Pemenang #NubieTraveller Blog Competition: “Awal-Mula”

Pemenang #NubieTraveller Blog Competition: “Awal-Mula”

Pemenang #NubieTraveller Blog Competition: “Awal-Mula”

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 169 orang.

2 bulan lebih #NubieTraveller Blog Competition ini berjalan dan sejauh ini, ini merupakan periode kontes yang paling lama yang pernah aku selenggarakan. Dengan tenggat waktu penulisan selama 2 bulan  penuh, ada 56 artikel yang diikutsertakan. Artikel yang masuk, bagiku, bukanlah artikel yang bisa dibilang biasa-biasa saja. Banyak sekali pengalaman, pelajaran dan angle, yang sebenarnya tidak baru, tapi jadi terasa baru karena belum banyak yang menggunakannya. Angle yang selama ini sering aku dengung-dengungkan yang melatar belakangi kenapa aku membuat kompetisi ini, yaitu bahwa semestinya cerita perjalanan itu haruslah tentang perjalanan, bukan tempat.

Karena ini adalah lomba blogging, tak adil rasanya jika kami hanya mengumumkan nama pemenang, tanpa memberikan sedikit ulasan tentang artikel para peserta, serta mengemukakan alasan kenapa seorang peserta, kami pilih sebagai pemenang. Ini adalah tulisan berisi ulasan terhadap beberapa tulisan untuk menilai mengapa sebuah tulisan berhak menjadi pemenang lomba menulis blog.

Flyer NubieTraveller Awal - Mula

Padamulanya Adalah Kegelisahan:
Catatan Penjurian NubieTraveller Blog Competition

Belum pernah kami merasa begitu sulit untuk menentukan siapa yang terbaik dalam sebuah kompetisi. Seringkali peserta lomba terpaku pada judul lantas abai pada substansi. Mereka berupaya keras untuk menyamakan tulisan dengan judul, tapi miskin kreatifitas dan imajinasi pada karya. Namun pada kompetisi kali ini kami harus bekerja ekstra keras, kami membaca satu demi satu blog yang disertakan dalam kompetisi ini. Banyak sekali penulis yang keluar dari zona nyaman deskripsi destinasi, lalu berganti pada menyigi pengalaman personal. Sebuah hal yang baru dan mengharukan.

Catatan perjalanan bagi kami bukan soal kemana, tapi apa yang kamu dapatkan dari perjalanan itu. Kami pertama membuka kisah dari @bukan_rastaman, ia menulis catatan perjalanan dengan cita rasa puitik nan indah. Atau karya @silviawidyaaa yang menuliskan bagaimana tragedi dan bencana mengubah kehidupan seseorang dan masyarakat. Mereka menulis catatan perjalanan dengan sangat segar dan berbeda.

Ada yang lucu dan segar disampaikan oleh @adirfrida. Kami percaya perjalanan bukan perkara jarak, jauh dan dekat itu persepsi. Ia menuliskan perjalanannya yang dekat dengan keriuhannya sendiri. Sementara @andspero berusaha menuliskan catatan perjalanan dengan nuansa edukasi. Ia memperkenalkan konsep ecogreen traveling, bahwa dalam perjalanan seseorang bisa ikut ambil bagian dalam kelestarian destinasi yang ia kunjungi.

Kami juga membaca dengan seksama kisah @evisaefiyah1 dan @ekairianto, tentang keberaniannya memulai sesuatu yang benar benar asing. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya, kadang jadi pengelana adalah soal menghadapi yang menjadi tanda tanya sendiri. Di sisi lain, @lalalamilla menunjukan bahwa kadang perjalanan adalah perihal berbagi kebersamaan dengan yang lain. Ia seolah merayakan pertemanan dengan melancong.

Kami kagum kepada @kanianingsih, seorang ibu yang menanamkan kecintaan akan perjalanan pada kedua anaknya sejak dini. Ia membuat kami ingin menjadi Ayah yang mampu mengajarkan kebaikan dengan tindakan dan bukan sekedar wacana. Lalu ada pula @rizkidwika dan @Pmmikhbal yang membuat kami kagum karena mereka menunjukan kecintaan pada warisan budaya. Keduanya menceritakan perihal candi-candi peninggalan masa lalu untuk diingat kembali.

Hal senada dilakukan pula oleh @AwanBisa dan @Dianmbe, namun keduanya bicara tentang wisata sejarah. Bagaimana monumen dimaknai sebagai tapal batas ingatan, penanda sebuah peristiwa yang telah lalu. Ini adalah hal yang baru dan segar, karena sangat jarang seorang pelancong bicara tentang monumen sejarah dalam catatannya. Sementara @wordgenic dan @Leylahana membuat kami kembali menyadari bahwa terkadang perjalanan adalah perihal meresapi, mengecap keadaan lantas menjadikannya sebagai bahan renungan. Catatan perjalanan yang indah dan dalam penuh makna.

Tapi ada dua tulisan yang benar benar membuat kami terpukau dan tak lelah membacanya berulang ulang. Kami membacanya lebih dari tiga kali, pelan dan takut melewatkan sesuatu. Tulisan karya @shallypristine membuat kami ingat bahwa terkadang perjalanan adalah upaya menghadapi rasa takut. Di sini ia bisa bicara tentang perjalanan, kebudayaan, diri sendiri dan destinasi dengan cara yang teduh dan subtil. Ia bicara seolah mengajak kami berjalan bersama, menyusuri malam, berbincang dari satu omong kosong ke omong kosong lainnya.

Tapi omong kosong itu adalah ruh, ia memberikan nyawa, memberikan kekuatan untuk kami dan dia terus berjalan. “Travel is a leap in the dark”, kata Paul Theroux dan @shallypristine menggenapi itu serupa karib yang peduli. Ia tahu keterasingan, rasa takut, kecurigaan dan kebebalan adalah sifat lahir manusia. Cara kita menghadapinya adalah dengan belajar dan terus belajar, ia belajar seiring dengan destinasi dan proses melancong yang penuh tanda tanya dan hal yang belum pasti.

Sementara @yofangga mengingatkan kami pada karya mahsyur Dante Aleghieri Inferno. Perjalanan menuju surga dan neraka. Metafora tentang Isra’ Miraj, tentang bagaimana sebuah perjalanan bisa jadi begitu profetik dan kudus. @yofangga menulis dengan sangat indah, ia tidak bertele-tele, tulisannya cenderung pendek jika dibandingkan dengan penulis yang lainnya. Namun yang pendek itu ia memberikan perspektif yang dalam, getir dan pahit.

Ia menulis seperti orang yang kalah, manusia manusia yang dikutuk untuk menyadari kedegilan sekitarnya. Barangkali Henry David Thoreau benar, bahwa “A traveler who looks at things with an impartial eye may see what the oldest inhabitant has not observed.” @yofangga melihat apa yang tidak dilihat oleh kebanyakan traveler, lantas merasakan pengalaman tersebut sebagai sebuah realitas yang lain, realitas yang membuat dirinya tercerabut dari identitasnya sebagai manusia.

Wisata dan perjalanan tak melulu perihal kebahagiaan, @yofangga menyadari ini dan menuliskan bahwa dalam kegembiraan kita saat melakukan perjalanan. Kadang ada penderitaan yang luput kita amati. Awal mula kesadaran inilah yang membuat kami berpikir, ia layak memenangkan kompetisi ini. Bukan karena yang lain tidak memenuhi kategori yang kami maksud, namun @yofangga menuliskannya sedikit lebih baik daripada yang lain.

Pada intinya, seluruh peserta telah memberikan bingkai yang indah tentang awal – mula, itulah yang berbeda. Hanya saja memang seperti di awal, ada ceruk-ceruk keindahan dan pembebasan dari sekedar destinasi tapi bagaimana mereka ulang pengalaman personal menjadi sebuah cerita yang menarik. Ada juga bagaimana membebaskan jarak, sebagai elemen tulisan perjalanan, membebaskan kekakuan dari tulisan perjalanan dengan memberikan nuansa baru, bahwasanya perjalanan adalah bagaimana soal mengisi hati, bukan menempuh jarak.

KATEGORI PEMENANG HADIAH
Pemenang 1 @yofangga Uang tunai Rp1.500.000,00
Pemenang 2 @shallypristine Uang tunai Rp750.000,00
Pemenang Favorit -1 @CicakKeren Uang tunai Rp250.000,00
Pemenang Favorit -2 @indahnesia30 Uang tunai Rp250.000,00

Kami percaya, seluruh karya tulis dalam lomba ini adalah cermin tulisan perjalanan yang makin kreatif dan berkembang di masa mendatang. Selamat untuk para pemenang. Ia, awal – mula yang tercipta adalah momen yang akan selalu dikenang. Awal – mula yang membebaskan dan membawa seseorang ke gerbang baru petualangan.

Dewan Juri,

@arman_dhani dan @efenerr

3 thoughts on “Pemenang #NubieTraveller Blog Competition: “Awal-Mula”

Comments: