di hotel aja dong jadinya? Roy pun dengan tenang menjawab:

“Akhirnya kami kabur ke Gili Trawangan (Lombok)! Jadi ga Nyepi-an di Bali” 😛

Njrit!!! Ga jadi ngeledekin deh gue.

Tenda Siang Hari

Tenda Siang Hari

Meski dalam Trave(Love)ing Roy menuliskan cerita tentang terjebaknya dia pada masa lalu saat ingin menonton kesebelasan pujaannya beraksi di Kuala Lumpur, ternyata destinasi traveling yang paling berkesan justru adalah saat dia ke Singapura pada tahun 2010 yang lalu. “Baru kali itu gua berhasil memberangkatkan keluarga inti dengan biaya sendiri untuk jalan-jalan ke luar negeri. Pencapaian yang menyenangkan”, ujar penggemar klub sepakbola Liverpool ini.

Namun demikian, saat Roy traveling ke Boracay, Filipina, dia merasa itu adalah pengalaman yang paling buruk. Kurangnya persiapan membuat Roy dan teman-temannya tidak mencari tahu kondisi cuaca disana seperti apa. Akhirnya selama disana, hujan deras turun sepanjang hari dan membuat mereka ga bisa kemana-mana. “Bahan pembelajaran lah”, katanya.

Roy Saputra dan Orangtuanya di Universal Studio, Singapura

Roy dan Orangtuanya di Universal Studio, Singapura

Roy ingin sekali ke Danau Kelimutu yang terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. “Rasanya ajaib banget ada danau yang bersebelahan tetapi warnanya berbeda-beda”, dia berkomentar. Sayangnya, Roy belum tahu kapan dia akan kesana. “Ini masih angan-angan”, jawabnya sambil tertawa. Mau bareng gue ga, Om? Tanggal 4 – 5 Juni nanti gue kesana lho. 😛

Soal kuliner Indonesia, Roy sangat suka dengan makanan yang pakai babi. Dia beralasan, “Babi kalau mentah itu haram, tapi kalau matang harum. Sejauh ini makanan paling enak yang pernah gua makan adalah Bakmi Khek di Medan. Maknyus tudemeks.” Sementara kuliner Indonesia yang paling aneh yang pernah dia makan adalah otak sapi. “Meski banyak tersedia di restoran Padang, tapi belum pernah sekalipun gua pesan. Karena terdengar ngajak berantem banget deh. ‘Uda, punya otak?'” *hening*

Bakmi Khek, Makanan Paling Enak Bagi Roy

Bakmi Khek Medan, Makanan Paling Enak Buat Roy

Roy berharap agar sarana dan prasarana yang menunjang pariwisata nasional terus membaik, terutama akses menuju ke tujuan-tujuan wisatanya. “Masih banyak keindahan Indonesia yang belum ramai pengunjung, karena untuk menuju kesana aja sulit. Semoga pariwisata Indonesia semakin maju dengan akses yang semakin mudah.” Amin. Harapan kita sama kok, Om.

Sekian hasil wawancara gue dengan Roy Saputra a.k.a @saputraroy, orang gila profesional dari cubicle paling pojok. Seluruh foto yang ada dalam artikel ini adalah hak milik @saputraroy yang dikirimkan bersama atau setelah wawancara. Artikel ini telah mendapatkan persetujuan dari Roy untuk diterbitkan. Btw, jangan ajak Roy buat minum kopi ya, serius deh. 🙂

Comments: