Pemenang #NubieTraveller Monthly Blog Competition: “Pulang”

Pemenang #NubieTraveller Monthly Blog Competition: “Pulang”

Pemenang #NubieTraveller Monthly Blog Competition: “Pulang”

[kads group=”Post (Top)”]

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 395 orang.

NubieTraveller Banner - Pulang

Pulang Yang Usang

Oleh: @arman_dhani

Pada novelet Bukan Pasar Malam, Pramoedya Ananta Toer, menuliskan betapa perjalanan pulang adalah tentang menghadapi masa  lalu yang pelik dan jengah. Tidak ada keindahan di sana, yang ada hanya trauma, kebencian dan sedikit sisa ingatan masa silam. Tapi siapa yang bilang bahwa perjalanan melulu tentang keindahan?

Bagi saya perjalanan itu menyiksa, buang waktu dan melelahkan. Sepanjang kuliah lebih dari empat tahun saya melakukan perjalanan dari Sumatera, Bali, Nusa Tenggara sampai dengan Toraja. Kelelahan, waktu yang terbuang dan kebosanan membuat saya malas dan membenci perjalanan. Jika tak benar-benar harus saya merasa tak ingin melakukan perjalanan. Maka kadang saya merasa kagum pada mereka yang gemar melancong dan melakukan perjalanan.

Konon perjalanan adalah tentang meresapi pergerakan ruang sebagai hidup yang lain. Klise memang. Tapi bagi orang yang hanya merayakan kesempitan destinasi dan keriuhan banal, klise adalah apa yang mustahil mereka dapatkan. Perjalanan adalah soal bersenang senang, belajar atau bahkan berfilsafat memang urusan masing-masing. Tapi mengaku bijak setelah melancong tapi berpikir kerdil, bagi saya, adalah kedunguan yang lain.

Ada sekitar 68 naskah yang saya baca tentang “pulang”. Sebagian besar terjebak dengan kata pulang lantas lupa memaknai kata itu dalam cakupan yang lebih luas. Memang ada beberapa yang kemudian mengelaborasi kata itu sebagai kepergian yang lain, kematian juga kembali ke asal. Tapi bukan tentang itu saya memilih tema ini. Pulang adalah usaha menemukan kembali dirimu sendiri usai melakukan perjalanan.

Saya bukan bijak bestari, jelas, tapi saya tahu pada setiap perjalanan ada residu dari keberangkatan, tempat baru dan juga pengalaman yang tersisa. Ia tidak serta merta hilang. Ia akan melekat dan memberikan kamu khazanah baru dalam renjana menghadapi hidup. Tentu saya hanya bisa memilih satu dari sekian banyak itu. Tidak semuanya bagus, tidak semuanya jelek, tapi basa basi tidak akan membuat kalian dan saya belajar lebih baik bukan?

Saya benci kata tanah air. Ada yang fasis dan seolah selalu benar di dalamnya. Namun Huzer Apriansyah dalam “Pada Sebuah Kisah” membuat diksi itu menjadi sebuah kata yang setara dengan rumah juga keluarga. Barangkali demikian perasaan mereka yang sedang berada di luar negeri dan jauh dari rumah. Melakukan penjelajahan dengan jarak yang tidak dekat. Tapi bukan tentang itu Huzer menulis. Ia menulis tentang manusia yang dekat dengan kita, tentang kemiskinan dan bagaimana membuat kita belajar dari penderitaan yang lain.

Tak ada strata dalam penderitaan, namun Huzer menuliskan Kenya dengan duka. Untung sekali ia tak menulis melulu tentang kesedihan, seolah tak ada satupun harapan di sana. Ada keriangan, barangkali juga harapan. Kegembiraan yang fana. Tapi saya tahu, anda tahu, ada manusia-manusia yang tak diberikan pilihan untuk kemudian dipaksa menyerah. Sayang ia hanya menjadikan pulang sebagai gimmick, tak ada pulang yang saya inginkan di situ.

Foto dari artikel milik Huzer Apriansyah

Di sisi lain Putri Widia Sulastri melalui “Maaf, Saya Bohong” adalah sosok seorang petualang, pengelana, juga seorang manusia. Ia bicara tentang jarak, kebosanan, keberanian memilih juga tentang belajar dewasa. Saya memilih ia sebagai pemenang kompetisi kali ini. Ia menulis dengan menyenangkan dan segar. Terlepas ia adalah backpacker atau apapun ia mendefiniskan dirinya, saya menemukan hal yang indah dalam tulisannya. Sesuatu yang intim, egois, keras kepala dan sekaligus kelelahan.

Barangkali ia telah mencapai taraf dimana perjalanan bukan lagi soal posting foto di media sosial (atau masih?), barangkali ia telah belajar untuk kemudian menyadari bahwa perjalanan Cuma soal perpindahan ruang. Sisanya hanyalah remeh temeh yang dibesar besarkan trend sesaat, tapi penutup tulisan Putri Widia membuat saya terhenyak. “Kita adalah lingkungan kita. Dari semua tempat yang saya kunjungi dan orang – orang yang saya temui, saya paham satu hal, kebahagian itu bersifat relasional.

Foto dari artikel milik Putri Widia Sulastri

Secara pribadi tulisan favorit saya adalah @auliarizda yang mengingatkan saya pada fragmen lukisan Sir Peter Blake berjudul A Walk in the Tuileries Gardens. Pada “Sepanjang Stasiun-stasiun Metro” Aulia mengajak saya mengingat banyak nama, tempat juga percik pemikiran. Filsafat, kebudayaan populer juga sastra. Menyenangkan memang mengingat kembali Silvia Plath, David Foster Wallace, dan Imanuel Kant setelah bertahun lalu kamu tinggalkan karena bekerja pada korporasi.

Sayang Aulia lupa, ia bicara dengan publik yang tidak paham benar bahasa asing, juga tema poskolonial, yang hendak ia sampaikan. Ia jatuh dalam kategori snobs yang bermonolog tentang keriuhannya sendiri tanpa bisa berbagi lebih banyak. Tapi kepada Aulia, saya punya hadiah khusus, barangkali ia akan jatuh cinta pada Jack Kerouac atau Paul Theroux.  Atau bahkan keduanya memang telah ia lahap sebelumnya sebagai bacaan bermutu. Namun jika belum pernah membaca mereka, kabari saya siapa yang kamu sukai.

Huzer Apriansyah hampir pasti membuat saya memenangkan dia dengan telak, jika tentu saja, saya melewatkan Aulia Rezda dan Putri Widia Sulastri. Huzer bicara tentang sisi lain perjalanan yang membuat saya tercekat dan menyeringai. Ini adalah jenis reportase favorit saya, jurnalisme Gonzo yang jujur apa adanya. Sementara Aulia Rezda menuliskan artikelnya dengan perspektif yang lebih kontemporer dan mengingatkan saya pada Slavoj Zizek. Sementara Putri Widia Sulastri membuat saya betah membaca, berulang ulang literary, tulisannya yang bernas dan renyah itu.

Apa yang membuat tulisan perjalanan menjadi penting dibaca? Rebeca Solnit penulis Wanderlust, A History of Walking, menuliskan tentang perjalanan sebagai kunci peradaban. Bahwa melalui banyak catatan-catatan perjalanan yang dibuat para pejalan tadi, tidak melulu tentang keindahan atau jumlah stempel paspor atau aurora, tapi nilai yang bisa berguna bagi peradaban itu sendiri. Catatan perjalanan adalah sebentuk sumbangan untuk generasi setelahnya.

———-

Dengan demikian, juri (@arman_dhani) telah memilih @putriwidia sebagai Pemenang Pertama dan @kibas_ilalang sebagai Pemenang Kedua dalam #NubieTraveller Monthly Blog Competition: “Pulang”. Selain itu, juri pun memilih  artikel yang ditulis oleh @auliarizda sebagai artikel favoritnya dan berhak mendapatkan hadiah khusus darinya (silahkan kontak langsung via Twitter ya).

Juri (@arman_dhani), saya (@TravellersID) dan sponsor (@MyTravellin) mengucapkan selamat kepada seluruh pemenang, juga kepada seluruh kontestan yang telah mengirimkan artikelnya. Semoga masih berkenan untuk mengikuti kontes #NubieTraveller periode berikutnya.

Salam.

 

Comments: