Taman Nasional Kutai: Serunya “Berburu” Orangutan dan Satwa Unik Lainnya

Taman Nasional Kutai: Serunya “Berburu” Orangutan dan Satwa Unik Lainnya

Taman Nasional Kutai: Serunya “Berburu” Orangutan dan Satwa Unik Lainnya

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 2,388 orang.

Sekitar jam 04.30 WITA, mobil shuttle Helda Tour and Travel yang gue naiki dari Balikpapan, tiba di Sangatta, ibukota Kabupaten Kutai Timur. Perjalanan ke Taman Nasional Kutai akan gue lanjutkan setelah matahari terbit, karena sudah puas tidur selama perjalanan semalam, gue pun ngobrolngobrol dengan beberapa driver yang shift pagi.

Brosur Shuttle Helda Travel, Balikpapan, Kalimantan TImur, Indonesia

Brosur Shuttle Helda Travel (Gambar diambil dari sini)

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB, gue pun segera menghubungi Pak Supiani untuk mengabarkan bahwa gue sudah sampai Sangatta sekaligus meminta petunjuk jalan menuju ke Taman Nasional Kutai (TNK). Pak Supiani adalah Ranger Senior di TNK, beliaulah yang akan memfasilitasi gue untuk menjelajahi hutan belantara di TNK. Beliau memberikan petujuk:

“Dari kantor itu (Jalan Yos Sudarso II) atau dari Perempatan Munthe, Bapak carter taksi (angkot) saja, bilang mau ke Kantor Desa Kapo Jaya. Paling biayanya Rp50.000,00, Pak. Nanti kalau sudah dapat taksinya, Bapak kabari saya.”

Hmmm…entah kenapa gue paling malas kalau disuruh sewa angkot, apalagi sendirian di daerah yang masih asing buat gue. Berbekal ke-sok tahu-an, gue pun memutuskan untuk jalan kaki dari kantor shuttle sampai ke Perempatan Munthe. “Siapa tahu ada alternatif transportasi lain”, batin gue.

Sesampainya di Perempatan Munthe, gue ga melihat satu pun angkot yang menuju ke arah dalam, bahkan setelah setengah jam menunggu. Tak lama kemudian, ada seorang bapak-bapak yang tampak seperti tukang ojeg disitu. Setelah bertanya dan si Bapak menyebutkan harga, gue pun sepakat dengan ongkos Rp25.000,00 yang beliau minta.

Setelah sampai di Desa Kabo Jaya gue pun menghubungi Pak Supiani lagi. Beberapa kali menelepon tapi tidak ada jawaban. Setelah 5 kali menelepon barulah diangkat dan terdengar suara yang cukup bising. “Iya Pak tunggu ya, saya masih di ketinting, 5 menit lagi saya sampai sana. Bapak masuk saja ke dalam gang di sebelah kantor desa, terus saja sampai mentok lalu belok ke kiri, nanti saya menunggu disitu”, Pak Supiani memberikan arahan.

Gue pun mengikuti petunjuk dari Pak Supiani yang tak lama kemudian muncul dari arah bawah (jalan menurun). Tampaknya disana lah letak Sungai Sangatta dan “dermaga” ketinting-nya. Setelah berkenalan secara langsung dan berjabat tangan, kami pun segera turun menuju ke sungai. Sekilas gue lihat sebuah tulisan yang kurang lebih berbunyi seperti ini, “Jangan berenang di sungai, banyak buaya dan binatang buas lain”. Jadi gue bakal mengarungi sungai yang banyak buayanya, nih? *glek*

“Dermaga” Ketinting, Sungai Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Indonesia

“Dermaga” Ketinting, Sungai Sangatta

5 menit kemudian gue sudah berada di atas ketinting, sebuah perahu tradisional yang digerakkan oleh mesin bermotor. Perbedaannya dengan klotok adalah pada bunyi meisn dan ukurannya. Ketinting berukuran lebih kecil dengan kapasitas maksimal 5 orang saja. Ini adalah pengalaman pertama gue naik ketinting. Seru sekaligus menegangkan.

Sungai Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Indonesia

Mengarungi Sungai Sangatta Dengan Ketinting

Pak Supiani pun berkata, “Nanti lihat-lihat sekeliling saja, Mas. Kadang suka banyak monyet yang mencari makan di pinggir sungai. Tapi jangan banyak bergerak ya, bisa repot nanti kalau sampai tercebur ke sungai.” Seketika bayangan buaya yang mengintai pun terlintas di kepala gue. 😐

Monyet di Pinggiran Sungai Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Indonesia

Monyet di Pinggiran Sungai Sangatta

Setelah mengarungi Sungai Sangatta selama kurang lebih 15 menit, di depan tampak sebuah bangunan kayu yang tampak seperti sebuah dermaga. Tampak pula beberapa orang sedang naik ke atas. “Ini Mas pintu masuk TNK yang di Sangatta. TNK itu ada 2 pintu, yang 1 di Bontang (kota sebelah) tapi hanya hutan kota saja dan yang 1 lagi disini. Yang dinamakan TNK yang sesungguhnya ya disini”, Pak Supiani menjelaskan.

“Dermaga” TNK, Sungai Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Indonesia

“Dermaga” TNK, Sungai Sangatta

Saat menaiki dermaga, ketinting pun sempat goyang-goyang. Karena ukurannya yang kecil, memang sangat mudah bagi ketinting untuk menjadi tak seimbang. Meskipun di dermaga, elo juga pasti ga mau tercebur ke sungai, kan? Setelah “ujian” di dermaga berhasil gue lalui, gue pun mengikuti Pak Supiani menuju ke Kantor Pengelola TNK. Sebenarnya gue juga ga tahu pasti ini kantor pengelola atau rumah dinas ranger, karena Pak Supiani mengatakan bahwa sehari-hari beliau dan istrinya tinggal disini.

Kantor Pengelola TNK, Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Indonesia

Kantor Pengelola TNK / Rumah Dinas

Setelah sampai di tempat ini, Pak Supiani pun memohon izin untuk berganti pakaian dan menyiapkan peralatan. Tak lupa beliau pun membawa golok besar. “Sudah sebulan tidak ada yang kesini, jadi kemungkinan medan yang akan kita lalui cukup berat dan lebat dengan akar-akar pohon”, beliau menerangkan.

Setelah Pak Supiani siap dan gue pun memutuskan untuk menitipkan tas kamera gue di tempat beliau, kami pun segera memasuki hutan belantara TNK. Tempat ini memang seperti hutan belantara, meskipun sudah ada campur tangan manusia. Tapi campur tangan manusia ini hanya sebatas pembuatan jalur trekking dan jembatan saja. Sambil berjalan, Pak Supiani pun menawarkan lotion anti nyamuk untuk dipakai. “Ini kan hutan, Mas. Pasti banyak nyamuknya, buat jaga-jaga saja”.

Taman Nasional Kutai, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Indonesia

Taman Nasional Kutai

Tanpa terasa sudah 1 jam kami berjalan menembus hutan belantara ini, tapi sayang kami belum menemukan orangutan 1 ekor pun. “Biasanya jam segini mereka (orangutan) cari makan, tapi kadang juga sore hari. Pernah ada turis asing yang menginap di tempat saya sampai 3 hari, tapi tetap saja ga ketemu orangutan. Optimis saja, Mas”, kata Pak Supiani. Buat gue sih sebenarnya bukan soal ketemu orangutan atau tidak, bisa berjalan di dalam hutan rimba di Kalimantan seperti ini saja sudah sangat menyenangkan, tidak ada kebisingan dan tidak ada sinyal telepon, hanya gue dan alam liar.

Jam tangan gue menunjukkan pukul 11.30 WITA. Lelah pun mulai menghinggapi gue, ditambah dari pagi tadi gue belum sarapan. Untung gue masih sempat membawa air minum, lebih baik lapar deh daripada dehidrasi. Tak lama kemudian, Pak Supiani pun menunjukkan sebuah fauna yang menurut beliau hanya ada di TNK, yaitu Kupu-kupu Hidung Panjang. Sesaat gue berpikir, “Kayak pernah lihat binatang ini di tayangan Discovery Channel atau National Geographic ya.” Entahlah, yang jelas gue jadi semangat lagi.

Kupu-kupu Hidung Panjang, Taman Nasional Kutai, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Indonesia

Kupu-kupu Hidung Panjang di Taman Nasional Kutai

Gue pun bertanya ke Pak Supiani apakah perjalanan kami masih lama, beliau menjawab “Sedikit lagi kok Mas, paling lama 1 lagi kita jalan kakinya baru bisa keluar.” 1 jam jalan kaki itu sedikit lagi? *tepok jidat*

Meskipun sudah teramat lelah, entah kenapa gue masih kuat untuk berjalan kaki. Mungkin karena hal yang selama ini gue idam-idamkan (berjalan di tengah hutan belantara) sedang gue lakukan saat ini. Ditambah dengan pemandangan hijaunya hutan, suara binatang-binatang, dan bersihnya udara. Setengah jam kemudian, Pak Supiani pun menunjukkan fauna aneh lagi, tampaknya sejenis kumbang yang sayang gue lupa namanya. “Binatang ini kalau disentuh dia akan menutup Mas dan berbentuk bulat. Saya yakin, orang terkuat di dunia pun tidak akan sanggup membukanya.” Meskipun gue bukan orang yang kuat, gue merasa tertarik untuk mencoba membukanya. Dan ternyata benar apa yang dikatakan Pak Supiani. *ngibarin bendera putih*

Sejenis Kumbang, Taman Nasional Kutai, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Indonesia

Sejenis Kumbang di Taman Nasional Kutai

Akhirnya, perjalanan menembus hutan belantara TNK ini pun selesai. Kami segera menuju ke rumah dinas Pak Supiani untuk beristirahat sejenak. Beliau pun menawarkan mie instan untuk makan siang, lumayan untuk pengganjal. Sambil makan Pak Supiani pun bercerita,

“Awalnya saya sempat ragu kalau Mas benar-benar sendirian datang dari Jakarta kesini. Karena biasanya yang kesini hanya turis mancanegara saja yang mau lihat orangutan di habitat aslinya. Orang Indonesia yang kesini setiap bulan paling banyak hanya 1 orang, itu pun biasanya dosen yang mau penelitian.”

“Selain lihat orangutan, biasanya turis asing itu membeli bibit pohon disini lalu ditanam di halaman depan, lalu dikasih nama  mereka dan asal negaranya masing-masing. Bahkan ada yang beberapa tahun kemudian kembali kesini sambil mengajak anak-anaknya dan diminta melakukan hal yang sama (menanam pohon), mungkin jadi semacam tradisi keluarga ya.”

Selesai menyantap mie instan, gue pun meminta Pak Supiani untuk mengantarkan gue lagi ke titik awal, Kantor Desa Kapo Jaya. 15 menit kemudian, setelah sampai di dermaga awal dan menyerahkan uang  sejumlah Rp400.000,00 (Rp200.000,00 untuk sewa ketinting pulang-pergi; Rp100.000,00 untuk fee Pak Supiani yang menemani trekking di dalam hutan; dan Rp100.000,00 lagi sebagai tips sukarela dari gue atas kepuasan pribadi)., gue pun berpamitan dengan beliau.

Terima kasih Pak Supiani. Terima kasih TNK. Pengalaman berharga ini ga bakalan gue lupakan begitu saja. Semoga suatu saat semakin banyak wisatawan lokal yang mau kesini. Elo mau mengkuti jejak gue untuk ke TNK? Silahkan hubungi Pak Supiani di nomor 081346348803. Semoga beliau ga ganti nomor.

3 thoughts on “Taman Nasional Kutai: Serunya “Berburu” Orangutan dan Satwa Unik Lainnya

  1. obenk

    ada beberapa tempat wisata alam di sangatta antara lain PRevab , bpputk, teluk kaba, teluk prancis, teluk lombok,( TNK ) Pesat dan TBA, jika ingin berkunjung ke tempat tersebut bisa menghubungi saya.. Rober S ( obenk ) 085232212156

    1. facebook-profile-pictureTravellersID Post author

      Oh iya bener Kabo Jaya, maklum ceritanya baru ditulis 3 bulan setelah pulang soalnya. Maaf ya dan terima kasih buat koreksinya. Udah dibenerin juga tulisannya. 🙂

Comments: