Suatu Pagi di Pelabuhan Semayang

Suatu Pagi di Pelabuhan Semayang

Suatu Pagi di Pelabuhan Semayang

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 2,988 orang.

Ngantuk dan jet lag masih terasa ketika pagi ini (12/12/2012) gue terbangun di Fortuna Guest House Balikpapan setelah flight Garuda Indonesia GA 524 yang gue naikin semalam landing di Bandar Udara Internasional Sepinggan, sekitar jam 23.00 WITA. Kalau bukan karena tiket penerbangan tersebut adalah yang termurah, gue pasti ga akan mau terbang larut malam begitu. Tidur bikin jet lag, ga tidur kok ya ngantuk.

Garuda Indonesia (Ilustrasi Pesawat)

Pesawat Garuda Indonesia (Ilustrasi). Gambar diambil dari sini.

Menurut itinerary yang gue susun sendiri sekitar 1 bulan sebelum berangkat, harusnya pagi ini gue bangun lalu ke area Pelabuhan Semayang dan mencari kapal untuk menyeberang ke Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Tapi ya kayak biasanya, “mager” pun melanda dan akhirnya gue memilih untuk menikmati udara pagi di pusat kota dulu, baru ke pelabuhan.

Tempat nginep gue, Fortuna Guest House, terletak di lokasi yang sangat strategis, di pusat kota (daerah Terminal Rasa, Klandasan) dan dekat dengan banyak objek wisata di Kota Balikpapan. Dengan menyusuri Jalan Sudirman dekat area penginapan, gue pun menemukan sebuah gedung yang terlihat cukupp tua yang bernama “Gedung Nasional”. Usut punya usut, ternyata gedung ini adalah gedung pertemuan. Bener ga?

Gedung Nasional, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Gedung Nasional

Puas menikmati sedikit suasana pagi di Balikpapan yang cukup tenang, gue pun menyeberang jalan menghampiri seorang petugas DLLAJ (Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan) yang sedang bertugas untuk bertanya rute angkutan umum menuju ke Pelabuhan Semayang. Momen inilah yang menjadi kekaguman pertama gue terhadap warga Balikpapan. Untuk menyeberang, gue ga perlu khawatir, bukan karena ada lampu lalu lintas atau petugas yang membantu, tapi begitu gue berdiri di zebra cross, dengan serentak seluruh kendaraan roda dua maupun roda empat berhenti dan mempersilahkan gue untuk menyeberang. Hal yang baru pertama kali gue temui selama traveling ke beberapa daerah di Indonesia. DamnThis is Indonesia that I wanted.

Papan Penyeberangan Jalan Raya, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Papan Penyeberangan Jalan Raya

Setelah diberi petunjuk oleh petugas DLLAJ tersebut, gue pun segera naik angkutan umum nomor (jalur) 6 untuk menuju ke Pelabuhan Semayang dengan ongkos Rp3.000,00 saja. Perjalanan dari depan “Gedung Nasional” menuju Pelabuhan Semayang membutuhkan waktu sekitar 20 menit, itu pun karena sang supir membawa kendaraannya dengan santai. O, ya! Di sepanjang jalan gue ga nemuin ada angkutan umum yang kebut-kebutan atau ugal-ugalan. Tampaknya tertib berlalu lintas telah membudaya di kota ini.

Jalan Menuju Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Jalan Menuju Pelabuhan Semayang

Sekitar jam 07.00 WITA, gue pun sampai di Pelabuhan Semayang. Sebelum sampai, bayangan di kepala gue tentang pelabuhan ini adalah seperti pelabuhan lain pada umumnya: kotor, becek, dan banyak sampah berserakan. Tapi ternyata gue salah. Pelabuhan Semayang terlihat rapi dan cukup bersih, meskipun masih terlihat tumpukan sampah di beberapa sudutnya, tapi setidaknya sampah tersebut ditumpuk secara teratur dan tampaknya memang disengaja untuk memudahkan petugas kebersihan pelabuhan dalam mengangkutnya. Entahlah.

Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Pelabuhan Semayang

Suasana Pelabuhan Semayang pagi ini tidak terlihat ramai, mungkin karena gue datangnya kepagian kali ya. Di dekat pintu masuk utama terlihat beberapa orang yang berkumpul yang tampaknya sedang menunggu kapal feri ke Pulau Jawa. Kantor agen-agen tiket pun masih terlihat tutup. Sempat terlintas “Kayaknya gue bakal gagal ke Penajam Paser Utara nih kalau begini.” Benar saja, melihat suasana yang sepi itu, akhirnya gue pun membatalkan niat. Bukan karena ga ada kapal, tapi karena masalah utama gue kalau lagi solo traveling, yaitu “mager”. 😛

Gue pun memutuskan untuk keluar dari area pelabuhan dan menyusuri area sekitarnya. Ngeliat tukang ojeg, semangat gue kali ini pun muncul lagi. Ya, gue bakal sewa ojeg itu buat datengin tempat wisata yang ada di Balikpapan. Setelah proses tawar-menawar yang cukup alot dengan seorang tukang ojeg, kami pun sepakat di harga Rp150.000,00 untuk jangka waktu sewa dari pagi sekitar pukul 08.00 WITA sampai sore pukul 15.00 WITA.

Jalan Minyak (Kawasan Pertamina), Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Jalan Minyak (Kawasan Pertamina)

Dari Pelabuhan Semayang gue lewat Jalan Minyak yang merupakan kawasan Pertamina dimana terdapat banyak sekali kilang minyak besar, berhenti sebentar untuk mengisi bensin di dekat Pasar Inpres Kebun Sayur, lalu mampir di sebuah warung, rekomendasi si tukang ojeg, yang menjual Ketupat Kandangan. Ketupat Kandangan bukanlah makanan khas Balikpapan atau pun Kalimantan Timur, tapi makanan khas dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Rasanya? Maknyossss..

Ketupat Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia

Ketupat Kandangan

Tujuan utama gue dengan ojeg ini adalah Pantai Lamaru, Kuburan Jepang, Pantai Manggar “Segara Sari”, dan Penangkaran Buaya Teritip. Jarak tiga objek wisata tersebut tidak semuanya berdekatan, dari pusat kota sekitar 20 Km. Paling jauh adalah Penangkaran Buaya Teritip yang -kata tukang ojeg- berjarak 10 Km lagi dari Pantai Lamaru. Karena alasan waktu dan cuaca yang panas, gue pun urungkan niat untuk ke Penangkaran Buaya Teritip tersebut. Cerita slengkapnya mengenai Pantai Lamaru, Kuburan Jepang, dan Pantai Manggar “Segara Sari” akan gue tulis di artikel selanjutnya.

10 thoughts on “Suatu Pagi di Pelabuhan Semayang

  1. yuli

    kalau sudah ke balik papan jangan lupa mampir nyebrang ke tanah grogot di sana kantor pemerintahan berwarna ungu karena bupatinya menyukai warna ungu…unik pastinya untuk wisatanya,

    1. facebook-profile-picturePradikta Dwi Anthony Post author

      Waktu itu sih niatnya mau nyebrang ke PPU tapi ga jadi. Semoga lain kali bisa. Hee..

  2. riana

    Jadi gimaana?? Masi mau lanjut lagi menelusuri kota minyak??
    Itu belum semuaa.. Belum lengkap dengan wisata kuliner.. Soto banjar, pisang gapit, sup singkong, aaah.. Damn! Jadi kangen kampung halaman..

    Salam kenal..

    Cheers

  3. Wisnu Prasetyo Aji

    hehehe,,yang jadi pondok boy itu 😀
    wah ga dapet ya min? berarti musti kesini lagi min,,hahahahaha

  4. Wisnu Prasetyo Aji

    hehehehe…kapan ke balikpapan lagi min? 😀
    gedung nasional itu dulu sebelahnya katanya bioskop min,
    terus di foto yang di jalan minyak itu kalau sore banyak orang2 kasih makan monyet2 liar, tapi ga tiap hari si…
    kalau ndak salah kalau mau ke penajam ndak harus dari semayang min, ada dermaga di daerah kampung baru, tempatnya ga jauh, lurus aja pas dijalan minyak sampe lewat komplek pertamina. atau dari pelabuhan kariangau, cuma agak jauh kalau lewat kariangau. 😀
    deket pelabuhan semayang ntu ada tempat nongkrong juga, pinggir pantai, melawai namanya, buat liat sunset, sambil liat pulau kecil (pulau babi) disela2 kapal tangker. 😀

    1. facebook-profile-pictureTravellersID Post author

      Oh ya? Bentuknya sih emang mirip bioskop, tapi sekarang udah jadi Pondok Boy itu kan ya? :O

      Iya sih katanya bisa dari Kp. Baru, cuma kalau dari arah Sudirman kan lebih deket ke Semayang kan? Kemarin 3 kali ke Melawai tapi ga dapet sunset yang bagus, selalu berawan tebal. Dapet bagusnya malah pas di Bandar Balikpapan sama di Monpera.

        1. facebook-profile-picturePradikta Dwi Anthony Post author

          Halo, saya kurang tahu tarif saat ini berapa, tapi mungkin sekitar 200 ribu kurang. DUlu sih OK kok nyaman, kayak kostan gitu lah. Bersih juga.

Comments: