Camping di Telaga Cebong, Desa Sembungan dan “Nyunrise” di Sikunir Itu… Perfect!

Camping di Telaga Cebong, Desa Sembungan dan “Nyunrise” di Sikunir Itu… Perfect!

Camping di Telaga Cebong, Desa Sembungan dan “Nyunrise” di Sikunir Itu… Perfect!

Artikel / halaman ini telah dibaca oleh 14,997 orang.

Dengan begitu terkenalnya Desa Sembungan hingga ke mancanegara, aku mengira jalanan menuju tempat ini akan bagus beraspal, namun ternyata aku salah. Jalan yang kami lalui adalah jalanan mendaki yang terjal dan menurun yang curam. Meski tidak semua jalanan menuju Desa Sembungan ini buruk, tetapi buat kalian yang tidak tahan, mungkin akan mabuk lalu muntah. Setidaknya itu yang aku alami hari ini, 24 Desember 2012.

Telaga Cebong, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Telaga Cebong

Sekitar pukul 15.30 WIB, perjalanan mendebarkan sekaligus menyenangkan itu pun berakhir dengan tibanya kami di Telaga Cebong. Aku sedang menikmati kabut yang mulai turun dan dinginnya udara di tempat ini ketika salah satu temanku berkata, “Untung musim hujan kita kesininya. Kalau musim kemarau bisa mati kedinginan kita gara-gara suhu disini yang kadang mencapai 0 derajat celcius, bahkan bisa minus.”

Untuk mengusir hawa dingin yang mulai terasa menusuk, aku pun berkeliling melihat-lihat suasana sekitar. Beberapa teman yang lain pun tampak tak ingin menyia-nyiakan momen ini dengan saling berkenalan dan berbincang-bincang ringan. Beberapa orang yang lain malah mengusulkan agar malam ini kami berkemah saja di puncak Bukit Sikunir biar besok tak perlu pagi-pagi buta bangun dan naik ke atas. Are you serious? Melihat kondisi cuaca seperti ini, aku pun dengan tegas menolaknya, beruntung Iyas juga menolaknya.

Camping di Telaga Cebong, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Camping di Telaga Cebong

Cuaca dingin yang disertai dengan hujan yang cukup deras memaksa kami untuk terus meringkuk di tenda. Aku mencoba untuk tidur tapi sulit rasanya, mungkin karena aku sudah terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Akhirnya aku pun menuju ke warung untuk minum kopi sambil mencari kehangatan dari tungku bara api yang disediakan oleh pemilik warung. Warung yang aku sambangi ini dikelola oleh sepasang suami-istri yang merupakan penduduk asli Desa Sembungan. Obrolan kami pun mengalir sampai akhirnya mereka bercerita tentang sekumpulan anak muda yang minggu lalu juga habis camping disini. Bedanya adalah, minggu lalu mereka camping di halaman parkir  sehingga lebih hangat meskipun hujan, sementara kami camping di atas rumput basah. Salah posisi tampaknya. 😐

Warung di Telaga Cebong, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Warung di Telaga Cebong

Tepat pukul 03.00 WIB, alarm dari telepon genggamku pun berbunyi. Meski masih mengantuk karena baru tidur pada pukul 01.00 WIB tadi tapi aku harus tetap bangun jika tidak ingin ketinggalan melihat Golden Sunrise di Bukit Sikunir yang sudah melegenda itu. Menurut papan penunjuk jalan yang kemarin sore aku lihat, jarak dari tempat kami camping sampai di puncak Bukit Sikunir adalah 1 Km. Jika saja jalan itu lurus tentu hanya membutuhkan waktu paling lama 15 menit untuk mencapainya tanpa kelelahan, tapi karena yang kami tuju adalah bukit, maka….. #krikkk

Aku tahu bahwa aku akan mendaki bukit, tapi aku tak menduga bahwa bukit yang akan kudaki ini memiliki tingkat kecuraman hampir 90 derajat. Sebagian jalur trekking sudah di semen tapi sebagian besarnya adalah tanah, tanah yang licin karena hujan semalaman. Mengerikan kan? Belum? Di beberapa bagian jalur trekking ini bersebelahan dengan jurang yang cukup dalam. Udah ngeri? Belum juga? Rasain sendiri deh. Huh! Kami mulai trekking sekitar pukul 03.30 WIB dan aku baru tiba di puncak 1 pada pukul 04.50 WIB. Bagaimana dengan teman-temanku yang lain? Mereka sudah tiba di puncak 2 sejak setengah jam yang lalu. #kemudianhening

Para Pemburu Sunrise di Bukit Sikunir, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Para Pemburu Sunrise di Bukit Sikunir

Sambil menunggu “sang artis” muncul, aku pun memesan segelas kopi dan mie instan seduh. Meski kedua menu ini tidak mungkin mengusir dingin, setidaknya aku harus berjaga-jaga agar tidak masuk angin. 15 menit aku dan ratusan orang lainnya menunggu disini, “sang artis” pun mulai menampakkan tanda-tanda kemunculannya. Namun sayang ia tak sendirian. Ia ditemani oleh awan tebal, mungkin ia malu karena “bangun tidur” malah disaksikan oleh khalayak ramai seperti ini. Jelas kulihat raut wajah kecewa sebagian besar pengunjung, tapi tidak denganku, karena aku sadar bahwa yang ingin kulihat adalah fenomena alam dan fenomena alam bukanlah kuasa manusia untuk mengaturnya. *sok bijak* 😛

Sunrise di Bukit Sikunir, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Sunrise di Bukit Sikunir

Puas menikmati fenomena alam ini, aku dan teman-temanku pun segera turun kembali ke bawah. Sambil turun kami pun disuguhkan oleh panorama alam yang sangat memukau. Kami benar-benar di atas awan. Mungkin seperti ini juga yang dirasakan oleh teman-temanku yang mempunyai hobi naik gunung. Aku bukan tak berminat atau berani naik gunung, aku sadar diri terhadap ukuran badanku dan aku khawatir jika aku naik gunung hanya akan menyusahkan teman-temanku. Tapi tenang, aku akan naik gunung kok, kalau sudah kurus. 😐

Sarapan di Telaga Cebong, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia

Sarapan di Telaga Cebong

Begitu sampai di camp site, aku pun segera beres-beres dan beristirahat.  Sarapan pagi ini aku rasakan adalah sarpan ternikmat, bukan hanya nikmat karena rasanya tapi juga nikmat karena berhasil mengisi ulang tenagaku. 😀

Banyak sekali pengalaman baru yang aku dapatkan kali ini. Ini adalah kali pertamanya aku camping, kali pertama naik bukit yang tinggi, dan kali pertama aku merasa kapok untuk traveling. Ya aku kapok kalau harus trekking lagi ke Bukit Sikunir. Jika suatu saat aku harus kesana lagi, aku akan minta naik helikopter atau digendong. Ada yang mau jadi volunteer?

5 thoughts on “Camping di Telaga Cebong, Desa Sembungan dan “Nyunrise” di Sikunir Itu… Perfect!

Comments: