Nga-Riung di Flores

Nga-Riung di Flores

Nga-Riung di Flores

[kads group=”Post (Top)”]

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 123 orang.

“Kita mau makan malam di mana, Mas? Mumpung udah di luar jadi sekalian aja biar ga bolak-balik”, tanya Ve dengan logat jawanya yang kental. “Di mana ya, menurut info yang aku baca sih harus ke arah pasar kalau mau yang murah. Kalau di sekitar dermaga sini, apalagi yang bentuknya kayak kafe itu mahal.” jawabku. Akhirnya kami berempat berjalan ke arah pasar mencari penjual makanan. Jalan di sini sangat gelap, cahaya hanya bisa kami dapatkan dari lampu luar rumah milik penduduk dan sama sekali tidak ada lampu jalan. “Semoga ga ada orang yang naik motor tanpa menghidupkan lampunya dan menabrak kami”, harapku.

10 menit berjalan, kami sampai di pasar. Tak banyak pilihan penjual makanan di sini. Hanya terlihat sebuah rumah makan Padang dan warung bakso saja. Kami tak mungkin makan di warung Padang itu, karena tadi siang kami sudah makan di jenis warung yang sama. Kami pun beranjak menuju ke warung bakso. Setelah masuk, ternyata warung itu tidak hanya menyediakan bakso saja, ada juga soto dan nasi rames. “Cocok! Akhirnya bisa makan beneran”, ujarku senang. Bagiku, makan yang sebenarnya adalah ketika aku makan dengan nasi + sayur, terutama yang berkuah, meski tanpa lauk.

Violet Sunset di Dermaga Riung, Riung, Ngada, NTT, Indonesia

“Mas, ada yang ukurannya lebih kecil ga? Longgar nih fin-nya”, tanya Ve. Bang Arin pun kemudian pergi ke tempat penyewaan fin untuk mencari ukuran lain. 5 menit kemudian ia kembali dan berkata, “Wah ga ada nih yang lebih kecil. Mohon maklum ya, soalnya yang banyak ke sini itu turis asing dan ukuran kakinya besar semua. Jadi rental alat ya menyediakan yang banyak ke sini aja”. Sejenak aku tertawa dan merenung. Soal alat mungkin tidak prinsip, tapi fakta bahwa lebih banyak turis asing yang ke Riung, bahkan katanya hampir 90%-nya, membuatku sedikit trenyuh.

“Ini namanya Pulau Ontolowe, namun karena banyak kelelawarnya, turis menyebutnya dengan ‘Pulau Kelelawar’. Ada ribuan kelelawar di sini”, kata adik bang Arin. “Apa tadi namanya Bang, Ontolowe ya? Saya pakai nama itu saja. Orang Riung pasti punya alasan yang lebih baik memilih nama itu daripada turis yang tidak menetap di sini”, ujarku. Aku tak tahu pasti, tapi aku yakin ada ratusan nama / bahasa lokal yang hilang hanya karena turis menggantinya sesuka hati atau demi mudah mengingat? Pernah dengar sebutan “Pink Beach” yang disematkan pada sebuah pantai di Lombok Timur dan pantai lain di Pulau Komodo? Tahu nama asli pantai tersebut? Aku lebih bangga menyebutnya sebagai Pantai Tangsi dan Pantai Merah ke siapa pun, orang Indonesia atau pun orang asing. Kalian?

Kelelawar di Pulau Ontolowe, Riung, Ngada, NTT, Indonesia

Dari Pulau Ontolowe, kami melanjutkan perjalanan ke arah Pulau Tiga untuk snorkeling dan bersantai di sana. Pulau Tiga adalah sebuah pulau kecil dan tak berpenghuni. Pulau ini memiliki garis pantai yang cukup panjang yang dikelilingi beberapa tebing yang cukup curam. Pulau ini biasa digunakan sebagai tempat makan siang wisatawan. Biasanya mereka membakar ikan di sini sambil beristirahat sebelum melanjutkan penjelajahannya lagi. Seperti di Karimunjawa, kalau kalian pernah ke sana.

Bagian yang paling menarik buatku dari Pulau Tiga, bukanlah pantainya (meskipun aku pecinta pantai), tapi justru bukitnya yang cukup tinggi. “Kita bisa naik ke atas sana ga, Bang? Kayaknya asyik tuh dan pemandangannya pasti bagus”, tanyaku ke adik Bang Arin. “Bisa kok, tapi pakai alas kaki ya karena banyak duri dan batu yang cukup tajam. Tapi kita snorkeling dulu ya sebelum ke atas, di sekitar sini banyak ikan hiasnya dan terumbu karangnya pun berwarna-warni”, jawabnya.

Pantai Pulau Tiga, Riung, Ngada, NTT, Indonesia

Setelah puas snorkeling, kami menuju Pulau Tiga untuk menaiki bukit yang aku lihat tadi. Benar memang, sepanjang perjalanan ke atas banyak sekali batu dan kerikil yang cukup tajam. Bukit ini pun cukup curam dan licin karena banyak pasir dan rumput keringnya. Sesekali aku terpeleset meski masih bisa berpegangan pada batu-batu besar, namun tajam, yang ada di sekeliling. Biasanya aku tak suka naik ke atas bukit, meski bukit ini tak tinggi. Tapi bayangan akan indahnya pemandangan laut, pantai dan beberapa pulau lain di sekitar pulau ini dari atas sangat menggodaku. Ya, kita memang sering tergoda dengan sesuatu yang biasanya tidak kita sukai hanya karena bayangan akan keindahan akan kenikmatan. Namun untuk yang satu ini, aku rasa tak ada salahnya mencoba.

Pulau Tiga Hill View (1), Riung, Ngada, NTT, Indonesia

Cukup lama aku berada di puncak bukit ini bahkan berpikir untuk tetap di sini saja menikmati pemandangan hingga sunset nanti. Alasan klise sebenarnya. Aku tak ingin turun bukan hanya karena tak rela meninggalkan pemandangan indah ini, tapi juga karena aku yakin proses turun nanti tak semudah naiknya. “Jika naik saja aku sudah terpeleset, bagaimana saat turun? Belum lagi posisi badan untuk turun tak memungkinkan adanya batu yang bisa aku gunakan sebagai pegangan jika terpeleset”, pikirku.

Begitulah aku, dan mungkin manusia lainnya. Saat sudah di atas dan nyaman, turun adalah proses yang paling menyebalkan. Bayangan akan kondisi yang lebih sulit mampu menciutkan nyali, belum lagi soal kerelaan melepaskan kenikmatan yang didapat saat di atas, ini biasanya hal tersulit. Perlu kedewasaan dan kecerdasan mental / psikologis yang tinggi untuk mampu menerima bahwa turun bukanlah sesuatu yang menyebalkan, ia bagian dari proses. Karena biar bagaimana pun, “naik”, tak akan pernah eksis tanpa “turun”, dan sebaliknya. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Kabayan.

Puas menikmati Pulau Tiga, kami menuju ke Pulau Rutong yang letaknya tak jauh dari sini. Tampaknya hampir semua pulau kecil di Riung ini memiliki bukit karena di Pualu Rutong pun demikian. Sayangnya, bukit di pulau ini tidak bisa didaki karena terlalu terjal. Di sini kami hanya snorkeling dan bersantai di pantainya yang berpasir putih dan lembut.

Pulau Rutong, Riung, Ngada, NTT, Indonesia

Tanpa kembali, pergi tak akan akan eksis maknanya. Setelah seharian mengelilingi area “Taman Wisata Alam Laut Riung 17 Pulau” ini, kami kembali ke dermaga. Matahari tampak sedang bersiap-siap siap untuk kembali ke peraduannya. Seolah lomba, kami pun meminta agar bisa sampai di dermaga sebelum matahari benar-benar tenggelam. Merekam dan menikmati proses matahari tenggelam merupakan salah satu kegiatan favoritku, selain melihatnya terbit. Ironis sih, karena tadi aku tak ingin turun kembali ke tempat sebelum aku berada di atas, tapi saat ini justru aku suka melihat matahari turun (tenggelam), bahkan sangat menikmati. Begitulah aku.

“When the sun has set, no candle can replace it.”
(George R.R. Martin)

Sunset di Dermaga Riung, Riung, Ngada, NTT, Indonesia

2 thoughts on “Nga-Riung di Flores

    1. facebook-profile-picturePradikta Dwi Anthony Post author

      Halo, sayangnya kontaknya hilang nih, udah ganti HP beberapa kali. Minta bantu penginapannya juga bisa kok, umumnya pada punya kapal semua.

Comments: