Singapore: Berjalan Untuk Sunset

Singapore: Berjalan Untuk Sunset

Singapore: Berjalan Untuk Sunset

[kads group=”Post (Top)”]

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 256 orang.

Seorang komedian asal Amerika, Steven Wright, pernah berkata, “Everywhere is walking distance if you have the time.” Ya, kalau kita punya waktu (dan niat), jarak bukanlah sebuah halangan sekedar untuk mencapai tujuan. Kekuatan kalimatnya ada pada frasa “walking distance” yang berarti “dekat; bisa dicapai dengan jalan kaki” sehingga kalimatnya berarti “Ke mana pun itu dekat asalkan kita punya waktu.” Waktu, seringkali jadi alasan bagi sebagian orang untuk terburu-buru sehingga lupa melihat sekeliling. Dengan alasan “Kita tak pernah tahu waktu kita di dunia itu sampai kapan”, banyak yang menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan ala kadarnya. Dengan alasan waktu pula lah, kita membatasi apa yang harus dilihat / dilakukan di sebuah destinasi. Waktu dan jarak seolah menjadi momok bagi perjalanan manusia.

Dengan hati yang teguh, aku mulai melangkahkan kakiku keluar dari ABC Backpackers Hostel di area Bugis, Singapore. Aku yakin bahwa aku akan sanggup berjalan kaki dari tempat ini menuju Merlion Park. Toh dari hasil risetku dengan jelas menyatakan bahwa jaraknya hanya 2,3 Km saja. “Dekat lah. Aku pernah jalan kaki lebih jauh dari ini”, pikirku. Meski tak ada koneksi internet, selain mengandalkan jaringan wi-fi di hostel, aku tak takut tersesat karena aku punya peta off-line dari aplikasi “HERE Maps” di ponselku. Meski murah, ponsel Nokia #Lumia520 yang aku beli ini ternyata sangat menunjangku untuk melakukan perjalanan sekaligus menuntaskan pekerjaan. Pun hasil foto dari kameranya cukup memuaskanku.

Rute ABC Hostel Bugis - Merlion Park, Singapore

Rute Jalan Kaki ABC Hostel Bugis – Merlion Park

Setelah sempat sedikit tersesat karena salah ambil arah saat di underpass sebelum Esplanade, 45 menit kemudian aku sampai juga di Merlion Park. Dari atas jembatan aku melihat kerumunan puluhan turis yang sedang asyik berfoto dengan latar belakang Merlion dan tak jarang, setelah aku turun ke bawah, beberapa di antara mereka minta tolong untuk difotokan. Biasanya aku tak terlalu tertarik dengan objek yang terlalu tourisity seperti ini. Aku sengaja pergi ke Merlion Park karena temanku mengatakan bahwa hunting sunset di Marina Bay Sands itu bagus. Nyatanya, matahari justru terbenam di arah yang berlawanan. “Mungkin ia salah mengira sunrise sebagai sunset”, pikirku.

“Tak ada akar, rotan pun jadi” sering aku jadikan prinsip utama saat melakukan perjalanan. Bagiku, sunset itu seperti cinta, tak harus melihat langsung kejadiannya, pancarannya pun cukup, asal terasa. Karena itulah, tak ada matahari terbenam, pancaran sinarnya di langit pun jadi. Setelah puas mengambil foto Merlion dengan latar belakang sunset, aku pun menyebrang jalan ke arah kanan Hotel Fullerton, lalu duduk di bangku taman di pinggir jalan. 15 menit duduk dan sudah merasa cukup bosan, aku meneruskan perjalanan untuk kembali ke hostel, masih dengan berjalan kaki, namun dengan rute yang berbeda. Di sepanjang perjalanan pulang ini, aku mendapatkan 4 sunset view.

Sunset View in Singapore

Sunset View in Singapore

Di awal perjalanan tadi, perut laparku sempat memberi motivasi tambahan dengan “Siapa tahu nanti di jalan ketemu tempat jual makanan yang murah”, namun nyatanya aku tak menemukan tempat itu, atau lebih tepatnya, aku tak benar-benar berusaha mencari tempat itu. Toh aku pun tak merasa lapar lagi meski seharian ini belum makan. Mungkin sisa uang S$6 yang ada di dompet mampu menstimulus otakku untuk memberikan perintah kenyang kepada perutku, mungkin. Sekitar pukul 19.30 aku telah kembali ke area Bugis. Kali ini aku berjalan lebih santai sambil menikmati hiruk pikuk orang-orang yang sedang wisata kuliner. Di sebuah gang, aku tertegun sejenak melihat Masjid Sultan, langit di atas masjid yang sangat tersohor dan cukup besar ini menampakkan warna merah jambu bercampur ungu akibat pancaran matahari yang terbenam. Sama dengan yang sering aku lihat waktu di Flores. Indah. Syahdu.

Sunset di Masjid Sultan, Bugis, Singapore

Sunset di Masjid Sultan, Bugis, Singapore

Saat melakukan perjalanan, ketersediaan waktu bukanlah prioritasku. Toh aku sudah tak lagi jadi orang yang terobsesi pada destinasi sehingga harus mendatangi seluruh tempat dengan waktu yang aku punya. Aku berjalan karena aku ingin merasakan denyut nadi kehidupan di tempat itu, bukan denyut nadiku / adrenalin sendiri. Tak usah sungkan, perjalanan kita personal, karena itu cara jalan dan cara pandang kita terhadap sebuah perjalanan juga personal.

Jalan, yang saat ini maknanya menjadi bias dengan naik kendaraan (jalan ke mal, jalan, yuk!), bagi sebagian besar orang, sering jadi aktivitas yang melelahkan dan dianggap membuang-buang waktu. “Kalau ada yang mudah (naik kendaraan), kenapa harus dipersulit?” adalah kalimat sakti yang selalu digunakan sebagai argumentasi. Tak masalah bagiku, ini pilihan saja. Dan pilihanku hari ini untuk berjalan kaki, membawaku pada sebuah kota dengan sunset view terbanyak yang pernah aku lihat dalam satu perjalanan waktu. Cerita hari ini tentu akan jadi lain jika memilih untuk naik kereta atau bis umum. Esensinya, pilihan perjalanan yang kita ambil, akan membawa kita pada pengalaman tersendiri yang akan berbeda jika kita memilih jalan yang lain.

Dalam bukunya yang berjudul Stargirl, Jerry Spinelli mengatakan bahwa “Home is everything you can walk to.” Dan besok, lusa serta hari-hari selanjutnya, meski lelah, aku akan terus berjalan, menuju rumah.

Singapore, 14 Juni 2014.

Salam.

4 thoughts on “Singapore: Berjalan Untuk Sunset

  1. Kartika Paramita Klara

    “Toh aku sudah tak lagi jadi orang yang terobsesi pada destinasi sehingga harus mendatangi seluruh tempat dengan waktu yang aku punya…”
    Sering kali aku juga begitu 🙂
    Pelesir ke suatu tempat = bisa menikmati tidur dengan sukacita. Kapan lagi bisa tidur nyenyak di tempat selain rumah? Aku si tukang tidur yang suka pelesir 😀

Comments: