Moni – Riung: Legenda dan Pelajaran di Perjalanan

Moni – Riung: Legenda dan Pelajaran di Perjalanan

Moni – Riung: Legenda dan Pelajaran di Perjalanan

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 519 orang.

“It’s people.  They’re very kind and look so happy. You see what happens last night right? They sing for us, from local song, Indonesian song even an English and France song. Even I don’t really know what’s the local and Indonesian song means, but from the way they sing it, they really look so happy. That’s why I love this country and tomorrow I’m gonna fly to Kuala Lumpur and coming back here again. And I love Indonesian food also, so tasty.” jawab seorang turis perempuan asal Belgia yang menempati kamar sebelah tatkala aku mengajukan pertanyaan, “Why Indonesia and not other countries?” Visa turisnya di Indonesia sudah habis karena itulah ia harus terbang ke luar untuk mendapatkan visa baru. Padahal, ia sudah traveling di Indonesia selama 4 bulan penuh, namun tampaknya ia masih belum puas. Sementara aku, baru beberapa tahun saja sudah merasa cukup.

Aku terus berbincang-bincang dengannya sambil aku menunggu Wilson, Ve (@lupheitakeyz) dan Lidia (@lydiadinky) yang sedang berkemas-kemas. “Udah beres semua?” tanyaku pada teman-teman ketika melihat mereka sudah membawa tasnya keluar dari kamar. “Udah. Berangkat yuk, Mas.” jawab Wilson. Aku pun pamitan kepada turis Belgia tersebut, ke pemilik penginapan dan pekerjanya. “Suatu saat nanti saya akan kembali ke sini dan menginap di sini lagi, Bu. Semoga bisa secepatnya” ujarku. “Aamiin. Terima kasih sudah menginap di sini ya, Dek.” timpalnya seraya tersenyum.

Situs Bung Karno, Ende, NTT, Indonesia

Perjalanan ke Riung dari Moni, dengan mobil pribadi, normalnya membutuhkan waktu sekitar 5 jam. Namun kami harus berangkat lebih cepat mengingat kondisi kemarin di mana jalanan berkelok-kelok dan pasti akan membuat Ve mual sehingga kami harus jalan agak santai dan banyak berhenti. “Nanti kita berhenti di tempat-tempat yang strategis sekalian melihat objek lain saja ya. Biar perjalanannya jadi lebih asyik juga.” kata supir yang mengantar kami. Dari Moni kami melewati rute yang sama dengan rute dari bandara kemarin, melewati “Rumah Pengasingan Bung Karno” dan sempat berhenti sebentar di sebuah pantai untuk diceritakan tentang legenda mengenai Gunung Iya, Gunung Meja, Pulau Koa dan Pulau Ende. Pak Supir pun bercerita:

Dulu ada seorang gadis cantik yang bernama Iya menjadi rebutan pemuda di desanya, diantaranya adalah Meja (tampan) dan Wongge (buruk rupa). Meja dan Wongge sama-sama melamar Iya. Iya menerima Meja karena ketampanannya dan menolak Wongge karena buruk rupa. Karena itulah Wongge sakit hati dan berniat untuk membunuh Meja. “Lebih baik Iya tidak menikah daripada harus dimiliki oleh Meja”, kata Wongge. Akhirnya di suatu malam ketika Meja sedang tidur terlelap, Wongge mengendap dan memenggal kepalanya dengan parang.

Karena itulah, puncak Gunung Meja datar dan tidak mengerucut seperti gunung pada umumnya dan Pulau Koa yang ada di sebelah timur Ende berbentuk mirip seperti kepala, yang diyakini sebagai kepalanya Meja. Sedangkan Pulau Ende yang ada di barat dan berbentuk seperti parang, diyakini sebagai parang yang dibuang oleh Wongge. Gunung Iya adalah gunung berapi yang masih aktif dan jika gunung tersebut mengeluarkan asap / semburan, maka masyarakat meyakini bahwa Iya sedang menangis sedih karena ditinggal mati oleh Meja.

Gunung Iya, Ende, NTT, Indonesia

“Kayak cerita di sinetron ya, Pak. Hee.” timpalku. “Haha. Begitulah. Sudah siap untuk jalan lagi?” tanyanya. Kami pun melanjutkan kembali perjalanan yang sempat terhenti. Sekitar 30 menit kemudian, aku melihat tebing di pinggir jalan yang ditempeli oleh batu yang berwarna-warni. Aku pun bertanya pada Pak Supir, “Itu kok tebingnya banyak batu warna-warninya, Pak?” Ia menjawab, “Ini sudah masuk area Nangapenda. Nanti kita akan berhenti di depan, di pinggir pantai dan kalian bisa melihat ada penduduk yang akan mengambil batu-batu itu dari pinggir laut dan mengumpulkannya. Kalau mau, kalian juga bisa ikutan ambil batunya, tapi jangan yang sudah mereka kumpulkan ya, karena yang mereka kumpulkan itu untuk dijual sebagai hiasan akuarium.” Kami pun sampai di pantai dan turun untuk melihat langsung penduduk yang dimaksud. Benar saja, ada 2 orang yang sedang mengambil batu dari pinggir laut, bukan pantai, dan mengumpulkannya di tanah lapang.

Pantai Nangapenda, Ende, NTT, Indonesia

“Ini batu warna-warni dari laut, Pak? Sudah berapa lama kegiatan penjualan batu-batu ini?” tanyaku. “Iya dari laut, tapi saya kurang tahu sudah berapa lama, yang pasti sih sudah cukup lama. Batu itu terus keluar dari dalam laut dan terbawa oleh ombak hingga pinggir pantai ini. Berkah Tuhan itu datang dari mana saja. Ya kan?” Aku pun takjub, bagaimana bisa batu itu terus keluar dari dalam laut dan seolah tak pernah habis. Aku pun menyetujui perkataan Pak Supir bahwa berkah Tuhan itu memang bisa datang dari mana saja. 15 menit berhenti, kami pun melanjutkan perjalanan kembali dan kali ini agak lebih santai karena banyak pemandangan menakjubkan yang bisa kami lihat dan foto, mulai dari tebing yang dihiasi batu yang berwarna-warni, padang rumput yang cukup luas dan mengering, hingga pantai-pantai cantik.

'Spaghetti Road', Jl. Ende - Riung, Nagekeo, NTT, Indonesia

Tak terasa perjalanan kami sudah sampai di Kabupaten Nagekeo dan waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WITA. Lidia pun bertanya padaku, “Tony, kita mau makan siang di mana?” Alih-alih menjawab, aku malah bertanya pada Pak Supir, “Pak enaknya makan di mana? Kalau bisa sih yang ada makanan khas Flores.” Ia pun menjawab, “Tidak ada makanan khas Flores, Pak. Di sini makanan semua dari luar Flores, seperti makanan Jawa, Sunda atau Padang. Makanan khas paling cuma dihidangkan saat ada perayaan adat saja.” Lidia pun menimpali, “Kalau gitu kita cari makanan seadanya saja, Pak. Kita lihat nanti di pinggir jalan, kalau ada yang OK baru kita berhenti dan makan.” Kami semua pun sepakat dengan usul Lidia. Akhirnya kami pun berhenti di sebuah rumah makan Minang yang ada di pertigaan Mbay – Riung – Bajawa. Mbay adalah ibukota Kabupaten Nagekeo, sementara Bajawa adalah ibukota Kabupaten Ngada. Meski lebih dekat dengan Nagekeo, namun Riung justru masuk di wilayah Kabupaten Ngada. “Kalau lurus ke arah Bajawa, nanti kita ke kanan. Kalau kalian dari Moni naik bis umum, kalian turun di sini dan berganti angkutan lain ke Riung”, kata Pak Supir menunjukkan jalan.

Rasanya agak aneh memang makan masakan Minang di Flores, sementara jenis warung / masakan ini dapat dengan mudah ku temui di Jakarta. Terlebih lagi rasa masakannya kurang “Padang” bagiku, kurang spicy. Namun aku pun teringat pada perkataan Clifton Fadiman, “When you travel, remember that a foreign country is not designed to make you comfortable. It is designed to make its own people comfortable.” Meski yang ia maksud adalah foreign country, namun aku yakin prinsip itu tetap berlaku untuk daerah lain, meski dalam satu negara. Rasa masakan Minang ini mungkin tidak enak (nyaman) bagiku, tapi kalau melihat dari lahapnya Pak Supir dan beberapa orang lokal lain yang sedang menyantapnya, aku yakin bahwa rasa inilah yang pas (nyaman) untuk mereka.

Perbukitan di Jl. Mbay - Riung (4), Nagekeo, NTT, Indonesia

Setelah berhenti selama 45 menit untuk makan, kami melanjutkan perjalanan kembali. “Jalan ini cukup rawan bagi orang yang jarang lewat. Bukan karena penjahat, di sini tidak ada rampok, tapi karena hewan ternak dilepas begitu saja sehingga sering tiba-tiba menyeberang, bahkan duduk begitu saja di tengah jalan”, kata Pak Supir. “Para pemiliknya tidak takut ternak mereka dicuri, Pak?” tanyaku. “Ah siapa yang mau mencuri di sini, semua saling kenal dari ujung ke ujung. Kalau pun ada yang mau mencuri, itu pasti pendatang baru dan dapat dengan mudah ditangkap. Kami semua di sini saling percaya”, jawabnya sambil tertawa. Aku kembali kagum dengan cara orang sini bermasyarakat. Kontras sekali dengan di kota-kota besar yang kadang dengan tetangga dekat saja tidak saling menyapa, bahkan tidak saling tahu satu sama lain.

30 menit berjalan, kami kembali berhenti di sebuah area padang rumput yang cukup luas dan dikelilingi oleh bukit-bukit yang tinggi dan indah. Tak hanya aku yang terkagum, bahkan Ve pun yang tampak sudah lemas akibat mabuk dan hanya tidur di hampir sepanjang perjalanan, juga ikut takjub melihat pemandangan di tempat ini dan mendadak jadi terlihat segar dan bersemangat. “Ini mirip kayak tempat syuting film ‘Lord of The Ring’ ya. Kalau produsernya tahu, pasti mereka memilih syuting di sini deh”, teriakku yang disambut oleh gelak tawa semua orang. “Kita boleh naik ke atas sana ga, Pak?” tanya Lidia sambil menunjuk sebuah bukit yang terlihat sangat indah. “Boleh saja, tapi kalau sekarang ga mungkin, karena waktu kita sempit. Kapan-kapan balik lagi lah ke Flores dan sediakan waktu yang lebih banyak. Nanti saya antar lagi kesini, bila perlu sampai ke puncak bukit itu” jawab Pak Supir.

Perbukitan di Jl. Mbay - Riung (3), Nagekeo, NTT, Indonesia

Meski kami masih betah di tempat ini, kami tetap harus kembali melanjutkan perjalanan karena hari sudah semakin sore. Aku berharap suatu saat bisa kembali lagi ke tempat ini dan naik ke atas puncak bukit itu. Meski pasti akan cukup melelahkan, tapi aku yakin aku akan mampu mendakinya. Ve, Wilson dan Lidia pun menyampaikan keinginan yang sama denganku.

“Kalian di Riung menginap di mana?” tanya Pak Supir. “Belum tahu nih, Pak. Rencananya sih sampai sana dulu baru cari-cari yang murah, maklum kantong pengangguran semua ini”, jawabku sambil tertawa. Pak Supir pun menimpali, “Kalau gitu nanti kita cari ya, saya bantu. Area penginapan di Riung ga luas kok dan dekat-dekat juga. Atau coba nanti kita lihat di tempat kawan saya dulu, Rustam, kalau kalian cocok, bisa di situ saja, lumayan dekat dengan pantai dan dia juga bisa bantu kalian cari kapal untuk ke pulau besok.” Kami semua setuju dengan usulnya. Sekitar pukul 16.30 WITA, kami sampai di penginapan @Nirvanariung, milik Rustam. Kami pun segera melihat-lihat penginapannya, bertanya soal harga, negosiasi dengan pengelolanya dan berunding. Akhirnya kami pun setuju untuk menginap di sini. Kami kembali ke mobil untuk menurunkan barang, berpamitan dengan Pak Supir dan memindahkan barang kami ke dalam kamar. “Terima kasih banyak ya Pak sudah mengantar kami ke sini dengan selamat sekaligus menjadi guide selama perjalanan ini”, ucapku pada Pak Supir. “Sama-sama, Pak. Kalau lusa kalian perlu saya lagi untuk mengantar ke Bajawa, SMS saja ya” jawabnya sambil tersenyum.

Perjalanan ini memang singkat, hanya sekitar 7 jam kurang. Namun pengalaman dan pelajaran yang aku dapatkan sangat banyak. Tampaknya benar bahwa sebenarnya kita tidak perlu pergi lama, bahkan jauh, untuk sekedar mendapatkan pengalaman menarik atau pun pelajaran hidup. Mirriam Beard berkata:

Mirriam Beard Quote (1)

4 thoughts on “Moni – Riung: Legenda dan Pelajaran di Perjalanan

    1. facebook-profile-picturePradikta Dwi Anthony Post author

      Waktu itu kena Rp600.000,00 dari Moni ke Riung, udah termasuk bensin dan supirnya, kecuali makan dan rokok supir. Sayangnya HPku yang ada kontak beliau hilang, jadi ga ada lagi. Coba tanya ke temenku yang 2 itu deh yang ada akun Twitter-nya di atas. Maaf ya ga bisa bantu banyak.

      Thanks ya sudah mampir. 🙂

Comments: