Setelah 10 Tahun, Kakiku Kembali Berpijak di Wonosobo

Setelah 10 Tahun, Kakiku Kembali Berpijak di Wonosobo

Setelah 10 Tahun, Kakiku Kembali Berpijak di Wonosobo

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 1,800 orang.

Waktu fajar baru saja tiba, tampaknya, ketika bus Ekonomi AC Sinar Jaya yang aku tumpangi sejak kemarin sore dari Pasar Minggu, memasuki terminal utama di daerah ini, Terminal Mendolo. Hari ini (24 Desember 2012), aku, ibuku dan beberapa orang teman lama juga teman baru, akan camping di sekitaran Telaga Cebong. Ini adalah kali pertama aku mengajak ibuku untuk traveling, itu pun demi merayakan Hari Ibu.

Terminal Mendolo, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Terminal Mendolo

Terminal masih tampak cukup lengang, hanya tampak rombongan kami dan beberapa supir serta kernet angkutan umum yang sudah berada di tempat ini. Sempat aku berdebat dengan Iyas, tour leader trip ini, tentang nama terminal ini. Dari beberapa referensi yang aku baca dan tulisan yang tertera di gerbang masuk terminal ini, nama terminal ini adalah Terminal Mandala. Namun jawaban Iyas menyadarkan bahwa aku keliru, “Tulisannya emang Mandala, tapi karena ‘lidah Jawa’ dibacanya jadi Mendolo”. Ya aku salah. Saat melakukan perjalanan ke daerah lain, aku harus “do as locals do, spell as locals spell”.

Sekitar jam 07.00 WIB, setelah rombongan dari Bandung tiba, kami beranjak meninggalkan terminal dan menuju Alun-Alun Wonosobo untuk sarapan dan melihat suasana kota.

Alun-alun Wonosobo, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Alun-alun Wonosobo

Sejak dulu, alun-alun selalu menjadi tempat favoritku ketika mengunjungi kota kecil seperti ini. Alun-alun, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “square” / “town square”, berbeda jauh dengan yang ada di kota tempat tinggalku saat ini, Jakarta. Disini aku bisa merasakan kesejukan alami dari rimbunnya pepohonan dan hangatnya keramahan penduduk lokal. Sementara di “town square” yang ada di Jakarta, aku harus puas hanya dengan merasakan kesejukan dari AC yang dihembuskan oleh “hutan beton” itu sambil berharap aku tak akan kena kanker kulit akibat terlalu sering berada di ruangan AC.

Pukul 09.00 WIB, kami meninggalkan alun-alun untuk menuju ke daerah Dataran Tinggi Dieng dengan 2 (dua) buah minibus yang sudah di “carter” dari Terminal Mendolo tadi.

Minibus Carteran ke Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Minibus Carteran

Menurut itinerary yang aku terima dari Iyas, tempat perhentian pertama kami adalah di Gardu Pandang Tieng. Gardu pandang ini dinamai sesuai dengan nama desa yang menjadi lokasinya, yaitu Desa Tieng. Gardu ini biasa digunakan oleh wisatawan untuk melihat sebagian kecil kota Wonosobo dari ketinggian. Dengan lokasinya yang berada pada ketinggian 1.789 meter dari permukaan laut (mdpl), tempat ini juga sering dijadikan alternatif untuk melihat golden sunrise di Dieng, selain dari Bukit Sikunir.

Gardu Pandang Tieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Gardu Pandang Tieng

Hari ini kami seperti dikejar waktu, belum puas menikmati panorama di tempat ini, Iyas sudah mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Tuk Bimo Lukar, sebuah mata air “abadi” yang dipercaya oleh orang lokal dan banyak orang lainnya sebagai tempat yang bisa membuat kita jadi “enteng jodoh”.

Namun tujuan utama kami bukanlah biar “enteng jodoh”. Di tempat ini kami akan menjalani “Ritual Kulo Nuwun”. “Kulo nuwun” adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang berarti “permisi”. Sebelum masuk ke kawasan Dieng kami harus “permisi” dulu di tempat ini yang ditandai dengan membasuh muka menggunakan air dari Tuk Bimo Lukar ini.

Ritual 'Kulo Nuwun' di Tuk Bimo Lukar, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Ritual ‘Kulo Nuwun’ di Tuk Bimo Lukar

Sambil mengamati beberapa teman-teman yang sedang membasuh mukanya, aku pun mencoba mengingat kembali kapan terakhir kali aku kesini. “Kita kan dulu pernah kesini sekeluarga. Waktu itu kamu masih SD”, kata Ibuku. Ah aku tak ingat jelas masa itu, aku hanya ingat pernah ke Dieng bersama keluarga besarku, tapi aku tak ingat persis detail-nya. Yang aku ingat, terakhir kali aku ke daerah Wonosobo adalah saat aku masih kelas 2 SMA bersama beberapa orang teman. Saat itu, tahun 2002, kami touring naik motor dari Purworejo, tempat kelahiranku. Tersenyum aku mengingatnya, karena 10 tahun yang lalu aku dan teman-teman SMA-ku punya kenangan manis disini, di Wonosobo.

Comments: