“Nyunrise” di Candi Arjuna, Telaga Balaikambang, dan Nenek Penjual Sate

“Nyunrise” di Candi Arjuna, Telaga Balaikambang, dan Nenek Penjual Sate

“Nyunrise” di Candi Arjuna, Telaga Balaikambang, dan Nenek Penjual Sate

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 614 orang.

Sekitar pukul 04.30 WIB kami menuju ke Komplek Candi Arjuna dengan menaiki ojeg. Setelah negosiasi dengan tukang ojeg, kami sepakat dengan ongkos sebesar Rp7.000,00 untuk mengantarkan kami dari pertigaan Dieng menuju Komplek Candi Arjuna. Untuk “nyunrise” di Komplek Candi Arjuna, ada baiknya kalian datang paling lambat pukul 5 untuk melihat “blue hour”-nya terlebih dahulu. Pergantian suasana dari gelap ke terang yang berpadu dengan kabut akan mennghasilkan warna biru kemerahan yang sangat indah yang tidak bisa kalian dapatkan ketika berburu golden sunrise.

Blue Hour Sunrise di Candi Arjuna, Dieng Plateu, Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia

Blue Hour Sunrise di Candi Arjuna

Fenomena silver sunrise baru akan mulai nampak sekitar pukul 05.30 WIB. Saat itu, cahaya dari matahari yang sudah mulai tinggi dan suasana yang sudah mulai agak terang, akan terhalang oleh kabut tebal sehingga akan menghasilkan warnai keperakan. Fenomena ini tidak hanya terasa menakjubkan ketika aku melihatnya melalui lensa kameraku saja, tetapi lebih menakjubkan ketika aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Epic!

Silver Sunrise di Candi Arjuna, Dieng Plateu, Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia

Silver Sunrise di Candi Arjuna

Puas menikmati silver sunrise dan blue hour-nya, aku dan teman-temanku pun menikmati suasana pagi di sekitaran Komplek Candi Arjuna. Selain candi, di area ini juga terdapat Telaga Balaikambang. Sayang saat aku kesana, tempat ini dipenuhi oleh material sedimentasi akibat erosi lahan kentang dari dataran tinggi. Bahkan katanya tempat ini terancam “punah” karena mulai tertutup dan kabarnya untuk merehabilitasinya membutuhkan biaya yang sangat besar. 🙁

Telaga Balaikambang, Dieng Plateu, Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia

Telaga Balaikambang

Karena hari sudah semakin siang, aku dan teman-teman pun kembali ke penginapan dengan berjalan kaki sambil menikmati suasana pagi di Dieng. Di pertigaan dekat dengan sebuah mini market, kami pun membeli sate lontong yang dijual oleh seorang nenek-nenek tua. Sate yang dijual oleh nenek yang berasal dari Tegal ini cukup banyak diminati oleh penduduk sekitar.

Nenek Penjual Sate Lontong, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Nenek Penjual Sate Lontong

Seporsi sate ini dijual seharga Rp5.000,00 yang berisi lontong dan 10 tusuk sate. Selain sate, ada juga ceker dan sayap ayam sebagai menu tambahan. Karena Ibuku tidak ikut “nyunrise” akibat kakinya yang masih sakit karena terkilir, aku dan teman-temanku pun akhirnya hanya minta dibungkuskan sate sebanyak 4 porsi untuk nanti kami nikmati di penginapan.

Sate Lontong, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Sate Lontong

Setelah sarapan sate lontong itu, aku pun turun ke bawah untuk menanyakan biaya sewa mobil selama setengah hari. Rencananya kami akan menggunakan mobil tersebut untuk berkeliling ke beberapa objek wisata lain yang ada di Dieng, membeli oleh-oleh, lalu mengantarkan kami kembali ke Terminal Mendolo.

One thought on ““Nyunrise” di Candi Arjuna, Telaga Balaikambang, dan Nenek Penjual Sate

Comments: