@exploresolo, Lebih Dari Sekedar Trip Organizer

@exploresolo, Lebih Dari Sekedar Trip Organizer

@exploresolo, Lebih Dari Sekedar Trip Organizer

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 413 orang.

@exploresolo berdiri pada bulan Mei tahun 2010 dengan tujuan untuk mengenalkan destinasi wisata petualangan alam dan budaya di Indonesia, sekaligus memberikan fasilitas informasi dan jasa paket wisata bagi para wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata di Indonesia. Selain itu, “Explore Solo” juga melakukan kampanye untuk wisata ramah lingkungan, menjaga kelestarian alam, mengenal kebudayaan lokal dan mengajarkan menjadi wisatawan yang bertanggung jawab. Situs web “Explore Solo” dapat diakses di exploresolo.com.

Meskipun berdirinya “Explore Solo” diprakarsai oleh Taufiq Al Makmun dan M. Yusuf, tetapi sejak awal berdirinya personil “Explore Solo” berjumlah 5 orang, yaitu Taufiq, Yusuf, Kris, Feri dan Hemy. Seiring dengan perjalanan, Kris dan Feri resign di awal tahun 2012 sehingga tersisa 3 personel. Demi meningkatkan pelayanan kepada pengguna jasanya, “Explore Solo” pun membuka recruitment dan saat ini timnya berjumlah 8 orang.

Tim Explore Solo (Awal)

Tim Explore Solo (Awal)

Sebelum menjadi sebuah trip organizer, pada awalnya “Explore Solo” memulai sebuah proyek situs web non-komersial berbahasa Inggris (www.explore-solo.webnode.com), untuk memberikan panduan kepada para traveler atau pun masyarakat umum yang ingin melakukan perjalanan di Kota Solo, Jawa Tengah. Proyek tersebut didasari pada observasi mereka bahwa saat itu web yang informatif tentang Kota Solo, yang berbahasa Inggris, masih sangat terbatas, bahkan sampai saat ini.

Bagaimana proses berdirinya Explore Solo? “Karena Taufiq dan M. Yusuf memiliki hobi traveling dan sering dimintai tolong oleh beberapa orang teman untuk menemani ketika jalan-jalan, akhirnya mereka mencoba lebih serius dengan mendirikan “Explore Solo”, yang pada saat itu diharapkan dapat meng-organize teman-teman yang ingin traveling dengan budget yang masuk akal dan tentunya menjadi wisatawan yang tahu akan destinasi yang dikunjunginya serta bertanggungjawab”, ungkap mereka.

Tim Explore Solo (2013)

Tim Explore Solo (2013)

Saat ini “Explore Solo” mempunyai 15 destinasi trip, yaitu ke Taman Nasional Baluran, Pulau Belitung, Kawah Bromo, Kepulauan Derawan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kawah Ijen, Kepulauan Karimunjawa, Pulau Komodo, Lombok – Gili Trawangan, Pulau Menjangan (Bali), Pacitan, Pulau Samosir – Danau Toba, Kota Solo, Pantai Tanjung Bira – Karst Rammang-rammang (Maros), dan Taman Nasional Wakatobi. Trip yang paling banyak diminati adalah trip ke Kepulauan Karimunjawa, Kawah Bromo dan Taman Nasional Wakatobi.

Selain trip berjadwal, “Explore Solo” juga menerima request trip yang biasanya merupakan permintaan dari rombongan keluarga, instansi pemerintah, perusahaan, atau pun dari perguruan tinggi. Jumlah peserta request trip yang paling banyak yang pernah di organize oleh “Explore Solo” adalah 40 orang , yaitu pada saat mengantar mahasiswa arsitek Universitas Negeri Solo (UNS) ke Singapura. “Tetapi untuk wisata alam, kami tetap mempunyai komitmen untuk melakukan small group journey, dengan alasan, selain kami bisa lebih memperhatikan dan memberikan informasi kepada peserta, kami juga bisa mengontrol peserta trip dengan lebih baik dalam berinteraksi dengan alam. Bagi kami, memberikan pengalaman, kesan dan pesan selama perjalanan sangat penting. Dari situlah kedekatan kami dengan para traveler terbangun, bahkan tidak sedikit loyalis repeater dari trip kami, baik individual maupun instansi, baik itu di regular trip maupun on request“, papar mereka.

Request Trip ke Singapura (Explore Solo)

Request Trip ke Singapura

Survei destinasi menjadi suatu keharusan ketika “Explore Solo” mau membuka destinasi trip baru. Beberapa pertimbangan utama ketika mereka ingin membuka destinasi baru adalah daya tarik destinasi tersebut, aksesibiltas, sarana prasarana, potensi risiko perjalanan, dan sumber daya manusia di destinasi tersebut. Namun demikian, tidak setiap destinasi yang telah mereka survei nantinya menjadi sebuah destinasi trip baru, Nusa Kambangan di Cilacap contohnya. “Partner lokal menjadi salah satu tolok ukur penting bagi kami, bersahabat dan bekerjasama dengan potensi lokal adalah salah satu cara kami untuk ikut melibatkan dan mengembangkan kemampuan lokal”, kata tim “Explore Solo”.

Pada awal tahun 2011 tim “Explore Solo” membuat sebuah e-book tentang Kepulauan Karimunjawa yang di upload di Scribd dan Ziddu kemudian link-nya disebarkan di Twitter, Facebook, Kaskus dan beberapa travel writer teman mereka. Seminggu kemudian, Yusuf, salah satu tim “Explore Solo”, dihubungi oleh seorang staf ahli di Balai Taman Nasional Karimunjawa (BTNKJ) dan diminta untuk datang ke Kantor Pengelola BTNKJ di Semarang. Berawal dari situlah akhirnya tim “Explore Solo” menjadi mitra BTNKJ untuk menulis beberapa buku panduan, termasuk tentang “Trekking Hutan Mangrove Karimunjawa” dan yang terakhir adalah leaflet Panduan Wisata Taman Nasional Karimunjawa yang dicetak sebanyak 20 rim.

Leaflet dan Buku Tentang Karimunjawa (Explore Solo)

Leaflet dan Buku Tentang Karimunjawa

“Explore Solo” pernah muncul di majalah “National Geographic Traveller Indonesia” Edisi Vol. 3 No. 10 Bulan Oktober 2011 pada rubrik “Pejalan Cerdik”, yang akhirnya tim “Explore Solo” direkomendasikan sebagai salah satu penyedia jasa wisata unik dan menarik di Indonesia. “Majalah Panorama” juga pernah mengundang tim “Explore Solo” pada acara “SocMedFest 2011” sebagai narasumber untuk sharing tentang bagaimana cara melakukan perjalanan ala backpacker.

Selain itu, tim “Explore Solo” juga pernah diminta menemani liputan salah satu stasiun televisi swasta nasional, ANTV, ke Kepulauan Karimunjawa, Bromo dan Taman Nasional Baluran. Tidak ketinggalan juga liputan tentang Kota Solo yang diminta oleh MetroTV. Beberapa media lain yang pernah meliput tim “Explore Solo” adalah Harian Solopos, Kontan dan mengisi sesi “Talkshow Wisata” di Solopos FM.

Beberapa Liputan Media

Beberapa Liputan Media

Saat sedang snorkeling, diving, atau hiking, hal-hal apa saja sih yang ga boleh dilakukan? “Pada saat snorkeling ataupun diving jelas yang tidak boleh dilakukan adalah memegang ataupun menginjak terumbu karang dengan sengaja. Sementara pada saat hiking dan jungle trekking, kami sangat tidak menganjurkan untuk membuang sampah sembarangan serta menyakiti flora dan fauna dengan sengaja atau mengganggu proses alamiah kehidupan suatu ekosistem, apalagi membawa pulang pernak-pernik dari alam”, jawab mereka.

Meskipun “Explore Solo” adalah trip organizer, mereka sering memberikan informasi tentang cara solo traveling ke suatu destinasi wisata. Ga khawatir orang malah jadi kesana sendiri tanpa ikut trip kalian? Mereka menjawab:

“Sesuai dengan tujuan awal kami, bahwa sharing pengalaman yang kami miliki sangat strategis dalam mempromosikan dan bahkan mengedukasi traveler tentang indahnya alam Indonesia, sekaligus pentingnya untuk tetap menjaga keindahan itu seperti aslinya. Bagi kami justru menjadi kebanggaan untuk bisa share informasi, efeknya adalah kami di dengar dan di percaya. Terlebih lagi, kami berkesempatan menyampaikan ide-ide perjalanan wisata kreatif ala kami. Kami tidak takut, toh memberikan informasi juga bisa kami jadikan sebagai sarana promosi juga. Kami merasa lebih dekat dengan pasar kami dan tidak terjauhkan. In short, kami tidak khawatir. Bahkan akun @XPKarimunjawa  milik kami malah lebih dianggap sebagai akun penyedia informasi tentang Kepulauan Karimunjawa daripada penyedia jasa wisata jika melihat jenis pertanyaan yang ditujukan kepada kami selama ini.”

Green Basecamp-nya Explore Solo

Green Basecamp-nya Explore Solo

Sebagai trip organizer, “Explore Solo” selalu berulang mengunjungi suatu destinasi, namun demikian tetap saja ada hal unik yang mereka temui. Saat mengunjungi Pulau Tomia di Taman Nasional Wakatobi, mereka mempunyai pengalaman yang berkesan dan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa: Kang Eman yang mengkampanyekan local genius system tentang cara berburu ikan dengan bubu yang ramah lingkungan serta ide bank ikannya; Ningsih, remaja Tomia yang mempunyai mimpi-mimpi besar dan semangat belajar yang tinggi didukung kecerdasannya; anak-anak Tomia yang haus bacaan sehingga menginspirasi mereka untuk melakukan “Bookdrive for Children of Tomia” pada perjalanan mereka berikutnya ke Pulau Tomia; bertemu dengan ratusan paus pilot yang mengikuti kapal mereka; dan salah satu kesan yang tak terlupakan adalah saat mereka terkena badai laut di kepulauan ini.

Trip organizer sekelas “Explore Solo” pun tentu punya pengalaman buruk saat traveling, mulai dari ketinggalan pesawat karena terlambat, salah hari datang ke bandara, sampai terjatuh dari kuda ketika di Bromo. Lainnya, lebih sering karena cuaca buruk seperti terhantam badai Sangiya ketika menggunakan kapal kayu dari Pulau Tomia menuju Pulau Wangi-wangi di Wakatobi hingga kapal tidak berlayar sesuai jadwal karena kondisi cuaca di laut. Selain faktor cuaca, faktor keamanan dan kriminal juga sempat mereka alami, bahkan anggota tim mereka yang perempuan pernah mengalami pelecehan saat melakukan perjalanan sendiri. Hal ini tentu bisa dijadikan pelajaran, khususnya bagi perempuan, yang melakukan solo-traveling agar lebih ekstra menjaga diri. “Mungkin masih banyak (pengalaman buruk), tapi justru itu menjadi bumbu perjalanan dan petualangan kami. Kami pun tidak kapok. Bandel sih ya”, jawab mereka sambil tertawa.

Book Drive for Children of Tomia, Wakatobi

“Book Drive for Children of Tomia”, Wakatobi

Masing-masing anggota tim “Explore Solo” berbeda selera dalam hal kuliner khas Indonesia. Ada yang menyukai makanan kaya rempah seperti coto atau kari, ada yang menggilai makanan pedas, dan ada pula yang menghindarinya. Namun demikian, 4 anggota tim mereka memfavoritkan Ayam Taliwang (makanan khas Lombok) yang dilengkapi dengan sambal Beberok yang terbuat dari terong mentah serta plecing kangkung. “Juara 1 deh pokoknya!”, ujar 4 orang tersebut.

Kuliner Indonesia apa yang paling aneh / ga enak menurut selera “Explore Solo” dan kenapa? “Apa ya?! Oh, ada nih. Sekali lagi, selera itu relatif ya. Makanan ekstrim, jadi tidak pernah dan tidak berminat untuk mencoba. Waktu di Manado, kami sengaja menyempatkan waktu untuk jalan-jalan ke pasar tradisional Karombasan. Efek yang ditimbulkan setelah kami kesana adalah kami kehilangan nafsu makan seharian. Bisa dibayangin dong, cuci mata di pagi hari dengan pemandangan tikus potong, kelelawar bakar, ular fillet, moncong babi segar dan anjing guling.” Ada yang mau membayangkan? *Gue sih ga deh*

Babi Karombasan dan Ayam Taliwang

Babi Karombasan dan Ayam Taliwang

“Explore Solo” berharap agar Indonesia tidak hanya dikenal Bali-nya saja. Mereka menambahkan:

“Yang lebih penting adalah porsi perhatian dari penyelenggara negara untuk semakin sadar bahwa potensi wisata di Indonesia jika dikembangkan tidak akan mampu disaingi atau di rebut pasarnya oleh negara lain. “Karena inilah karakter dan kekuatan Indonesia. Keindahan dan kekuatan potensi alam.

Saat ini wisata di Indonesia, khususnya wisata alam berkembang oleh peran-peran swasta dengan sedikit sentuhan regulasi pemerintah, khususnya dalam melindungi alam itu sendiri. Harapan kami ada perhatian lebih, sekalipun itu dengan membatasi hadirnya wisatawan ke suatu destinasi tertentu. Kami berharap akan banyak muncul informasi-informasi pariwisata yang tidak hanya sekedar menabur informasi daya tarik tetapi juga edukasi tentang rapuhnya alam jika tidak dijaga, kami mendukung informasi pariwisata yang jujur dan mengkampanyekan interaksi yang bertanggungjawab. Karena bagi kami selaku penyedia jasa wisata, ketahanan keindahan alam berarti jaminan kelangsungan jasa wisata kami lebih lama.”

Sekian hasil wawancara gue dengan @exploresolo, salah satu trip organizer favorit gue. Seluruh foto yang ada dalam artikel ini adalah hak milik “Explore Solo” yang dikirimkan bersama atau setelah wawancara. Artikel ini telah mendapatkan persetujuan dari “Explore Solo” untuk diterbitkan. Akhir kata, mari kita menjadi wisatawan yang bertanggungjawab. 🙂

Comments: