Seru dan Lelahnya Malioboro

Seru dan Lelahnya Malioboro

Seru dan Lelahnya Malioboro

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 506 orang.

Sebenarnya kunjungan kami ke Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), atau yang lebih akrab disebut dengan Yogya, ini sudah cukup lama, yaitu pada tanggal 16-18 Juni 2012 yang lalu. Sebagaimana ide awal blog ini dibuat, konsep liburan kali ini adalah liburan “numpang” atau “Work-Pleasure Traveler”, yaitu liburan yang waktunya diambil sebelum/sambil menyelesaikan tugas dan pekerjaan kantor. 😀

Biar ga kelamaan basa-basinya, kita mulai aja cerita liburan kali ini. Dengan menggunakan penerbangan GA208 dari maskapai Garuda Indonesia, sekitar pukul 12.50 WIB kami tiba di Bandar Udara (Bandara) Internasional Adi Sutjipto, Yogyakarta. Seperti mayoritas traveler pada umumnya, kami pun mengabadikan “peristiwa langka” ini. 😀 Cuaca yang panas pun seolah menyambut kedatangan kami di daerah yang terkenal dengan tradisi/budaya Jawa-nya yang sangat kental.

Bandara Internasional Adi Sutjipto, Sleman, DIY, Indonesia

Bandara Internasional Adi Sutjipto, Sleman, DIY, Indonesia

Setelah bernarsis ria sedikit, kami pun bergegas menuju Pintu Kedatangan karena mobil penjemput dari Hotel Jentra Dagen sudah menunggu disana. O, ya! Kalau kalian juga ingin menginap di Hotel Jentra Dagen, terdapat fasilitas antar-jemput bandara dengan biaya tambahan Rp75.000,00 (tujuh puluh lima ribu rupiah) per mobil, umumnya Avanza/Xenia/APV (Catatan: Harga ini adalah harga per Juni 2012, kalian bisa pastikan ke pihak hotel mengenai harga terbarunya).

Bagi kami, pengembangan moda transportasi di Provinsi DIY ini sangat mengagumkan, dari bandara tersedia banyak alternatif transportasi Anda menuju daerah tujuan. Tepat di depan bandara terdapat stasiun kereta api (KA) Maguwo dan halte bus TransJogja, perpaduan moda transportasi yang sangat luar biasa yang tentunya memudahkan wisatawan.

Setelah sekitar 30 menit berkendara dari bandara, kami pun sampai di hotel tempat kami menginap selama liburan ini, yaitu Hotel Jentra Dagen yang terletak di Jalan Dagen No. 85, Malioboro, Yogyakarta. Harga per kamar per malam yang kami dapatkan dari PT Raja Kamar Indonesia di hotel ini adalah Rp398.000,00 (tiga ratus sembilan puluh delapan ribu rupiah). Memang untuk backpacker harga ini jelas tidak murah, tetapi dengan kondisi mayoritas hotel di Yogya yang sedang fully booked di waktu liburan kami ini, harga ini rasanya “sangat wajar”. Benarkah? 😀

Selesai check in dan un-packing barang bawaan (koper dan tas ransel), kami beristirahat sambil ngadem setelah didera oleh panasnya cuaca Yogya. 😀 Tidak lama kemudian, sekitar pukul 15.oo WIB, kami pun beranjak dari hotel untuk menikmati suasana Malioboro, tempat yang dinobatkan sebagai tempat yang kalau tidak dikunjungi berarti belum ke Yogya. Karena ini adalah musim liburan, maka tak pelak kami disambut oleh kerumunan orang di sepanjang Jalan Malioboro. Bingung hendak kemana dan ngapain, kami pun memilih untuk mencari makan ala lesehan dengan menu utama Gudeg. Mungkin ini adalah gudeg terenak yang pernah kami makan selama ini, tidak terlalu manis dengan sambal yang pedasnya bisa disesuaikan dengan selera.

Nasi Gudeg Komplit, Malioboro, Yogyakarta, Indonesia

Nasi Gudeg Komplit, Malioboro, Yogyakarta, Indonesia

Setelah mengisi perut, kami pun kembali ke hotel untuk menyusun agenda selanjutnya sekaligus membersihkan badan yang sudah berlumur keringat. 😀 Sekitar pukul 19.00 WIB, kami berangkat dari hotel dengan niat mengelilingi wilayah Malioboro menggunakan becak, transportasi yang sudah lama sekali tidak kami jumpai di Jakarta. Namun ternyata, niat untuk mengelilingi Malioboro menggunakan becak pun harus kami urungkan sejenak karena terpana dengan kerumunan orang yang sedang berbelanja batik di sepanjang Jalan Malioboro. Alternatifnya, kami jalan kaki menyusuri Jalan Malioboro sampai ke “Titik Nol Yogyakarta”.

Jalan Malioboro, Yogyakarta, Indonesia

Jalan Malioboro, Yogyakarta, Indonesia

Bagi yang punya hobi narsis, rasanya akan senang berada di kawasan “Titik Nol Yogyakarta” ini. Berbagai spot untuk foto banyak terdapat disini, mulai dari Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 sampai dengan berbagai macam patung hasil karya seniman yang diletakkan di pinggir jalan.

Zero Kilometer of Yogyakarta 1, Malioboro, Yogyakarta, Indonesia

Zero Kilometer of Yogyakarta 1, Malioboro, Yogyakarta, Indonesia

Zero Kilometer of Yogyakarta 2, Malioboro, Yogyakarta, Indonesia

Zero Kilometer of Yogyakarta 2, Malioboro, Yogyakarta, Indonesia

Lelah berkeliling di sepanjang Jalan Malioboro, kami pun akhirnya mewujudkan keinginan kami yang sempat tertunda, yaitu naik becak. Tujuan utama kami adalah “Warung Kopi Joss” yang cukup terkenal di Yogya yang berada di sekitar Stasiun KA Tugu/Yogyakarta. Sayang sekali pada momen naik becak dan ngopi Joss ini tidak bisa kami abadikan, hanya sedikit momen Stasiun Tugu/Yogyakarta saja yang berhasil kami abadikan.

Stasiun KA Tugu-Yogyakarta, Yogyakarta, DIY, Indonesia

Stasiun KA Tugu-Yogyakarta, Yogyakarta, DIY, Indonesia

Akhirnya selesailah sudah liburan kami di hari ini, 16 Juni 2012. Tenang, masih ada lagi Catatan Perjalanan liburan kami di Yogya dengan tujuan Candi Prambanan dan makan siang di Kedai Rumah Pohon Mas Dewo yang sensasinya tidak kalah seru dengan di Malioboro ini. Tertarik untuk mengunjungi Malioboro?

Galeri:

One thought on “Seru dan Lelahnya Malioboro

Comments: