Kelimutu, Ku Jemput Impianku

Kelimutu, Ku Jemput Impianku

Kelimutu, Ku Jemput Impianku

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 386 orang.

Namanya Vincentia Loveita (@lupheitakeyz), atau biasa dipanggil Ve. Aku mengenalnya pertama kali waktu ke Karimunjawa di bulan Oktober tahun 2012. Sejak itu kami sering bertegur sapa, meski hanya via Twitter karena ia tinggal di Surabaya dan aku di Jakarta. Pertemuan kedua kami terjadi 8 bulan kemudian saat ia dan Wilson menjemputku di Terminal Bungurasih, Sidoarjo. Dari terminal, kami menuju Bandara Internasional Juanda untuk kemudian terbang ke Lombok, menginap di area Senggigi, esok sorenya naik bis ke Bima, lanjut minibus ke Pelabuhan Sape dan naik feri ke Labuan Bajo. Untuk mencapai Pulau Flores, dari Jakarta, aku harus menempuh perjalanan darat, udara dan laut selama 2 hari. Melelahkan? Tidak juga. Menyenangkan? Pasti. Kalian harus mencobanya? Tak perlu, tidak membanggakan dan tak akan membuat jadi keren juga, serius.

Hari pertama di Labuan Bajo hanya kami habiskan untuk mencari kapal termurah yang bisa membawa kami live on board minggu depan. Ya, kami tak berencana mengunjungi Taman Nasional Komodo langsung, karena besok siang kami akan terbang ke Ende dan memulai penjelajahan Flores dari sana. Saat akan terbang ke Ende inilah aku baru mengetahui bahwa tempat ini masih berada di zona Waktu Indonesia Tengah, bukan Waktu Indonesia Timur. “Jadi ini Indonesia Timur yang di tengah dong ya, sama kayak Makassar”, pikirku.

Foto Udara Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Indonesia

“Akhir-akhir ini Flores lagi sering hujan, Bang, meski hanya gerimis. Semoga saja besok pagi terang jadi bisa puas main di Kelimutu-nya”, ujar supir yang menjemput kami di bandara Ende. Perjalanan ke penginapan kami di Desa Moni membutuhkan waktu setidaknya 1 jam, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah, entah ke mana. Namun kami pun meminta agar santai saja melihat Ve yang mulai mabuk darat. “Aku tahan kalau perjalanan darat jauh, kecuali untuk jalan yang berkelok-kelok seperti ini”, kata Ve.

Pertemuan tak terduga

Akhirnya, sekitar pukul 19.30 WITA, kami pun sampai dan aku merasakan pengalaman yang berbeda ketika tiba di daerah “asing”. Mereka menyambut kami layaknya seorang saudara jauh yang pulang kampung. Dibalik kesan “seram” yang selama ini tersiar, justru kehangatan khas keluarga dekat lah yang kami terima. Setelah berangkat dari rumah dan sampai di Labuan Bajo, aku malah merasakan “pulang” ke Desa Moni.

Air Terjun di Jalan Trans Flores, Ende, NTT, Indonesia

Setelah menaruh barang-barang dan berbincang dengan pemilik penginapan, aku pun menemui Lidia (@lydiadinky). Aku mengenalnya dari salah satu forum backpacker ketika aku posting rencana tripku di sana dan ia merespon tertarik ingin ikut yang akhirnya pembahasan kami lanjutkan melalui email dan Twitter. Dulu ia bekerja di salah satu perusahaan operator telekomunikasi swasta. Setelah 8 tahun dan merasa cukup, ia memutuskan untuk resign dan traveling. “Kemarin jadi ke Sulawesi, Mbak?” tanyaku. Ia menjawab, “Jadi dong, lumayanlah keliling Sulsel sebentar lalu terbang ke Maumere, menginap semalam, baru ke sini.”

Saat sedang menikmati makan malam, muncullah duo traveler yang sudah cukup lama ku kenal, Adam dan Susan (@PergiDulu). Kami memang tidak janjian untuk bertemu di sini, timing-nya saja yang pas. Mereka sudah di Flores sejak beberapa hari yang lalu, terakhir yang aku tahu mereka di Labuan Bajo dan berencana menyusuri Flores dari bawah ke atas. “Akhirnya kami memutuskan untuk sekedar lewat saja di Ruteng dan Bajawa, karena kemarin terlalu asyik saat di Kanawa dan ‘overstay’ dari rencana awal”, kata Susan.

danau-kelimutu-pecahan-rp-5000

Menjemput impian

“Nih THR buat kamu dari Pak Pur”, kata adik ibuku. “Wah asyik lima ribu, THR paling gede nih. Makasih ya, Pak Pur.” Setelah menerima uang itu, aku pun berlari di dalam rumah dan memamerkannya ke semua orang. Karena bagi anak kecil sepertiku, diberikan uang sebesar Rp5.000,00 adalah sebuah anugerah, mengingat nilainya saat itu. Tatapan mataku tak pernah lepas dari gambar 3 buah danau yang berbeda warna dan terlihat sangat menakjubkan. “Ini danaunya beneran 3 warna?”, tanyaku pada ibu. “Iya, Mami sih belum pernah ke sana, tapi memang begitu”, jawabnya. “Wah bagus ya, aku mau lihat langsung danau 3 warna ini”, timpalku riang.

Meski samar-samar, kejadian ± 20 tahun yang lalu itu masih terbayang di benakku. Alih-alih menyebutnya sebagai Danau Kelimutu, aku lebih suka menyebutnya sebagai “danau 3 warna”. Penyebutan ini pun sempat membuat bias ingatanku karena aku merasa pernah diajak oleh keluargaku untuk melihat langsung tempat itu. Kami mengunjunginya di waktu libur Lebaran dan saat itu aku merasa senang karena keinginanku terpenuhi. Sampai akhirnya aku berhasil mengingat dengan jelas bahwa ternyata itu adalah Telaga Warna, bukan “danau 3 warna”. Namun demikian, mimpi untuk mengunjungi danau ini masih tertanam di benakku. Hingga akhirnya pagi ini, 5 Juni 2013, aku telah berdiri di kaki Gunung Kelimutu untuk mewujudkannya.

Sunrise di Taman Nasional Kelimutu, Ende, NTT, Indonesia

“Bukankah semestinya ada 3 danau, kenapa kita baru lihat 2 ya?” tanyaku kepada Ve dan Wilson. “Kayaknya kita mesti naik ke atas deh, Mas”, timpal Ve. Melihat curamnya jalur ke atas, jujur aku tak berminat, toh di bawah pun aku sudah cukup puas. Namun mau tak mau aku tetap harus mendakinya, karena impianku adalah melihat “danau 3 warna”. Dengan sisa tenaga yang ada, aku mulai menapaki anak tangga ini satu persatu. Aku memang tak terlalu suka mendaki, karena itu benar-benar melelahkan, terlebih lagi tanpa persiapan fisik sebelumnya, meski film Kabayan pernah sempat memotivasiku dengan mengatakan bahwa, “Lebih enak tanjakan, karena setelahnya ada turunan.”

Perjalanan liburan saat itu sama persis dengan perjalanan hidup pada umumnya. Dengan alasan “sudah cukup puas”, meski berada di bawah, kita sering tak mau untuk “mendaki” ke jenjang yang lebih tinggi. Bayangan akan sulitnya pendakian, medan yang berat, melelahkan, bahkan kurangnya persiapan sering menjadi momok. Akhirnya kita tetap berada di zona nyaman ini hingga akhir hayat. Memperbaiki kondisi mungkin membuktikan bahwa kita adalah manusia yang tidak pernah merasa puas. Namun aku yakin bahwa, bersyukur tidak berarti bahwa kita menerima begitu saja kondisi yang ada sementara Tuhan memberi kita peluang dan potensi untuk jadi lebih baik. Bersyukur justru harus dilihat dari seberapa besar kemauan dan kemampuan kita untuk memaksimalkan segala potensi yang ada dalam diri.

Jalur Menuju Puncak Taman Nasional Kelimutu, Ende, NTT, Indonesia

15 menit mendaki, aku sampai di puncak. Sambil mengambil nafas, aku berjalan di sekelilingnya sambil tersenyum sendiri bahkan hampir melonjak bahagia ketika aku bisa melihat ketiga “danau 3 warna” ini, meski yang 1 tertutup kabut yang sangat tebal. Di puncak, aku kembali bertemu dengan Adam dan Susan, dan kesempatan ini pun dimanfaatkan Lidia untuk berfoto bertiga dengan mereka. Ve dan Wilson ke mana? Mereka asyik berkeliling sambil berfoto-foto. Aku pun berkeliling sambil membaca-baca keterangan tentang “danau 3 warna ini” yang ditulis dari sudut pandang ilmiah dan kepercayaan lokal.

Kelimutu merupakan gabungan kata dari “keli” yang berarti gunung dan kata “mutu” yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau ini memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat. Danau atau Tiwu, di bagi atas tiga bagian sesuai dengan warnanya. “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. “Tiwu Ata Polo” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal yang selama hidup selalu melakukan kejahatan. Sedangkan “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Jujur, awalnya aku tak berminat untuk menuliskan cerita ini karena aku tak ingin ceritanya menjadi sebuah cerita tentang kesombongan pernah pergi ke suatu tempat yang jauh dan mahal. Namun akhirnya aku sadar, tanpa izin Tuhan, doa orang tuaku, serta Ve, Wilson, Lidia dan pihak-pihak lain, aku mungkin tak akan bisa ke tempat ini. Impian yang pada akhirnya selalu menjadi jawaban ketika aku ditanya tempat yang paling berkesan yang pernah dikunjungi, oleh banyak orang. Impian yang membuatku merasa cukup jika setelahnya aku tak lagi mampu untuk berjalan, pun bernafas. Terima kasih, karena telah mengantarku untuk menjemput impian.

Tak ku kira mimpi masa kecilku ini akan terwujud. Meski butuh waktu berpuluh tahun, namun aku merasa sangat puas. Saat itu, bahkan hingga saat ini, aku merasa seperti apa yang dikatakan oleh Paulo Coehlo, “It’s the possibility of having a dream come true that makes life interesting…” Dan saat ini, aku kembali menyusun dan menambah mimpi-mimpiku yang lain sambil berusaha mewujudkannya. Selain izin Tuhan dan doa orang tuaku, aku tak tahu siapakah yang akan mengantar / membantuku untuk mewujudkannya. Mungkinkah itu kamu?

Comments: