Meresapi Kearifan Budaya Lokal di Pasar Terapung Kuin

Meresapi Kearifan Budaya Lokal di Pasar Terapung Kuin

Meresapi Kearifan Budaya Lokal di Pasar Terapung Kuin

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 159 orang.

Orang yang pernah hidup di era 1990-an pasti masih ingat dengan Station ID RCTI dengan judul Pasar Apung. Station ID ini dipakai pada  tanggal 1 Januari 1992 hingga 22 Agustus 2006 dan 8 Agustus 2007 hingga 26 Mei 2008. Ketika lihat tayangan tersebut, gue berharap agar suatu saat bisa mengunjungi langsung tempat ini. Pagi ini (19 Desember 2012), harapan gue akan jadi kenyataan.

Pasar Terapung Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia

Pasar Terapung Kuin

Sebelumnya, yang gue tahu nama tempat ini adalah Pasar Apung, tapi belakangan gue baru tahu bahwa nama yang benar adalah Pasar Terapung. Di Banjarmasin setidaknya terdapat 2 Pasar Terapung, yaitu Pasar Terapung Kuin dan Pasar Terapung Lokba Intan. Masing-masing tempat memiliki keunikannya tersendiri. Jika Pasar Terapung Kuin selalu ramai setiap pagi, tidak demikian halnya dengan Pasar Terpaung Lokba Intan, ada hari-hari tertentu (hari pasaran) dimana pasar tersebut akan menjadi ramai. Selain hari pasaran tersebut, pasar akan relatif sepi.

Jembatan di Sungai Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia

Jembatan di Sungai Martapura

Dari Swiss Belhotel Borneo Banjarmasin, perjalanan akan membutuhkan waktu sekitar 30 menit. “Sebenarnya jaraknya tidak jauh, tapi karena kita lewat sungai dan harus mengikuti alur, jadi lebih lama. Lebih cepat lewat darat”, kata sang nahkoda kapal klotok. Dari hotel, gue cuma berangkat sendiri, berdua dengan sang nahkoda, menaiki kapal klotok berkapasitas hingga 50 (lima puluh) orang. Sambil memejamkan mata dan berimaginasi, gue anggap ini kapal pesiar pribadi. :D

Kapal Pertamina di Sungai Barito, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia

Kapal Pertamina di Sungai Barito

Karena hari masih gelap, ga banyak yang bisa gue lihat selama perjalanan, hanya sempat melihat sebuah kapal tanker milik PT Pertamina yang sedang berlabuh. Meski gelap, gue sempat merasa aneh dengan kondisi Sungai Barito ini, entah kenapa sungai ini tidak terasa seperti sungai, tapi seperti laut. Terasa sekali ombaknya yang cukup kencang yang mengombang-ambingkan kapal. Pemandangan kapal tanker tersebut pun cukup menguatkan asumsi gue bahwa tempat ini lebih layak disebut sebagai “Laut Barito” ketimbang Sungai Barito. Perlahan kapal klotok pun mulai memelankan lajunya dan sang nahkoda pun mengatakan bahwa kami sudah sampai.

Pasar Terapung Kuin (Subuh), Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia

Pasar Terapung Kuin (Subuh)

Tanpa berpikir panjang, gue pun segera menuju ke buritan untuk melihat suasana Pasar Terapung Kuin. Meski hari masih gelap, tapi sudah tampak belasan perahu kecil yang diisi oleh penjual bahan makanan, mulai dari makanan kecil, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Setelah mengambil beberapa buah foto, gue pun langsung naik ke atas kapal untuk menikmati suasana yang selama ini gue impi-impikan. Terlihat beberapa penjual yang berlalu-lalang di depan gue sambil menawarkan barang dagangannya. Sayang gue ga beli apa pun, bukan karena ga mau, tapi karena lupa bawa dompet. :-(

Berbagai Penjual di Pasar Terapung Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia

Berbagai Penjual di Pasar Terapung Kuin

Selain dipenuhi oleh puluhan penjual dan pembeli, pasar ini juga dipenuhi oleh puluhan wisatawan. Ada yang membawa kamera DSLR dengan lensa tele, ada yang sekedar berbelanja kuliner lokal, ada juga serombongan orang yang tampak seperti mahasiswa yang hanya ingin menikmati kearfian lokal ini, kayak yang gue lakukan. Beberapa pengunjung yang sadar mau gue foto pun lantas bergaya seakan ingin berbagi kebahagiaan. :-)

Berbagai Ekspresi Pengunjung, Pasar Terapung Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia

Berbagai Ekspresi Pengunjung

Selain penjual bahan makanan dan makanan kecil, di pasar ini juga terdapat penjual kopi dan Soto Banjar. Nama kapal penjual Soto Banjar ini adalah Warung Makan Goyang Terapung. Ya, tampaknya kalian akan bergoyang-goyang saat menikmati makanan khas Banjarmasin ini. Tak henti-hentinya gue tersenyum melihat keunikan yang ada di tempat ini. Benar-benar budaya yang harus terus hidup dan terjaga keasliannya sampai kiamat nanti.

Warung Makan Goyang Terapung, Pasar Terapung Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia

Warung Makan Goyang Terapung

Sekitar pukul 07.00 WITA, sang nahkoda pun mengajak gue untuk meninggalkan pasar ini dan kembali ke penginapan. Dalam perjalanan pulang, kami melewati lagi Sungai Barito. Benar saja, lebarnya sungai ini benar-benar tidak membuatnya terlihat seperti sungai.

Sungai Barito, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia

Sungai Barito

Sebenarnya gue belum puas menikmati tradisionalnya pasar ini, terlebih lagi karena harus kembali ke kota dimana orang-orangnya lebih asyik berlomba-lomba dalam modernisasi. Tetaplah tradisional wahai Pasar Terapung, jangan berubah hanya karena globalisasi atau pun modernisasi. Amin.

-3.30659272539517,114.5668888092041

Comments:

%d bloggers like this: