Pondok Boy, Tempat Makan “Termahal” di Dunia

Pondok Boy, Tempat Makan “Termahal” di Dunia

Pondok Boy, Tempat Makan “Termahal” di Dunia

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 4,276 orang.

Restoran “Pondok Boy” ini terletak sekitar 30 meter dari penginapan gue di Fortuna Guest House. Lebih tepatnya restoran ini terletak dalam 1 (satu) area dengan Gedung Nasional, di Jalan Jenderal Sudirman. Ga bosen kan denger nama jalan itu? Awal mula gue tertarik untuk coba makan ditempat ini adalah karena tulisan di papan namanya: “Hati-hati!!! Harga di Pondok Boy ini Triliunan”. Meski terdengar mustahil, rasa keingintahuan pun seolah menuntun langkah kaki gue untuk menjajal tempat ini.

Pondok Boy, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Restoran Pondok Boy

Masih dalam suasana Sabtu malam, sebagaimana tempat nongkrong lainnya di kota-kota lain, di Pondok Boy terlihat sangat ramai. Aneh kan? Katanya harganya triliunan tapi kok malah ramai coba. Ataukah karena Pondok Boy juga meng-klaim bahwa tempat mereka adalah tongkrongan kuliner terlezat di dunia dan akhirat? Mari kita uji.

Begitu masuk restoran yang buka 24 jam ini, gue disambut oleh suasana ramai tapi sepi. Bukan, bukan karena tempat ini ramai oleh pengunjung tapi gue-nya sepi (sendiri), tapi karena meskipun ramai, suasana hangat dan nyaman tetap terasa. Feels like my own home.

Suasana di Pondok Boy, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Suasana Pengunjung Pondok Boy

Biar bisa lebih mengamati suasana sekitar, gue memilih untuk duduk di bagian luar, di depan dapur. Mengetahui sedikit proses dan cara memasak makanan di suatu tempat makan itu lumayan penting buat gue, jadi kita bisa tahu gimana sih cara mereka perlakukan makanan yang akan dihidangkan ke kita. Setuju?

Sebagian Dapur, Pondok Boy, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Sebagian Dapur Pondok Boy

Untuk menguji kinerja pelayanan tempat ini, begitu duduk di meja dan dihampiri oleh seorang waitressgue ga langsung memesan makanan atau pun minuman, tapi gue cuma bilang mau duduk-duduk aja disini dan lihat-lihat. Guess what she said? “Oh baik Mas, silahkan”, sambil tersenyum manis. This is what I called good services. 15 menit kemudian, gue pun harus berhenti bersandiwara karena perut sudah semakin keroncongan lalu memanggil pelayan dan meminta menu. Saat melihat menu inilah baru terasa betapa “mahalnya” tempat ini. Bayangkan, seporsi Tongkol Penyet tanpa nasi dihargai 14 trilliun dan segelas Cappucino Ice dihargai 10 trilliun.

Daftar Menu di Pondok Boy, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Daftar Menu di Pondok Boy

Berhubung lapar, gue pun tetap memesan. “Lebih baik kehabisan duit tapi kenyang daripada kelaparan tapi kehabisan duit”, pikir gue. Sambil menunggu pesanan datang, gue pun berkeliling di area restoran. Cukup banyak terdapat ornamen disana. Yang sempat menyita perhatian gue adalah ornamen berupa tulisan asumsi percakapan pengunjung dengan pemilik Pondok Boy.

Percakapan Tamu di Pondok Boy, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Ornamen Percakapan Tamu di Pondok Boy

Setelah 20 menit menunggu sambil berjalan-jalan, pesanan gue pun datang dengan sebongkah senyuman manis dari sang pelayan. Sampai sekarang gue masih berdoa semoga senyumnya tidak mengandung pemanis buatan. #ehhh 😀

Tongkol Penyet Pondok Boy, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Tongkol Penyet a la Pondok Boy

Bagaimana rasanya? Ini dia masalahnya, entah kenapa pas pesan tadi gue lupa memesan agar sambalnya tidak terlalu pedas, karena gue yakin banget bahwa sambal a la orang Kalimantan itu biasanya pedas sekali. Benar saja, baru makan 3 sendok Cappucino Ice segelas pun sudah habis. Bahaya memang ini sambal. Gawatnya lagi adalah, pedasnya bikin nagih. *elap keringet*

Selesai makan, dengan hati was-was gue pun segera menuju kasir. Was-was-nya adalah seandainya benar bahwa gue harus bayar trilliunan untuk makanan dan minuman lezat yang gue nikmati tadi. Seperti gue duga sebelumnya, harga trilliunan tersebut hanyalah kamuflase, strategi marketing kali ya karena akhirnya gue cukup merogoh kocek sebesar Rp28.000,00 untuk seporsi Tongkol Penyet, sepiring nasi putih, dan segelas cappucino ice.

Kasir, Pondok Boy, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia

Kasir Pondok Boy

Kaki pegel, perut kenyang, dan hati pun senang. Sabtu malam yang indah di Balikpapan ditutup oleh Pondok Boy. Gue harus cepat istirahat karena besok pagi gue harus ke bandara untuk terbang ke Banjarmasin.

Comments: