Siapa sih @efenerr itu?

Siapa sih @efenerr itu?

Siapa sih @efenerr itu?

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 299 orang.

Nama lengkapnya Farchan Noor Rahman. Pria berjenggot lebat yang oleh teman-teman dekatnya biasa dipanggil “Sinchan” ini mengaku sebagai seorang PNS di Direktoral Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Selain hobi menerima pertanyaan terkait peraturan perpajakan atau pengaduan terhadap pelayanan publik dan menyelesaikannya, ia juga hobi jalan-jalan dan menulis, entah itu di blog pribadinya atau di majalah-majalah.

Meski aku sudah cukup lama mengenalnya di Twitter, namun kami baru bisa bertemu secara langsung beberapa bulan lalu di sebuah convinence store yang ada di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Saat itu ia bersama dengan seorang perempuan yang aku sinyalir sebagai seseorang yang berhasil “memaksanya” berhenti untuk melakukan perjalanan dari hati ke hati. Dari gosip yang beredar, mereka akan menikah bulan depan di Bandung. Akankah @ridwankamil menjadi saksi pernikahan mereka? Kita tunggu saja perkembangannya di @efenerr atau http://www.efenerr.com/.

Sebagai seorang anak pegawai BUMN yang rutin pindah daerah kerja sesuai dengan jabatan yang ayahnya emban saat itu, Farchan kecil sangat menikmatinya karena sang ayah cukup sering mengajaknya pelesir, meski ia juga sangat menyayangkan karena hal itu menyebabkan frekuensinya bertemu dengan sang ayah jadi cukup jarang. “Boleh dibilang kurang interaksi bapak ke anak”, tambahnya.

Lalu bagaimana dengan teman-teman, bukankah berpindah-pindah tempat tinggal saat masih kecil membuat kita jadi cenderung tidak punya teman dan ada kisah apa di Magelang? Ia menjawab, “Magelang adalah daerah tumpah darah saya, bukan tempat lahir memang tapi di sanalah ‘rumah’ saya yang sesungguhnya, di mana hati saya berlabuh, keluarga-keluarga saya tinggal. Kalau teman tetap tidak terlalu berpengaruh sih, alhamdulillah sampai sekarang saya punya teman-teman tetap yang terus berhubungan walaupun sudah pindah-pindah.”

Sunrise di Pos Mati, Magelang, Jawa Tengah

Sunrise di Pos Mati, Magelang, Jawa Tengah

Di sebuah acara bedah buku beberapa bulan yang lalu, seorang pembawa acara pernah memberikanku sebuah pertanyaan sulit, yaitu “Anda lebih suka disebut / dikenal sebagai apa?” Pertanyaan ini menjadi sulit bagiku karena aku tak pernah berpikir mau menjadi apa atau dikenal sebagai apa. Bagaimana dengan Farchan? “You name it saja, Ton. Saya bebas orang mau menganggap saya apa, boleh PNS, boleh travel blogger. Saya tidak masalah orang mau menganggap saya apa, itu urusan mereka. Buat saya yang penting saya bisa memberikan yang terbaik saat menjadi apapun.”

Meski cukup sering menerima tawaran pekerjaan sampingan dari digital agency dan klien lain untuk publikasi iklan via blog atau Twitter, ia tidak menganggap penghasilan yang ia terima dari situ sebagai penghasilan tambahan. “Anggap saja sebagai uang jajan tambahan. Sementara rejeki utama dari menjadi PNS sudah cukup untuk hidup di Jakarta dengan segala hiruk pikuknya”, ujarnya di suatu pagi melalui surel. Tak heran ia tumbuh sebagai pria tambun jika penghasilan tambahan yang cukup besar itu hanya ia anggap sebagai “uang jajan” saja, uang jajan tambahan lagi.

Sebagai seseorang yang cukup rajin traveling dan menulis, sekitar sebulan yang lalu ia berhasil menulis sebuah buku yang berjudul Backpacking Jepang. Alih-alih menulisnya agar ia semakin terkenal dan dipuja-puja oleh banyak traveler lain, ia justru mengatakan bahwa menulis buku merupakan sebuah tantangan baginya. Padahal, menulis di blog pun punya tantangan tersendiri, kan? Ia menjawab,

“Di blog itu bebas, aturan yang menetapkan adalah si empunya blog sendiri. Mau berapa karakter, berapa kata mau cerita tentang apapun itu bebas. Tapi jika menulis di majalah kita akan terikat aturan redaksional yang mereka tetapkan.

Soal nulis buku itu prosesnya panjang, karena saya perfeksionis sekali soal data. Yang jelas sih karena bentuknya buku maka saya tak bisa main-main, supaya pembaca pun ketika membelinya tidak kecewa.”

Farchan mengatakan bahwa ia pernah diberi tahu bahwa sebelum menulis 1 halaman, alangkah baiknya kita membaca dulu 1 buku dan prinsip ini selalu ia jadikan pegangan. “Memang sebelum menulis kita harus punya banyak wawasan, banyak sumber sehingga saat menulis kita bisa menulis dengan baik dan benar. Dalam konteks travel writing tulisan yang benar adalah yang faktual; menjelaskan keadaan yang sesungguhnya. Soal gaya bahasa bisa saja nomor sekian”, tandasnya.

Lalu buku apa atau siapa penulis / blogger favorit Farchan? “Kalau buku untuk Indonesia saat ini masih 3 serial milik Agustinus Wibowo (Garis Batas, Selimut Debu dan Titik Nol). Untuk blog saya suka punya Mas Nuran Wibisono dan Mbak Ary Amhir. Kalau penulis saya memfavoritkan Norman Edwin (almarhum).”

Beberapa hari yang lalu, di Twitter, aku sempat membahas mengenai terminologi kata “profesional”, dalam konteks travel blogger, yang selalu dilekatkan dengan menghasilkan uang / dibayar. Namun tidak demikian dengan Farchan, ia justru merasa sedikit geli jika soal profesional selalu dikaitkan dengan uang, karena ungkapan profesional seharusnya lebih dilekatkan pada profesinya, bukan uangnya.

Lalu bagaimana dengan travel blogger yang ingin blog-nya menghasilkan banyak uang? Ia menjawab, “Buat saya begini, apa pun itu prosesnya akan panjang sekali, tidak bisa dalam semalam atau dalam sekedipan mata. Orang akan menilai konten tulisan dan dari effort masing-masing. Dan percayalah, setiap blog punya segmen dan fanbase-nya masing-masing.” Tampaknya ia lupa, blog-ku tidak punya fanbase sama sekali, kan?

Bakat untuk selalu berpindah-pindah tempat tinggal tampaknya sudah mendarah daging di tubuh Farchan yang mungkin saja “diwariskan” oleh ayahnya. Sebagai seorang PNS di Dirjen Pajak, ia rutin di-mutasi setiap 2-3 tahun sekali ke daerah baru, bahkan dalam 5 tahun terakhir ia sudah pindah lokasi kerja sebanyak 3 kali. Di suatu siang yang cerah sambil minum es teh manis yang aku beli di sebuah warteg, aku sempat bertanya apakah ia tidak lelah dan ingin menetap di satu tempat? Ia berkata, “Mungkin awal kepala tiga. Sepertinya harus menyiapkan segala sesuatunya dulu.”

Ini adalah Farchan dengan pelabuhan terakhirnya. Kamu?

rammang-rammang

Artikel ini telah mendapatkan persetujuan dari yang bersangkutan untuk diterbitkan. Seluruh foto yang digunakan dalam artikel ini adalah hak milik Farchan Noor Rahman yang dikirimkan bersama atau setelah wawancara.

2 thoughts on “Siapa sih @efenerr itu?

Comments: