Keraton Surakarta, Saksi Bisu Penyerahan Kedaulatan Mataram

Keraton Surakarta, Saksi Bisu Penyerahan Kedaulatan Mataram

Keraton Surakarta, Saksi Bisu Penyerahan Kedaulatan Mataram

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 1,623 orang.

Tanpa terasa sudah hampir 1 jam kami berjalan kaki menyusuri kawasan Keraton Solo/Surakarta, belum ditambah 1 jam berjalan kaki sejak dari Balai Kota Surakarta dan Pasar Gede, melelahkan sekaligus menyenangkan. Hari sudah semakin panas dan matahari pun sudah semakin tinggi. Jalan yang kami lalui dari kawasan Alun-alun Utara menuju kompleks utama Keraton Solo pun ternyata tidak aman, meskipun terbilang cukup dekat, karena banyak sekali kendaraan yang lalu lalang dan ditambah dengan tidak adanya trotoar untuk pejalan kaki. Untuk yang satu ini, kami sarankan Anda naik becak saja.

Gerbang Depan, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Gerbang Depan, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Keraton Surakarta atau lengkapnya dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta Hadiningrat adalah istana Kasunanan Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan1743. Istana terakhir Kerajaan Mataram didirikan di desa Sala (Solo), sebuah pelabuhan kecil di tepi barat Bengawan (sungai) Beton/Sala. Setelah resmi istana Kerajaan Mataram selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC pada tahun 1749.

Kori Kamandungan, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Kori Kamandungan, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Secara umum pembagian keraton meliputi: Kompleks Alun-alun Lor/Utara, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sitihinggil Lor/Utara, Kompleks Kamandungan Lor/Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedhaton, Kompleks Kamagangan, Kompleks Srimanganti Kidul/Selatan, dan Kemandungan Kidul/Selatan, serta Kompleks Sitihinggil Kidul dan Alun-alun Kidul. Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter dan tebal sekitar satu meter tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari Kemandungan Lor/Utara sampai Kemandungan Kidul/Selatan. Kedua kompleks Sitihinggil dan Alun-alun tidak dilingkungi tembok pertahanan ini. (Sumber: Wikipedia Indonesia).

Foto Bersama Pengawal Istana, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Foto Bersama Pengawal, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Garasi, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Garasi, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta. Kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat ini.

Kori Brajanala (brojonolo) atau Kori Gapit merupakan pintu gerbang masuk utama dari arah utara ke dalam halaman Kemandungan utara. Gerbang ini sekaligus menjadi gerbang cepuri (kompleks dalam istana yang dilingkungi oleh dinding istana yang disebut baluwarti) yang menghubungkan jalan sapit urang dengan halaman dalam istana. Gerbang ini dibangun oleh Susuhunan Paku Buwono III dengan gaya Semar Tinandu. Di sisi kanan dan kiri (barat dan timur) dari Kori Brajanala sebelah dalam terdapat Bangsal Wisomarto tempat jaga pengawal istana.

Pendopo, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Pendopo, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Solo. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kasunanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik.

Museum, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Museum, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Khusus untuk museum, hanya buka pada hari Senin – Kamis (Pukul 09.00 – 14.00 WIB) dan hari Sabtu – Minggu (Pukul 09.00 – 15.00 WIB), sementara pada hari Jumat museum ini tutup. Harga tiket masuk kawasan utama Keraton Solo ini adalah Rp10.000,00 (wisatawan domestik) dan Rp15.000,00 (wisatawan asing). Selain itu berlaku juga harga tiket masuk yang berbeda jika Anda merupakan rombongan dengan jumlah minimal 40 orang atau kedatangan Anda kesini hanya sekedar untuk dokumentasi saja. O,ya! Pastikan Anda memakai sepatu ketika mengunjungi tempat ini, karena jika Anda memakai sandal, pihak pengelola akan meminta Anda masuk kawasan ini dengan bertelanjang kaki. 😀

Harga Tiket Masuk, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Harga Tiket Masuk, Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Indonesia

Ketika selesai mengunjungi Keraton Solo, waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Sudah lewat waktunya makan siang nih. Menyadari berbahayanya kondisi jalan di sepanjang kawasan ini ditambah dengan lelah yang luar biasa setelah 3 jam jalan kaki tanpa henti, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan naik becak menuju Pasar Klewer (Rp10.000,00). Tujuan kami ke Pasar Klewer bukanlah untuk belanja, tetapi untuk makan siang di Warung Tengkleng Bu Edy. 😀

Comments: